
Alvin menghembuskan nafas dan melepas kacamata baca yang dipakainya. Hari ini memang masih libur, sekolahnya akan dimulai minggu depan, tetapi dia tetap harus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk dari perusahaan ayahnya kalau tidak mau stress dan kena serangan jantung mendadak saat semester baru tiba.
Meregangkan tubuh, Alvin melirik sudut lain meja belajarnya yang disulap menyerupai meja kerja, penuh kertas berceceran, pulpen yang berserakan, dan beberapa map yang masih harus dibaca dan dia tanda-tangani.
Melihat map-map yang bertumpuk itu membuat Alvin mengeluh jengkel. Kapan dia bisa terbebas dari map-map seperti itu dan bermain dengan Rara lagi?
Ngomong-ngomong soal Rara, gadis itu belum pernah menghubunginya lebih dulu. Biasanya dia yang mengambil inisiatif itu, tetapi kayaknya ada kurang apa gitu kalo Rara nggak menghubunginya duluan.
Well, statement di Indonesia soal cowok yang bertindak duluan itu menggelikan banget. Katanya dalam hati.
Alvin menjangkau benda persegi panjang bernama HP yang ia letakkan tidak jauh dari map-map 'terkutuk' itu dan menayalakan layarnya.
Tidak ada notifikasi apapun dari Rara. Baik Whatsapp, BBM, LINE, dan aplikasi chatting lainnya.
Apa gadis itu sibuk?
Alvin menggeser nomor Rara dan menempelkan HP-nya ke telinga.
Beberapa detik kemudian Rara mengangkat telepon, dan suaranya tampak datar seperti biasanya.
"Kenapa, Vin?" tanya Rara langsung.
"Lagi bosen aja, makanya nelpon elo." Kata Alvin tersenyum, "Udah makan? Lagi ada di mana?"
"Lagi di rumah, sih... ngerjain sketsa kasar gaun." Jawab Rara, "Lo nggak ada kerjaan banget sih ngehubungin gue Cuma buat tanya apa gue udah makan ato belum."
"Well, seenggaknya, itu yang dilakuin orang-orang yang pacaran, kan? Apalagi kita dijodohin. Jadi bisa dibilang hubungan kita setingkat lebih tinggi dibanding pacaran."
Alvin mendengar Rara mendengus dan itu membuatnya tertawa geli. Walaupun usia Rara memang lebih tua darinya, Rara lebih cocok menjadi adiknya. Bayangkan aja, tinggi Rara nggak sampai matanya, bahkan walau sudah memakai high heels setinggi 5-7 senti. Perawakan Rara yang mungil memang membuat gadis itu lebih mirip boneka, apalagi didukung kulit putih dan juga mata bulat besar. Pantas saja Rara disukai hampir semua cowok yang pernah bertemu dengannya.
Kenapa Alvin tahu? Karena sebelumnya dia sudah menyelidiki Rara terlebih dulu.
"Lo bener-bener kurang kerjaan, Vin. Serius." Kata Rara.
"Nggak apa kalo kurang kerjaan. Asal gue bisa menikmati hidup, who cares?"
"Terus, lo nelpon gue Cuma buat tanya itu dan ngeluh soal tugas-tugas lo yang menumpuk, gitu?"
"Bingo!"
"Dasar bocah lo! Urusin kerjaan lo dulu napa?" kata Rara.
Alvin tertawa lagi mendengar nada jengkel dalam suara Rara.
"Gue pengen keluar nih, lo mau ikut? Kita jalan-jalan ke mana gitu?" kata Alvin.
"Jalan-jalan aja sendiri."
"Gue nggak hafal jalan di Jakarta." Balas Alvin, "Kan lo yang lebih dulu tinggal di sini, jadi bisa kan sekalian jadi guide gue?"
"Ada bayarannya, nggak? Gue beneran lagi sibuk."
"Ada kok, tenang aja." kata Alvin lagi, "Jadi, gimana?"
Ada jeda sebelum kemudian Alvin mendengar Rara menghela nafas di seberang telepon.
