
Rara benci mengatakan ini, tetapi dia harus mengakui kalau Alvin sudah berhasil mengambil hati Kim.
Serius. Dobel serius, malah!
Pasalnya, sohib paling kentalnya ini bisa tau mana cowok yang cocok untuk dirinya. Dan melihat Alvin berhasil membuat Kim tertawa dan mengobrol layaknya teman lama sudah menunjukkan kalau bocah tengil itu pandai membawa diri.
Alvin bahkan sempat memuji suara Kim, ingat?
Itu satu poin tambahan untuk Alvin dekat dengan Rara.
Sambil mendengarkan Kim dan Alvin yang membahas hiburan apa saja yang ada di Jakarta, Rara mengecek HP-nya dan melihat satu notifikasi di salah satu aplikasi chat. Dia tidak menghiraukan notifikasi itu dan lebih memilih membuka dokumen sketsa digital yang sempat ia buat beberapa hari lalu.
"Oh ya, Ra, lo jadi nemenin gue ke game center, kan?" tanya Alvin tiba-tiba.
Rara mendongak sebentar kemudian menggumamkan 'hmm', lalu menekuni benda mungil di tangannya lagi.
"Rara emang gitu. Suka cuek kalo lagi berhadapan dengan HP-nya. Apalagi kalo dia disodorin kertas dan pensil. Dalam hitungan detik dia pasti udah menggambar puluhan sketsa gaun atau pakaian lainnya." Jelas Kim.
Alvin manggut-manggut dan memperhatikan wajah Rara yang menurutnya kelewat serius dan datar.
"Oh ya, Vin, kok lo pengen ke game center, sih?" tanya Kim.
"Pengen main aja. Soalnya bosen di rumah." Jawab Alvin, "Lagian gue juga lagi kabur dari tugas yang diberikan Dad."
Kim tertawa geli mendengarnya.
Alvin mencolek bahu Rara dan membuat perhatian gadis itu kembali padanya.
"Kita ke game center sekarang, yuk. Gue pengen jajal permainan yang ada di sana."
"Oke."
Rara menyimpan kembali HP-nya ke dalam tas kemudian berdiri.
"Eh, nggak perlu bayar. Kan gue yang traktir." Cegah Alvin ikut berdiri, kemudian secepat kilat menuju kearah kasir.
Rara memiringkan kepalanya, kemudian kembali duduk menunggu Alvin selesai membayar. Dia tidak sadar kalo Kim dari tadi memperhatikannya sambil senyum-senyum sendiri.
Dan saat Rara sadar, dia menoleh kearah sohibnya itu.
"Kenapa lo senyum-senyum kayak orang gila gitu, Kim?"
"Nggak... gue cuman ngebayangin gimana kalo lo beneran nikah sama Alvin. Pasti hidup lo yang suram dan menyedihkan itu bakal penuh warna karena nikah sama bocah."
Rara mencibir tanpa suara dan menyentil kening Kim.
"Urusan nikah itu dipikirin nanti, kali! Gue masih mau pergi ke Paris, gue masih mau merancang pakaian, dan gue nggak mau nikah dulu dalam waktu dekat ini." kata Rara, "Lagian Alvin juga masih bocah, jadi nggak mungkin kita nikah."
"Heee... kok kayaknya lo ngebet pengen nikah, ya?"
"Ha?"
"Secara nggak langsung lo sudah menyatakan kalo lo udah pasrah dinikahin sama Alvin. Perasaan beberapa jam yang lalu lo heboh nyeritain kalo Alvin itu bocah mesum yang ngomong soal ML seenak dengkul."
Rara mengerjap mendengarnya. Bener juga ucapan Kim. Dia tadi berkoar-koar dengan hebohnya kalo Alvin itu bocah mesum, tapi sekarang...
"Kayaknya lo harus sering-sering pake mode 'serius' lo deh, biar nggak ngamuk-ngamuk nggak jelas di depan Alvin. Lo kan sering labil, dan labilnya ngalahin remaja zaman sekarang."
"Kim, lo nyindir gue ato apa sih?" tanya Rara kesal.
"Nyindir sekaligus mengingatkan lo, Rara tersayang." Jawab Kim sambil bergaya imut.
Rara langsung pasang ekspresi jijik sekaligus merinding melihat tingkat Kim. Sahabatnya itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rara dan nggak sadar kalo Alvin sudah kembali ke meja mereka.
"Ayo, kita ke game center!"
__ADS_1
***
Game center di salah satu mall Jakarta tampak sepi, yang sebenarnya sudah jelas, karena mereka datang bukan pada hari libur. Hanya ada beberapa orang saja di sana kalau petugas-petugas game center tidak dihitung.
