
Di luar dugaan, Alvin membawanya ke pantai.
Awalnya Rara nggak sadar karena dia sedang focus ke HP-nya saat Alvin serius mengemudi. Dan ketika dia merasakan mesin mobil berhenti, dia mendongak dan menatap jendela, sedikit kaget karena ternyata Alvin membawanya ke tempat seperti ini.
"Yuk, turun." Kata Alvin sambil membuka seatbelt-nya.
Rara mengikuti Alvin keluar dari mobil dan wajahnya langsung merasakan angin pantai yang sepoi-sepoi. Matanya menangkap beberapa orang yang juga sedang berjalan-jalan di sekitar pantai, belum lagi kedai-kedai makanan yang berjejer dan menjual berbagai jenis makanan.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Rara berdiri di sebelah Alvin.
"Mama sering mengajakku ke pantai untuk menjernihkan pikiran kalau Dad lagi sibuk-sibuknya kerja dan nggak bisa diganggu." Jawab Alvin sambil tersenyum.
Alvin kemudian melangkah dan Rara buru-buru mengikuti di sebelahnya. Suasana pantai saat ini cukup sepi, tidak terlalu banyak orang, mungkin karena masih siang. Rara tahu pantai sejenis ini biasanya akan ramai dikunjungi kalau sore hari. Menikmati sunset bersama keluarga ataupun pasangan.
Rara tersentak kaget ketika kakinya tidak sengaja menyandung batu. Matanya terpejam erat, mengira dia bakal jatuh. Tapi yang dia rasakan malah sesuatu yang menahan tubuhnya terjatuh.
"Hati-hati, pantai di bagian sini banyak batunya." Kata Alvin.
Rara membuka matanya dan langsung berdiri tegak. Dia benar-benar malu karena Alvin menyentuh pinggangnya. Selama ini dia tidak pernah membiarkan cowok-cowok mendekatinya, apalagi menyentuhnya. Kecuali ayah dan kakaknya, mereka keluarganya.
"Makasih." Kata Rara.
Alvin tersenyum tipis, kemudian menggenggam tangan Rara, membuat gadis itu mengerjap bingung.
"Biar lo nggak salah jalan dan kesandung batu lagi." kata Alvin.
Rara Cuma diam. Dia menatap tangannya yang digenggam Alvin, kemudian memperhatikan cowok itu dari belakang.
Kalo dipikir-pikir, bahu Alvin cukup bidang. Walau dia kurus dan seperti tiang listrik berjalan, tapi Rara bisa merasakan kalo tenaga Alvin jauh lebih kuat darinya.
Bukan karena dia cowok, yang jelas-jelas lebih kuat dari cewek.
Cuma, ya... itu. Pokoknya Rara merasa Alvin tampak lebih kuat dan terkesan tegar di luar.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara. Alvin membawanya ke salah satu sudut pantai yang sedikit terlindungi.
"Lo haus?" tanya Alvin.
"Nggak juga. Tapi, gue pengen ngemil sih."
"Tunggu sebentar di sini, gue beliin sesuatu dulu."
"Eh, nggak usah—Vin!"
Alvin sudah keburu berjalan ke salah satu kedai makanan dan meninggalkan Rara sendirian di sana. Ia menghembuskan nafas dan memilih untuk melepas sandalnya. Ketika kakinya menyentuh pasir pantai, ada sensasi tersendiri yang membuat Rara mengukir senyum.
Dia lalu duduk di salah satu batu yang agak tinggi dan menatap langit. Tidak ada awan mendung, cuacanya cerah. Dan beberapa pohon kelapa di dekatnya membuat suasananya lebih santai dan... adem.
Alvin kembali dengan dua es kelapa muda di tangannya, berikut kantong plastic putih yang sepertinya berisi gorengan atau semacamnya.
"Lo bisa makan gorengan, kan?" kata Alvin sambil meletakkan kantong plastic di tangannya di atas batu di dekat Rara.
