PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
19


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Berhenti dan jangan bergerak. Kalau kau tidak patuh. Masa depan mu hancur—KTH


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Langkah Yerin terhenti. Ia menatap pria di hadapannya dengan penuh tanya. Tidak biasanya pria angkuh ini mendatanginya.


"Kau ada waktu?" Tanyanya.


"Ya" Sahut singkat Yerin.


Lalu gadis manis itu mengikuti langkah pria angkuh itu. Sepanjang jalan Yerin hanya memikirkan, urusan apa hingga membawa pria itu ke hadapannya. Menurutnya ini hal yang tertidak mungkin setelah pria yang ia sukai ternyata juga menyukainya.


Kenyataan tentang Taehyung yang sangat mencintainya saja sudah terasa seperti mimpi dan sekarang Pria dingin dan terkenal angkuh karena latar belakangnya yang setara dengan Kim Taehyung membuatnya tak bisa di gapai. Jika di pikir-pikir Taehyung dan pria itu tabiatnya sama persis. Hanya saja Taehyung lebih dominan untuk mengendalikan atau menguasai. Sedangkan pria itu hanya tak bisa di sentuh oleh dunia luar.


"Jung Yerin. Itu nama mu bukan??" Yerin kembali mengangguk setelah mereka berhenti di aula kampus yang sedang sepi. Pria itu menatap lurus Yerin.


"Lalu kenapa? Ada perlu apa kau dengan ku?" Tanya Yerin datar. Ia hanya tak ingin terlihat masalah lagi dengan pria posesif nya.


"Aku kim Hanbin."


"Aku tahu."


"Kau tahu?" Pertanyaan pria itu membuat Yerin memutar mata karena jengah. Apa ia senarsis itu?


"Iya aku tahu kau Kim Hanbin, dari jurusan Teknik Sipil. Lalu ada apa urusannya dirimu dengan ku?" Tanya Yerin gemas.


Hanbin tersenyum. Mendadak jantung Yerin melambat. Pria itu sangat manis dan mempesona. Yerin menahan nafasnya lalu tersadar apa yang tengah ia lakukan.


"Aku dengar Seulgi menjadi model kampus lalu menyarankan mu juga. Aku ketua klub fotografi. Aku harap bisa bekerja sama dengan mu."


Yerin terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Kata-kata itu hanya sebuah harapan tanpa permintaan dan juga bukan perintah seperti yang biasa Kim Taehyung. Tapi di dalam kata-kata itu ada nada sebuah pernyataan kalau Yerin pasti akan mengikutinya. Lagi-lagi pria itu sangat narsis.


Yerin tersenyum. "Aku rasa aku harus menanyakan hal ini pada seseorang dulu. Kalau begitu Terima kasih atas informasinya."


"Tunggu. Apa kau buru-buru?" Yerin menggeleng.


"Ooh... Kata-katamu seakan ingin cepat pergi. Aku hanya ingin memberikan kartu nama ku. Jika kau setuju, kau bisa menghubungiku langsung. Kalau kau tidak mau menghubungiku, kau bisa bicara lewat Seulgi." Yerin mengambil sebuah kartu nama dari tangan pria itu dan mengangguk canggung.


"Aku akan mengabari mu nanti." Ucap Yerin yang tersenyum tulus kali ini karena merasa tidak enak pada Hanbin.


"Kalau begitu aku akan pergi lebih dulu." Pamit Hanbin sebelum ia benar-benar pergi.


Setelah Hanbin pergi ada dua gadis datang masuk ke Aula dan berlari mendekat ke arah Yerin.


"Ada hubungan apa kau dengan Hanbin?" Yerin menanggapi pertanyaan Jahil itu dengan mengibas tangannya agar sahabatnya itu berhenti dengan lelucon garing itu.


"Kim Hanbin menemuimu? Menurutmu sepenting apa kau hingga Hanbin harus berbicara dengan mu? Hmm.." Suara Eunha begitu menggelegar Aula kampus yang sepi.


"Kau sangat berisik." Sebal yuju yang membuat Eunha mempoutkan bibir mungilnya.


"Sudah-sudah. Hanbin datang karena Seulgi Eonnie merekomendasikan nama ku padanya. Dia ketua klub fotografi, jadi dia ingin aku bergabung dengan Timnya." Jelas Yerin.


"Daebak!!! Kau akan terus bertemu dan berbincang dengan si tampan itu...." Histeris Eunha yang membuat Yerin semakin sebal.


"Aku belum menyetujuinya. Aku harus meminta izin dulu dengan Tae Oppa." Eunha mengangguk paham. Mereka yang sudah punya kekasih tidak bisa sembarang menyetujui sesuatu. Mereka terikat oleh para pemegang Kendali T_T.


"Kau harus bicara secepatnya. Hanbin selalu tidak bisa menunggu." Yerin mengangguk. Menyetujui perkataan Yuju. Mereka sangat mengenal siapa Hanbin.


