
Kembali ke kampus setelah sepuluh hari sakit terasa aneh bagi Rara. Bukan karena dia mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan lulus, tetapi lebih ... entahlah. Rasanya berbeda.
Setelah berkonsultasi pada dosen pembimbingnya dan memperbaiki sketsa gaun yang akan dipamerkan saat festival, dia dan Kim kembali nongkrong di kantin, menikmati makanan kantin yang beda dari biasanya. Rara bahkan menghabiskan dua porsi batagor dan satu porsi nasi goreng. Belum lagi dua gela besar jus jeruk kesukaan gadis itu. Kim sampai heran sendiri, melihat nafsu makan Rara yang gede begini.
"Lo belum diapa-apain Alvin, 'kan Ra?" kata Kim saat Rara dengan gembiranya meminum gelas kedua jus jeruk.
"Sembarangan. Gue laper berat, tau!" balas Rara, "Selama sakit, gue nggak bisa makan dengan tenang. Lidah gue berasa pahit."
"Berarti lo balas dendam dengan makan segini banyak?"
"Betul sekali!"
Kim geleng-geleng kepala. Jarang-jarang memang Rara bernafsu makan besar seperti ini. Tetapi itu artinya kondisi Rara sudah semakin pulih, dan mungkin akan lebih baik setelah beberapa hari ke depan. Biasanya kalo sahabatnya itu sakit, waktu yang diperlukan untuk sembuh bisa sebulan penuh. Salahkan Rara yang senang makan makanan manis, padahal sudah diwanti-wanti jangan makan makanan manis terlalu banyak karena bisa menghambat penyembuhan.
"Setelah ini kita pergi ke mana?" tanya Kim, "Gue masih available hari ini buat nemenin lo."
"Lagak lo kayak pacar aja. Kalo orang denger, salah-salah kita dikira pasangan lesbong." Rara pasang wajah ngeri yang membuat Kim tertawa.
"Makanya, sesekali ajak Alvin, dong." Kata Kim.
"Dia sekolah, Sayang ..."
"Nah, lo sendiri manggil gue sayang." Balas cewek tomboy itu, "Terserah sajalah orang nganggep kita kek gimana, lagian semuanya juga tau lo dan gue sama-sama normal."
Rara meringis. Dia menyedot habis jus jeruknya dan menyingkirkan gelas kosong itu dari hadapannya, "Kim, lo ... yakin nggak mau ketemu Mister Cha?"
"Kenapa lo nanya gitu?" Kim balas bertanya.
Rara teringat raut wajah Mister Cha saat dia masuk ke ruang dosen. Waktu itu Kim nggak ikut masuk karena kebelet pengen ke toilet. Saat itu Rara melihat dengan jelas wajah Mister Cha yang lebih mirip mayat hidup, pucat, tak bertenaga. Untung nggak sekalian ditambahin lesu dan lunglai, udah kayak iklan aja jadinya!
"Nggak ..., Cuma gue tadi liat Mister Cha kayak zombie. Nggak bertenaga gitu." Kata Rara.
"Oh ...," Kim manggut-manggut, "Nggak perlu dipikirin. Lagian gue udah janji sama dia sebulan dari sekarang bakal nemuin dia secara pribadi, nyelesain masalah kami berdua."
Rara diam. Dia jelas sekali melihat sinar frustasi di mata Kim, sama seperti yang dia lihat pada Mister Cha. Masalah mereka berdua memang bukan urusannya, tetapi Rara juga nggak tega melihat sahabatnya itu bermuram durja seperti saat ini.
Karena ... ini pertama kalinya seorang Kimberly Arden jatuh cinta.
***
Mall menjadi pilihan mereka berdua untuk menghabiskan hari. Rara mengajak Kim pergi ke butik langganannya dan kemudian mereka makan siang bersama di salah satu restoran yang menjadi kesukaan mereka berdua. Hiburan yang bisa diambil mereka hari ini memang hanya jalan-jalan dan makan siang, tetapi itu lebih baik daripada pergi jauh-jauh tapi nggak menikmati waktu bareng dengan sahabat.
Rara melihat ke luar, menatap para pengunjung mall yang berlalu-lalng dari balik dinding kaca restoran. Karena hari ini bukan weekend, mall cukup sepi walau nggak sesepi kuburan.