"Gue suka makan apa aja, asal enak dan bisa gue makan." Balas Rara.
"Gue beliin bakwan, pisang goreng, tahu goreng, sama es kelapa muda. Cuaca begini enaknya makan beginian, kan?" ujar Alvin.
Rara menerima gelas besar berisi es kelapa muda dari Alvin dan meminumnya pelan-pelan. Rasanya enak karena dicampur susu. Rara langsung memegang sendok yang ada di gelas dan memakan daging kelapa di minumannya.
Alvin sendiri langsung mencomot tahu goreng dan memakannya.
"Gue kadang ke sini," kata Alvin, "bagian pantai yang ini jarang didatangi orang, dan di sini pemandangannya juga nggak terlalu buruk dari yang lain."
Rara mengangguk setuju. Dia malah berpikir kalo tempat mereka duduk sekarang adalah tempat paling bagus untuk menikmati pantai, mendengarkan deburan ombak...
Rasanya seperti berada di surga. Tenang, damai, dan tidak ada gangguan.
Alvin melihat raut wajah Rara yang tampak menikmati keheningan di antara mereka dan tersenyum tipis.
Mereka menikmati suasana tenang itu tanpa banyak bicara, sambil menikmati gorengan dan es kelapa muda segar.
Setelah makanan dan minuman mereka habis, Rara berjalan mendekati air pantai dan berjongkok. Dicelupkannya jari-jarinya ke dalam air dan merasakan dinginnya sementara Alvin bersandar pada salah satu batu dan menguap.
Rara memperhatikan air laut yang terbentang jauh, setengah melamun. Dia tidak biasanya mau diajak ke tempat seperti ini oleh cowok. Walaupun statusnya dan Alvin mungkni sedikit berbeda dari pedekate ato pacaran, tapi Rara bukanlah tipe cewek yang mudah diajak jalan bareng cowok.
Bahkan Kim bilang sendiri kalo dia gadis berhati batu, judes, nggak bisa diajak bercanda, dan banyak lagi hal lain yang bisa dibilang adalah sisi negatifnya.
Rara menghembuskan nafas dan menoleh, mendapati Alvin duduk bersandar pada salah satu batu dengan mata terpejam.
Tuh anak tidur?
Rara berdiri dan mendekati Alvin. Dilihatnya wajah Alvin yang tampak damai dengan mata tertutup. Diperhatikan lebih dekat, Rara baru sadar kalo bulu mata Alvin cukup lentik. Wajahnya juga pasti bisa mengalahkan cewek tulen kalo didandanin sedikit dan diberi wig.
Tapi...
Rara berjongkok di sebelah Alvin dan memperhatikan wajah cowok itu lekat-lekat.
Dia merasakan kalo di setiap senyum dan guratan di wajah Alvin menyimpan luka yang dalam. Entahlah. Dia tau begitu saja.
Apa Alvin dulunya nggak pernah disayang atau semacamnya? Di wajahnya memang selalu ada senyum, tetapi kebanyakan Cuma senyum tipis dan senyum sopan biasa...
Tangan Rara terangkat hendak menyentuh wajah Alvin ketika mata cowok itu terbuka, membuat Rara kaget dan mundur ke belakang.
"Wajah gue emang tampan, tapi seenggaknya kalo nyentuh harus halal dulu, kan?" kata Alvin datar.
"L-lo apa-apaan, sih? Gue kira lo tidur tadi." balas Rara dengan wajah memerah.
"Gue Cuma pejem mata doang. Gue nggak biasa tidur di udara terbuka." kata Alvin, "Gue bahkan nggak pernah berkemah."
"Serius?"
"Pake banget." Sahut Alvin.
Rara memperbaiki posisi duduknya dan melihat Alvin meregangkan tubuhnya. Untuk sesaat tadi dia bisa melihat sedikit lekuk otot tak kentara di badan Alvin yang ditutupi kaos berkerah putih.
__ADS_1
Woaaa...
"Kenapa lo liat-liat? Terpesona dengan tubuh gue ya?"
