Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 21


__ADS_3

Komplek pemakanan sore itu tampak sepi. Seperti yang biasa Rara liat tiap kali mengunjungi makam sang Mama. Kebetulan sekali makam Keenan ternyata juga ada di sini.



Rara mengikuti Alvin yang berjalan di depannya. Cowok itu membawa seikat bunga lili putih yang tadi dibelinya dalam perjalanan ke pemakaman. Rara mengerutkan kening melihat buket bunga lili yang dibeli Alvin.



Perasaannya mengatakan bukan itu bunga kesukaan Keenan.



Mereka kemudian berhenti di sebuah makam yang dihiasi rumput yang dipangkas pendek. Batu nisan dari marmer yang ada di atas tanah berumput itu bertuliskan,



Keenan Alexander



Alvin berjongkok, menaruh buket bunga yang dibawanya dan diam. Rara ikut berjongkok di samping cowok itu, memanjatkan doa untuk yang sudah tiada.



"Keenan," suara Alvin tiba-tiba terdengar, "Gue tau lo bisa mendengar gue dari sana,"



"Kalo lo masih hidup, apa lo bakal ngejahilin gue kayak dulu? Kalo lo masih hidup, apa lo bakal ngajarin gue matematika lagi kayak dulu? Gue kangen sama elo, Kak."



Rara diam. Dia melirik kearah Alvin yang memejamkan mata dengan kening agak berkerut.



"Keenan, lo bikin janji yang berat banget buat gue tepatin," Alvin kembali berbicara, "Kalo gue jatuh cinta beneran sama Rara, jangan marahin gue, ya? Gue nggak mau calon bini gue nganggep gue pengganti lo doang."



Rara yang mendengarnya tidak bisa tidak memerah wajahnya. Entah yang diucapkan Alvin itu hinaan ato apa, tapi Rara tidak bisa memungkiri, ucapan itu bahkan terdengar manis di telinganya.



"Keenan, kalo Rara jatuh cinta sama gue, relain. Karena gue nggak bakal lepasin dia sampe kapanpun."



Alvin kemudian berdiri. Rara buru-buru mengikuti. Cowok itu lalu menoleh ke arahnya, "Yuk, Ra, kita pulang."



"Udah selesai?" Rara mengerutkan kening, "Kenapa doa lo singkat aja?"



"Nggak perlu," Alvin menggeleng, "Seenggaknya gue udah ungkapin apa yang mau gue omongin ke Keenan, seandainya dia masih hidup."



Rara menatap Alvin yang berdiri di depannya, "Lo ... selalu begini?"



"Hm?"



"Pura-pura kuat, pura-pura kalo lo peduli,"



Wajah Alvin langsung membeku seketika. Mata cowok itu menatap Rara lekat-lekat, "Apa maksud lo?"



"Lo nggak kayak biasanya," kata Rara, "Lo ... agak beda."



Ya. Rara memperhatikan, bahkan sejak mereka membeli bunga tadi. Aura Alvin tampak berbeda. Sangat, sangat berbeda. Senyumnya pun bukan senyum jahil yang biasa. Alvin yang dilihatnya saat ini tampak dewasa dan tidak terlihat sisi bocahnya.



"Lo ngomong apaan, sih, Ra?" Alvin tertawa, "Ini tetap gue, kok. Kenapa lo jadi curigaan gitu?"



"Gue emang pura-pura kuat, Ra. Lagian janji dari Keenan itu berat, tau. Gue nggak bisa jagain tanpa jatuh cinta sama elo, Ra." Cowok itu kemudian tertawa lagi, "Lo sadar kalo gue lagi nembak lo?"



"Ha?" Rara mengerjap, baru sadar ucapan Alvin, "Lo nembak gue di pemakaman gini. Creepy tau, nggak?"



Alvin tertawa lagi, lalu menggamit tangan Rara, "Kita pulang, Ra. Gue mau ke rumah lo."



"Ngapain? Gue udah bilang mau leha-leha di rumah, dan artinya gue mau leha-leha sendiri." Balas Rara.



"Ya udah," Alvin mengangguk, "Tapi besok kita ke game center, ya? Gue mau main buat ngilangin bosen."



"Lo bocah, kapan nggak bosen, coba?"



***



Rara langsung masuk ke dalam kamar setelah makan malam sendirian, lagi. Rara sudah biasa makan malam sendirian seperti ini. Ayahnya sibuk, Darren lebih sibuk lagi. Kedua pria dari keluarga Maharani itu super sibuk dan tidak bisa diganggu gugat jika sudah berhubungan dengan pekerjaan. Keluarganya yang lain memang ada, tetapi mereka jarang ke rumahnya dan alasannya pun sama : sibuk.



