Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 20


__ADS_3

Kim menepati janjinya menceritakan apa yang terjadi di antara dia dan Mister Cha. Udah kayak judul lagu aja rasanya.



Selama Kim bercerita, Rara Cuma bisa melongo, dengan mulut setengah terbuka. Beruntung nggak ada lalat yang tak berdosa masuk ke dalam sana. Kalo nggak mungkin tuh lalat bakalan masuk ke dalam black hole dan nggak pernah balik lagi selamanya.



"Jadi ...," Rara meminum jus jeruknya, "Lo sering ketemu Mister Cha di luar kampus dan dia juga pernah nolong lo dari ... siapa tuh cowok Jepang yang sering mampir ke rumah lo?"



"Shinji Nakayama," Kim menyuap ayam geprek di hadapannya. Di sebelah piringnya ada sekitar dua piring yang udah kandas isinya.



Gila, itu perut apa karet, sih?



"Nah iya, Shinji," Rara menopang dagu dengan sebelah tangan, "Gue denger dia tunangan lo dari kecil? Nasib lo sama aja kayak gue dong. Dijodohin."



"Beda, Sayangku," Kim terkekeh melihat raut wajah Rara yang langsung berubah bagai ada tanduk di kepala, "Shinji itu calon pilihan Papa, sedang pilihan Mama ... yah, gue nggak peduli juga sih. Kalopun mereka berusaha menjodoh-jodohin gue, gampang aja. Gue tinggal kabur."



"Tapi lo tau ortu lo bisa dengan mudah nemuin anak semata wayang macam elo yang urakan." Kata Rara mendesis, "Diseriusin dikit napa?"



"Gue serius," Kim menyedot jus jeruk Rara yang tinggal setengah, "Gue sama Mister Cha sebenarnya juga terikat perjanjian hitam di atas putih. Selama gue dan Mister Cha masih mematuhi aturan dalam perjanjian, kami nggak bakal disodorin ke pasangan yang bisa bikin masing-masing eneg."



Rara menghela nafas. Kim memang orang yang keras kepala. Sifat ayah Kim yang berdarah Korea ternyata menurun padanya, sedang kemampuan Kim sebagai model adalah turunan dari ibunya yang mantan model Indonesia yang terkenal. Ibunya juga mendidik Kim dengan keras sehingga pribadi sahabatnya yang sekarang itu adalah hasil tempaan dari kedua orangtuanya.



Ah, dan juga kakeknya yang seorang ahli taekwondo. Paman dan bibi Kim dari pihak ayah juga bekerja di militer dan pemerintahan Korea.



Jadi, kombinasi itulah yang membuat Kim lebih cenderung seperti anak laki-laki ketimbang anak perempuan.



Walau sebenarnya Rara sangat tau persis seperti apa sahabatnya itu saat masih kecil.



Kim mendesis kepedasan karena ayam geprek yang dia makan. Dengan rakus dia mengambil sebotol air di dekatnya dan meminum isinya sampai bersisa setengah.



"Tapi, Ra," kata Kim, "Jujur aja, gue juga sangsi perjanjian dengan Mister Cha bakal semulus harapan gue."



"Lah? Kenapa lo berpikiran gitu?" tanya Rara.



"Soalnya ...," Kim memiringkan kepala, "Nggak jadi deh. Takutnya lo sebar ke mana-mana."



"Kampret siah. Lo yang mau ngomong kenapa malah nggak jadi?"



Kim tertawa melihat wajah Rara yang cemberut. Hiburan yang menyenangkan. Setidaknya dia tidak terlalu memikirkan soal apa yang akan terjadi ke depannya.



***

__ADS_1



Kim sudah pulang lebih dulu, dan Rara menunggu di salah satu bangku taman di dekat gerbang kampus. Sesuai perjanjian yang entah kapan diucapkan, Alvin akan menjemputnya dan mereka akan pulang bersama. Karena itu ketika Kim menawarkan tumpangan, Rara menolak. Sohib gesreknya itu sempat menggodanya dan rasanya Rara pengen nimpuk wajah cewek itu dengan stiletto yang dia pakai sekarang.



Sebuah bunyi notifikasi dari ponsel membuat Rara mengeluarkan benda persegi itu. Ada pesan dari Alvin di Whatsapp.