"Idiih, tubuh sekurus batang sapu gitu aja dibanggain." Celetuk Rara.
"Tapi, lo dari tadi ngeliatin badan gue, artinya lo suka kan?"
Rara membuka mulutnya, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dan itu membuatnya jengkel.
Alvin tertawa melihat wajah cemberut Rara. Sesekali mengajak Rara keluar dan melihat wajah cemberut gadis itu kayaknya asik juga.
Alvin harus melakukannya sering-sering.
"Sehabis ini kita ke mana?" tanya Rara.
"Gue nggak ada tujuan lain selain ke sini." jawab Alvin, "Tempat pertama yang gue datangin saat di Indonesia, apalagi di Jakarta, ya Cuma di sini. Gue lebih sering menghabiskan waktu di sekolah, di rumah, ato pergi ke rumah lo belakangan ini."
Rara mengerjap mendengarnya. Dari nada bicaranya, Alvin terkesan seperti robot saja.
Alvin membereskan sampah-sampah bekas makanan mereka dan membuangnya ke tempat sampah. Dia juga membawa kembali dua gelas kosong tadi kembali ke kedai makanan tempatnya tadi membeli.
"Ra, kita jalan lagi, gimana?" tanya Alvin setelah kembali.
"Memangnya mau jalan ke mana? Lo sendiri bilang kalo lo nggak pernah ke tempat lain kecuali ke sini."
"Terserah lo aja. Bukannya gue juga bilang kalo gue mau lo jadi guide gue?"
"Ah, ya... benar juga sih."
Rara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sementara Alvin kembali terkekeh.
"Gimana kalo kita pergi ke rumah gue?"
"Ke rumah lo?"
"Lo butuh inspirasi buat ngerancang gaun, kan? Kebetulan di rumah gue ada satu ruangan yang mungkin bakal lo suka." Kata Alvin.
"Emangnya ruangan apa?"
"Nanti lo bisa liat sendiri." Alvin tersenyum, "Yuk, kita balik ke mobil!"
***
Rumah Alvin, harus Rara akui, walaupun keliatan besar, tapi terkesan dingin. Dari interiornya pun sudah jelas kalo rumah itu hanya ditinggali Alvin seorang diri kalo para pelayan, satpam, dan beberapa bodyguard yang berjaga di luar tidak dihitung.
Alvin mengajaknya menaiki tangga menuju lantai dua. Mereka terus berjalan hingga sampai di depan pintu berwarna coklat susu. Alvin mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kunci dengan ukiran kupu-kupu. Kunci itu dimasukkannya ke dalam lubang pintu tersebut.
Alvin memegang kenop pintu dan mendorongnya, menampilkan sedikit kegelapan yang ada di balik pintu tersebut.
"Kamu masuk duluan." Kata Alvin.
"Hah?"
"Kok gue yang masuk duluan?" tanya Rara, "Lo nggak bermaksud menjebak gue, kan?"
"Yaelah, pikiran lo kok negative melulu, sih?" balas Alvin.
"Udahlah, masuk aja."
Rara menatap Alvin lagi, kemudian membuka lebar-lebar pintu di depan mereka. Sejauh yang dia lihat, Cuma warna hitam alias gelap yang tertangkap matanya.
"Ini ruangan apa, sih? Kok gelap banget." Kata Rara.
"Lo itu masuknya Cuma kepala doang. Seluruh badan, dong!"
"Gue kan mengantisipasi kalo lo mau berbuat yang nggak-nggak." balas Rara.
"Aish, lo ini..."
Rara melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dan Alvin mengikuti. Cowok itu menekan saklar lampu dan seketika ruangan itu terang benderang.
Mata Rara mengerjap karena mendadak cahaya masuk ke dalam matanya. Tetapi, setelah bisa beradaptasi, kali ini matanya membelalak sempurna.
"Woaaaa..."
