
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Jauh di lubuk hati ku. Masih terukir nama mu —KTHPJM
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sudah dia minggu berlalu. Sudah selama itu juga Taehyung dan Jimin berantakan. Sudah selama itu juga mereka mati-matian mencari kekasih mereka tapi tidak ada satupun petunjuk yang mereka temukan.
Kini Taehyung masuk ke dalam Apartemennya seorang diri. Ia sudah lelah menghancurkan dirinya sendiri. Ia sudah lelah mencari Yerin yang tak mau ia hubungi. Lampu apartemen baru saja ia nyalakan. Taehyung menatap sekitar ruang tamunya. Merasa heran seperti berbeda dari terakhir yang ia tinggal.
"Ada apa ini? Apa aku berhalusinasi?" Gumamnya.
Apartemennya sangat bersih. Tidak ada lagi botol wine yang bertebaran. Kaleng-kaleng birnya juga tak terlihat. Apartemennya harum masakan rumah. Taehyung melangkahkan kakinya menuju dapur. Menatap wajah imut itu dengan celemek yang melekat di tubuhnya.
"Anjing nakal!" Gumamnya lalu berlari memeluk Yerin dari belakang.
"Oppa.." Yerin berjangkit kaget saat lengan kekar itu memeluknya erat. Nafas Taehyung terasa di tengkuknya.
Tak lama kemudian Yerin merasakan lehernya basah karena air mata pria itu. Yerin memutar tubuhnya menatap mata merah itu. Yerin memeluk Taehyung dengan hangat. Gadis itu membelai kepala Taehyung. Sedangkan pria itu menikmati setiap sentuhan Yerin dan memeluk gadisnya sangat erat. Tenggorokannya kering dan Taehyung memilih diam saat ini. Sudah seminggu ini ia terus berhalusinasi kalau Yerin ada di sampingnya. Ia takut seseorang yang tengah ia peluknya menghilang seperti bayangan.
"Kau sudah makan?" Tanya Yerin menyadarkan Taehyung kalau itu bukan bayangan semata.
Taehyung menggeleng seperti anak kecil di dalam dekapan Yerin. Pria itu belum mau melepaskan Pelukannya.
"Kau tunggu di meja makan. Aku akan menyiapkan makanannya." Suruh Yerin tapi tak di indahkan oleh Kim Taehyung.
"Suapi aku." Yerin menghela nafasnya.
Ia mengambil satu piring dan lauknya dengan posisi yang masih di peluk oleh Taehyung. Pria itu benar-benar tidak ingin melepaskannya.
"Ayok kita makan di sana sambil nonton TV." Ajak Yerin. Taehyung mengangguk Patuh. Mereka berjalan sambil berpelukan hingga ke sofa.
Yerin menyuapi Taehyung dengan telaten. Dengan Taehyung yang masih memeluknya. Memang sulit tapi Yerin tidak bisa menolak. Ia masih bingung jika Taehyung membahas masalah Hanbin. Yerin belum sepenuhnya siap tapi karena Jungkook sudah memohon kepadanya tentang keadaan hyungnya yang sudah terlihat mengerikan.
"Bakpao, aku tahu kau takut tapi hyung seperti orang yang sudah mati. Apa kau benar-benar ingin melihat jasadnya saja?" Kata-kata Jungkook saat itu Benar-benar mengerikan. Hingga Yerin segera ke Apartemen Taehyung, mendapati keadaan di sana sangat hancur. Yerin merapikannya. Lalu memasak sambil menunggu Taehyung pulang. Apapun yang akan terjadi Yerin akan menghadapinya. Seperti saat ini.
Yerin meletakan piring itu di atas mejanya. Taehyung langsung mengambil posisi berbaring di atas kaki Yerin. Kepalanya berada tepat di atas paha Yerin. Tangan Taehyung membawa tangan Yerin ke atas kepalanya. Yerin tersenyum dan menjamah rambut lebat itu dengan lembut.
"Maafkan aku." Ucap Yerin pelan. Taehyung menoleh ke arah gadisnya. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak mau membahas itu." Rengek Taehyung. Yerin mengangguk.
Malam itu mereka lalui dengan keheningan. Yerin terus memanjakan Taehyung yang terlihat seperti anak kecil.
__ADS_1
Beda dengan Seulgi yang di tarik Jimin dari apartemen Irene. Meski berontakpun rasanya nihil Seulgi bisa lepas dari Jimin. Pria itu sangat kuat bahkan lima perempuan yang menariknya sekaliguspun.
Brak!
Jimin melemparkan Seulgi ke atas ranjangnya. Dengan mata berkabut Jimin menciumi sekujur tubuh Seulgi dengan kasar. Merobek baju gadis itu. Mencumbu bibir Seulgi dengan nafas memburu. Seulgi hanya menangis. Ia berusaha menyadarkan Jimin namun yang bisa ia lakukan hanya menangis.
"Baiklah. Aku tidak akan memberikan perlawanan lagi." Ucap Seulgi yang menghentikan pemberontakan.
Jimin terus menyesap leher Seulgi. Dengan tangannya yang meremas payudara Seulgi. Jimin menghentikan aksinya saat tangis tanpa suara itu menyayat hatinya.
