PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
29


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Aku tanpa mu, hidup tapi mati—JJK


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Hari ini di beritakan akan turunnya hujan meteor. Masing-masing mereka sudah membawa pasangan. Yerin dan Taehyung yang tiba lebih dulu ke gunung malam ini. Dengan mantel tebal yang masih menusuk dinginnya malam. Taehyung memeluk Yerin dari belakang.


"Apa masih terasa dingin?" Yerin menggeleng dan menggenggam tangan Taehyung yang juga berbalut kan sarung tangan.


"Kim Taehyung!!!!"


Taehyung tersenyum geli mendengar Yerin tiba-tiba teriak memanggil namanya. Ia mengecup pipi gadis itu yang dingin.


"AKU MENCINTAIMU!!!" lanjut Yerin yang berteriak semakin kencang membuat Taehyung memeluknya semakin erat.


"Aku lebih mencintaimu." Bisik Taehyung yang membuat Yerin berbalik menatapnya.


Ini sudah beberapa tahun berlalu. Sejak pernikahan Taehyung hingga kini Yerin akan wisuda bersama yang lainnya. Mereka tetap bersama. Saling percaya dan memecahkan masalah bersama tapi berdebat. Taehyung benar-benar mencintai seorang gadis bernama Jung Yerin.


Jungkook dan Eunha juga akan Wisuda bersama Yerin. Pasangan Eunkook juga akan memutuskan menikah setelah Wisuda. Orang tua Jungkook juga sudah menemui keluarga Eunha setelah sehari Eunha berkunjung ke apartemen milik Jungkook.


"Jung Yerin!" Yerin menatap Taehyung. Rahang yang mengeras itu membuat wajah tampannya ber karisma. Sifat manja Taehyung, kelembutan dan juga ketegasan pada waktu tertentu, membuat Yerin terus jatuh cinta berulang-ulang kali pada pria tampan itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Taehyung dengan raut wajah serius.


"Kalaupun aku pergi itu karena Tuhan menyuruhku berpisah dengan mu. Jadi kau harus kuat. Menjadi seorang pria tampan yang kuat. Jika saat itu datang." Ucapan Yerin yang paling tidak di sukai Taehyung.


"Aku harap waktu itu tak akan pernah tiba." Permohonan seorang Kim Taehyung.


"Berjanji lah padaku. Jika hari itu benar-benar tiba, kau akan kuat. Kau harus janji pada ku. Begitupun aku." Tatapan Yerin yang sendu membuat Taehyung mengangguk.


"Aku janji." Ucap Taehyung seraya mengecup bibir merah Yerin.


Sebelum akhirnya Jimin datang bersama Seulgi dan juga Jungkook, Eunha. Mereka menatap mata Taehyung dan Yerin yang memerah.


"Apa kalian bertengkar?" Tanya Jimin.


"Tentu saja tidak! Aku terlalu penakut untuk bertengkar dengannya." Sahutan Yerin menghasilkan jitakan pelan dari Taehyung.


"Kalian darimana saja?kenapa baru datang?" Tanya Taehyung.


Jimin menunjukkan satu kresek yang berisi Ramen dan Seulgi yang membawa Termos berisi air panas. Di sana Jungkook dan Eunha juga membawa jajanan pinggir jalan yang mereka temui.


"Ayo kita cari tempat. Di sini sudah sangat ramai. Hujan meteor sebentar lagi akan turun." Ucap Taehyung.


"Cepatlah!" Jungkook menggenggam tangan Eunha dengan posesif.


Mereka berenam menikmati hujan meteor malam itu. Mengisikan sebuah permohonan. Tanpa tau takdir apa yang sudah di tuliskan untuk mereka.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Sayang..." Pekik Jimin dari kamar mandi.


"Kenapa Park Jimin? Kau lupa membawa handuk lagi? Hmm.." Dengus kesal Seulgi yang membawakan handuk untuk suaminya itu.