Yerin menghela nafasnya. Meski ia ingin, ia harus meminta izin seseorang terlebih dahulu.

__ADS_1


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


"Oppa! Kau mendengarkan atau tidak sih?!?" Kesal Yerin saat meminta Taehyung menemaninya ke perpustakaan.


"Aku sedang main. Kau tidak melihatnya?" Gumam Taehyung tanpa melihat Yerin yang sudah manyun seperti Bebek.


"Kau sungguh yakin tidak mau menemaniku? Aku akan pergi sendiri! Jika ada kabar yang tak enak tentang ku. Jangan kau salahkan aku oppa!" Kesal Yerin.


Seulgi sudah mengatakan kepada Yerin kalau Hanbin tengah mengejarnya. Hari itu di mana Hanbin terpuruk karena cacian orang-orang terdekatnya, Yerin yang ada di sana berkomentar dengan Eunha. Komentar Yerin membuat Hanbin tersenyum dan kembali bersemangat. Sejak itu Hanbin selalu mencari tentang Yerin. Meski Hanbin tau kalau yang ia lawan adalah sepupunya, Kim Taehyung.


Yerin berjalan ragu ke perpustakaan kampus. Meskipun banyak mahasiswa yang lalu lalang. Ia malah menjadi sedikit cemas. Seulgi membuatnya waspada karena emosi Taehyung sangat tidak terkondisikan. Pria itu bisa menjadi pembunuh berdarah dingin jika itu menyangkut Yerin.


"Kau di sini?" Yerin terkejut menghela nafas.


"Hei kelinci baik! Kau akan menemaniku ke perpustakaan ya ya ya!" Pinta Yerin dengan imutnya.


Jeon Jungkook, dia mengerutkan keningnya. Tidak biasanya si bakpao memintanya dengan begitu imut. Membuat Jungkook gemas melihatnya.


"Ada apa? Apa ada yang mengganggu mu?" Jungkook selalu bisa membaca Yerin dengan mudah.


"Aku hanya sedikit takut." Ucap Yerin yang di angguk Jungkook.


"Ya sudah! Aku akan menemanimu. Ayok" Ajak Jungkook.


Baru saja beberapa langkah masuk ke dalam perpustakaan. Apa yang di fikirkan Yerin benar-benar terjadi. Hanbin menunggunya di rak buku, tempat biasa ia berdiri.


"Jung Yerin." Panggilnya.


Jungkook mengerutkan keningnya dan menatap Yerin yang menghela nafas. Pria kelinci itu menatap Hanbin yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kau tidak juga menghubungiku. Aku menunggu kabar dari mu semalam. Bagaimana kalau aku meminta kontak mu?" Yerin menggertakan giginya karena bingung.


Jungkook menatap Yerin yang pucat. Pria kelinci itu menatap Hanbin.


"Kau siapanya Yerin?" Tanya Hanbin dengan baik, namun Jungkook melihat perlawanan dari sana.


"Aku pelindungnya. Kau mau apa?" Tatapan Sengit Jungkook membuat Yerin semakin gugup.


"Hmm... Aku akan memberikan kontak ku." Ucap Yerin secara tiba-tiba.


"Ini..." Hanbin menyerahkan ponselnya kepada Yerin. Jungkook menghela nafas kesal saat Yerin mengambil ponsel itu.


"Terima kasih. Nanti aku akan menghubungi mu." Ucap Hanbin sebelum pergi.


"Kau bodoh? Bagaimana kalau hyung tahu?" Tanya Jungkook kesal.


"Aku hanya sengaja membuatnya harus tahu. Aku memberikan no ponselnya pada Hanbin." Mendengar penjelasan Yerin, Jungkook terkekeh geli membayangkan wajah Hanbin yang ceria berganti kan wajah kematian.


"Savage Yerin!!!" Puji Jungkook.


Mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka.


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Yerin duduk bersandar di dada bidang Taehyung seraya membaca buku. Kini mereka tengah berada di apartemen Taehyung. Masalah Hanbin, Yerin tidak pernah cerita sedikitpun pada Taehyung. Biar pria itu sendiri yang tau. Karena Yerin kesal melihat Taehyung seakan tak peduli padanya.


Drrrttt... Drrrttt...


Taehyung menggapai ponselnya dan mengecilkan volume TV saat ada panggilan masuk. Yerin masih fokus membaca buku saat melihat nama Hanbin di layar ponsel Taehyung.


"Hallo..." Sahut Taehyung.

__ADS_1


"Hallo, selamat malam. Bisa bicara dengan Yerin?" Ucap Hanbin dari sebrang sana membuat Taehyung mengerutkan keningnya dengan telinga yang panas. Tangan Taehyung sebelah memeluk Yerin erat.


Gadis itu menahan tawanya, tahu kalau sebentar lagi ada banyak pertanyaan dari Taehyung.