"Kenapa kau lakukan itu padaku?" Bentak Jimin meremas rambutnya lalu menonjok dinding yang tak bersalah.
"Aku.... Aku berusaha mengejar beasiswa ku tanpa bantuan mu. Aku—" Seulgi berhenti bersuara saat Jimin memeluknya. Pria itu membuka kemeja yang tengah ia pakai. Lalu memakaikannya pada Seulgi.
Jimin menatap wajah yang sudah banjir air mata itu. Mengecup kedua mata itu dengan lembut. Lalu mengulum lembut bibir manis yang ia rindukan.
"Apapun itu, ku mohon berbagilah dengan ku. Ku mohon Kang Seulgi!" Bisik Jimin dengan nafas terengah-engah.
Seulgi mengangguk. Ia juga berjanji pada dirinya untuk berubah. Mulai sekarang ia akan menceritakan semuanya pada Jimin. Apapun yang terjadi ia takkan menyembunyikan nya dari Jimin.
"Maafkan aku. Maafkan aku." Ucap Seulgi yang terus menangis. Jimin mengangguk dan menghapus air mata itu dengan tangannya.
"Aku selalu berbuat salah. Maafkan aku Park Jimin..." Jimin memeluk Seulgi. Menenangkan gadis itu, agar berhenti menangis.
'Pantas saja dia pergi dan tak mau menemui ku. Dia sangat takut padaku' bathin Jimin.
Pria itu mengecup kening Seulgi dengan penuh kasih sayang. Ia tak bisa kehilangan gadisnya lagi. Ia sudah lelah untuk mencari jika Seulgi bersembunyi. Jika Jungkook tidak memberitahu dengan siapa Seulgi pergi, maka Jimin tak pernah menemukan di mana Seulgi bersembunyi.
"Tidurlah." Bisik Jimin yang juga mulai memejamkan mata. Ia juga lelah.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Gadis itu terkikik geli menatap kekasihnya yang sedang beristirahat di sofa. Mereka berada di kontrakan gadis manis itu.
"Apa kau sangat lelah seminggu ini, kelinci ku?" Jungkook mengangguk dengan bibir yang di pout kan.
"Uuuuuhh... Kesayangan ku kelelahan." Eunha membersihkan wajah Jungkook dengan pencuci muka. Setelah itu menempelkan wajah Jungkook dengan Timun jangan sudah ia iris tipis-tipis.
"Kita libur besok?" Tanya Jungkook. Eunha hanya mengangguk dan terus menyusun timun di wajah Jungkook. Lalu ia menempelkan timun ke wajahnya juga. Mereka tidur bersebelahan.
"Aku ingin ke pantai dengan mu." Ucap Jungkook.
"Ayo kita pergi besok." Ajak Eunha yang di setujui Jungkook.
__ADS_1
"Kookie..."
"Hmm"
"Apa kau tidak sekejam hyung mu?" Tanya Eunha serius. Karena ia belum pernah melihat Jungkook marah seperti Taehyung dan Jimin. Eunha juga sebisa mungkin tidak membuat Jungkook marah.
"Mereka masih labil. Sedangkan aku sudah dewasa." Ucap Jungkook dengan bangga.
Eunha merengut tak suka dengan jawaban Jungkook. Jadi maksud Jungkook, dia tak akan peduli jika Eunha dekat dengan siapapun?
"Berarti aku boleh berteman dengan pria manapun?"
"Tentu saja. Aku tak akan melarang jika itu teman." Sahut Jungkook santai.
Eunha berpikir keras dengan siapa yang bisa di percaya Jungkook agar pria itu cemburu. Selagi Eunha berfikir, Jungkook menoleh kesamping. Lalu menahan senyumnya melihat gadis itu sangat serius berfikir.
"Hanya satu cara membuat ku marah seperti para hyung." Ucap Jungkook tiba-tiba membuat Eunha mendengarnya dengan serius.
"Satu sentuhan dari pria lain yang berusaha menjangkau dirimu. Aku mungkin akan mematahkan tangan yang sangat lancang itu." Ucap Jungkook membuat Eunha tersenyum senang.
Cup
Jungkook merasa aneh saat Eunha tiba-tiba mencium bibirnya. Gadis itu sangat jarang menciumnya. Bahkan paling jauh yang pernah ia lakukan hanya saling mengecup bibir dengan izin terlebih dulu.
"Hey... Mulai nakal ya..." Jungkook membingkai wajah Eunha dengan kedua tangannya. Hingga timun yang berada di wajah mereka berdua berjatuhan.
Jungkook juga melihat Eunha tidak menghindar atau memberontak sedikit pun saat ia mencoba untuk mencium bibir gadis itu. Dengan berani Jungkook memeluk Eunha lalu mengulum bibir itu lembut. Mencium seluruh wajah Eunha dengan gemas.
Terakhir Jungkook mengecup ujung hidung Eunha. Lalu memeluknya dan kembali berbaring.
"Kita tidur saja." Ucap Jungkook yang di angguki oleh Eunha.
Mereka beristirahat dengan damai.
.
.
.
.
Continue....
__ADS_1