Tetapi, kayaknya Alvin cuek bebek. Pemuda itu langsung menuju salah satu permainan yang membuat Rara dan Kim menaikkan sebelah alis heran.
"Vin, lo yakin milih game yang ini?" tanya Kim, menyuarakan apa yang ingin ditanyakan Rara.
Alvin mengangguk dan melepas jaket yang dia kenakan dan menaruh tasnya di dekat jaketnya. Pemuda itu langsung mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan memasukkannya ke slot di permainan tersebut.
"Tapi..." Rara mengerutkan kening, "lo bisa dance?"
"Biar badan gue keliatan kurus kering kek lidi begini, gue bisa dance, tau." Kata Alvin. "Nggak percaya?"
Kedua gadis itu menggeleng bersamaan.
Alvin tersenyum lebar dan menekan satu tombol di layar di depannya dan suara music dengan beat cepat mulai mengalun.
"Just watch." Kata Alvin.
Detik berikutnya, baik Rara maupun Kim sama-sama melongo melihat betapa enerjiknya Alvin menari mengikuti petunjuk dan irama dari mesin permainan di depannya. Tubuh Alvin dengan mudah meliuk mengikuti irama, bahkan sesekali split, masih mengikuti petunjuk di layar permainan.
Ketika satu lagu itu selesai dan layar di hadapan mereka menunjukkan skor yang lumayan tinggi, mereka berdua bertepuk tangan dengan heboh.
"Woaaaa, gue nggak pernah liat dance seenerjik itu kecuali dari oppa-oppa Korea macam Shinee, atau BTS, yang sekarang lagi heboh." Kata Kim.
Alvin tersenyum lebar mendengarnya.
"Main game sekalian olahraga nggak buruk juga kok." kata Alvin, "Gue biasanya ikut komunitas dance di Amerika dulu. Komunitas biasa, sih, Cuma gue banyak belajar dari mereka."
"Oya, Kim, lo mau coba adu dance dengan gue?"
"Lo nantang, nih?" tanya Kim balik.
"Kan lo bilang lo kadang juga nge-dance. Duel, yuk!"
Alvin melihat kearah Rara yang sebisa mungkin mencubit pinggang Kim yang selalu meleset karena temannya itu dengan tidak berdosanya tersenyum lebar dan mendorong Rara ke sebelah Alvin.
"Lo bisa dance, kan, Ra?" tanya Alvin.
"Sedikit..." kata Rara. "gue lama nggak nge-dance. Dan basic gue itu di senam, bukan dance."
"Sama aja." kata Alvin, "Mau nyoba main ini?"
Rara menatap layar permainan, kemudian kearah Alvin yang menunggu jawaban, lalu Kim yang masih dengan senyum tak berdosanya mengacungkan jempol.
Rara menarik nafas dan menghembuskannya dalam satu helaan keras. Dia menaruh tasnya di dekat tas Alvin.
"Kita lihat apa gue masih bisa nge-dance selincah dulu." Kata Rara.
"Ayolah, masa lo kalah sama gue, sih, Tante?"
"Vin, mulut lo minta dijahit ato gimana, sih? Itu hinaan bagi gue." ujar Rara.
Alvin tertawa, kemudian kembali menekan tombol di layar. Lagu salah satu girlband Korea mulai mengalun.
Rara mulai menari mengikuti lagu, begitu pula Alvin. Pada awalnya, Rara sedikit kesulitan menyamai petunjuk yang terlihat di layar, tapi kemudian gadis itu bisa mengikuti gerakan selanjutnya, bahkan hampir sama lincahnya dengan Alvin.
Mereka berdua mulai menarik perhatian para pengunjung mall yang lewat. Tidak sedikit yang berdecak kagum melihat tarian mereka berdua yang kompak. Beberapa bahkan terdengar memuji Rara yang cukup seksi karena hanya mengenakan kaus ketat hitam tanpa lengan yang dilapisi jaket hoodie ungu muda dan celana pendek selutut.
Kim terkekeh geli melihat reaksi yang berbeda dari para pengunjung mall yang mulai mengurumuni mereka. Kim tau kalo Rara memang jago dance, bahkan sebelum menekuni jurusan desain, Rara pernah aktif dalam grup cover dance dan sering meraih juara. Tubuh lentur nan kencang Rara pun juga didapat dari hasil latihan dance yang terkadang dilakukan gadis itu kalau sedang suntuk memikirkan ide sketsa terbaru.
Lagu sudah mencapai klimaks. Baik Alvin maupun Rara sama-sama mengangkat tangan sesuai petunjuk di layar. Nafas mereka terengah-engah karena terlalu bersemangat dan tidak menyadari kalau sudah banyak pengunjung mall yang mengerubungi mereka.
Baru ketika mendengar suara tepuk tangan, mereka menyadari sudah dikerumuni.