"Ra, lo udah dapet model untuk festival?" tanya Kim.
"Masih gue pikirin," balas Rara, "Kenapa lo nanya itu?"
"Nggak aja. Cuma pengen tau," Kim nyengir, "Lo tetep jadi model gue, 'kan?"
"Lo udah nanya itu berkali-kali dan jawaban gue juga lo udah tau sendiri." Rara memutar bola matanya, agak kesal dengan pertanyaan berulang-ulang.
"Jelas aja gue nanya tiap hari, tiap menit, tiap waktu. Festival bentar lagi digelar. Mana bisa gue tenang sementara lo aja belum dapet model."
__ADS_1
Rara meringis. Benar juga. Festival akan diadakan kurang dari dua bulan. Dan itu artinya dia harus gerak cepat untuk mencari model. Belum lagi karena sakit kemarin, dia harus istirahat total dan belum mengerjakan separuh pekerjaannya.
"Kim, lo bisa bantu gue ngejahit gaun punya gue, nggak?" kata Rara, "Gara-gara sakit kemarin gue nggak bisa ngerjakan finishing-nya."
"Nggak masalah. Selama seminggu gue di rumah lo jug ague hayuk aja." Kata Kim, "Terus pakaian pengantin prianya udah jadi?"
"Boro-boro. Lo tau sendiri gue nggak ada niatan ..., tunggu, kenapa lo tanya pakaian pengantin pria?"
"Bukannya gue pernah bilang, mending lo jadi model untuk gaun lo sendiri dan Alvin jadi model prianya? Jadi lo ujian sekaligus bikin upacara nikah di festival nanti."
"Gila lo. Yang begituan masih diinget." Decak Rara.
Kim terbahak melihat ekspresi Rara, "Makanya Ra, turutin aja saran gue. Siapa tau malah bermanfaat. Nggak perlu bikin upacara pernikahan dua kali."
"Gila lo!"
***
Tapi emang bener. Rara aja sampe lupa dia bakal nikah dengan Alvin di akhir tahun, which is mean, di bulan festival kelulusan digelar. Memikirkannya aja udah bikin Rara merinding sendiri.
Nikah? Membayangkan dia bakal menikah aja rasanya udah kayak hukuman gantung yang dipercepat.
Tapi ...
Duh, kenapa sekarang dia rela aja bakal nikah sama Alvin?
Apa karena dia udah merasa nyaman dengan bocah itu? Atau ... ada hal lain yang membuatnya mulai menerima Alvin?
Setelah jalan-jalan seharian dengan Kim, mereka berdua pulang ke rumah Rara dan mulai berkutat dengan gaun Rara yang setengah jadi. Mereka berdua kompak mengerjakan apa saja yang kurang dan Rara memberikan instruksi yang jelas pada Kim agar gaun itu jangan sampai salah meletakkan manik-manik ato renda.
"Oh ya, Ra, kalo di bagian sini mending dikasih renda, ato lo ada kain tembus pandang? Kayak kain kerudung bisa juga kalo mau."
Rara menghentikan kegiatannya memasang manik-manik sebesar mutiara di bagian dada gaun dan melirik gulungan kain di ujung ruangan, "Rasanya ada di sana. Butuh berapa banyak?"
"Dua meter cukup, kalo lebih, bisa dijadikan hiasan di pinggang." Kata Kim.
Rara mengangguk. Dia menghampiri gulungan-gulungan kain dan mengambil satu gulungan besar untuk dia gunting sepanjang dua meter. Dia menyerahkan kain itu pada Kim yang dengan sigap memotongnya menjadi dua dan menjahitnya pada gaun milik Rara.
"Setelah ini tinggal bikin aksesorisnya," kata Rara, "Menurut lo cocoknya aksesoris gaun ini apa?"
"Tudung pengantin? Lo ada kain satin putih, 'kan? Buat bunga-bunga mawar dari itu, terus kita buat tudungnya mirip tiara, gimana?" saran Kim.
"Boleh juga."
"Setelah itu untuk pakaian pengantin pria," kata Kim, "Lo punya ukuran badan Alvin, nggak?"
Kegiatan Rara langsung terhenti, "Ukuran ... badan?"
