
Festival kelulusan tiba, tetapi Rara merasakan perasaan ingin kabur saja mengingat hari ini dia juga akan menikah dengan Alvin.
Menikah. Menikah. Menikah.
Satu kata itu berhasil membuat pikiran dan perasaannya serasa berada di roller-coaster, membuatnya mual membayangkan dia akan menjadi milik orang lain.
Duh, rasanya Rara ingin kabur saja, serius. Tetapi Kim nggak memperbolehkannya melakukan hal itu karena semuanya bakal runyam. Waktu untuk mempersiapkan segalanya pun terasa cepat hingga hari festival kelulusan pun tidak terasa sama sekali.
Rara sudah datang ke gedung aula tempat festival diselenggarakan. Panggung yang cukup mewah sudah dipersiapkan. Beberapa orang juga sudah berseliweran di aula dan membuatnya semakin gugup.
"Ra,"
Rara menoleh, melihat Kim yang berada di belakang panggung mengisyaratkannya untuk menghampiri. Ia berjalan mendekati Kim yang tampak kasual sekaligus anggun di saat bersamaan mengenakan kemeja warna hitam dan rok span biru dongker. Dan Rara melihat Kim mengenakan make-up yang lebih dibanding biasanya sehingga sorot matanya yang tajam makin terlihat jelas dengan riasan smokey eyes.
"Gue dapet giliran sebelum lo, jadi nanti lo harus jadi model gue dulu," kata Kim.
"Oke," Rara mengangguk, "Yang lain udah dateng?"
"Baru beberapa. Pada sibuk juga kok mereka," jawab Kim, "Yuk, langsung ke ruang ganti. Gaun dari gue udah gue taruh di sana."
Rara mengikuti Kim. Mereka sempat berpapasan dengan teman-teman mereka sebelum masuk ke dalam ruang ganti. Di sana juga ada beberapa orang asing selain mahasiswa jurusan desain yang menjadi pengisi festival hari ini. Kim menuntun Rara menuju sebuah bangku di mana terdapat manekin dengan gaun berwarna pink nyaris putih. Itu adalah gaun rancangan Kim.
"Gaun lo udah ditaruh di sini?" tanya Kim.
"Gue udah taruh di sini sebelumnya ...," kata Rara, mencari-cari manekin yang ia pasangi gaunnya dan menemukan benda itu di dekat salah satu meja rias, "Ada di sana."
Kim melihat ke arah yang ditunjuk Rara dan mengangguk, "Oke, kalo gitu kita langsung dandan aja. Lo mau dandan sendiri ato gue yang dandanin?"
"Sendiri aja, deh. Lo bantuin gue pasang bulu mata sama eyeliner, ya?"
"Oke."
Rara menaruh kotak berukuran sedang di atas meja rias dan membukanya. Isi kotak itu penuh dengan alat-alat make-up milik Rara. Selama ini bila ada festival atau acara yang mengharuskan salah satu dari mereka berdua tampil di atas panggung, baik Rara maupun Kim lebih memilih berdandan sendiri.
Lagipula, apa gunanya ilmu make-up yang mereka pelajari selama mengikuti kursus yang diadakan fakultas?
Dengan cekatan, Rara menyapukan pelembab terlebih dulu sebelum memakai foundation. Sesekali Kim membantu Rara dengan menyerahkan peralatan make-up yang diperlukan sementara dia sendiri menata rambut panjang Rara. Ia membuat rambut sahabatnya itu menjadi bergelombang dan kemudian mengikatnya tinggi-tinggi sebelum meberikan pita dan sebuah jepit rambut berbentuk bunga mawar.
"Tudung pengantin kemarin lo bawa juga, 'kan?" tanya Kim.
Rara mengangguk sambil menyapukan eye-shadow berwarna merah di kelopak matanya sebelum mencampurkannya dengan sedikit warna cokelat muda, "Gue bawa, kok. Ada di dalem kotak deket gaun gue."
Kim mengangguk, kemudian memeriksa kotak di dekat gaun rancangan Rara. Tudung pengantin yang mereka buat ada di sana.
