PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
05


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


I lied, because there is no reason to love someone like me —PJM


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Para Pemegang Kendali yang di kenal satu sekolah itu tengah duduk di sudut kantin. Masing-masing memegang ponsel. Asik dengan game nya. Tanpa mereka sadari empat cewek cantik incaran sekolah sedang berjalan ke arah mereka.


"Kenapa tidak menjemputku?" Pertanyaan itu hanya menjadi angin lewat saja di telinga mereka.


"Kim Taehyung! Kau mengabaikan ku?"


Lagi-lagi hanya menjadi angin lewat. Gadis cantik itu sudah kehilangan kesabaran. Dengan lincah nya gadis itu merebut ponsel Taehyung membuat pria itu menggebrak meja dengan cukup keras hingga seisi kantin menatap mereka termasuk Yerin, Eunha dan Yuju yang berada di sana.


"Maaf! Anda siapa bisa mengganggu saya!" Taehyung kembali merebut ponselnya dan kembali dengan gamenya.


"Taehyung! Kau yakin akan tetap seperti ini! Aku akan mencari siapa yang membuat mu berubah dan menghancurkannya." Kesal gadis cantik berambut pirang.


"Hancurkan saja. Lalu katakan padaku jika kau sudah selesai menghancurkannya." Jelas Taehyung dan pergi dari sana.


"Taehyung!!!"


"Lisa! Biarkan dia sendiri. Moodnya sudah hancur sejak tadi." Ucap Jimin yang menahan gadis itu.


Lalisa hanya bisa menghela nafas kesalnya dan menahan tangis. Kekasihnya selalu mengabaikannya sejak ia pulang ke thailand. Jisoo membawa Lisa pergi dari kantin sedangkan Rose menemani Jennie menghampiri Jimin.


"Maksudmu kemar—"


"Aku hanya menolong hyung ku. Kau jangan mengabaikannya lagi. Jika kau ingin tidak di abaikan. Tetap jadi gadis baik ya..." Ucap Jimin yang seperti biasa mengelus puncak kepala Jennie.


"Jadi Kai oppa?"


Jimin mengangguk. Tiket nonton yang ia berikan kemarin adalah pemberian dari Kai, kakak kelasnya yang menyukai Jennie.


"Baiklah. Terima kasih." Ucap Jennie lalu pergi bersama Rose.


"Kau memang berbahaya." Jungkook menggeleng kan kepalanya tak percaya. Pesona Jimin membuat gadis-gadis incaran sekolah menyukainya.


"Urus saja dirimu." Jimin memperingatkan Jungkook saat Hwasa memasuki kantin. Hwasa, gadis tersexy dan liar di sekolah yang mengejar Jungkook saat hari pertama Jungkook pindah sekolah.

__ADS_1


"Jimin hyung, selamatkan aku." Jungkook bersembunyi di balik tubuh mungil Jimin dan pergi dari kantin tanpa di ketahui Hwasa.


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Lalisa. Gadis itu terduduk di bangkunya. Membuka galeri di ponselnya. Hatinya sangat rindu kekasihnya. Namun kedatangannya kesini malah membuat ia semakin rindu. Dekat tetapi jauh. Air mata Lisa jatuh. Gadis itu mengangkat kepalanya saat seseorang masuk ke dalam kelasnya.


"Kau menangis?" Lisa mengalihkan pandangannya. Ia sedang kesal dengan pria itu dan lebih memilih merunduk, menatap ke lantai dengan kedua tangannya menjadi bantalan di atas meja.


"Atas izin siapa air mata mu jatuh?" Ucap lembut pria itu. Saat pria itu duduk di sampingnya lisa memiringkan kepalanya, membelakangi pria itu.


"Kau tidak merindukan ku?" Pertanyaan itu membuat Lisa menyerah. Ia berbalik dan memeluk Taehyung dengan hangat.


"Aku sangat merindukan mu." Rengek Lisa.