Ia mengunci pintu kamarnya dan melemparkan diri ke atas tempat tidur. Tangannya meraih hp dan menghubungi Kim. Rencananya dia mau mengajak sohibnya itu slumber party.



"Yo, Ra. Ada apa?" suara cempreng Kim terdengar di seberang sana.

__ADS_1



"Kim, ke rumah gue. Kita slumber party bareng." Kata Rara.



Kening Rara berkerut mendengar suara gaduh di seberang telepon, disusul suara Kim yang tampak sedang menengahi ... pertengkaran?



"Kim? Lo baik-baik aja, 'kan?"



"Sori, Ra. Gue nggak bisa kali ini," kata Kim, "Gue ... lagi ada urusan."



"Urusan? Tapi gue dengar ada suara orang tengkar," kata Rara, "Kim, lo lagi nggak tengkar dengan bokap lo, 'kan? Ato kakek lo?"



"Nggak, kok ..., nggak," suara Kim kemudian terdengar menghilang lagi, dan kini Rara terkejut mendengar suara seseorang yang nggak asing, "Sori Ra, gue nggak bisa ngomong sekarang. See ya later!"



Telepon diputus, dan Rara malah jadi cemas. Kim jarang bermasalah dengan keluarganya. Walaupun kedua orangtuanya bercerai, Kim menjaga hubungan baik dengan papa dan mamanya. Sahabatnya itu juga nggak pernah bikin kedua orangtuanya bersitegang lagi.



Tapi, tadi ...,



"Duh, gue jadi cemas," Rara menggaruk-garuk kepalanya, "Ini nggak biasanya Kim begini. Apa ada masalah lain yang bikin dia terlibat pertengkaran?"



"... ato mungkin soal tunangannya?"



Rara hendak menelepon Kim lagi ketika hpnya berbunyi. Matanya melihat siapa yang meneleponnya dan alisnya terangkat.



"Mister Cha?"



***



Kevin memasuki kawasan perumahan Alexander Group dan berhenti di sebuah rumah yang luas halamannya mungkin sama dengan setengah lapangan sepak bola. Kevin melajukan mobilnya menuju pintu depan rumah terbesar di kawasan tersebut dan disambut oleh seorang pelayan.



Ia keluar dari mobil dan memberikan kunci mobilnya pada si pelayan untuk diparkirkan entah di mana. Bisa saja mereka menaruh mobil Kevin di garasi khusus tamu seperti yang sering disinggung orang-orang kalo Alexander Group termasuk dari lima company terbesar se-Asia Tenggara.



Orang kaya, mah bebas ...




Well, itu bagus. Setidaknya dia tidak perlu membuat janji temu.



Pelayan itu membawanya ke sebuah pintu ganda dari kayu jati terbaik. Di balik pintu itu adalah sebuah ruang kerja yang didominasi dengan warna cokelat kayu mahoni. Beberapa rak buku dari besi menghiasi sisi kanan ruangan, sementara sisi kiri dihiasi dnegan sofa kulit warna hitam dan juga sebuah meja dari kaca. Sebuah meja kerja berada tepat di depan jendela besar, dan seseorang duduk di kursi di balik meja tersebut. Orang itu Alvin.



Alvin yang sedang asyik membaca berkas di tangannya mendongak melihat kedatangan Kevin. Dia memerintahkan pelayan dengan tangannya untuk menyiapkan minuman.



Kevin mendengar suara pintu yang ditutup di belakang punggungnya. Matanya menatap sosok Alvin yang kini mengenakan pakaian santai dan menatapnya lurus-lurus.



"Kukira kau sudah mati," kata Kevin langsung.



"Sayangnya aku tidak mati," Alvin tersenyum dengan sebelah bibir, "Bisa dibilang aku beruntung."



Kevin diam. Dia duduk di sofa dan Alvin bergabung dengannya. Mereka saling berhadapan dan aura satu sama lain tampak mendominasi. Andai dijadikan kartun, mungkin ada percikan api di antara mereka berdua.



"Jadi, apa yang membawamu kemari, Kevin Hardian?" Tanya Alvin.



"Aku hanya ingin melihat, apa benar kau masih hidup," balas Kevin, "Dan sepertinya masih."



"As you can see,"



Kevin mendengus. Dia bersandar pada punggung sofa, "Kudengar kau juga bertunangan dengan Rara."



"Dan akan menikah dengannya tahun depan," Alvin tersenyum lagi, "Setidaknya, kali ini aku selangkah lebih cepat dibandingkan dirimu."



Mata Kevin menyorot tajam pada Alvin yang duduk di hadapannya. Seorang pelayan kembali datang dan menyajikan minuman untuk mereka sebelum pergi. Alvin tersenyum sinis pada Kevin yang masih menatapnya dengan sorot mata tajam bak pisau.



