PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
15


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Ini aneh! Keganjilan itu terlalu larut dalam hidupku—KTH


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba menutupi ketakutan itu. Yang terjadi malah ketakutan itu semakin menelannya. Jennie Memejamkan matanya. Mencoba meredam tangis di sela tidurnya.


"Yerin, maafkan aku." Rintihnya karena mimpi itu.


"Aku akan membalas semuanya!!! Sialan!!" Histerisnya dengan nafas yang terengah-engah. Matanya terpejam, tangan mengepal. Situasi mengerikan di alam mimpinya benar-benar membawanya pada kenyataan.


Di mana semua orang menatapnya sinis. Seakan ingin melemparnya dengan batu. Belum lagi Kai yang sudah menghindarinya. Jimin yang menertawakannya. Jennie menutup telinganya. Mimpi itu terasa sangat nyata.


Hingga ia terbangun di gelapnya malam. Nafasnya yang terengah-engah menandakan ia benar-benar di landa ketakutan. Tangannya menggapai ponselnya, mencari kontak Jimin.


Jennie menggigit ujung kukunya. Sesekali melirik ke arah pintu yang sudah di ketuk berkali-kali oleh pelayannya.


"Jimin oppa..." Panggilnya dengan isak tangis.


Jimin yang mendengar itu dari ponselnya merasa khawatir dan bingung. Seulgi yang berada di sebelahnya juga khawatir. Jimin sedang berada di kontrakan milik Seulgi.


"Bisakah kau kemari?" Pinta Jennie yang membuat Jimin bingung.


"Bawa Seulgi Eonnie. Aku sungguh takut...." Ucapnya yang benar-benar menangis.


"Baiklah kami akan ke sana." Ucap Seulgi dengan nada lembutnya.


"Ku mohon cepatlah... Aku benar-benar takut..." Cicitnya.


"Jennie tenanglah. Kami akan segera sampai di sana..." Bujuk Seulgi sedangkan Jimin sudah jengah dengan sikap Jennie.


"Aku menunggu kalian." Ucap Jennie sebelum Jimin mematikan ponselnya karena sebal.


Ia benar-benar cemas dengan keadaan Jennie meski Jennie pernah berbuat jahat padanya. Seulgi bukanlah orang yang pendendam. Sikapnya yang keibuan membuat Jimin selalu terperangkap dengan pesona gadis itu.


"Kau yakin?" Tanya Jimin yang baru bangkit dari tidurnya.


"Dia menangis. Dia ketakutan karena kesalahannya. Kita perlu membuatnya sadar kalau ia salah tanpa membuat dia menjadi gila." Kesal Seulgi saat Jimin terus bertanya.


Jimin tersenyum dan mengusap puncak kepala Seulgi dengan gemas. Kekasihnya itu juga tidak punya stock kesabaran yang banyak. Jimin sudah sangat tau sifat baik dan buruknya Seulgi. Jimin segera bergegas ke rumah Jennie bersama Kekasihnya dengan mobil.


Sebenarnya Jimin takut mengatakan kalau ia sengaja meneror Jennie karena Taehyung. Tapi Jimin tetaplah Jimin. Dia selalu jujur dengan Seulgi sampai gadisnya selalu cemas dengan mental Jennie. Dulu Jennie adalah adik kesayangannya sejak SMP. Dia selalu belajar dengannya. Jadi bagaimanapun tingkah Jennie yang menyebalkan, Seulgi selalu memaafkannya.


Jimin menatap rumah Jennie yang terlihat sepi sebelum masuk. Dia juga mengirim pesan kepada Taehyung yang entah sudah tidur di tengah malam ini dan Juga mengirim pesan pada Jungkook..


"Ayo!" Ajak Jimin seraya menggenggam tangan Seulgi.

__ADS_1


Kediaman milik Jennie memang sangat mewah. Seulgi yang hanya orang biasa terdiam dan mengikuti langkah Jimin. Mereka masuk atas izin dari security depan rumah Jennie.


Seulgi mendengar jelas suara tangis Jennie dari luar kamar. Para pelayannya terlihat cemas menatap kamar nona nya.


"Kenapa?" Tanya Jimin pada pelayan rumah Jennie.


"Nona Ruby menangis sampai ia sendiri tidak berani membuka pintu kamarnya." Jelas pelayan Jennie.


"Baiklah. Biar kami membantu membujuknya." Ucap lembut Seulgi.


Tok tok tok


"Jennie..." Suara lembut itu memanggil yang punya kamar beberapa kali.


Hingga suara pintu terbuka berbunyi. Jennie menarik Seulgi ke dalam kamarnya. Memeluk seniornya dengar erat. Jimin yang sedikit cemas segera masuk, melihat Jennie dengan mata basahnya memeluk Seulgi.


Jimin menghidupkan lampu kamar Jennie. Dia sana terlihat sangat berantakan. Jennie benar-benar ketakutan karena teror dari Jimin.


"Aku takut kak. Aku takut..." Bisik Jennie di dalam pelukan Seulgi.


"Aku takut Yerin membalas semuanya pada ku! Taehyung oppa, Jimin Oppa dan kalian semua sangat menyayanginya. Aku benci itu!!! Aaaaa Aaaaa!!!" Pekik Jennie dan Membalikan tubuh Seulgi mengarah ke Jimin. Tangan Jennie yang berada di leher Seulgi memegang gunting tajam.


Mata Jimin melebar. Ia sudah tahu siapa Jennie tapi kebaikan hati Seulgi membuat ia hilang kewaspadaan. Seulgi hanya menggeleng saat Jimin mencoba menyakiti Jennie.


