Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 22


__ADS_3

Setelah pergi menemui Mister Cha, dia dan Kim jalan-jalan ke pantai. Bisa dibilang, walaupun mereka punya perangai yang berbeda, tetapi tempat favorit dan beberapa hal lain yang mereka sukai sama persis. Karena itu ketika Kim menyarankan mereak untuk pergi ke pantai, Rara mengiyakan, dan mereka makan gorengan dan minum es kelapa muda seperti kebiasaan mereka kalo pergi ke pantai. Kim bahkan menyetok cemilan lain kalo mereka lapar lagi dan butuh asupan makanan yang lain.



Pulang dari pantai, Rara merasa kepalanya sakit. Untung aja dia udah sampai di rumah. Kalo dia pingsan di pantai, mungkin Kim yang bakal heboh, meminta tolong pada para pengunjung pantai dengan gaya sok lebay.



Bukannya ditolong, yang ada malah dikira orang gila lagi syuting!



"Ra, kamu kenapa?"



Rara mendongak, melihat Darren berjalan keluar dari ruang kerjanya dan menatap Rara dengan kening berkerut.



"Nggak tau. Tiba-tiba pusing gini ...," kata Rara, "Kak Darren nggak pergi ke Batam?"



"Urusanku di sana udah selesai," balas Darren, "Sini, biar kubantuin."



Darren menghampiri Rara dan menggendong adiknya itu dengan gaya bridal style. Rara langsung memeluk leher Darren. Napasnya memburu. Kepalanya makin terasa sakit.



"Kak, sakit ..."



Darren mengerutkan keningnya makin dalam. Rara jarang sekali sakit. Dan dia sempat merasakan pipi Rara yang terasa hangat di lehernya. Dia sampai di kamar Rara dan menghela adiknya itu ke atas tempat tidur. Rara mengelusi kepalanya yang mulai terasa hangat.



"Kepalamu sakit banget?" tanya Darren sambil menyentuh dahi Rara.



Panas.



Rara mengangguk lemah. Dalam hati mendecih kesal karena mendadak sakit seperti ini. Rara benci sakit, karena itu dia berusaha untuk tidak terkena sakit apalagi sakit yang parah seperti demam dan bisa membuatnya terkurung di tempat tidur berhari-hari.



"Badanmu panas banget," kata Darren, "Kupanggilin dokter, ya?"



Rara hanya diam, dan Darren menganggapnya sebagai jawaban iya. Dia keluar dari kamar Rara untuk meminta pelayan memanggilkan dokter sementara Rara menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkabut.



"... Alvin."



***



Alvin mengerjakan soal matematika di bukunya dengan tekun. Teman-teman sekelasnya sedang istirahat, dan hanya dia sendiri yang membawa buku pelajaran sambil mengemut permen lollipop rasa karamel di kantin. Di hadapannya ada dua botol air putih, sandwich daging, dan juga teh botol. Walau keliatan kurus, porsi makan Alvin ternyata lumayan banyak, apalagi melihat dua botol air mineral tanggung dan juga teh botol di depannya.



"Vin,"



Alvin mendongak, mendapati Veranda Kaliantha menghampiri mejanya. Beberapa pasang mata melihat mereka diam-diam. Tidak ada yang tidak mengenal nama Vera apalagi karena dia adalah putri pemilik tambang batu-bara di Kalimantan yang cukup terkenal.



"Ya?" Alvin mengerutkan kening, "Ngapain lagi lo ngikutin gue?"



"Kejam banget lo bilang gue ngikutin lo," Vera terkekeh sambil duduk di depan Alvin, "Gue cuman pengen liat lo aja. Salah, ya?"



"Lo yakin lo cewek? Kata-kata lo mirip cowok." Balas Alvin tenang.



Vera hanya tersenyum. Dia menatap wajah Alvin yang kembali fokus pada buku pelajarannya. Heran, Alvin betah banget baca buku pelajaran matematika untuk anak kelas tiga padahal dia masih kelas dua SMA.



"Vin,"



"Hm,"



"Kita pacaran, yuk!"



Ucapan itu sontak membuat seisi kantin terkesiap. Banyak mata mengalihkan perhatian pada mereka berdua. Vera masih tersenyum manis pada Alvin, tidak memerdulikan ekspresi datar yang ada di wajah cowok itu.