"Apa kau sekarang menyerah?" Tanya Alvin gambling.



"Aku tidak akan menyerah," balas Kevin, "Lagipula yang pantas untuk Rara itu hanya satu orang."

__ADS_1



"Oh, dan apa kamu beranggapan kalo itu kamu, Kak? Asal kamu tau, Rara nggak bisa lepas dari keluarga kami."



Kali ini Kevin benar-benar marah. Dia menggebrak meja dan membuat dua cangkir yang menjadi minuman mereka bergetar.



"Jangan main-main kamu, Alviano Alexander!" kata Kevin, "Sampai kapanpun Rara nggak akan aku biarin masuk ke dalam keluarga Alexander!"



"Coba saja," Alvin masih tersenyum, "Aku bakal menantikan hari di mana kamu bisa membuatku bersujud di hadapanmu."



"Kita akan liat nanti, siapa yang akan menang," Kevin berdiri, "Peniru."



Kevin berbalik dan berjalan mendekati pintu. Ia membanting pintu itu dengan keras dan membuat siapapun yang mendengarnya terkejut.



Di sisi lain, wajah Alvin yang sejak tadi dihiasi senyum mendadak berubah dingin. Sebuah kekehan keluar dari bibirnya ketika dia mengambil cangkir tehnya dan menyeruput cairan cokelat itu pelan-pelan.



"Well ..., setidaknya kau harus berusaha untuk itu, Kevin," kata Alvin, "Setidaknya tidak ketika aku masih bisa bernafas seperti saat ini."



***



Keesokan harinya, Rara menemui Kim yang sedang melamun di kantin. Aneh bin ajaib. Biasanya sohib jadi-jadiannya itu pasti bakal heboh atau minimal menyapanya dengan cengiran lebar ketika dia datang. Tapi sekarang ...



"Oi, Kim," Rara menepuk pundak cewek berambut pendek itu, "Pagi-pagi udah bengong aja. Kesambet setan baru tau rasa lo!"



Kim hanya nyengir lebar walau tak sampai ke matanya, "Lo sendiri juga tumben adem ayem begini. Alvin bikin sesuatu sama elo?"



"Bikin apaan maksud lo? Ambigu, tau!"



Kim mengedikkan bahu, "Lo pasti mau tanya kenapa kemaren gue nggak bisa ikut slumber party bareng lo."



"Emang. Tapi gue tau lo nggak mau bicara sekarang," Rara mengeluarkan ponselnya, "Jadi gue bakal diem sampe lo mau cerita."



"Thanks, Ra."



"No problem," Rara tersenyum, "Gue udah kenal elo dari orok, jadi nggak mungkinlah gue nggak tau kebiasaan lo."



"Bisa aja lo!" Kim terkekeh, "Eh, ntar siang kita pergi ke kafe biasa, yuk! Gue mau nyoba menu baru mereka."



"Kafe biasa?" Rara mengerutkan kening, "Boleh deh. Lo mau aja cerita apa pun di sana, kan?"



"Right, gue janji bakal cerita. Sekarang kita pergi ke ruang Mister Cha, yuk. Gue ada perlu sama dia sebentar."



Rara mengangguk walau nggak terlalu paham dengan maksud ucapan Kim. Mereka berdua lalu menuju ruang dosen dan melihat Mister Cha sedang berkutat dengan laptop-nya. Ekspresi pria itu sangat serius, bahkan lebih keliatan menahan amarah. Rara jadi merinding apa yang sebenarnya dipikirkan dosen termuda di universitasnya itu dengan raut wajah seperti mau ngebunuh orang.



Kim berjalan santai menuju meja Mister Cha dan berdiri di depan meja dosen muda itu, "Mister Cha,"



Mister Cha mendongak dan agak terkejut melihat Kim berdiri di depannya sambil tersenyum manis. Gadis tomboy itu mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya dan meletakkan sebuah amplop cokelat di meja beliau.



"Apa ini, Kimberly?"



"Baca aja. Saya tunggu di Taman Pelangi jam empat sore."



Setelahnya, Kim menarik tangan Rara dan keluar dari ruangan itu diiringi tatapan bertanya dari para dosen yang melihat tingkah mereka sebelum beralih pada Mister Cha yang tampak data raja raut wajahnya.



"Sebenarnya apa sih yang lo kasih ke Mister Cha?" tanya Rara saat mereka udah di parkiran, "Lagak lo sok misterius."



Kim meringis dan menggaruk-garuk kepalanya, "Itu tadi surat perjanjian gue sama Mister Cha."



"Perjanjian? Perjanjian apa?" Rara makin penasaran.



"Gue ngajuin proposal nikah ke Mister Cha." Jawab Kim enteng.



"APA!?"


__ADS_1


__ADS_2