
Malam tiba dan Rara sudah siap untuk pergi ke event ulang tahun cabang perusahaan Alexander. Malam ini juga Rara tampil berbeda mengenakan gaun berwarna krem berbahan satin yang sangat lembut. Gaun tanpa lengan itu membuat kulit bahu dan lengannya terlihat jelas. Untuk meminimalisir mata jelalatan lawan jenis, Rara menggerai rambutnya yang ia buat mengembang dengan bantuan penata rias salon yang ia panggil sebelumnya.
Kakinya dibalut stiletto berwarna senada gaunnya. Dengan riasan natural dan menonjolkan bentuk matanya, Rara terlihat makin cantik.
Pintu kamarnya diketuk dan Alvin masuk ke dalam dengan setelan blazer putih yang membuatnya makin terlihat tampan. Rara harus mengingatkan diri sendiri bahwa Alvin lebih muda darinya dan hanya badannya saja yang tinggi seperti tiang listrik.
"Udah siap?" Alvin menatap penampilan Rara dari atas ke bawah, "Cantik. Ide bagus kamu menggerai rambut begitu. Jadi bahunya nggak bakal keliatan banget."
"Makasih atas pujiannya." Balas Rara.
"Sama-sama, Sayang."
"Vin, geli dengernya!"
Alvin tertawa. Ia mengulurkan tangannya dan Rara menyambut. Mereka berdua lalu keluar dari kamar setelah Rara mengambil clutch berwarna perak di meja riasnya.
"Oh ya, aku masih penasaran, memangnya kenapa kalo aku udah jadi bagian Alexander?"
"Aku belum bisa memberitahumu sekarang, lagipula itu berhubungan dengan sejarah panjang keluarga." Kata Alvin.
Mereka berdua sampai di depan, sebuah mobil sudah menunggu mereka beserta Martin yang akan menjadi sopir mereka malam ini. Alvin membukakan pintu mobil untuk Rara, setelah gadis itu masuk, Alvin juga ikut masuk lewat pintu di sisi lain mobil.
"Memangnya sejarah keluargamu sepanjang apa?" Rara masih penasaran.
"Cukup untuk membuatmu tertidur pulas dan nggak bakal bangun sampe matahari muncul." Kata Alvin.
"Yeee ..."
"Nanti saja," kata Alvin tersenyum, "Aku bakal cerita semuanya."
"Janji, ya? Jadi kalo ada apa-apa, aku 'kan bisa siap-siap kalo terjadi sesuatu." Ujar Rara.
"Kalo untuk yang satu itu aku nggak bakal biarin terjadi," Alvin menepuk punggung tangan Rara, "Karena kalo ada yang nyoba nyelakain kamu, kepala mereka bakal berlubang kurang dari satu detik."
***
Event ulang tahun cabang perusahaan itu diselenggarakan di ballroom salah satu hotel termewah di Jakarta Selatan. Mobil yang membawa Alvin dan Rara memasuki kawasan hotel tersebut, Rara sempat melihat beberapa artis dan selebriti terkenal Indonesia yang sepertinya juga diundang ke event ini.
Dia juga melihat mobil Kevin beserta pemiliknya yang sedang berjalan menuju lobi.
__ADS_1
Martin turun lebih dulu dan membuka pintu untuk Alvin kemudian Rara. Mata Rara melihat para tamu lain datang sambil menggandeng pasangan. Ada beberapa yang memang datang sendiri, tetapi selebihnya berpasangan.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Alvin yang kini sudah berada di sampingnya.
"Nggak apa-apa. Cuma baru sadar aja tamu-tamu yang datang ngajak gandengan semua." Celetuk Rara asal.
Alvin mengerutkan kening kemudian tertawa geli. Ia juga menggamit tangan Rara dan menuntun istrinya itu masuk ke dalam lobi. Di sana mereka berdua disambut oleh Albert, yang sepertinya menunggu kedatangan putranya.
"Daddy nggak ke ballroom?" tanya Alvin saat ayahnya menyambutnya di lobi.
"Nunggu kamu dan Rara datang. Nggak enak Daddy datang sendiri, nanti orang-orang pada ngira Daddy jomblo ngenes, 'kan?"
Rara mengerjap. Albert ternyata punya selera humor yang cukup membuat kedut-kedut di sudut bibirnya terangkat. Dia memang hanya beberapa kali bertemu Albert, tetapi tidak pernah tau ternyata mertuanya bisa berbicara segaul ini.
Mengikuti zaman, kah? Entahlah. Tapi Rara malah senang bila memiliki mertua seperti Albert.
Pria paruh baya itu menatap Rara dan tersenyum manis,"Selamat datang di event pertamamu sebagai Alexander, Ra. Ayo, kita langsung naik lift menuju ballroom."
Rara mengangguk dan mengikuti mereka berdua masuk ke dalam lift bersama sekitar tiga orang lain yang sepertinya menuju lantai yang sama dengan mereka.
Bunyi denting halus dan pintu lift yang terbuka membuat lamunan Rara buyar. Mereka melangkah keluar dan melewati koridor yang agak panjang. Dua orang pria berdiri di depan sebuah pintu ganda. Ketika melihat kedatangan mereka, dua orang itu membuka pintu tersebut dan Rara bisa melihat ballroom yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang datang, termasuk tamu undangan.