"Gue mau tanya sesuatu," Alvin menutup buku matematikanya dan menatap Vera, "Kenapa lo mau jadi pacar gue?"



"Ayolah ..., masa lo mau dijodohin ama tante-tante?" kata Vera sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan, "Lagian lo juga pasti nggak seneng dengan keputusan orangtua lo ngejodohin ama tante-tante."



Alvin mengerutkan keningnya samar. Dalam hati dia menertawakan asumsi Vera. That girl is really wrong in many ways.



"Gue beritau lo satu nasehat," kata Alvin tersenyum manis, "Gue lebih seneng dijodohin sama tante-tante tapi dia high quality dibanding pacaran sama sesama ABG labil yang kalo disentil dikit udah baper ato malah lebay kuadrat."


__ADS_1


Senyum di wajah Vera langsung memudar mendengar ucapan penuh sindiran dari Alvin, "Lo ... nolak gue?"



"Definitely. Gue nggak tertarik pacaran sama cewek kayak lo." Balas Alvin.



"Boleh gue tau alasannya apa?" Vera nggak mau menyerah.



Vera tentu aja punya alasan lain pengen Alvin jadi pacarnya. Selain punya good looking, kekayaan cowok itu juga jadi factor utama. Siapa sih, yang nggak mau punya pacar kayak Alviano Alexander?



Kali ini Alvin tertawa, cukup keras hingga membuat semua orang melongo. Alvin jarang mau tertawa ato tersenyum kecuali dengan teman-teman terdekatnya. Dan sekarang ...



"Ver, are you crazy?" tanya Alvin, "Yakin lo mau jadi pacar gue?"



"Definitely," Vera meniru jawaban Alvin sebelumnya, "Lo tinggalin aja deh itu tante-tante. Mendingan sama gue. Gue seumuran ama lo, dan juga gue lebih available buat cowok kayak lo."



"Cowok kayak gue?" Alvin menyeringai tipis, "Yakin banget lo kalo gue bakal mau sama lo."



"Tapi sayang banget, Veranda Kaliantha," Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue lebih seneng ama tante-tante yang dijodohin sama gue daripada cewek macam lo. As I said before. My fiancé has a high quality. Not like you."



"Jadi, nggak perlu capek-capek buang waktu lo. Gue nggak bakal tertarik. See ya."



Alvin menyambar sandwich di depannya dan membawa buku pelajaran serta dua botol air putih di meja sebelum meninggalkan kantin.



Vera yang melihat itu menggenggam kedua tangannya erat-erat. Lagi-lagi Alvin menolaknya. Ini benar-benar penghinaan.



"Ver, lo yakin mau ngedeketin Alvin lagi?" salah seorang pengunjung kantin menghampirinya. Salah seorang teman sekelas sekaligus sahabatnya, "Dia kayaknya nggak tertarik buat—"



"Am I do cares about that? Gue mau ngedeketin dia seperti apa juga bukan urusan lo, Nadine." Kata Vera.



Nadine langsung bungkam. Dia hanya bisa menatap Vera yang tersenyum sinis, "Sooner or later, he will be mine. Just watch, Nadine. Just watch ..."



***



Alvin menghembuskan napas dan duduk di bangkunya. Kepalanya terasa sakit mendengar ucapan Vera di kantin barusan. Hatinya mendidih? Tentu aja. Siapa yang nggak seneng kalo cewek yang disukainya dijelek-jelekin begitu?




Alvin benar-benar udah gila, kayaknya.



Seolah mendapatkan ilham, cowok itu mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi chat. Jarinya langsung menekan obrolan dengan Rara dan mulai mengetikkan pesan.



Handsome A



Ra, nanti pulang dari kampus kita jadi ke game center, 'kan?



Alvin meletakkan benda itu ke atas meja dan mulai membaca buku pelajaranny lagi. Dua menit kemudian ada bunyi notifikasi dari ponselnya.



Rara Kelinci



Nggak.



Kening Alvin berkerut. Aneh. Rara nggak biasanya membalas pesan sesingkat ini. Biasanya tuh cewek bakal kasih omelan singkat sebelum menjawab pertanyaannya.



Handsome A



Kenapa? Lo ada janji dengan Kim?



Rara Kelinci



Gue mau leha-leha.



Handsome A



Jangan bohong sama gue. Lo ada janji dengan Kim?



Rara Kelinci

__ADS_1



Rara Kelinci sedang mengetik ...