"Bodoh! Kau sedang di ambang kematian! Kenapa sok membela ku! Kau sama saja dengan Yerin yang tak seharusnya mendapatkan kasih sayang begitu banyak dari mereka!!!" Jennie Berkali-kali memukul kepala Seulgi, membuat Jimin geram.


BUGH


CRAAASSSSHHHH


ARRRGGHHHHTTT


Darah segar itu mengalir, membuat mereka yang melihat tubuh yang tumbang itu segera berlarian memanggil ambulance. Hari itu Jimin terduduk, membisu.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Hari itu Taehyung berdiri di depan kamarnya. Menatap Yerin yang berhasil ia tahan di apartemen miliknya. Pria itu tersenyum menatap wajah manis milik Yerin.


"Hya! Apa kau sekarang berubah dari anjing menjadi ****! Ini sudah pagi dan kau masih tertidur!!!" Suara Taehyung benar-benar alarm terbaik milik Yerin.


Gadis itu mengerjapkan matanya, menatap sebal Taehyung yang sudah berada di sampingnya. Memeluk tubuhnya dengan hangat.


"Bangunlah, aku di dunia nyata lebih merindukan mu." Ucap Taehyung yang jari-jarinya kini menepikan rambut-rambut Yerin yang menutupi wajah gadis itu.


"Aku masih ingin tidur." Gerutu Yerin dengan mata terpejam. Lalu Yerin kembali membuka mata saat Taehyung mengecup bibirnya dengan tangan yang baru saja membelai dadanya lembut.


"Aku akan bangun!" Taehyung terkekeh pelan saat mata Yerin melebar dengan sendirinya saat ia menyentuh bagian sensitifnya.

__ADS_1


"Hya! Kim Taehyung!" Yerin terpekik saat Taehyung dengan gemasnya mencium leher Yerin dan memeluk erat penuh godaan.


"Apa? Kau sudah berani menyebut namaku?" Ucap Taehyung dengan wajah jahilnya, Yerin ingin bangkit melepas diri dari jeratan pria nakal itu.


"Oppa! Kalau kau berani menyentuh ku! Aku takut tidak bisa menghentikannya!" Itu peringatan dari Yerin.


Taehyung mengerutkan dahinya, satu alis matanya naik dan menatap Yerin penuh cobaan. Taehyung menatap dalam gadis di dalam pelukannya itu.


"Oh ya? Aku mau mencobanya..." Ujar Taehyung asal.


Di luar dari perkiraan Taehyung yang mengira Yerin akan kabur dari pelukannya. Gadis itu malah dengan nakalnya mendorong Taehyung ke atas ranjangnya. Menjilat bibir bawahnya sendiri dan menatap Taehyung dengan wajah menggodanya.


"Kau kira aku main-main?" Mata Yerin membesar menatap Taehyung yang gelagapan. Tak percaya jika Yerin bisa terlihat begitu nakal di hadapannya. Dan itu membuat pendiriannya goyah.


"Tidak! Kita akan melakukannya lagi setelah menikah. Aku dan anjing nakal ku ini harus selesai kuliah terlebih dahulu." Jelas Taehyung membingkai wajah bulat Yerin.


Yerin menggeleng tak suka. "Kalau aku benar-benar untuk saat ini, kau bisa apa Oppa?"


Setelah mengatakan itu, Yerin mencium bibir Taehyung. ******* nya perlahan, dengan tangannya membelai dada dan perut Taehyung secara perlahan. Belum lagi satu tangannya yang bebas berhasil masuk ke dalam punggung Taehyung.


Taehyung terbuai. Ciuman mereka semakin dalam. Taehyung membanting Yerin, membalikan posisi. Yerin menatap mata Taehyung yang berkabut. Pria itu tak bisa di hentikan sekarang. Taehyung mulai membuka kaos milik Yerin. Menampakan tubuh indah yang sudah pernah ia lihat. Semakin cantik dan membuatnya melebur bersama hasrat yang selalu di pendam nya.


Sampai akhirnya Taehyung terhenti karena ponselnya berbunyi. Di sana tertera nama Jimin. Taehyung mengangkat ponselnya. Hening. Jimin tidak mengatakan apapun. Sampai suara itu membuat Taehyung menegang.


"Tae.... Seulgi...." Jimin menangis. Taehyung menatap Yerin yang juga penasaran.


"Tunggu aku di sana. Jangan menangis bodoh!" Ucap Taehyung memperingati sahabatnya itu.


Jimin mengangguk. Tidak ada yang lebih baik selain peringatan dari sahabatnya. Taehyung segera mengambil kaos Yerin kembali dan memakaikannya ke tubuh itu lagi.


Yerin paham jika Taehyung tidak akan melakukannya sekarang. Sesuatu kondisi yang membuat Taehyung sangat cemas yaitu Sahabatnya. Taehyung mengecup bibir Yerin sebelum menatap gadis itu.


"Seulgi berasa di rumah sakit. Itu jauh lebih buruk dari masa saat kau meninggalkan ku. Aku harus menemaninya. Kau mau ikut?" Jelas Taehyung.


Yerin mengangguk seraya tersenyum lembut. "Aku akan ikut."


Mereka berdua pergi dengan hati cemas. Mata Taehyung terus menerawang. Mengira-ngira apa yang terjadi hingga membuat Jimin menangis. Taehyung mendesah pelan. Berharap Jimin kuat dan tidak frustasi seperti dulu saat Seulgi pingsan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Continue. . . .


__ADS_2