
"APA!!?"
Maharani Rezkina menggebrak meja kerja ayahnya yang baru saja menyampaikan berita paling konyol sepanjang hidupnya. Ditatapnya pria paruh baya dengan status sebagai 'ayah'nya itu lekat-lekat seolah apa yang disampaikan beliau adalah hal paling buruk.
"Papa serius, Ra," kata pria baruh baya itu, "kamu akan dijodohkan dengan putra salah satu relasi kerja Papa. Kamu tahu Alexander Group, kan? Mereka setuju untuk menikahkan putra mereka satu-satunya denganmu."
Wanita berusia 24 tahun dan berpakaian modis itu berkacak pinggang dan menatap tajam sang papa.
"Pa, aku tahu umurku sudah 24 tahun, belum punya pacar, dan sedang focus dengan festival terakhir di jurusanku," kata wanita itu, "tapi aku punya alasan kenapa aku menolak semua calon yang Papa sodorkan padaku: Aku mau focus pada pekerjaan yang akan kudapatkan setelah aku lulus."
"Papa tahu, Ra. Tapi, ini keadaan darurat."
"Keadaan darurat untuk perusahaan, kan? Kenapa Papa nggak menyuruh Darren untuk menikah dengan Lisa, sih? Mereka sudah berpacaran lebih dari sepuluh tahun, tapi masih stuck di tempat." Cibir Rara.
Sang papa menghela nafas. Dia menatap anak bungsunya itu lekat-lekat. Sepertinya menyakinkan seorang Maharani Rezkina akan lebih menyusahkan daripada menyakinkan satu perusahaan untuk bekerja sama dengan mereka.
***
Setelah mendapat penjelasan berkali-kali dari papanya, Rara keluar dari ruang kerja beliau dengan menahan kesal. Dibantingnya pintu kamarnya dengan suara keras dan duduk di kursi di depan meja riasnya. Walaupun saat ini dia sedang kesal dan ingin memaki orang-orang yang memicu kemarahannya, Rara masih tahu diri untuk tidak merusak barang-barangnya, apalagi semuanya adalah hasil keringatnya sendiri.
Mata Rara menatap kearah foto besar yang dipajang di dekat lemari kaca tempat tropi dan penghargaan yang diterimanya dari kecil sampai sekarang. Penghargaan-penghargaan itu adalah bukti bahwa walau dia adalah seorang putri dari salah satu tiga orang pemilik perusahaan terbesar di Indonesia, dia mempunyai kemampuan yang hanya ia sendiri yang memilikinya di antara keluarganya.
Foto yang ditatapnya itu adalah foto ibunya yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Ibunya, Liliana Rezkina adalah seorang wanita yang paling dikagumi Rara sepanjang masa. Tidak hanya beliau adalah ibu yang lembut dan mampu tegas di saat yang diperlukan, tetapi juga seorang wanita yang tidak akan membiarkan seorang lelaki menaklukkannya, hingga ayahnya lah yang berhasil mendapatkan hati ibunya.
Menghembuskan nafas keras, Rara berdiri dan menghampiri foto itu.
"Ma," ujarnya lirih, "bayangin, Ma, Rara dijodohkan. Bagaimana perasaan Mama kalau mendengar ini, ya? Apa Mama bakal mendukung Rara buat menolak perjodohan ini, ya?"
__ADS_1
Rara menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Biar bagaimanapun, sekeras apapun dia memberontak, ujung-ujungnya ayahnya lah yang akan menang. Dan Rara pasti hanya bisa pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh beliau. Andai ibunya masih hidup, mungkin ayahnya akan memikirkan ulang keputusan menjodohkan Rara.
Dan itu, sudah pasti, hanya impian semata.
***
Sekali lagi, wajah Rara harus ditekuk malam ini karena ternyata tanpa sepengetahuannya, ayahnya sudah merancang sebuah acara makan malam di rumah mereka dan dia disuruh untuk berdandan secantik mungkin.
Rara sempat menolak mentah-mentah, tapi begitu dia dijanjikan pergi ke Perancis selama sebulan penuh sebelum dia kembali kuliah, dia akhirnya mau mengikuti keinginan ayahnya.
Dan sekarang, dengan gaun berwarna biru tua hasil rancangannya sendiri, dia menunggu di ruang tamu sambil membaca majalah fashion favoritnya.
Dia baru membalik halaman berikutnya ketika seorang pelayannya memberitahu kalau tamunya sudah datang.
Mata Rara kemudian beralih kearah laki-laki yang berdiri di belakang si pria paruh baya.
Wow. Good looking banget tuh cowok.
Laki-laki yang berdiri di belakang teman ayahnya punya wajah yang sangat tampan, nyaris mendekati cantik. Tubuhnya tinggi dan agak kurus walau nggak bisa dibilang kurus kering juga. Rambutnya disemir dengan warna kecokelatan dan membuatnya makin terlihat tampan.
Kalau tahu calon suaminya bakal seganteng ini sih, Rara harusnya nggak bakal nolak.
Tapi...
Rara mengerutkan kening. Rasanya ada yang aneh dari cowok itu. Entah apa yang membuatnya terlihat aneh di mata Rara, tapi dia yakin cowok itu aneh...
__ADS_1
"Ah, Ra, kemari sebentar."
Ayahnya memanggilnya dan Rara langsung menghampiri.
Sekarang, setelah diperhatikan dari dekat, wajah teman ayahnya itu agak tegas. Begitu juga cowok yang Rara yakini adalah putra beliau sekaligus calonnya nanti.
"Nah, ini Rara. Albert, masih ingat gadis kecil yang sering kamu beri coklat tiap kali kemari, kan?" ujar ayahnya.
Pria bernama Albert itu tertawa, kemudian menyalami Rara, yang dibalasnya sambil tersenyum.
"Ah, Alvin, sini."
Cowok itu ternyata namanya Alvin...
Cowok itu maju dan berdiri di samping ayahnya. Beliau menepuk bahu cowok itu. Rara memandanginya dan harus mendongakkan kepalanya karena cowok itu lebih tinggi darinya yang hanya memiliki tinggi 155 cm.
"Dia Alviano, putra tunggalku." Kata Albert, "Ayo, beri salam pada Rara. Biarpun dia calon istrimu, dia lebih tua darimu, Vin."
"He?"
Rara mengerjap memandangi Albert dan putranya bergantian.
"Anu... saya lebih tua?" tanya Rara menunjuk dirinya sendiri.
Alvin mengulurkan tangannya kearah Rara.
"Namaku Alviano Alexander, aku baru kelas 3 SMA. Dan aku juga calon suamimu, Kak." Kata cowok itu.
"... delapan belas tahun!!?"
__ADS_1