__ADS_1
Setelah selesai berdandan, Kim membantu Rara mengenakan gaun rancangannya dan mengetatkan pita yang ada di belakang gaun. Gaun yang Kim buat memiliki potongan off-shoulder dan dihiasi bunga mawar dari kain satin di bagian pinggang. Sebuah pita berukuran besar menjadi daya tarik tersendiri dari gaun milik Kim karena ia tidak hanya menggunakan kain yang terlihat berkilau, tetapi juga penempatan serbuk berkilau yang digunakan juga sangat tepat.
"Gue mendadak ingat, ini gaun lo kasih nama apa?" tanya Rara sambil mematut penampilannya di depan cermin dan membetulkan kalung pita yang ia kenakan di leher.
"Hmm ..., Starry Light? Lo liat sendiri gaun gue gemerlap kek ada bintang-bintang gitu."
"Bener juga, sih," Rara mengangguk, "Eh, gaun lo ada tiaranya ato apa yang harus gue pake?"
"Lo tinggal bawa ini," Kim memberikan sebuah buket bunga mawar segar berwarna merah muda, "Tema yang gue pake juga wedding dress, tapi punya gue adalah gaun masa kini."
"Dih, sok banget," kata Rara sambil menerima buket bunga itu, "Bentar lagi giliran nama lo yang dipanggil?"
Tepat saat itu juga nama Kim dipanggil, berikut dengan nama modelnya yang tidak lain adalah Rara sendiri.
"Nah, itu udah dipanggil," ujar Kim, "Ayo, Ra!"
Rara mengangguk. Dia memejamkan mata dan menarik napas sebelum menghembuskannya dengan perlahan. Hari ini dia akan dua kali tampil di panggung, sebagai model Kim dan juga model untuk gaun rancangannya sendiri.
Perlahan Rara membuka matanya. Ia siap naik ke atas panggung.
***
Alvin meludahkan darah yang ada di mulut dan menatap kekacauan yang ada di depannya. Sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam terkapar di tanah dengan luka dan ceceran darah. Sebagian dari orang-orang itu ada yang pingsan, walau sebagian lagi masih memiliki kesadaran dan mengerang kesakitan.
"Kirim mereka ke penjara, kalau perlu, mau dibunuh juga nggak masalah," perintah Alvin, "Dan pastikan nggak ada yang mengganggu pernikahanku dengan Rara hari ini."
Martin mengangguk dan menatap kedua puluh orang yang baru saja mencoba menyerang tuan mudanya dengan sorot kasihan. Andai mereka tahu yang mereka hadapi adalah Alviano Alexander, pewaris Alexander Group dan ...
"Martin," panggil Alvin, membuyarkan lamunan pengawal pribadinya itu, "Aku mau tidak ada yang tahu tentang ini selain Daddy. Jangan sampai Keluarga Rezkina dan Rara tau soal penyerangan ini."
"Apa Anda tidak ingin memberitahu Nona Maharani tentang yang sebenarnya?" tanya Martin sambil menunduk.
Alvin diam mendengar pertanyaan itu. Dia menatap Martin sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Mungkin nanti. Untuk saat ini, Rara nggak boleh tau."
"Tetapi begitu Rara sudah masuk ke dalam keluarga Alexander, maka dia harus tau ... kalo aku nggak sebaik yang orang lain pikirkan."
***
"Gila ... gemetaran gue!" kata Rara saat turun dari panggung dan berjalan cepat menuju ruang ganti bersama Kim.
"Lo keren banget di atas panggung," decak Kim sambil membantu Rara melepas tiara di kepalanya, kemudian memberikan sebotol air putih, "Dua nomor lagi urutan lo. Udah siap jadi pengantin sehari semalem?"
Rara meneguk habis setengah isi botol air yang diberikan Kim kemudian memutar kedua bola matanya, "Lo jangan ngegoda gue, ah!"