Di antara tiga pemegang kendali itu ternyata Jimin yang lebih dulu kebobolan. Seulgi hamil saat ia memasuki semester empat kuliahnya. Gadis itu sempat shock berat dan takut kalau Jimin tidak akan bertanggungjawab. Seulgi juga sempat takut kalau Jimin akan menghilang atau lebih buruknya pria itu tidak mau mengakui anak itu.

__ADS_1


Seulgi pulang ke kampung halamannya tanpa di ketahui Jimin. Tapi bukan Park Jimin namanya kalau ia tidak mengetahui gerak gerik Seulgi. Jimin di beritahu Irene tentang kehamilan Seulgi. Pria itu dengan frustasi segera mencari Seulgi dengan bantuan Taehyung dan juga Jungkook. Jimin menemukan gadis itu termenung di teras rumah orang tua Seulgi.


Saat Jimin datang menemui gadis itu. Seulgi terdiam. Ia menatap Jimin dan meneteskan air mata. Ia takut Jimin Marah padanya. Tapi pria itu malah memeluknya, membelai rambutnya dengan lembut dan mengecup keningnya yang menjalarkan kehangatan.


"Jangan tinggalkan aku. Aku sudah pernah mengatakan itu padamu. Terlebih lagi kau membawa dia" Itu kata-kata yang memancing air mata Seulgi. Gadis itu menangis dan memeluk prianya erat. Ia tahu kalau Jimin tak akan pernah melepaskannya tapi karena takut dan pengalaman terburuknya hamil di luar nikah. Itu membuatnya menjadi paranoid.


"Kita akan menikah nanti sore." Ucap Jimin.


Taehyung tahu kalau dia gila tapi tidak segila Jimin. Mereka benar-benar melaksanakan pernikahan itu dengan sederhana di kampung halaman Seulgi. Orang tua Jimin juga datang dengan terharu karena mendengar Jimin akan menjadi seorang ayah. Awalnya orang tua Jimin tidak menyukai Seulgi tapi melihat putranya begitu tergila-gila dengan gadis desa itu, ibu Jimin mulai memahami. Belum lagi mendengar cerita dari Kim Tae Hee, ibu Taehyung. Tentang menantunya yang sangat santun dan baik. Mertuanya sangat menyukai Yerin yang dulu pernah di remehkan. Sekarang orang tua Jimin juga akan bersikap sama dengan orang tua Taehyung. Ia tak ingin melarang putranya dan mendukung apapun yang putranya lakukan.


Pernikahan singkat mereka menjadi moment yang mengharukan di setiap detik mereka lalui. Seulgi selalu mengingat suami tampannya itu. Setiap kendali dan perintah juga ancaman yang di lontarkan. Ia tak akan pernah bisa membantah Park Jimin.


"Ini handuknya..." Seulgi yang menggendong Jimin kecilnya itu mengulurkan tangannya. Memberikan handuk pada suaminya itu.


"Aku lupa. Biasanya kau selalu menemani ku mandi!"


"Jangan katakan itu kalau Jinan sudah besar!" Kesal Seulgi karena suaminya selalu mengatakan hal vulgar di depan putranya yang masih dua bulan.


"Jinan akan seperti ku. Penuh karisma."


"Dia putraku yang tampan, tentu dia akan menuruni ketenaran ku." Ucap Seulgi yang tak mau kalah.


Jimin hanya tertawa pelan. Membiarkan istrinya itu menang. Jimin memilih ke kamarnya untuk memakai baju.


"Hari ini kita akan ke rumah Jungkook. Mereka akan mempersiapkan pernikahan mereka." Seulgi mengangguk. Ia juga sudah bersiap sejak tadi.


"Ya sudah, aku akan menelfon Yerin dulu." Ucap Seulgi yang di angguki Jimin.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Taehyung menatap penampilan Jungkook yang terlihat sangat tampan. Jimin juga baru datang menyusul dengan anak dan istrinya. Mereka semua sedang menunggu pengantin wanita.