"Lo nggak pernah ngehubungin Alvin buat jadi model lo?" Kim langsung menepuk keningnya, "Ra, 'kan udah gue bilang, ikutin aja saran gue."
"Dan gue juga udah bilang kalo ide lo itu gila," kata Rara, "Lagian nikah sama festival 'kan nggak ada hubungannya."
__ADS_1
"Ada. Lo jadi nggak perlu bikin acara dua kali," balas Kim, "Duh ... jangan banyak protes, Ra. Mending sekarang lo hubungin Alvin, minta dia ke sini buat lo ukur badannya."
"Sekarang?" Rara menoleh melihat jam di dinding, sudah pukul sebelas malam, "Lo gila nyuruh tuh bocah datang malam-malam begini?"
"Kalo gitu suruh datang besok aja setelah dia pulang sekolah." Kata Kim, "Kita kudu gercep kalo nggak mau nilai turun, Ra."
Rara menggigit bibir bawahnya. Apa yang dikatakan Kim tidak sepenuhnya salah. Tapi, masa iya di festival nanti dia sekalian melangsungkan upacara pernikahan?
Dia bahkan belum mengatakannya pada papanya dan Darren.
Kim melihat wajah bimbang Rara dan menghembuskan napas, "Kita Cuma punya waktu kurang dari dua bulan sebelum festival dimulai. Lo belum bilang apa-apa ke bokap sama Kak Darren?"
"Belum ..."
"Bokap lo kapan ada di rumah?" tanya Kim lagi.
"Mungkin dua hari lagi."
"Biar gue yang bantu ngomong sama bokap lo. Kalo Kak Darren, lo cukup hubungi Kak Lisa, udah pasti kakak nggak peka lo itu bakal datang juga ke festival."
"Jangan bantah, deh Ra. Ini udah mepet banget waktunya. Lagian lo bakal nikah juga dengan Alvin, jadi sekalian aja." Kata Kim lagi.
Kali ini Rara benar-benar mati kutu. Nggak bisa ngomong apa-apa.
***
Dua hari kemudian, papanya pulang dari perjalanan bisnis. Rara yang sedang menonton TV sambil ngemil keripik kentang dalam toples gede langsung menoleh begitu melihat papanya masuk.
"Tumben kamu nggak ke kampus, Ra?" tanya papanya, "Kakakmu masih kerja?"
"Iya," Rara mengangguk, "Pa, boleh aku ngomong sesuatu?"
"Hm? Ngomong aja, Ra. Kenapa kamu kayak ngeliat hantu begitu?" kekeh sang papa sambil duduk di sebelah putrinya dan ikut mencomot keripik kentang dari toples di pangkuan Rara.
"Ehm ... gini, 'kan festival kelulusan bakalan diadain akhir tahun, dan pernikahanku dengan Alvin juga dilaksanakan akhir tahun," kata Rara, "Apa ... apa Papa mau ngadain pesta pernikahan pas hari festival kelulusanku?"
Mata Handoko Rezkina mengerjap mendengar ucapan putrinya. Detik berikutnya dia langsung terbahak sementara Rara mengigit bibir bawah saking malunya.
"Papa nggak nyangka kamu bakal minta hal itu," kata beliau, "Papa tebak itu pasti bukan ide kamu."
"Itu ide Kim. Katanya sekalian aja ..., aduh, jangan bikin aku makin malu, Pa!"
Handoko masih tergelak. Dia mengelus rambut Rara dengan sayang, "Itu terserah kamu aja. Kesepakatan kamu dengan Alvin juga. Kalo kamu yakin, Papa bakal minta tolong asisten Papa untuk nyewa gedung aula kampus kamu untuk ngadain upacara pernikahan."
"Berarti Papa setuju?"
"Papa juga mau liat kamu pake gaun pengantin," kata Handoko, "Ya jelas aja Papa setuju."
Rara hanya nyengir lebar. Antara lega sekaligus gugup. Kalo gini, dia nggak bakal bisa narik ucapannya. Satu masalah sudah selesai, dan kini dia harus memberitahu Alvin soal rencana Kim.
Dan memberitahu Alvin ternyata segampang membalikkan telapak tangan. Dengan santainya pemuda itu menyetujui rencana tersebut dan bersedia diukur badan oleh Rara untuk membuat pakaian pengantin pria.
__ADS_1