
Resepsi pernikahan antara keluarga Rezkina dan Alexander digelar cukup megah. Dibilang cukup sebenarnya hanya karena Rara tidak pernah tahu seperti apa persiapan yang dilakukan oleh kedua keluarga untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Alvin.
Setelah lamaran menghebohkan tadi dan festival telah usai, dia dan Alvin digiring ke ruang ganti darurat yang dipersiapkan di sisi lain ruang ganti untuk pengisi festival.
Dalam waktu dua jam, Rara sudah didandani dengan wedding dress yang mempertegas kulitnya yang berwarna putih. Gaun berwarna putih gading itu berpotongan mermaid itu juga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sebuah tiara bertaburan berlian dan juga bunga-bunga dari satin yang sangat cantik disematkan di rambutnya yang diikat ke atas dan disanggul.
"Lo cantik banget, Ra," kata Kim yang juga ikut andil membantu para MUA merias Rara, "Dasarnya lo udah cantik, tinggal dipoles dikit para cowok udah klepek ama lo. Sayang lo udah taken."
"Apaan sih lo?" Rara mendecih walau pipinya memerah.
"Nona Rara emang manis, sih. Dipoles dikit udah kayak ratu, deh." Celetuk MUA yang merias Rara.
Rara hanya diam. Dia menyerah membuat para MUA dan Kim diam sedetik saja.
Setelah dipakaikan gaun dan didandani, Handoko dan Darren masuk ke dalam. Lisa juga ikut. Melihat Rara yang sudah didandani membuat Lisa berdecak kagum.
"Kamu cantik banget, Ra," kata Lisa, "Mirip banget sama almarhumah mama kamu."
"Makasih, Kak Lisa," Rara tersenyum manis.
"Kakak kok jadi nggak rela lepasin kamu nikah?" celetuk Darren, "Kamu cantik banget sih, persis boneka."
"Ih, lebay ..., kamu aja yang nggak nyadar adik kamu cantik dari dulu," kata Lisa, "Makanya, adik cantik begini jangan dibiarin. Sekarang udah telat!"
Rara tertawa bersama Lisa melihat raut cemberut Darren. Kini giliran Handoko yang menghampiri Rara. Pria paruh baya itu menatap putri bungsunya lekat-lekat, "Kamu cantik, Sayang. Bener kata kakak kamu, rasanya jadi nggak rela ngelepasin kamu nikah."
"Papa juga jangan lebay kayak Kak Darren," kata Rara, "Sebentar lagi kita ke luar, 'kan?"
Handoko mengangguk, "Ayo, udah tugas seorang ayah menyerahkan putrinya pada pria yang akan dinikahinya saat ini."
Beliau mengulurkan tangan dan Rara menyambutnya. Lisa dan Kim membetulkan gaun dan tiara Rara agar tidak terlihat berkerut. Kemudian Kim memberikan sebuket bunga mawar merah pada Rara sebelum mereka keluar dari ruang ganti tersebut.
***
Aula yang tadinya digunakan untuk festival kini sudah disulap sedemikian rupa hanya dalam waktu dua jam. Panggung tadi masih ada, tetapi di sana hanya berdiri Alvin dan ayahnya, serta seorang pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka berdua.
Iringan piano yang melantunkan lagu Beautiful in White-nya Westlife terdengar merdu mengiringi kedatangan Rara dan ayahnya. Berjalan perlahan seperti saat ini membuat Rara kesal, tetapi dia tidak boleh berjalan terburu-buru kalau tidak mau tersangkut gaunnya sendiri.
Dia lebih memusatkan perhatiannya pada Alvin yang ada di depan sana. Pemuda itu tersenyum saat melihat Rara. Alvin memakai setelan blazer putih dengan bunga mawar yang tersemat di dadanya. Rambutnya dicat warna blonde yang membuatnya lebih mirip orang luar daripada orang Indonesia asli. Tetapi, mengingat ayah Alvin berasal dari Inggris, sepertinya hal itu sah-sah saja.
Ini perasaannya aja ato Alvin emang keliatan ganteng daripada biasanya?
Rara rasanya mau menampar diri sendiri karena berpikiran demikian. Tapi dia harus mengakui, Alvin memang tampan. Apalagi dalam balutan pakaian seperti itu. Dia tidak terlihat seperti bocah umur delapan belas tahun.
Handoko dan Rara akhirnya sampai di pelaminan. Ayah Rara itu menatap Alvin sejenak, "Walau kamu masih berusia delapan belas tahun, Om yakin kamu bisa jagain Rara. Om titip dia, Alvin."
Alvin mengangguk dan menerima tangan Rara dari Handoko kemudian mereka sama-sama menghadap pendeta yang siap memimpin akad pernikahan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan memulai upacara pernikahan antara Alviano Alexander dan juga Maharani Rezkina Putri," ujar pendeta, "Sebelumnya saya ingin kalian bersumpah setia di hadapan para saksi dan juga Tuhan.
"Alviano Alexander, bersediakah kau menerima Maharani Rezkina Putri sebagai istrimu, menemanimu di saat susah, senang, dan bersama-sama menghadapi kehidupan yang terbentang di depan kalian?"
"Ya, saya bersedia." Jawab Alvin.
