
Pulang dari kampus, Rara menelepon Alvin dan ternyata cowok itu masih di sekolah. Jadi, daripada repot, Rara memutuskan untuk pulang bareng Kim dan menunggu Alvin pulang sekolah karena mereka udah janji mau pergi ke suatu tempat di mana hanya Alvin yang tahu.
But, who cares. Rara tipe orang yang akan menganggap apa pun sebaik mungkin walaupun ada niat tersembunyi. Tapi seperti kata Bang Napi, selalulah waspada dalam situasi apa pun.
"Ra, kita ke ruangan Mister Cha dulu, ya? Gue lupa mau ngasih proposal ini ke tempat beliau." Ujar Kim sambil menunjukkan sebuah proposal yang disampul hijau muda.
"Oke, tapi gue tunggu di luar, ya? Gue nggak enak aja ketemu sama Mister Cha, belum ngajuin proposal soalnya."
"Yeee ..., siapa tau lo dapat wejangan, Ra. Jarang-jarang loh kesempatan ketemu sama Mister Cha sendirian, tanpa ada yang gangguin." Kata Kim.
Rara cuman bisa memutar bola matanya. Mister Cha yang mereka maksud adalah dosen muda ganteng yang baru setahun mengajar di fakultas mereka. Tampang Mister Cha yang masih berusia muda, mungkin beberapa tahun lebih tua dari mereka berdua, emang good looking, beliau pernah ngaku blasteran Indo-Korea, yang bikin dia punya tampang oppa adri Negeri Ginseng itu. Bodinya juga yahud, bikin cewek-cewek ngiler pengen nyentuh badannnya seujung jari. Belum lagi sifat beliau yang ramahnya nggak ketolongan.
Pokoknya selain dua orang mahasiswa fakultas Rara yang sering jadi most wanted, Mister Cha juga diincar oleh cewek-cewek fakultas karena beliau masih single alias jomblo.
"Nggak deh, makasih. Ntar ada yang marah kalo Mister Cha ngobrolnya ama gue doang." Balas Rara, "Lo kan demen ama dia. Kenapa nggak lo sosor aja, Kim?"
"Lo kata bebek pake nyosor?" ujar Kim, "Lo nggak tau sihgimana sangarnya fans Mister Cha yang ngalah-ngalahin fandomnya boyband Korea. Gue nggak mau tubuh dan pikian gue terkontaminasi oleh mereka. Mending mantengin dari jauh aja."
" Ckckck, Kim ..., lo malah kek orang dimabuk cinta. Harusnya lo kasih wejangan tuh sama diri lo sendiri. Jangan ke gue mulu." Rara tertawa.
Kim memonyongkan bibirnya dan menyikut perut sohibnya itu hingga mengaduh kesakitan, "Rasain tuh. Makanya jangan ngatain yang lebih tua!"
"Lah lo kan Cuma tua beberapa bulan dari gue, Kim. Protes mulu ah!" sungut Rara. Kalo dia disebut punya cubitan bak suntikan neraka, kalo Kim yang menyikutnya sama aja manggil ratu neraka.
Sakit banget!
Kim pura-pura nggak mendengarkan dan berjalan di depan Rara. Mereka berdua bersama-sama menuju ruang dosen yang didesain sedemikian rupa hingga lebih menyerupai mini café dibandingkan ruang dosen. Setiap meja dosen disekat dengan sebuah papan berwarna putih yang memisahkan area pribadi masing-masing, beberapa bahkan memakai pintu kecil agar lebih menjaga privasi mereka.
Kedua gadis itu menuju sekat paling ujung, di mana seorang pria muda berkacamata tipis sedang berkutat di depan komputer di hadapannya. Begitu mereka berdua menghampiri pria muda itu, ia menoleh dan tersenyum. Manis banget!
"Mister Cha." Sapa Kim dengan senyum paling manis.
"Halo Kim, Rara. How's your day?" Tanya beliau sambil melepaskan kacamata yang dikenakan.
"Really great. Thanks for asking," ini Rara yang menjawab.
"Nah, ada keperluan apa kalian mencari saya?" Tanya Mister Cha langsung.
"Saya mau ngasih proposal, Mister." Kata Kim menyerahkan proposal di tangannya. "Ini beberapa desain yang mau saya buat untuk festival nanti."
"Oh ya? Biar saya lihat."