"Besok hari minggu..." Ucap gadis dengan mata berbinar itu. Tersenyum ceria menatap ke arah kekasihnya.


"Iya. Besok hari pernikahan kita..." Sahut Jungkook yang memeluk gadisnya.


Sore kemarin mereka menghabiskan waktu berdua setelah di larang bertemu selama sebulan oleh orang tua mereka. Katanya agar rasa cinta mereka semakin terasa di hari pernikahan. Jungkook hanya mengikuti apa yang di suruh orang tua mereka berdua. Tapi Eunha tetaplah Eunha. Ia tidak bisa untuk tidak rindu pada prianya itu.


"Besok minggu kita ketemu lagi..." Ucap Jungkook saat Eunha ingin pulang.


"Sampai jumpa hari minggu." Eunha melambaikan tangannya malam itu.


Hingga hari ini Jungkook tersenyum mengingat kemarin. Jungkook menatap ponselnya. Sesekali melihat Instagramnya untuk menghilangkan gugupnya di hari pernikahan ini. Sampai sebuah postingan membuat Jungkook fokus dan terhenyak.


Mata Jungkook memanas. Tubuhnya melemas. Taehyung yang melihat Jungkook menjatuhkan ponselnya segera mendekat ke arah Jungkook.


"Ada apa?" Tanya Jimin yang menatap Taehyung berjalan ke arah Jungkook.


"Hyung..." Lirih Jungkook.


Seseorang gadis yang di temukan Tim SAR, di bawah Jembatan dengan banyak darah di kepalanya sudah mengering. Kejadian tabrak lari tadi malam. Jungkook terfokus pada gelang ungu yang gadis itu pakai. Kado anniversary ke 6 yang Jungkook buat sendiri untuk kekasihnya.


"Eunha... Hyung... Eunha..." Bibirnya bergetar. Mata Jungkook memerah. Semua keluarganya mendekat kearah pengantin pria. Hingga sebuah telfon dari keluarga Eunha memperjelas semuanya.


Eunha nya tewas dalam kecelakaan tabrak lari malam tadi. Jungkook segera berlari di temani Taehyung sedangkan Jimin harus menjaga Seulgi dan putranya juga Yerin. Mereka semua menyusul Jungkook yang menuju rumah sakit.


"Jungkookie... Kau harus kuat...." Ucap Taehyung yang membawa mobil. Ia tidak akan membiarkan Jungkook mengendarai mobil dengan mental yang terguncang.

__ADS_1


'Sampai jumpa di hari minggu...'


Suara lembut itu masih terngiang di telinga Jungkook. Membuat pria itu semakin tak percaya dengan apa yang terjadi. Jungkook tertawa kencang membuat Taehyung semakin khawatir.


"Dia baik-baik saja kan hyung? Aku tahu dia sedang menjahili ku... Lihat saja kau nanti Jung Eunha! Aku akan menghukum mu..." Ucap Jungkook sambil tersenyum dengan air mata yang terus mengalir.


Tidak ada hal yang menyakitkan selain melihat Jungkook seperti ini. Taehyung merasa bodoh tidak bisa menenangkan Jungkook yang terguncang seperti ini.


Setibanya di rumah sakit, Jungkook segera berlari menuju ruangan di mana korban kecelakaan tabrak lari di bersihkan.


Di sana dengan penuh luka, Jungkook menatap kekasihnya terbaring dengan wajah pucat. Senyum indah itu tak terlihat lagi di matanya. Kaki Jungkook melemah. Ia terduduk menatap kekasihnya di depan matanya. Kaku tanpa nafas hangatnya lagi. Senyum ceria dan wajah cemburu itu. Jungkook menangis sejadi-jadinya.


"Siapa yang menyuruh mu untuk tidur! Bangun Jeon Eunha! Bangun! Kau akan menjadi istriku! Bangunlah sayang! Banguuun...." Jungkook memeluk tubuh dingin gadisnya.