Taehyung hanya tersenyum dan mengelus kepala Lisa dan memeluk Lisa cukup erat.


"Seharusnya kau tak pergi." Bisik Taehyung.


"Maaf. Ibuku sakit, jadi aku tidak bisa untuk tidak pulang." Ucap Lisa seraya melonggarkan pelukannya untuk bisa menatap Taehyung.


Hari itu akhirnya Lalisa mendapatkan apa yang inginkan dan sebaliknya. Seseorang di balik jendela itu menatap mereka dengan sedih. Sakit bahkan sangat sakit.


Ia benci pada dirinya yang terus menyukai pria itu meskipun setahun yang lalu, Taehyung sudah benar-benar membuatnya terhina. Gadis itu pergi dengan air mata yang turun dengan deras.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Eonnie.... " Gadis itu memanggil seniornya yang tengah ingin berjalan ke perpustakaan dengan terburu-buru. Membawa dua kotak makanan di jam istirahat. Jennie menatap Seulgi heran karena seniornya tak pernah ke kantin.


Jennie mengikuti Seulgi diam-diam. Walaupun sebenarnya Jennie ingin meminta tolong tentang pelajaran yang kurang ia mengerti tapi guru menyuruhnya belajar dari Seulgi.


"Apa kau menunggu sangat lama?"


"Tidak"


"Aku harus mengerjakan tugas dulu tadi. Maaf kalau membuat mu menunggu."


"Aku tidak merasa menunggu jika itu kau, chagi... " Ucapan dan tingkah pria itu sangat manis. Jennie merasa familiar dengan suara pria itu.


Karena penasaran Jennie ingin melihat pria itu yang berada di balik Rak dan tertutup oleh buku-buku. Namun langkah Jennie terhenti saat mendapat pesan dari Rose untuk segera ke kantin.

__ADS_1


"Baiklah, nanti saja aku menemui Seulgi Eonnie." Ucap Jennie.


"Hya Jimin! Jangan mencium ku saat makan!"


Deg


Suara bisikan yang cukup ia dengar jelas itu membuat Jennie terdiam. Nama pemuda yang ia sukai di sebut oleh Seulgi. Jennie memutar tubuhnya dan melihat orang yang berada di balik rak itu.


"Jimin?"


Pemuda itu menatap bingung Jennie yang menatapnya dengan mata berkaca. Sedangkan Seulgi hanya tertunduk.


"Jennie? Ada apa kau kemari kelinci ku?" Tanya Jimin dengan sangat manis.


"Aku bukan kelinci mu! Jangan pernah kau memanggil ku seperti itu! Lalu... Apa hubungan mu dengan Seulgi Eonnie?" Jennie menatap tajam ke arah Seulgi.


"Dia kekasihku. Memangnya ada apa Jennie?" Tanya Jimin datar. Ia tak suka jika kehidupan pribadinya ada yang mengusik.


"Tidak. Aku... Aku hanya bertanya.." Setelah mengatakan itu Jennie segera keluar dari perpustakaan.


Hari ini banyak sekali hati yang patah. Masing-masing punya tempat di mana ia bisa meluapkan rasa kesal, kecewa dan marah. Air mata selalu menjadi saksi akan rasa sakit itu.


Jennie menatap Yerin yang juga sedang menangis di danau belakang sekolah. Jennie tahu apa yang sedang gadis itu rasakan. Meskipun Jennie merasa sedih atas Jimin tapi itu tidak sebanding dengan apa yang Yerin rasakan.


Kelas 3 SMP, mereka pernah sekelas. Jennie juga saksi satu-satunya yang melihat kejadian itu tapi memilih bungkam untuk sahabatnya, Lalisa.


Meski ada rasa kasihan. Jennie merasa ia tak punya pilihan lain selain bungkam.


.


.


.


.


.


Continue. . . .

__ADS_1


__ADS_2