Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 23


__ADS_3

Rara baru sembuh di hari ke sepuluh. Selama itu, Alvin sering mengunjunginya, bahkan nggak jarang cowok itu membawakan buah-buahan kesukaan Rara ato makanan favorit Rara seperti martabak telor, kerak telor, atopun roti manis. Kim juga mengunjunginya, tetapi cewek tomboy itu sering muram dan Rara nggak tega bertanya walau dia tau pasti akar permasalahan yang sedang dihadapi Kim pastilah masalah keluarga dan Mister Cha.



Sore ini Rara sudah bisa keluar kamar. Dia lebih memilih bersantai di taman belakang mansion sambil menikmati jus buah sehat dari pelayan dapur yang menyiapkannya khusus agar Rara cepat pulih.



Rara asyik mendesain pakaian lagi saat Kim datang dan seperti biasa, memasang wajah suram. Dia menghentikan kegiatan menggambarnya dan menemani Kim mengobrol. Jarang-jarang Kim mau ngobrol yang nggak gesrek seperti biasa, dan inilah yang dikhawatirkan Rara, saking hafalnya kebiasaan sohib jadi-jadiannya itu.



"Ra," kata Kim, "Kalo gue jadian sama Mister Kim, menurut lo gimana?"



Pertanyaan itu membuat Rara tersedak minumannya sendiri. Dia menatap Kim yang jelas lagi gundah gulana. Raut wajahnya seolah menyiratkan dia bakal ikut wajib militer selama dua tahun macam sepupunya yang di Korea Selatan.



"Lo ... mau jadian dengan Mister Cha?" tanya Rara setelah sembuh dari keterkejutannya, "Lo serius, Kim?"



"Dua rius," Kim menjawab mantap, "Gue ... gue udah bosen jadi boneka Papa ato Mama. Selama ini gue nahan diri, Ra."



Kim mengeluarkan keluh-kesahnya, mulai dari masalah perjodohan yang tidak sesuai dengan keinginannya, niat kedua orangtuanya yang ingin membuat Kim menikah dengan salah satu calon pilihan mereka, juga kejadian demi kejadian yang membuat situasi di antara dirinya dan Mister Cha makin rumit.



"Gue nggak tau harus gimana lagi, Ra. Walaupun gue tergolong anak yang patuh pada orangtua, tapi untuk masalah begini gue nggak mau sampe jadi pikiran gue kelak," kata Kim menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Kakek gue di Korea menentang keras perjodohan gue, tetapi kalo Nenek bertitah, tamat riwayat gue."



Rara diam. Dia tahu kakek Kim dari pihak ayah termasuk orang yang pengertian, begitu juga kakek dan nenek dari pihak ibunya. Tetapi bila nenek Kim dari pihak ayah, Vivian Arden, bertitah, apapun yang dikatakan Kim sudah pasti akan dianggap angin lalu."



"Apa gue hamil anak Mister Cha aja, ya biar Nenek nggak maksa gue lagi?" tanya Kim tiba-tiba.



"Lo gila, Kim!"



Kim terkekeh. Di saat begini dia masih bisa bercanda. Entah apa yang dipikirkan Kim saat ini. Walau sahabatnya itu terlihat tegar di luar, Rara sangat paham serapuh apa hati Kim.



"Apapun yang mau lo lakuin, gue bakal dukung lo sampe titik darah penghabisan," kata Rara, "Tapi kalo lo sampe hamil di luar nikah, gue nggak terima."



"Iya, Ra ..., gue tau, kok," Kim kembali tertawa, "Gue nggak bakal ngelakuin hal gila kayak yang lo pikirin sekarang, kok."



"Bagus," Rara mengangguk, "Sampe gue denger lo hamil, gue gorok leher lo duluan sebelum orangtua lo bunuh lo di tempat."



"Galak amat, Ra. Kalo lo jadi istrinya Alvin, apa lo bakal segalak ini juga sama dia?"



"Apa hubungannya sama Alvin, coba?" Rara memutar bola matanya.



Kim terkekeh melihat wajah Rara yang memerah tanpa disadari gadis itu.Wajar bila Kim berkata demikian, melihat Alvin yang selalu menengok Rara sampai membawakan makanan kesukaan gadis itu, Kim yakin Alvin sudah kepincut pake banget dengan Rara.



Tetapi ... rasanya ada yang aneh.



Perhatian Alvin terasa tak wajar bila Kim melihatnya dari sisi yang lain.



"Oya, Ra, besok lo balik ngampus?" tanya Kim sambil mencomot dua keripik kentang sekaligus dari toples.



Rara mengangguk, "Gue ada janji sama dospem gue. Jadi kudu pergi ke kampus."



"Gue temenin deh, ya? Gue lagi nggak ada kerjaan juga, besok bukan jadwal gue konsul dengan Mister Cha."



Rara memiringkan kepalanya, agak bingung, tetapi tetap menganggukkan kepala.



***

__ADS_1



Tengah malam, Rara terbangun. Dia melirik ke samping, di mana Kim tidur sambil memeluk salah satu bantal Hello Kitty Rara. Dia memang meminta sohibnya itu untuk menginap. Lagipula sudah lama mereka nggak slumber party bareng. Jadi, selain bercerita mengenai masalah yang menimpa Kim, sohib tomboynya itu juga mewanti-wanti Rara untuk istirahat dan minum obat.