Alvin tiba-tiba menggenggam tangan Rara lebih erat dan membuat gadis itu menatap wajah Alvin, "Kenapa, Vin?"
"Nggak apa-apa. Di dalem ntar jangan sampe kamu kepisah dari aku. Sebisa mungkin tetap di dekatku ato Daddy." Pesan Alvin.
Lagi-lagi Rara hanya mengangguk walau tak mengerti sepenuhnya apa maksud ucapan Alvin.
Kedatangan mereka disambut oleh MC yang berada di panggung. Tepuk tangan terdengar ketika mereka memasuki ballroom tersebut. Banyak wajah yang nggak Rara kenali, tetapi dia bisa melihat ayah Kim yang duduk bersama sobatnya yang kini mengenakan blus merah terang dan celana katun yang menonjolkan sisi maskulinnya.
Rupanya Kim dan ayahnya pun turut diundang. Kenyataan itu sedikit membuat Rara lega karena dia melihat satu orang yang ia kenal berada di tempat ini.
Mereka bertiga duduk di meja tepat di samping panggung. Selagi MC kembali berbicara, seorang pelayan mendatangi mereka dan menyajikan makanan. Rara sempat memperhatikan MC wanita yang sedang berbicara tersebut dan kemudian menatap makanan di hadapannya.
Entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Kalau begitu, mari kita dengarkan sambutan dari Albert Alexander selaku direktur utama dari Alexander Group!"
__ADS_1
Ucapan itu membuat Rara mengerjap. Albert berdiri dari kursinya dan menuju panggung. Rara pun memperhatikan mertuanya memberikan sambutan yang meresmikan pembukaan acara malam ini serta mengucapkan selamat pada cabang perusahaannya yang sudah berdiri lebih dari dua tahun. Sesekali Albert akan melontarkan lelucon yang dibalas tawa oleh para tamu yang hadir.
"Rasanya berbeda, ya?" kata Alvin tiba-tiba, membuat kepala Rara menoleh.
"Apa maksudnya berbeda?" tanya gadis itu.
"Daddy di saat bekerja dan ketika berada di rumah," Alvin mengedikkan bahu, "Beliau nyaris tidak pernah pulang ke rumah kecuali untuk acara-acara seperti ini. Biasanya beliau mengawasi perusahaan dari pusatnya di London."
"Oh ya ..., perusahaan Alexander memang berasal dari London, ya," kata Rara, "Apa nanti kamu bakal dipindahkan ke London juga, Vin?"
"Itu belum dipastikan. Lagipula selain di Indonesia, aku juga memimpin cabang di Cina dan Korea. Siapa tahu aku juga dipindahkan ke salah satu Negara itu, dan tentu saja kamu bakal ikut, Ra." Kata Alvin.
Rara mengangguk. Dia benar-benar menyadari bahwa yang ia nikahi adalah pewaris tunggal dari perusahaan yang sudah mendunia. Tentu saja kewajibannya pun bisa lebih besar dibandingkan orang lain ...
"Apa akan ada yang mengincarku juga nantinya?" tanya Rara lebih pada diri sendiri.
Dia sadar betul apa resikonya bila ia menikahi seorang yang penting. Sejak kecil ia dan Darren memang sudah dilatih oleh ayahnya untuk menghadapi situasi apapun bila sudah terikat dengan seseorang, termasuk bahaya yang akan dihadapi bila nantinya yang akan menjadi pasangan mereka adalah orang-orang penting yang memiliki banyak musuh.
"Tenang aja, Ra," kata Alvin, "Aku udah sering bilang kamu nggak perlu khawatir soal itu."
"Aku Cuma mikirin kemungkinan yang ada, Vin." balas Rara.
"Iya, aku tau, kok. Cuma nggak perlu sampe segitunya. Lagipula malam ini sepertinya aman. Belum ada tanda-tanda kalo ada orang yang bakal ngarungin dan bawa kabur kamu."
"Apa maksudmu dikarungin? Kamu pikir aku beras, gitu pake dikarungin?" sungut Rara.
"Kamu 'kan mungil, Ra. Nggak perlu pake tali, karung aja jadi."
Rara menggeleng-gelengkan kepalanya. Selera humor Alvin ternyata masih ada rupanya.
Albert selesai memberikan sambutan dan kembali ke tempat mereka. Selanjutnya MC menyerahkan acara selanjutnya pada pemusik yang sudah disewa untuk memainkan music selama mereka menyantap hidangan yang tersedia di meja masing-masing. MC itu juga mengatakan bahwa setelah ini mereka bisa mengobrol di ruangan sebelah di mana tersedia cemilan dan kue-kue ringan sebagai teman mengobrol.
"Setelah ini baru kamu bakal kukenalin ke semua orang di sini," kata Alvin, "Jangan sampe kamu ngantuk, Ra."
"Nggak bakal. Lagian aku udah biasa ngehadirin acara begini sama Kak Darren ato Papa." Balas Rara.
Alvin tersenyum tipis. Ia menyantap hidangannya sementara matanya menatap ke satu arah, pada seseorang yang balas menatapnya dengan sorot permusuhan.
__ADS_1