Bocah Rese



Bentar lagi ke kampus lo. Baru keluar kelas dan nunggu sampe situasi reda.



Pesan itu membuat kening Rara berkerut. Dia mengetikkan balasan,



Emangnya ada apaan sampe pake nunggu situasi reda?



"Eh, jangan kirim chat ini, deh." Kata cewek itu hendak menghapus pesan yang baru saja diketiknya.



Tetapi entah karena ceroboh ato emang jari-jari cantiknya sedang berkhianat, pesan yang seharusnya dia hapus itu malah dia kirim. Sedetik kemudian Rara panik ketika pesan itu sudah dibaca oleh Alvin dan kini dia melihat tulisan 'sedang mengetik ...' di bawah nama cowok itu.



Bocah Rese



Calon suami lo ini dikerubutin cewek-cewek. Lo nggak cembokur apa?




Jari-jarinya mengetik balasan dengan cepat. Rara mendengus puas ketika membaca tulisannya sendiri dan melemparkan benda tak bersalah itu ke dalam tas.



***



Alvin melihat pesan balasan dari Rara dan tersenyum kecil ketika membacanya.



Rara Semut



Mau lo dikejar cewek, nenek-nenek, ato banci juga gue nggak peduli. Buruan dah. Gue mau leha-leha di rumah.



Alvin menggeleng-gelengkan kepala. Dia memasukkan ponsel kembali ke saku seragamnya dan menatap cermin yang retak di hadapannya. Matanya menatap tajam pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Kepalanya mendadak kembali terasa sakit.



Selalu begini ...



"Brengsek!!"



***

__ADS_1



Rara masih setia menunggu sambil asyik memainkan game kesukaannya, Love and Producer. Walaupun tidak pernah dirilis di luar negeri selain Cina, Rara punya akses khusus, dan dia bersyukur mengerti bahasa Mandarin karena sering bepergian ke Negara Tirai Bambu itu saat masih kecil.



Tengah asyik 'bermesraan' dengan karakter kesukaannya, sebuah suara klakson mobil membuyarkan konsentrasi Rara. Dilihatnya mobil Alvin sudah berhenti tepat di depannya. Kaca mobil di kursi pengemudi terbuka dan menampakkan Alvin yang tersenyum dengan bibir yang agak pucat.



Bocah itu kenapa?



"Masuk, Ra," kata Alvin pelan. Tidak seperti Alvin yang biasanya heboh ato beradu mulut dengannya.



Kening Rara berkerut, tetapi dia tidak bertanya. Gadis itu masuk ke dalam mobil tepat di samping Alvin yang berada di balik kemudi. Ketika dilihatnya Rara sudah memasang seatbelt, Alvin menutup kaca mobil di sampingnya dan mulai menjalankan mobil.



Suasana tampak hening selama perjalanan. Ini juga membuat Rara bingung. Biasanya Alvin bakal beradu argument dengannya, ato minimal bermanja ala bocah kalo dalam kamus Rara.



Dan ... Rara baru ingat, Alvin menyetir mobilnya sendiri!



"Sopir yang biasanya ke mana?" tanya Rara.



"Dia lagi istirahat. Gue suruh istirahat karena besok dia kudu balik ke kampung halamannya selama seminggu." Jawab Alvin.



"Oh ...,"



"Lo kangenin sopir gue, tapi guenya nggak?" tanya Alvin balik.



"Buat apa gue kangenin bocah kayak elo?" Rara memutar bola matanya, "Lagian pede banget lo bakal gue kangenin. Narsis lo selangit!"



"Sayang banget," Alvin memiringkan kepalanya dan menatap Rara. Seulas senyum yang sudah pasti bakal dikategorikan sebagai killer smile tersungging di bibir cowok itu, "Padahal gue kangen berat dengan lo."



Ini perasaan Rara aja ato emang jantungnya lagi menggila? Kenapa organ tubuhnya yang satu itu berdetak cepat sekali saat ini?



"Lo kege-eran banget gue kangenin," Rara berdeham, "Kita langsung pulang aja, ya. Gue mo istirahat di rumah."



"Sebelum itu, boleh nggak lo nemenin gue dulu?" kata Alvin.



"Ke mana?"



"Makam Keenan."




#Chapter ini memang pendek karena emang disengaja buat persiapan versi cetak yang entah kapan terlaksana. :")#

__ADS_1


__ADS_2