__ADS_1
Kim terkekeh. Dia mengambil manekin yang memakai gaun rancangan Rara dan menaruhnya di dekat tempat mereka. Rara melepas sarung tangan yang ia pakai dan melihat jam yang menempel di dinding. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk berganti pakaian.
Ketika namanya disebut, Rara kembali menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup. Beberapa orang menatapnya heran tentu saja, karena dia mengenakan gaun rancangannya sendiri padahal semua mahasiswa desain tidak boleh mengenakan gaun buatan sendiri dan tampil di atas panggung.
Tapi, Rara menjadi pengecualian.
Dan yang membuatnya sedikit gusar adalah Alvin belum datang. Padahal dia sudah mewanti bocah itu untuk datang dan mendampinginya menjadi model di festival hari ini. Namun, namanya sudah beberapa kali disebut, sehingga Rara naik ke atas panggung dan melangkah mantap.
Alvin tiba di gedung aula tempat festival kelulusan jurusan desain dilaksanakan. Tanpa banyak bicara, dia langsung masuk ke dalam dan melihat banyak mata menatapnya. Alvin sedang masa bodo untuk hal itu dan berjalan lurus ke depan, tepat ketika Rara naik ke atas panggung dan berpose. Mata Alvin tidak lepas dari gerak-gerik Rara yang berjalan mantap sekaligus anggun di saat yang sama. Gadis itu belum menyadari kehadirannya.
Alvin melihat ke balik panggung, di mana Kim ada di sana dan juga sedang melihatnya. Sepertinya sohib Rara itu sedang mengisyaratkan untuk ke belakang panggung untuk segera berganti pakaian, tetapi Alvin punya pikiran sendiri.
"Martin," Alvin menoleh, menatap pengawal pribadinya, "Tolong urus yang ada di sini dulu."
Martin hanya mengangguk walau tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan majikannya.
Alvin mendekat ke arah panggung dan membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Rara yang berbalik terkejut melihat Alvin tiba-tiba berdiri di atas panggung dengan setelan blazer hitam dan juga celana katun yang membuatnya tampak seperti eksekutif muda.
Cowok itu tersenyum simpul melihat kebingungan Rara dan mendekat, "Maaf, gue terlambat."
"Lo ngapain di atas sini?" bisik Rara agar tidak terdengar sementara semua orang menatap mereka penasaran, "Lo kenapa juga telat? Seharusnya lo datang tiga puluh menit sebelum—"
Aliran kalimat Rara terputus ketika Alvin berjongkok di hadapannya, tidak habis dengan itu, cowok itu berjongkok dan meraih tangan kanan Rara dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
"Ra, kamu mau jadi partner aku selamanya, 'kan?"
Rara mengerjapkan mata beberapa kali. Dia menoleh kanan-kiri dan melihat orang-orang sama tercengangnya seperti dirinya. Matanya kemudian menatap Alvin lagi, "Lo ... lo udah gila?"
"Bukannya hari ini hari pernikahan kita?" kata Alvin, sontak membuat semua orang yang ada di sana kembali terkejut.
"Iya, gue tau, tapi ... kenapa malah lo begini, sih?"
"Melamar kamu dengan elemen kejutan salah, ya?" tanya Alvin balik. Rara kembali dibuat syok mendengar Alvin ber-aku-kamu dengannya.
"Y-ya nggak salah, sih ..., Cuma masa pas lagi begini ..." pipi Rara memerah. Astaga, dia malu sekali dilihat orang segini banyak.
Alvin tersenyum lagi, dia berdiri dan mengangkat tangan kanan Rara, menyematkan sesuatu ke jarinya.
"Kamu mungkin nganggep aku bocah, tapi aku jamin bakal jadi pria dewasa buat kamu," kata Alvin.
Rara menatap jari manis tangan kanannya, di mana tersemat sebentuk cincin emas putih dengan berlian Swarovski yang memantulkan cahaya ketika mengenainya.
"Jadi, Ra," suara Alvin menarik kembali perhatiannya, "Hari ini kita bakal nikah, jadi jangan kabur lagi seperti waktu itu, ya?"
__ADS_1