
Pengganti? Apa maksudnya?
"Sebentar, gue nggak ngerti," kata Rara, "Lo bilang kalo seharusnya gue dijodohkan dengan ... Keenan? Lalu sekarang Keenan ada di mana?"
Pertanyaan bodoh. Rara teringat cerita Alvin yang mengatakan kalau kakaknya meninggal. Itu artinya Keenan adalah kakak Alvin yang meninggal saat masih kecil.
Tapi masih ada yang mengganjal dalam pernyataan Alvin barusan.
"Vin,"
"Hm?"
"Kalo lo adalah pengganti Keenan, apa sikap lo selama ini ke gue Cuma bohongan?" tanya Rara.
Alvin menatap Rara sebentar, kemudian menggeleng, "Perasaan gue ke elo nggak bohong," katanya, "Gue emang suka sama lo. Dan walaupun gue pengganti, gue berhak dapat apa yang gue mau, kan?"
"Lo cukup egois juga." Rara mengedikkan bahu, "Gue nggak mempermasalahkan lo itu pengganti kakak lo yang harusnya dijodohin dengan gue ato bukan."
"Serius?" Alvin membelalakkan matanya mendengar ucapan Rara, "Lo nggak marah, Ra?"
"Mau marah sama siapa? Di kasus ini, lo nggak salah. Lo Cuma berada di waktu dan keadaan yang salah." Kata Rara sambil tersenyum manis, "Lagipula, gue lebih suka punya adik cowok ketimbang dapat tunangan seumuran."
Raut wajah Alvin kali ini agak ditekuk, "Oh, jadi lo nganggap gue sebagai adik doang?"
"Hmm... gue pikir-pikir lagi deh," Rara tertawa geli melihat ekspresi wajah Alvin, "Kita keluar yuk. Gue rasa Bu Regina juga pasti khawatir kalo kita nggak keluar dari sini."
Rara beranjak bangkit dan hampir jatuh karena limbung. Alvin cepat-cepat menahan tubuh Rara dengan memeluk pinggangnya, "Lo ceroboh amat sih."
Pipi Rara memerah dan dia segera berdiri tegak sambil melotot pada Alvin, "Gue tergelincir. Bukan ceroboh, ya!"
"Sama aja," Alvin terkekeh, "Udah ah, jangan cemberut gitu. Lo tambah lucu kalo gitu. Muka lo jadi mirip kayak tupai, tau!"
"Ap—Alvin!!!"
***
Pertengkaran kecil Alvin dan Rara terdengar oleh Bu Regina yang berdiri di luar ruangan, tetapi beliau tidak langsung masuk. Wanita paruh baya itu tau bukan saat yang tepat untuk mengganggu Alvin dan Rara.
Ketika pintu di depannya terbuka dan menampilkan Rara yang berjalan keluar, barulah Bu Regina menghampiri mereka, "Nak Rara sudah baikan? Apa ada yang sakit?"
Rara mengerjapkan mata melihat Bu Regina sebelum menjawab pertanyaan beliau dengan gelengan kepala, "Nggak papa kok, Bu. Cuma kecapekan aja makanya sampai pingsan kayak tadi."
"Begitu? Bukan karena kamu syok datang kemari, kan?"
Rara Cuma bisa terdiam mendengar pertanyaan Bu Regina yang kedua.
Bu Regina tersenyum tipis dan membimbing mereka berdua menuju ruang kerjanya. Di sana beliau mempersilakan mereka berdua untuk duduk dan menyajikan minuman, "Ibu seneng Nak Rara kemari. Ibu masih ingat kamu dulu sering banget main ayunan bareng Nak Alvin dan ...,"
Pandangan wanita paruh baya itu sejenak bertemu dengan Alvin, yang mengangguk pelan dengan isyarat tanpa kata beliau.
__ADS_1
"Dengan Keenan?" tanya Rara.