Alvin menantikan balasan dari Rara, tapi nggak pernah muncul sampe jam istirahat usai.



***



Rara meringis merasakan kedua tangannya terasa kaku. Dokter mengatakan kalo penyakit tifusnya kambuh, dan hal itu dirutuki Rara. Di saat-saat seperti ini penyakit lamanya itu kambuh. Dia bahkan tidak bisa memegang sendok makan dengan benar. Membalas chat dari Alvin aja udah termasuk anugerah mengingat kondisinya sekarang.



"Ah ..." Rara meringis merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Ponsel di dekat kepalanya bergetar lagi. Matanya melihat notifikasi di layar ponsel dan membelalakkan matanya.



Bocah Tengil



Gue bakal ke rumah lo nanti setelah pulang sekolah. Jangan coba-coba kabur.



"Dia mau datang ke sini? Mampus!"



Rara hendak memanggil pelayan, tapi langsung menghentikan niatnya merasakan ngilu luar biasa. Dengan napas berat dia kembali rebahan dan melirik ponselnya. Kalo Alvin datang dan ngeliat kondisinya begini, itu bocah pasti bakal ngetawain dia.



Duh ... apa yang harus Rara lakuin sekarang?



Saking kepikirannya, Rara sampe ketiduran. Entah udah berapa lama dia tidur. Tapi ketika membuka mata, Rara melihat kalo hari udah sore dari jendela kamarnya. Dia mengembuskan napas dan menoleh ke samping, nyaris memekik melihat wajah Alvin yang dekat sekali dengan wajahnya.



Rara menoleh kearah jam dinding, melihat sekarang sudah jam lima sore, artinya Alvin udah berada di sini selama satu jam karena jam pulang sekolah Alvin adalah jam empat sore.



"Lo udah bangun?"



Kepala Rara menoleh, melihat Alvin yang menguap dan meregangkan badannya sebelum menatap Rara, "Lo kalo sakit bilang-bilang dong. Gue kira lo ada janji dengan Kim. Kalo ada janji pun sebenarnya nggak masalah."



Rara hanya diam. Dia terlalu sakit untuk bicara.



Alvin mengangkat tangannya dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Rara, "Badan lo masih panas. Mau gue ambilin minum?"



Rara mengangguk. Alvin dengan sigap membantu Rara untuk duduk, menyusun bantal-bantal agar Rara bisa bersandar kemudian menuangkan segelas air putih untuknya. Alvin memasukkan sedotan dan menyodorkan ujung sedotan itu pada Rara.



"Makasih," Rara mengembuskan nafas.



Alvin mengangguk dan menaruh kembali gelas yang isinya tinggal setengah itu ke atas meja di dekat tempat tidur. Dia lalu menggeser duduknya, "Sini, Ra."



"Hah?"



Rara belum sempat bereaksi saat Alvin melingkarkan kedua tangannya di tubuhnya. Kepalanya kini bersandar di ceruk leher Alvin.



"Vin—"



"Lo itu jangan bikin gue khawatir, dong. Gue sempet panic waktu dengar dari pelayan kalo lo sakit," kata Alvin, "Untung penyakit lo nggak seberapa parah, dibanding dulu ..."



Alvin mendadak berhenti bicara. Cowok itu menutup mulutnya.



"Dulu? Memangnya gue dulu juga pernah sakit?" tanya Rara.



"Nggak papa. Jangan dipikirin." Alvin menggeleng, "Lo tidur gih. Biar gue jagain. Siapa tau kalo dipeluk gini sakit lo nular, trus gentian gue deh yang dirawat sama lo nanti."



Rara mencibir. Tapi pelukan Alvin makin erat dan cowok itu mengecup puncak kepala Rara berkali-kali sambil mengelus punggugnya. Dan ... Rara tau ini gila, tapi dia merasa nyaman.



Nyaman sekali ...



Rara memejamkan mata, mencium wangi parfum Alvin yang beraroma musk yang cukup dewasa di badan cowok itu, "Makasih, Vin ..."



Alvin menatap Rara yang mulai pulas lagi. Dia terkekeh dan menyandarkan pipinya di puncak kepala cewek itu, "Anything, Ra. Anything for you ..."



Sorot mata Alvin tiba-tiba berubah, dia menatap Rara dalam pelukannya, "I will never let you go, Maharani Rezkina. You're mine and always be mine."



__ADS_1


__ADS_2