Beliau menerima proposal Kim dan melihatnya sebentar. Rara menggunakan kesempatan ini untuk memperhatikan Mister Cha. Sumpah, beliau ini imut banget. Dengan kemeja berwarna biru muda yang lengannya digulung sampai siku, celana katun hitam dan juga rambut yang disemir kecokelatan bikin beliau makin mirip artis Korea. Mungkin kalau Mister Cha tinggal di Korea, beliau langsung dikontrak jadi model. Cowok cakep biasanya memang jadi incaran Rara, tapi kalo Mister Cha ... rasanya nggak deh. Entah kenapa beliau lebih mirip seperti sosok kakak macam Kak Darren, tapi lebih baik daripada kakaknya yang kurang peka itu.
"Hmm, bagus. Desain pakaianmu sudah bagus, Kim. Hanya tinggal menambah beberapa aksesori pemanis di bagian pinggang dan dada di desain nomor dua." Kata Mister Cha. "Perbaiki dan besok sudah bisa saya tanda-tangani untuk diserahkan ke panitia festival."
__ADS_1
Kim tersenyum lebar. Setelah itu, mereka mengobrolkan beberapa hal terkait persiapan untuk festival.
"Oh ya, Ra, kamu ada acara siang ini?" Tanya Mister Cha.
"Nggak tuh, Mister." Jawab Rara sambil menggeleng, "Memangnya ada apa?"
"Kamu masih harus menyerahkan proposalmu, kan?" kata Mister Cha tersenyum geli, "Miss Nella udah nungguin kamu sampai lumutan. Proposalmu udah selesai, kan?"
Rara cuma bisa cengengesan ditanya begitu. "Udah sih. Cuma ada beberapa yang mau saya tambahin. Makanya belum saya serahkan ke Miss Nella." Kata Rara.
"Bilang aja grogi," Mister Cha tertawa, "Lain kali hubungi Miss Nella. Dia udah nungguin proposal kamu."
Rara cuma bisa senyum-senyum gak jelas sementara Kim yang berdiri di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kalau itu aja yang dibicarakan, saya rasa udah cukup. Besok saya tunggu perbaikan proposal kamu, Kim." Ujar Mister Cha.
"Iya, Mister. Terima kasih atas waktunya." Kata Kim.
Mister Cha tersenyum ramah sebelum kemudian kembali berkutat di depan komputer. Rara langsung menarik Kim yang kayaknya masih belum bisa melepaskan pandangannya dari dosen mereka itu.
"Lo jangan malu-maluin dong, Kim. Baru kali ini gue liat elo mantengin cowok sampe segitunya."
"Ya ..., mau gimana, Ra. Doi cakep sih. Lebih ganteng dari gue." Kata Kim dengan senyum lebar.
"Gue tau, Ra. Tapi sesekali cuci mata nggak papa, kan? Lagian seperti kata gue tadi, Mister Cha lebih ganteng dari gue."
"Iye, iyee ...." Rara memutar bola matanya, "Udah yuk. Kita langsung pulang aja. Ato lo mau ke suatu tempat dulu?"
"Traktiran lo." Kata Kim nyengir lebar, "Kita ke kantin ato ke tempat lain aja, Ra? Sekalian kencan."
"Lo ngomongnya kek cowok minta ceweknya jalan aja." Rara merinding mendengar kalimat Kim yang terakhir, "Lo nggak lesbian, kan Kim?"
"Sembarangan! Gue masih normal, tau!"
Rara terkekeh melihat raut wajah Kim yang agak 'ditekuk'.
"Gue cuman bercanda, Kim. Jangan ngambek ah."
"Gue juga tau lo becanda, Ra. Dan lo harus tambahin porsi traktiran lo gara-gara bikin gue ngambek barusan." Kata Kim dengan senyum penuh kemenangan, bikin Rara melongo.
***
"Oh ya, ngomong-ngomong lo ada denger kabar soal Bianca?" Tanya Kim sambil menyeruput kuah ramen di restoran Jepang favorit mereka berdua.
__ADS_1
"Nggak tuh. Emang ada apa dengan dia?" Rara balas bertanya sambil memakan sushi roll di tangannya. "Bukannya dia ikut pertukaran mahasiswa di Eropa?"
"He em. Dia udah balik ke Indonesia dan bakal langsung ikut festival bareng kita." Ujar Kim, "Dan artinya perang kalian bakal dimulai lagi."
"Perang apaan? Gue aja nggak ngerasa main perang-perangan ama dia," balas Rara, "Dianya aja yang ngerasa gue saingan dia, guenya malah biasa-biasa aja tuh."
Bianca adalah teman satu angkatan mereka, di fakultas yang sama dan ... punya wajah yang cantik dan bodi seksi bak model. Bianca Frederica bisa dibilang adalah bintangnya fakultas desain. Udah punya wajah cantik, bodi mengundang, punya pekerjaan sampingan sebagai model pula. Walau secara teknis Bianca terkenal, tapi nggak bisa dibandingin dengan Rara yang menjadi putri salah satu pengusaha terbesar di Indonesia dan termasuk dalam most wanted, bersaing dengan Bianca.