"Dan bagaimana denganmu, Maharani Rezkina Putri, bersediakah kau menerima Alviano Alexander sebagai suamimu, menemaninya di saat susah, senang, dan bersama-sama menghadapi kehidupan yang terbentang di depan kalian?"
Rara mengerjapkan matanya. Lidahnya mendadak kelu walau dia akan menjawab 'iya'. Tapi, lidahnya seolah tidak mau menuruti perintah otaknya. Bahkan dia mulai gemetar entah karena alasan apa.
"Nona Maharani?"
"A-aku ... aku ...,"
Rara merasa tangannya dingin. Dia ingin kabur. Rasanya dia tidak bisa mengucapkan kata 'iya' saat ini ...
"Ra,"
Suara itu membuat Rara menoleh, menatap Alvin yang balas menatapnya sambil tersenyum sementara tangannya digenggam erat olehnya.
"Nggak apa-apa, Ra. Tenang ..."
Suara Alvin mampu membuat kegugupan Rara menghilang. Dia balas menggenggam tangan pemuda itu dan mengangguk pelan pada pendeta setelah menarik napas dan mengeluarkannya berkali-kali.
"Ya, saya bersedia."
Lisa membawakan sebuah kotak berisi dua buah cincin yang sama. Alvin mengambil satu cincin dan memasangkannya ke jari manis Rara. Rara juga melakukan hal yang sama. Setelahnya Alvin mendekatkan wajahnya pada wajah Rara.
Sebuah kecupan ringan diberikan Alvin ke kening Rara.
"Dengan begini, kamu nggak bakal lepas dari aku lagi, Ra," kata Alvin, "Aku sudah menepati impian kamu yang lain. Dan untungnya kamu nggak berusaha kabur lagi."
... lagi?
Rara nggak sempat bertanya, karena setelahnya pesta dimulai. Rara dan Alvin diminta duduk di kursi yang ada di pelaminan dan pesta pun digelar. Para tamu menyalami mereka, mengucapkan selamat. Teman-teman Rara juga ikut menyalaminya.
Rara masih belum paham kenapa Alvin bilang dia pernah ... berusaha kabur? Rasanya dia tidak pernah mencoba kabur, tetapi kenapa Alvin berkata begitu?
"Vin," panggil Rara, "Kenapa lo tadi bilang—"
"Bukannya tadi kita udah sepakat kalo panggilan lo-gue udah nggak berlaku?" balas Alvin.
"A-maksudku ... aku masih bingung, kenapa kamu bilang aku pernah berusaha kabur? Emangnya dulu aku pernah berbuat salah sama kamu?"
Alvin tersenyum pada tamu yang menyalaminya sebelum menjawab pertanyaan Rara, "Mungkin kamu nggak inget, tapi dulu ..."
__ADS_1
"Dulu? Apa yang terjadi?" tanya Rara penasaran.
"Nanti saja," Alvin tersenyum pada Rara, "Sekarang kita tidak mungkin membahas itu."
Rara hendak memprotes, tetapi mengingat masih banyak tamu yang berbaris untuk menyalami mereka, ia mengurungkan niat untuk mengucapkan apapun dan tersenyum pada para tamu.
Acara itu berlangsung hingga larut malam. Ketika sudah saatnya Rara merasa lelah, Alvin menyarankan mereka menginap di rumah Rara saja karena rumah gadis itu lebih dekat dengan universitas.
Rara mengiyakan saja. Terutama karena dia memang sudah kelelahan. Setelah sampai di rumahnya, ia langsung menuju kamar dan menghapus riasan wajahnya. Dia baru akan melepas gaunnya ketika merasakan ada orang lain di dalam kamar.
"Kamu mau ganti baju, Ra?"
Rara refleks menoleh dan melotot horror pada Alvin yang duduk di sisi tempat tidur sambil melepas jasnya.
"K-kamu ngapain di sini?" Rara menatap Alvin curiga.
"Loh? Bukannya kita udah sah jadi suami-istri? 'Kan wajar kalo aku tidur sekamar denganmu?"
"Iya, tapi ... kamu masih kecil, Vin!"
"Kecil dari mana? Badanku setinggi tiang begini."
"Bukan itu maksudya!"
"Masalah umur? Bukannya itu bukan masalah? Yang penting aku sayang sama kamu, Ra."
Rara membuka mulut, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Alvin terkekeh geli melihat wajah Rara yang memerah dan sewarna kepiting rebus, "Kalo kamu masih malu, ganti aja di kamar mandi, Ra. Aku tungguin di sini."
"K-kamu bakal tungguin?"
"Duh, Ra, nggak perlu begitu juga kali," Alvin tertawa, "Ganti baju aja dulu. Nanti kita tidur bareng."
"Tidur bareng!?"
"Ra ...," Alvin terbahak, "Jangan siksa aku begini, dong. Wajahmu lucu banget, tau nggak?"
Rara megap-megap. Dia menatap Alvin sejenak sebelum akhirnya menyerah. Biar bagaimanapun mereka udah jadi suami-istri. Hal itu nggak bisa diubah sama sekali.
"Aku ganti baju dulu." Kata Rara akhirnya.
"Ganti baju pake baju seksi, ya Ra, biar aku semangat tidur."
"Pala lo!"
__ADS_1