PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
17


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Never give up on a dream that you've been chasing almost your whole life —PJM


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Jimin menatap jauh seseorang yang sangat dekat di hati tapi tak dapat ia gapai kembali. Sudah sebulan yang lalu Seulgi keluar dari rumah sakit. Sudah sebulan juga Seulgi melupakannya. Hanya dirinya.


Jimin menghela nafas mencoba menerimanya dengan tegar, meski ia harus mabuk-mabukan setiap malamnya. Merokok di setiap frustasinya dan menangis di setiap tidurnya. Jimin hancur.


"Seulgi! Hasilnya sudah keluar, kau bisa melihatnya di tempat Dosen hwang."


Baekhyun. Pria itu selalu menemani Seulgi setelah gadis itu tak lagi menoleh ke arah Jimin. Seulgi tersenyum dan menghela nafas lega lalu menggandeng tangan Baekhyun untuk pergi.


Pemandangan seperti itu selalu Jimin lihat. Panas? Memang. Namun dia bisa apa saat Seulgi tak mengenalnya dan menganggapnya orang yang tidak penting. Meski sebagai teman, Seulgi selalu menjauhi Jimin.


Jimin benar-benar mengutuk kematian Jennie yang membuat ia hidup tanpa Seulgi saat ini. Jimin terus mengikuti gadisnya kemanapun Seulgi pergi. Hingga pintu itu batas terakhirnya untuk mengawasi Seulgi. Jimin menunggu gadis itu dan Baekhyun keluar dari ruangan Dosen Hwang.


Hingga ponsel Jimin berdering. Panggilan dari Taehyung muncul di layar ponselnya. Jimin langsung mengangkat telfon itu.


"Kumpul di SMA. Kau harus ke sini nanti malam." Ucap Taehyung dari sebrang sana dengan suara seriusnya.


"Kau tahu bukan! Aku harus mengawasi Seulgi—"


"Baiklah! Terserah kau Park Jimin! Jika Seulgi melupakan mu maka kau juga akan lupa ingatan kalau kau punya sahabat di sini!" Setelah Taehyung berkata begitu, sambungan Telepon itu terputus.


Jimin menghela nafasnya. Tak menyangka kalau sikapnya akan membuatnya jauh dari segalanya. Mungkin Seulgi seseorang yang ia puja tapi Taehyung? Dia bahkan lebih dari sekedar sahabat. Jimin merasa bodoh saat ia terus mengabaikan perkataan Taehyung dan ajakan sahabatnya itu. Jimin mengetik pesan dan mengirimkannya pada Taehyung kalau ia akan datang ke SMA mereka dulu nanti malam.


Jimin menoleh menatap pintu yang terbuka. Di sana ia melihat Seulgi tersenyum puas dan menggenggam tangan Baekhyun. Jimin tersenyum ironis. Ia benar-benar kalah dan harus mundur. Jimin pergi setelah bayangan Seulgi menghilang.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Warna yang mana?"


"Biru saja, dia akan tampak manis." Gadis berambut sebahu itu tersenyum membayangkan.


"Kita sudah siap. Apa ini tidak akan membuatnya marah Eonnie?" Gadis ber kuncir dua itu terlihat sedikit takut.


"Aku harus melakukan ini. Aku akan mengambil langkah besar dan apapun itu aku harus melakukannya." Gadis itu gigih dengan pendiriannya. Ia benar-benar menerawang sesuatu yang manis akan terjadi.


Tiga gadis itu tampak terkekeh bersama saat merencanakan hal aneh ini. Siang ini mereka akan sangat sibuk. Memang waktunya para gadis. Bahkan pria-pria itu sudah mereka usir untuk melakukan hal lain yang akan membuat semuanya tampak lebih bagus.


"Semua daging ini akan habis dengannya dalam sekali makan." Ucap gadis itu yang beralih ke panggangan.


"Kalian memang pasangan percontohan." Ucap gadis ber kuncir dua dengan wajah imutnya


Gadis yang fokus pada panggangan itu hanya terkekeh pelan. Tersenyum dalam hati. Menanti dengan sabar hingga detik itu tiba.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

__ADS_1


Jimin melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya dulu, di sana ia melihat Taehyung dan Jungkook sedang bermain game ponsel. Sungguh. Ia merindukan saat-saat itu.


"Tae! Kook!" Panggilnya membuat dia orang itu menoleh.


Jungkook menatap Hyungnya itu dengan puppy eyesnya. Mata berbinar itu selalu bisa membuat Jimin tersenyum dengan sendirinya.


"Lama tidak jumpa." Dingin Taehyung sedikit membuat Jimin membeku.


Kemudian tawa khas Taehyung membuat mereka kembali menghangat. Jimin datang berhambur peluk pada sahabatnya. Kemarin ia goyah, ia tak melihat tonggak yang bisa menopang nya.


"Maaf. Aku bodoh untuk saat itu." Ucap Jimin menatap Taehyung yang menatap Jungkook.


"Dia sama seperti Yerin ku." Bisik Taehyung pada Jungkook membuat Jimin jengkel.


"Kau persis seperti Eunha." Ucap Jungkook terang-terangan membuatnya mendapatkan satu jitakan khusus dari Jimin.