Bu Regina mengerjap kemudian mengangguk mendengarnya, "Iya. Dulu Nak Rara deket banget dengan mereka berdua. Sayang Nak Keenan tidak ada di sini dengan kita."
Rara hanya tersenyum kaku. Dia tidak tau harus menjawab apa jadi dia hanya menatap gelas minumannya di atas meja dengan tatapan setengah kosong.
"Sebenarnya alasan saya membawa Rara kemari untuk bertemu Bu Regina dan mengambil barang yang dulu pernah dititipkan Daddy di sini." Kata Alvin, "Apa Anda masih menyimpannya?"
"Ah ..., benda itu? Tunggu sebentar."
Bu Regina bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri sebuah rak yang memuat jejeran buku-buku bergambar dan buku cerita untuk anak-anak. Tangan beliau memilah-milah sebentar diantara semua buku yang ada di rak tersebut dan mengambil sebuah hard cover novel berwarna biru tua dan kembali ke hadapan mereka.
"Apa ini benda yang Nak Alvin maksud?" tanya Bu Regina sambil menyerahkan hard cover tersebut.
Alvin menerimanya dan melihat isinya sekilas sebelum kemudian mengangguk. Rara hanya bisa mengerutkan kening tidak mengerti apa isi dari benda yang kini ada di tangan pemuda itu.
"Ini memang barangnya. Maaf sudah membuat Anda menjaga benda ini selama ini." kata Alvin.
"Tidak apa-apa. Ayahmu adalah salah satu donatur tempat ini, dan juga sering mengajak anak-anak di sini jalan-jalan untuk kegiatan pendidikan, jadi sudah sewajarnya Ibu menjaga amanat."
Alvin tersenyum mendengar ucapan beliau.
"Vin, memangnya itu apa?" tanya Rara penasaran.
"Hanya benda kecil kok,"
Rara tidak mau memaksa lagi. Selama setengah jam ke depan, Rara mengobrol dengan Bu Regina, mengenang masa kecil yang sayangnya tidak bisa diingat olehnya dengan jelas. Ketika sudah waktunya pergi, Bu Regina memberikan sesuatu ke tangannya.
Rara menatap benda di tangannya dan mengangguk pelan, lalu mengikuti Alvin masuk ke dalam mobil.
"Bu Regina kasih apa ke lo, Ra?" tanya Alvin sambil menyalakan mesin mobil.
"Cuma permen kok. Beliau kayaknya tau kalo gue sering ngantuk di jalan." Kata Rara beralasan.
Alvin hanya manggut-manggut. Dia tidak menyadari raut wajah Rara yang agak berubah. Matanya melirik benda yang tergenggam erat di tangan kanannya diam-diam. Benda mungil yang hanya seukuran satu buku jari jempolnya itu membuat hatinya gelisah.
Benda yang tidak lain adalah liontin kaca tebal dengan ukiran nama Keenan di atasnya.
***
Pulang dari mengantar Rara, Alvin tidak langsung pulang. Dia mampir sebentar ke perusahaan ayahnya dan langsung menuju ruang kerja orangtuanya itu, mendapati beliau tengah disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk.
"Kayaknya Daddy butuh bantuan,"
Albert Alexander mendongak dari berkas yang dibacanya dan tersenyum tipis pada Alvin, "Kau masih ingat untuk datang kemari, rupanya. Daddy pikir kau hanya mau mengurus perusahaan ini dari dalam cangkang."
"Tentu saja tidak. Usiaku sebentar lagi Sembilan belas tahun, Dad. Usia itu sudah dianggap usia kedewasaan, kan?" Alvin tersneyum lebar dan duduk di hadapan ayahnya, ikut membaca berkas-berkas di meja beliau.
"Apa ada sesuatu yang salah?" tanya ayahnya tanpa melirik kearah Alvin.
__ADS_1
"Nope. Aku hanya baru saja mengajak Rara ke taman kanak-kanak tempatku dan Rara bersekolah."