Tapi Raranya diem-diem aja. Kalo diibaratkan, Bianca dan Rara bagai langit dan bumi kalo soal sifat. Rara terkenal kalem dan jarang mau terlibat masalah yang mengakibatkan dirinya terkena imbas, sementara Bianca, sebagai seorang model yang naik daun, sering terkena masalah tidak hanya di dunia entertainment tempatnya berkecimpung, tetapi juga di urusan pendidikan. Terakhir kali Rara dengar, Bianca pernah membuat salah seorang dosen dipecat hanya karena dosen tersebut mengomentari desain pakaian Bianca kurang menjual di mata orang-orang.
Dan seperti yang diduga, Bianca-lah yang menyalahkan dosen tersebut karena menurutnya beliau kurang kompeten. Ayah Bianca yang menjadi salah seorang donatur kampus akhirnya meluluskan permintaan putrinya.
Dan masih banyak lagi cerita-cerita soal Bianca yang nggak pernah mau Rara dengar karena dia nggak mau terkena masalah. Sayangnya kehadiran Rara di kampus aja udah bikin Bianca keki karena dari segi fisik, Rara termasuk cantik dan bikin para cowok pengen meluk dia (ingat tinggi badan Rara mungil kek boneka hidup), juga karena sifat Rara yang easy-going dan nggak pilih-pilih teman.
"Ya itu kan elo. Bianca kan lain lagi pikirannya," kata Kim, "Mulai sekarang lo mesti hati-hati, Ra. Jangan sampai Bianca tau kalo lo dijodohin ama Alvin."
"Lah apa hubungan Bianca dengan itu, coba?" Tanya Rara bingung.
Kim menyeruput lagi kuah ramen di mangkuknya sebelum melanjutkan, "Ada hubungannya. Yang pertama, kalo Bianca tau lo dijodohin dengan anak umur delapan belas tahun, kemungkinan besar dia bakal ngejek elo dan menganggap elo tante-tante kesepian yang macarin berondong.
"Dan yang kedua, kalo Bianca liat tampang Alvin, dia pasti bakal bikin tuh anak jadi miliknya. Nggak peduli Alvin udah dijodohin ama elo, dia bakal pake segala cara biar Alvin jadian sama dia. Emang lo tega kalo Alvin beneran harus dipasangin ama tante-tante kesepian beneran?"
Walau sebenarnya ucapan Kim enam puluh lima persen mengejek dia dan selebihnya adalah kebenaran, mau nggak mau bikin Rara berpikir juga.
"Lo berdoa aja deh jangan sampe si Bianca tau soal perjodohan lo apalagi sampe ketemu Alvin." Kata Kim lagi, "Biarpun tuh anak masih delapan belas tahun tapi tinggi badannya ngak nunjukin dia masih bocah SMA. Lo tau sendiri gimana tinggi badan rata-rata anak jaman sekarang."
"Iya Kim, iyaa ..., gue bakal usahain biar Bianca nggak tau soal perjodohan gue." Jawab Rara.
"Nah, bagus tuh." Kim mengangguk setuju, "Tumben lo mau nerima saran gue, Ra."
"Kan ucapan lo bener. Selain itu gue ngeri juga kalo misalnya anak-anak pada manggil gue 'tante-tante kesepian'." Ujar Rara.
Kim tertawa pelan kemudian melihat isi mangkuknya yang sudah habis, "Ra, gue mau ronde kedua, ya. Lo yang traktir, kan?"
Rara mendelik mendengar ucapan Kim. Bukannya dia udah nambah rame dua kali sama pesen satu set sushi? Dan dia bilang masih pengen nambah lagi?
Ini yang doyan makan siapa, sih? Biasanya, kan Rara. Kok malah Kim yang makan banyak kayak lagi ngidam macam orang hamil?
"Kim, lo nggak diapa-apain sama Mister Cha, kan? Lo lagi nggak hamil, kan?" Tanya Rara polos, bikin Kim yang lagi minum milkshake langsung tersedak.
"Eh, gila lo. Gue ama Mister Cha nggak ada hubungan apa-apa, Ra!" sungut cewek tomboy itu, "Lagian ide dari mana gue hamil sama Mister Cha?"
"Ya ... lo liat aja lo makan lebih banyak dari biasanya. Dan lo kan lagi gencar pengen deketin Mister Cha, gimana gue nggak mikir lo ada apa-apa sama Mister Cha?"
Detik itu juga Kim pengen ngelemparin sumpit di tangannya ke kepala Rara. Nih anak pikirannya nyambung aja kalo urusan begini!
__ADS_1