__ADS_1
Rara mengerjapkan matanya kemudian tersenyum malu-malu pada beberapa pengunjung yang memujinya. Alvin tampak biasa dan membalas senyuman para pengunjung wanita yang langsung klepek-klepek melihat senyum Alvin.
"Nice dance, no, it's wonderful." Kata Alvin pada Rara.
"Makasih." Kata Rara.
Kim mendekati mereka sambil bertepuk tangan.
"Gila... lo berdua bener-bener jadi kayak magnet aja kalo gini." Kata gadis tomboy itu.
"Ternyata lo masih bisa dance, Ra. Masih lincah pula."
"Thanks, Kim." Rara tersenyum singkat, "Kita nyari minum, yuk. Gue haus nih. Ngos-ngosan gara-gara nge-dance tadi."
"Yaelah... baru sebentar doang udah tepar lo." Kata Kim, "Vin, gue sama Rara beli minum dulu deh. Lo mau juga, nggak?"
"Beliin air putih aja." kata pemuda itu.
"Roger. Ayo, Ra. Vin, lo cari aja tempat duduk sambil jagain tasnya Rara sama tas lo sendiri."
"Gue masih pengen main." Kata Alvin.
Kim mengedikkan bahu, lalu mengajak Rara yang kayaknya udah kayak ikan dipanggang. Kehausan!
***
Setelah menemani Alvin seharian di game center dan mengantar Kim pulang ke rumah, Rara langsung menuju rumahnya.
Dikemudikannya mobilnya memasuki garasi dan melihat Pak Farid, kepala pelayan di rumahnya, sudah menanti di depan pintu masuk.
"Papa belum pulang?" tanya Rara.
"Belum, Nona. Tuan Darren juga belum pulang." kata beliau.
"Kak Darren masih di Bali, kan? Jelas aja dia belum pulang." kata Rara terkekeh, "Pak Farid ini ada-ada aja."
Pak Farid ikut tersenyum.
"Oh ya, Kak Lisa ada ke sini, nggak?"
"Nona Lisa tadi ke sini sebentar menitipkan barang pesanan Nona. Saya sudah menaruhnya di kamar Anda."
Rara tersenyum lagi. Dia lalu meminta Pak Farid menyiapkan makan malam untuknya dan diantarkan ke kamarnya. Ia sendiri lalu menuju kamarnya dan langsung melangkah kearah kamar mandi. Badannya sudah terasa lengket, efek dari keringat dan juga lelah karena menemani Alvin berkeliling satu mall hanya untuk mencari jaket yang cocok untuknya!
Tuh bocah ada-ada aja kelakuannya. Kata Rara dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
Setelah mandi dengan air hangat dan mencuci rambutnya, Rara keluar dari kamar mandi dan mendapati makan malamnya sudah tersedia di atas meja di mana kertas-kertas sketsa rancangannya berserakan. Gadis itu langsung duduk di depan meja dan menyantap makanannya tanpa banyak bicara.
Sesudah makan, dia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Setelahnya, Rara memeriksa HP-nya, kalau-kalau ada notifikasi pesan dari Kim atau kakaknya.
Tidak ada notifikasi yang penting, dan Rara memutuskan untuk langsung tidur saja. Lagipula besok dia harus mengurus administrasi perkuliahannya lagi sebelum memasuki semester baru.
Dia baru masuk ke dalam selimut ketika lampu LED di HP-nya berkedip-kedip, tanda notifikasi masuk.
Dengan setengah malas, Rara menjulurkan tangannya menggapai benda mungil itu dan melihat ada satu notifikasi chat dari Alvin.
Rara membuka notifikasi itu dan mengerjap melihat foto sebuah gaun pengantin yang bertabur berlian dan memiliki potongan mermaid. Gaun itu dipasang pada sebuah manekin hitam dan di kepala manekin tersebut terdapat tudung gaun pengantin yang dihiasi bunga mawar putih. beberapa kuntum bunga mawar putih juga bertebaran di lantai di sekitar gaun tersebut.
"Kalo menurut gue, gaun simple dan sederhana seperti ini cocok buat lo. Gaun ini bisa jadi bahan referensi untuk tugas akhir lo, kan?
Nggak perlu tanya dari mana gue tau. Kim yang ngasih tau gue, dan gue harap gue sudah sedikit membantu lo. Itung-itung balasan karena sudah nemenin gue di game center hari ini."
Itu yang ditulis Alvin di bawah foto gaun yang dikirimkannya. Rara tidak sempat memikirkan dari mana Alvin tahu kalau dia sedang merancang sketsa untuk gaun yang akan ditunjukkannya di festival, karena dia tau malam ini dia tidak akan bisa tidur sampai dia menggambar ulang sketsa rancangan miliknya.
__ADS_1