Mata Albert kini kembali menatap Alvin, kali ini lebih dalam, "Mau apa kau membawa Rara ke sana?"
"Hanya ingin mengingat masa kecil," Alvin tersenyum tipis, "Tenang saja, Dad. Kami tidak pergi ke tempat itu, kalau itu yang kau khawatirkan."
Albert hanya diam, tapi matanya mengawasi lekat-lekat putra satu-satunya yang ditinggalkan oleh istrinya tersebut, "Kuharap kau tidak berbuat apa-apa yang bisa membuat Rara ketakutan."
"Tenang saja, Dad, aku tidak akan melakukan apapun," Alvin tertawa kecil, "Lagipula Rara masih cukup polos, aku tidak mau membuatnya takut."
Albert tertawa kaku. Dia menutup satu berkas dan meregangkan tubuhnya, "Kau sudah makan siang? Kalau belum, bagaimana kalau kita makan siang di restoran di dekat sini?"
"Sound's good. Aku juga mau membicarakan sesuatu dengan Dad."
"Membicarakan apa?" tanya Albert mengerutkan kening.
"Soal kecelakaan yang menimpa Mom dan Keenan," kata Alvin, "Ada beberapa hal yang harus kukatakan pada Dad, termasuk kebenaran kecelakaan yang menimpa mereka."
***
Rara menatap bandul liontin di tangannya. Huruf nama Keenan terukir di sana dengan gaya huruf elegan. Mata Rara tidak pernah mau melihat kearah lain dan terus menatap bandul kalung yang hanya sebesar satu buku jari jempolnya. Dia merasa aneh sekaligus... entahlah. Rara nggak tau apa nama satu perasaan asing yang sedang bergejolak di dadanya.
Suara pintu yang diketuk membuyarkan lamunan Rara yang tengah asyik melamun di kursinya. Ia menoleh dan melihat kakaknya, Darren, berdiri di depan pintu dengan senyum lebar yang sayangnya bagi Rara, nggak secerah matahari.
"Nggak ada sambutan nih?" Darren berjalan mendekati Rara yang tampak kusut wajahnya.
"Ngapain dikasih sambutan kalo Kak Darren masuk tanpa permisi?" balas Rara.
Darren terkekeh mendengar ucapan adiknya yang bukannya menyambut malah mengejek. Tangannya mengacak-acak rambut Rara dan kemudian matanya melihat benda yang dipegang adik kecilnya itu.
"Ra, kamu dapat dari mana benda itu?"
Rara melihat pandangan Darren tertuju pada bandul kalung yang dipegangnya, "Emang kakak tau ini benda apa?"
"Bandul kalung, jelas," kata Darren, "Tapi yang kakak mau tau, kamu dapat itu dari mana? Bukannya bandul kalung itu udah..."
Ucapan Darren yang menggantung dan raut wajahnya yang tiba-tiba berubah malah membuat Rara penasaran, "Emangnya bandul kalung ini kenapa, Kak?"
"Eh, nggak. Nggak papa," Darren menggeleng.
"Serius, Kak! Kenapa tiba-tiba kelemotan Kak Darren makin parah sih?"
"Sembarangan!" sungut Darren, "Bandul kalung itu harusnya ada di keluarga Alexander, kan? Kenapa kamu bisa punya?"
"Ini punya Keenan." Jawab Rara.
"Punya Keenan..., ah ya benar juga. Kenapa aku bisa lupa sih." Darren menepuk keningnya.
"Kak, dari tadi Kak Darren ngomongnya muter-muter, jelasin aja kenapa sih?" kata Rara makin gemas pengen nendang Darren ke kolam air dingin sekarang juga.
__ADS_1
"Bandul kalung itu kan kalung tunanganmu waktu kecil. Dulu Mama yang memberikan sepasang kalung seperti itu untuk kalian berdua."