Semuanya menangis menatap pengantin pria itu memeluk tubuh kaku pengantin wanitanya. Semuanya ikut merasakan terpukul nya Jeon Jungkook atas kepergian Jung Eunha yang sangat tidak di sangka!


"Jangan berjanji padaku jika kau masih tertidur seperti ini! Ini hari minggu sayang. Ayo bangun. Aku akan menunggu mu...." Jungkook mencoba tersenyum. Menggenggam tangan Eunha dan mengecup kening Eunha berkali-kali. Mencium pipi gadis itu dan menangis di atas wajah gadis itu.


"Jungkook nak.... Ikhlaskan dia nak..." Bisik ibu Jungkook yang meremas bahu putranya. Ia tak sanggup melihat putranya seperti ini.


"Enggak bu... Enggak... Eunha hanya lelah. Kemarin ia menemui ku. Dia sudah berjanji pada ku untuk bertemu di hari minggu. Di hari pernikahan kami. Atau mungkin karena dia lelah. Kau lelah sayang? Kenapa kau tidak bilang kalau kau lelah? Kemarin aku akan mengantar mu jika kau bilang lelah. Maafkan aku sayang.... Maafkan aku..."


Taehyung ikut terenyuh. Ia bahkan tak sanggup membayangkan Yerin meninggalkannya barang sedetik pun. Taehyung segera mencari istrinya dan memeluk Yerin. Ia menangis di bahu Yerin karena melihat Jungkook yang sangat terpukul.


"Jungkook! Sudah! Kita harus mengkremasinya secepatnya...." Jimin menarik Jungkook. Membiarkan petugas nya membawa mayat Eunha.


Jungkook memberontak. Ia masih ingin bersama Eunhanya. Ia merasa Eunhanya masih tertidur. Ia akan menikah. Cinta mereka akan di satukan. Mereka saling mencintai. Eunha sudah berjanji untuk menemuinya pada hari minggu.


"Hyung......" Tangisnya.


Ia bahkan tak bisa membayangkan ini. Ia belum siap di tinggalkan seperti ini. Jungkook termenung. Ia terus mengingat setiap kenangan manis yang terakhir kali Eunha berikan padanya.


"Aku mencintaimu Jeon Jungkook."


Jungkook kembali menangis mengingat hal itu. Jungkook menjambak rambutnya frustasi. Ia membuka ponselnya. Menatap foto mereka berdua yang tersimpan di galeri mereka.


"Kenapa kau berbohong? Kenapa kau meninggalkan aku."


Hari itu adalah hari di mana Jungkook benar-benar benar hancur dan terpuruk. Tak ada yang bisa membuatnya bangkit. Ia mengurung diri di dalam kamar setelah itu. Ia bahkan tidak pergi ke rumah duka Eunha. Jungkook mengurung dirinya.


Keluarga Jungkook bahkan terus menangis saat terdengar suara teriakan Jungkook dan hempasan barang yang di lempar Tuan Muda keluarga Jeon itu. Kadang ia juga tertawa sendiri seraya menyebut nama Eunha di derai tawanya. Jungkook terguncang mentalnya.


'Kamu harus kuat sayang. Aku tetap mencintaimu. Biarkan aku pergi dengan tenang.'


Bahkan setiap saat roh putih itu terus menangis. Jiwanya kesakitan setiap melihat prianya menangis dan histeris. Mereka berdua kesakitan. Belum siap menerima takdir itu. Bahkan Taehyung dan Jimin yang selalu datang untuk membuat Jungkook kembali seperti dulu, selalu terabaikan. Jungkook hanya menatap mereka kosong. Jungkook tidak bisa melihat hyungnya lagi. Hanya kosong dan gelap. Ia terkurung di ruangan tanpa cahaya itu. Jungkook kosong tanpa Eunha.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Continue .....


__ADS_2