Jenis perhatian yang nggak bakal didapat Rara dari siapapun yang berusaha menjadi temannya tetapi menusuk dari belakang. Mungkin itu juga yang membuatnya dan Kim dulu jadi dekat. Mereka punya pengalaman yang nyaris serupa.



"Haus ...," Rara bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kulkas mini di dekat meja belajar. Dengan malas dia mengeluarkan sebotol pocari sweat dan meminumnya langsung dari botol. Dia bahkan nggak peduli seandainya pelayannya melihat apa yang dia lakukan sekarang.



Setelah perasaan haus yang dirasakan hilang, Rara duduk di sisi tempat tidur dan mengambil ponsel dan memeriksa apa ada pesan menggunung karena selama sakit, Rara nggak pernah menyentuh ponsel lebih dari lima menit.



Begitu membuka kode ponselnya, dia mendecak melihat ada ribuan pesan dan chat yang menumpuk di aplikasi Line dan Kakao Talk-nya.



"Hm? Apa ini?"



Sebuah notifikasi pesan dari Alvin menarik perhatian Rara. Ada lebih dari dua puluh chat dari bocah itu. Penasaran apa isinya, Rara mengetuk obrolan dengan Alvin.



Bocah Tengil



13.30 P.M



Udah sembuh?



13.32 P.M



Kalo udah sembuh, jangan sampe kecapekan.



13.40 P.M




Oh ya, lo kena tifus. Mending gue kasih vitamin C sama minuman isotonik.



14.01 P.M



Lo butuh sesuatu nggak?



14.20 P.M



Ra ...



14.25 P.M



Cuma mau bilang kalo gue ...



14.26 P.M



Gue nggak mau ada apa-apa sama lo.



Seenggaknya sampe nikahan kita digelar. Gue pengen liat lo pake gaun pengantin.



Apa-apaan ini? Rara merasakan pipinya memerah membaca chat terakhir Alvin. Astaga ..., bocah satu itu!



Tiba-tiba satu pesan lagi masuk. Dari Alvin.

__ADS_1



Bocah Tengil



12.03 AM



ILU



Kening Rara berkerut membaca pesan tiga huruf itu, "ILU? Apa maksudnya, sih?"



Rara memiringkan kepalanya, memikirkan maksud pesan Alvin. Hampir sepuluh menit dia berpikir dan ketika mendapatkan jawabannya, wajah Rara makin memerah dan mungkin kalo dia melihat wajahnya di cermin, Rara bakal melihat wajahnya yang bisa jadi lebih merah dari kepiting rebus.



Penyakit sialan. Pesan singkat begini aja gue kudu mikir lama buat ngartiinnya! Gerutu Rara dalam hati.



***



Alvin meletakkan ponselnya ke atas meja dan menghembuskan napas. Pandangannya terarah ke luar jendela di mana bulan sedang dalam kondisi sempurna, bulan purnama. Keningnya berkerut mengingat sesuatu yang nggak ingin dia ingat lagi.



"Alvin kalo besar mau jadi apa?"



"Jadi artis!"



"Loh, kenapa artis?"



"Biar bisa buat Rara sama Kak Keenan ngintilin aku terus ke mana-mana. Jadi aku nggak kesepian deh."



"Ngawur kamu!"



"Kalo Kakak mau jadi apa?"



"Hmm ..., jawab nggak, ya?"



"Yee ..., Alvin 'kan udah jawab pertanyaan Kakak. Gantian dong!"



"Kalo Kakak bilang mau jadi pelindung Alvin dan Rara, gimana? Kakak pengen liat kamu sama Rara akur tiap hari, nggak tengkar kayak Tom and Jerry."



Alvin mengerjap. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh. Ingatan sialan itu kembali menghantuinya.



"Seharusnya gue yang mati," kata Alvin lirih, "Kenapa gue aja yang masih hidup, sih?"



Pintu kamarnya diketuk, tanpa dipersilakan, seorang pelayan masuk ke dalam sambil membawa sebuah nampan berisi sup ayam hangat dan gelas berisi air. Ada juga sebuah piring kecil berisi obat-obatan.



"Ini, Tuan Muda." Pelayan itu meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja di samping Alvin.



"Makasih, ya. Kamu bisa balik aja ke kamar kamu. Nanti biar saya sendiri yang naruh ini di dapur." Kata Alvin.



Pelayan itu mengangguk, kemudian undur diri dari sana. Alvin menatap sup ayah di atas nampan, kemudian obat-obatan di piring kecil. Ia mendecak tak senang melihat jumlah obat yang ia konsumsi makin lama makin banyak tiap harinya.



Andai nggak menuruti saran dokter, Alvin sudah lama nggak mengkonsumsi obat-obatan yang membuatnya makin ketergantungan. Alvin benci obat. Dia paling nggak suka kalo harus disuruh meminum benda yang bahkan lebih kecil dari buku jari kelingkingnya.



"Demi Rara, apapun gue lakuin," kata Alvin mengambil sendok dan menyantap sup ayamnya, "Enak. Rara bisa masak begini nggak, ya?"


__ADS_1



.


__ADS_2