Di setiap sudut ruangan itu tidak pernah kosong oleh deretan rak yang memuat jajaran gaun, pakaian yang tampak menawan di mata Rara. Beberapa manekin berjejer rapi di tengah ruangan dengan gaun yang mampu memanjakan mata para wanita yang hobi berpesta. Bahkan satu manekin mengenakan sebuah gaun berwarna biru gelap dengan desain yang sangat menawan, mirip seperti gaun biru yang ada di film Paradise Kiss yang pernah Rara tonton, tetapi yang ini lebih indah lagi. Bahkan di bagian punggung gaun itu terdapat kain tipis yang seakan berfungsi seperti sayap yang terbentang.
"Ini ruangan apa?" tanya Rara untuk ke sekian kalinya.
"Ruang kerja ibu gue." Kata Alvin sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ruang kerja ibu lo?" Rara mengerutkan kening.
"Kalo lo kuliah di jurusan desain pakaian, pasti tau nama beliau." Alvin tersenyum.
"Siapa sih?"
"Aletta Vanaria."
Untuk kedua kalinya mata Rara membulat. Nama Aletta Vanaria memang tak asing di kalangan para perancang busana di Indonesia, apalagi di jurusan tempatnya kuliah.
Aletta Vanaria adalah nama alias seorang perancang busana yang dikenal dengan gebrakan pakaian rancangannya yang berani, mampu menarik perhatian bahkan sampai go international. Nggak kalah dengan Ivan Gunawan ataupun perancang Indonesia lainnya. Yang menariknya lagi, Aletta Vanaria tidak pernah muncul di muka umum bahkan untuk sekedar bertatap muka dengan para promoter dan sponsor yang menyediakan tempat untuknya menggelar fashion show dan menyapa para fansnya. Kemisteriusan itu, ditambah rancangan pakaiannya yang selalu mampu menarik jutaan orang untuk memiliki satu saja hasil rancangannya membuat Aletta Vanaria dikenal sebagai sebagai sosok Ratu dalam dunia seni merancang pakaian.
Dan sosok Ratu itu kemudian menghilang sepuluh tahun lalu. Ada kabar yang beredar kalo Aletta Vanaria meninggal dalam sebuah kecelakaan atau pensiun dari pekerjaannya merancang pakaian karena sudah menikah dan berkeluarga. Setidaknya dua opini itu yang membuat semua orang siaga satu mendadak.
"Ibu lo Aletta Vanaria? Serius?" tanya Rara.
Alvin mengangguk, "Dan gue sering jadi kelinci percobaan beliau setiap ada rancangan baru untuk pakaian anak-anak. Kebanyakan pakaian untuk anak perempuan sih..."
Rara ingin menertawakan ucapan Alvin barusan, tapi karena dia masih tidak menyangka Aletta Vanaria adalah ibu dari bocah tengil yang tingginya bahkan bikin Rara keki setengah mati.
Alvin melihat tatapan Rara dan tertawa.
__ADS_1
"Gue nggak nyangka Aletta Vanaria itu ibu lo." Kata Rara, "Trus, sekarang beliau di mana?"
Mendadak wajah Alvin agak mendung. Tatapan matanya tampak menerawang sejenak sebelum menjawab.
"Tau soal berita yang mengatakan Aletta Vanaria kecelakaan?" kata pemuda itu.
Rara mengangguk.
"Berita itu bener. Mama mengalami kecelakaan dengan kakak gue." kata Alvin.
"Gue masih inget peristiwa itu karena kejadiannya persis di hari ulang tahun gue yang ke sepuluh. Gue bahkan masih ingat apa yang beliau bilang untuk nunggu di rumah dan nggak keluar dari kamar sampe beliau dateng ngasih kejutan buat gue."
Alvin menarik dan menghembuskan nafas perlahan.
"Yaa... apa yang terjadi di masa lalu nggak bakal bisa balik. Mama memang udah meninggal, tapi gue masih ingat kata beliau agar gue nggak jadi lelaki cengeng. Lagian kalo gue cengeng dan kek banci, gue nggak bisa ngelindungin calon istri gue dong."