"Ada apa kau mencari kekasih ku?" Tanya Taehyung dengan segala tekanan.


"Aku hanya berbincang sebentar masalah kerja sama di antara kami." Sahut Hanbin.


Taehyung menatap Yerin dengan wajah bertanya. Yerin mengedikkan bahunya seakan tidak tahu.


"Kerja sama?"


"Ia, dia akan menjadi model ku. Tapi ia bilang akan meminta izin pada seseorang dahulu." Jelas Hanbin mulai kesal karena tujuannya menelfon Yerin tidak tercapai.


"Itu yang mau kau katakan?" Tanya Taehyung pada Yerin yang sedang merajuk. Yerin hanya mengangguk lalu kembali fokus pada bukunya. Terlihat tidak peduli pada kekesalan Taehyung.


"Dia tidak akan pernah menjadi modelmu Hanbin. Jangan pernah menghubungi kekasih ku lagi!!!" Bentak Taehyung sebelum mematikan sambungan Telfonnya.


Taehyung melirik Yerin yang masih terus membaca buku di dalam dekapannya. Mereka berada di sofa dengan tadinya Taehyung yang menonton TV.


Yerin merajuk karena Taehyung tidak mau mendengarkan cerita Yerin dan memilih bermain game. Sementara Yerin yang kesal melangkah pergi meninggalkan Taehyung tapi pria itu dengan sigap menarik Yerin untuk berada di dekapannya. Alhasil, Yerin terkurung di dalam dekapan Taehyung tanpa punya harapan bisa bebas dari sana. Yerin mogok bicara dengan kekasihnya.


"Kau akan jelaskan ini semua?" Tanya Taehyung yang di abaikan Yerin.


Taehyung meraih dagu Yerin, memutar kepala gadis itu untuk menatapnya. Wajah Tampan Taehyung terpampang jelas di mata Yerin.


"Kau sudah tidak pernah peduli padaku. Jangan seakan-akan kau peduli padaku." Kesal Yerin lalu menepis tangan Taehyung.


Pria itu menghela nafas. Dia bukan pria yang sabar untuk bisa memanjakan gadisnya. Taehyung memeluk Yerin erat dan mengecup bahu Yerin hingga leher jenjang gadis itu. Sedikit menyesap hingga gadisnya menahan desahan.


"Apa yang kau lakukan oppa!!!" Geram Yerin.


"Untuk membuat mu berbicara." Sahut Taehyung dengan santainya. Lalu satu tangan Taehyung sudah masuk ke balik baju Yerin. Meremas dada yang perlahan membusung itu.


"Aaahhhh oppa hentikan!" Yerin memejamkan matanya saat tangan Taehyung yang lain mulai masuk ke daerah kewanitaannya.


"Baiklah aku akan menjelaskannya." Dengan berat hati Taehyung melepaskan gadisnya. Membalikan tubuh Yerin, menatap gadis itu yang masih gemetar karena ulahnya.


"Darimana kau mengenalnya?" Tanya Taehyung langsung.


"Dia menemuiku, katanya Seulgi Eonnie yang merekomendasikan ku padanya. Lalu saat ia tanya aku mau atau tidak. Aku hanya menjawab akan meminta izin pada seseorang dulu. Lalu aku mencari mu dan kau mengabaikan ku. Puas!" Taehyung menggeleng kepala merasa belum puas dengan cerita Yerin.


"Tadi aku memintamu menemaniku ke Perpustakaan, tapi kau menyuruhku untuk pergi sendiri. Lalu aku bertemu Jungkook. Dia yang menemaniku. Lagi-lagi aku bertemu Hanbin. Dia datang untuk meminta no ponselku. Aku memberikan nomor mu." Taehyung baru mengangguk paham.


Pria itu menghela nafas, lalu menatap gadisnya yang sejak tadi merengut kesal karena selalu di abaikan. Taehyung meraih tengkuk Yerin dan ******* bibir manis itu. Sedikit memaksa dan menyandarkan Yerin pada sofa hingga posisi Yerin membatu dengan Taehyung di atasnya.


Yerin selalu bingung dengan Taehyung yang menyerangnya secara tiba-tiba. Seperti sekarang. Kondisi yang sangat tidak tepat untuk Yerin membalasnya.


Yerin mendorong tubuh Taehyung agar pria itu melepasnya. Pria itu menatap manik mata Yerin lembut.


"Maafkan aku. Mulai sekarang aku tidak akan mengabaikan mu." Janji Taehyung.


Pria itu kembali mengulum bibir manis Yerin. Kini Yerin membalas ciuman Taehyung. Hatinya selalu berdebar saat Taehyung menyentuhnya. Kupu-kupu terus berterbangan dalam perutnya. Pria itu juga tak pernah bosan bermain dengan kekasihnya. Anjing nakal kesayangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Continue..........


__ADS_2