"Dasar bocah nakal!" Umpat Jimin kesal.


"Kenapa kalian membawa ku ke sini!" Tanya Jimin antara kesal dan bingung.


"Bodoh mu itu sampai ketulang! Jadi kami harus menyadarkan mu! Ayo ikut!" Taehyung merangkul Jimin dan Jungkook dengan kedua tangannya. Menuntun mereka pada kelas Yerin.


Kelas gelap itu tampak terang dengan Cahaya Lilin. Jimin menatap fokus ke arah jendela. Melihat seperti ada orang yang berada di sana. Jiwa penakut Jimin muncul seketika.


"Tae! Bukankah hanya kita saja yang ada di sini?" Taehyung melihat wajah pucat Jimin dengan bingung.


Jungkook yang memang sifat jahilnya bawaan dari lahir memainkan kedua alis matanya dan mulai membuka mulutnya untuk bersuara.


"Memang kenapa hyung? Di dunia ini bukan hanya kita yang berdiri tetapi mahluk lain."


"Apa maksudmu bicara begitu! Ini di malam hari dan ini sekolah! Kau tak pernah dengar rumornya?!?" Kesal Jimin saat Jungkook asal bicara.


"Aku pernah dengar, ruang kelas ku itu selalu banyak wanita di setiap malamnya. Tapi tak pernah ku lihat dengan pasti." Jimin menatap Jungkook sangat kesal. Adik kecilnya itu selalu membuatnya naik darah.


"Hya kookie! Apa benar ucapan mu? Aku jadi penasaran!" Jimin menatap Taehyung tak percaya. Ada apa dengan dua sahabatnya yang benar-benar tidak takut.


"Kalian gila! Bisa saja nanti kita—"


"Bilang saja kau penakut, Park Jimin!!!"


Peletak!


Lagi-lagi Jungkook mengaduh kesakitan saat Jimin memukul kepalanya dengan kepalan tangannya.


"Siapa yang kau bilang penakut! Ayo!" Pimpin Jimin yang masuk ke dalam ruang kelas Yerin dengan hati berdebar.


Tiba-tiba


'Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!'

__ADS_1


Happy birthday to You


Happy birthday to You


Happy birthday Happy birthday Happy birthday Park Jimin.


Dari wajah ketakutan hingga kembali serius dan sangat datar. Jimin terlihat membeku melihat tiga gadis itu.


Jimin menoleh ke arah Taehyung, pria itu sama pucatnya dengan dirinya. Berbeda dengan Jungkook yang menatap gadis itu heran.


"Lalisa? Jisoo? B-bagaimana bisa kalian bertiga di sini?" Tanya Jungkook heran.


Lalisa dan Jisoo mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan maksud perkataan Jungkook. Langkah Jimin mundur dan menggenggam tangan Taehyung dan Jungkook.


"Kalian sedang apa di sini?" Geram Taehyung yang sebenarnya takut.


"Ku dengar Eunha dan Yerin juga ke sini untuk menghibur mu, jadi... Sebagai permintaan maaf aku pada Yerin ataupun Eunha. Aku kesini—"


"Sudah cukup! Kenapa kalian tidak pulang saja? Apa kalian janjian bertiga?" Tanya Jimin yang memilih menunduk.


"Bertiga? Oh apa kau melihat Rose di luar? Sepertinya ia takut kedalam. Jadi dia—"


"Bukan! Bukan Rose tapi.... Jennie?" Ucap Taehyung yang benar-benar melihat Jennie di antara Lisa dan Jisoo. Lebih tepatnya di belakang mereka berdua.


"Kau bercanda? Jennie sudah di makamkan minggu kemarin—" Lisa menghentikan ucapannya saat tangan dingin itu merangkulnya.


"Kami harus pergi dulu. Selesaikan reuni kalian." Ucap Taehyung yang menarik dia sahabatnya keluar dari kelas itu.


"Uuuu uhhh ggg sangat gila. Apa itu benar-benar dia?" Setelah Jungkook bertanya seperti itu. Detik kemudian terdengar suara teriakan dari kelas itu. Lalisa dan Jisoo lari terbirit-birit keluar dari sekolah. Sedangkan Taehyung, Jimin dan Jungkook menatap fokus mereka berdua yang berlari.


"Bodoh! Sepertinya mereka ingin mengerjai kita tapi tidak berhasil!" Kesal Jungkook yang melihat dengan Jelas kalau itu hanya papan berwajah Jennie yang di bawa Lalisa.


Jimin terkekeh pelan. Hampir saja jantungnya copot jika benar-benar melihat Jennie. Taehyung menghentikan langkahnya saat mendapat pesan dari Yerin yang menyuruhnya kembali ke kelas itu.


"Kook." Panggil Taehyung yang menunjukan ponselnya pada kookie tapi tidak dengan Jimin.


"Kita harus kembali. Mungkin tadi dia yang merangkulnya." Sarkas Jungkook dan memutar langkah mereka untuk kembali.


.


.


.


.


Continue. . . . .


Agak serem-serem dikit lah ya.... Besok sad lagi huhu *_*.

__ADS_1


__ADS_2