Ucapan itu membuat pipi Rara memerah. Dia meninju lengan Alvin dan meringis kemudian karena tangannya terasa sepeti memukul kayu keras.
Itu tangan apa tulang berbalut kulit doang sih? Keluh Rara sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Lah, kan bener? Lo calon istri gue. Jadi ya gue nggak mungkin jadi banci dong?" kata Alvin, "Tapi, dari dulu gue sering dibilang mirip cewek sih, apalagi kalo gue pake gaun..."
"Coba pake sekarang."
"Ha?"
Alvin menatap Rara seolah gadis itu adalah spesies makhluk hidup terbaru dan paling aneh yang ditemukan.
"Coba pake gaun sekarang." kata Rara lagi, "Pake yang warna pink itu coba."
Rara langsung menarik satu gaun panjang berwarna pink pastel dari salah satu rak dan menyerahkannya pada Alvin.
"Pake yang ini coba. Gue pengen liat lo pake gaun ini." kata Rara dengan senyuman bak iblis.
Alvin menatap gaun di tangan Rara kemudian wajah gadis itu bolak-balik.
"Ogah." Katanya.
"Ayolah, senengin calon istri lo dong." balas Rara.
"Jadi lo sekarang ngakuin kalo kita calon pasutri?"
Rara mendecak, kemudian terdiam sebentar. Bener juga kata Alvin. Secara tidak langsung, tadi dia udah mengakui mereka calon...
Pipi Rara langsung memerah, dan Alvin tertawa melihatnya.
"Biarpun lo nyembah, sujud di depan gue buat pake nih gaun, gue nggak mau. Gue laki tulen, masa iya main ama gaun?" kata Alvin.
"Tapi, lo bilang waktu kecil sering jadi kelinci percobaan nyokap lo, kan?" balas Rara nggak mau kalah.
"Itu waktu kecil, non. Gue nggak mau ngulangin masa suram itu sekarang."
"Dihh..."
Alvin tertawa lagi.
Bunyi yang berasal dari HP di saku celana Alvin menarik perhatian mereka berdua. Alvin mengeluarkan benda persegi panjang itu dan melihat siapa yang menelepon.
Pemuda itu memberi gesture agar Rara diam sebentar dan menerima telepon yang masuk.
"Halo, Dad, ada apa?"
Rara melihat Alvin manggut-manggut sambil menggumamkan kata 'Ya' berkali-kali. Kemudian setelah lima menit menerima telepon, pemuda itu menjauhkan HP dari telinga kirinya.
"Tadi bokap lo?"
Alvin mengangguk.
"Dad tadi telepon, soal rencana pertunangan kita, itu bakal dimajuin awal bulan depan, dan kita bakal nikah akhir tahun ini." kata Alvin.
...
...
...
...
Mulut Rara terbuka dan agak megap-megap kek ikan yang dilempar ke tanah mendengarnya.
"Kita tunangan bulan depan dan nikahnya akhir tahun?!"
Alvin mengangguk.
"Dan ngomong-ngomong, bulan depan itu tinggal dua hari lagi, dan lo harus ngepas gaun buat acara pertunangan kita hari ini. Pilih deh dari semua gaun yang ada di sini."
"Heh? Pilih salah satu dari... semua gaun ini?" tanya Rara memastikan.
"Iya, my honey bunny sweety..."
"Stop! Geli ngedengernya tau!" ujar Rara.
Lagi-lagi Alvin tertawa.
"Tapi, serius, gue harus pilih gaun dari sini?" tanya Rara lagi, "Apa nggak papa? Ini kan... peninggalan nyokap lo?"
"Boleh banget kok." Alvin mengangguk, "Lagian semua ini dibuat dengan ukuran badan Mama, dan kayaknya ukuran beliau sama kayak lo. Juga..."
Alvin menatap Rara, kemudian tersenyum kecil.
"Mama bikin ini semua emang untuk calon istri gue kok. Dan orangnya itu elo."
__ADS_1