"Oke. Beri gue waktu setengah jam buat siap-siap sebelum ke rumah lo."
"Nggak perlu. Gue yang bakal ke rumah lo." Sela Alvin, "Gue udah punya sim dan gue juga bisa nyetir, jadi nggak masalah kalo gue yang ke rumah lo, kan?"
"Terserah elo aja, deh."
Alvin tersenyum lebar dan mematikan telepon. Dia lalu membereskan kertas-kertas berceceran di atas mejanya dan menaruhnya di samping tumpukan map yang belum ia sentuh. Tangannya memencet intercom di mejanya.
"Siapkan mobil, Martin. Aku mau ke rumah Rara sekarang."
***
Rara menatap HP-nya dan kemudian menghela nafas. Pandangannya beralih pada buku sketsanya. Sketsa gaun yang sedang dia kerjakan masih setengah jadi dan sepertinya tidak akan bisa ia lanjutkan hari ini. Otaknya buntu ide. Dan itu yang membuatnya uring-uringan sejak tadi.
"Mudah-mudahan setelah jalan-jalan, gue bisa dapet ide yang cocok untuk sketsa yang satu ini." keluh Rara sambil bangkit dari tempat duduk dan menuju lemari pakaiannya untuk berganti baju.
Baru dua langkah dia menjauh dari mejanya, HP-nya kembali berbunyi. Menghembuskan nafas jengkel, Rara menjawab telepon yang masuk tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo?!"
"Rara? Kenapa suaramu gede gitu?"
Rara mengerjapkan matanya dan menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinganya. Di layar tertera nama 'Kak Darren', nomor kakaknya.
__ADS_1
"Ah, eh... Kak Darren. Kenapa telepon?" kata Rara lagi.
"Kangen dengan adik sendiri salah, ya?" balas Darren di seberang telepon, "Kenapa suaramu gede banget tadi? Lagi ngambekan sama Kim? Ato lagi PMS? Perlu dibeliin sesuatu?"
Rara memutar bola matanya. Kakaknya ini hanya di saat-saat tertentu bisa peka dengannya. Tetapi, ya seperti ini. Kepekaannya benar-benar membuatnya jengkel.
"Aku tadi ngira Kakak orang iseng yang nelpon. Dan aku lagi nggak PMS jadi nggak perlu dibelikan sesuatu." jawab Rara, "Dan aku tanya kenapa Kakak telpon. Tumben banget..."
"Dan aku juga sudah bilang aku kangen dengan adik sendiri." balas Darren, "Ra, kata Papa kamu dijodohin? Bener?"
Telat banget kakaknya ini dapat info!!
"Iya, Rara dijodohin. Kak Darren telat dapet info." Kata Rara makin jengkel.
Di seberang telepon, Darren malah tertawa mendengar nada suara Rara yang jengkel.
"Ya... bagus, dong. Tindakan Papa udah bener. Soalnya Kakak kasihan liat kamu jadi jomblo ngenes selama 24 tahun ini."
"Kak Darren, kalo Kakak pulang, ntar Rara bilang ke Kak Lisa kalo Kakak punya video bokep di laptop dan juga HP, dan majalah playboy yang bejibun di kamar."
"Woi, woi, Ra!"
Kali ini Rara yang tertawa. Dia tau kelemahan kakaknya yang satu ini.
"Makanya, Kakak jangan macem-macem sama Rara. Kalo nggak, ya Rara bongkar tuh isi rak buku paling dalem di kamar Kakak."
Kali ini Rara mendengar kakaknya mengomel panjang-lebar di seberang telepon.
Rara menepuk keningnya teringat janji dengan Alvin dan buru-buru memilah-milah baju di lemari pakaiannya.
"Kamu ada kegiatan besok? Kita ke mall, yuk. Ato ke pantai. Kakak sekalian mau ngawasin cabang hotel kita juga kalo pergi ke pantai."
"Hmm... ntar Rara pikirin, deh. Rara sibuk ngurus sketsa yang masih setengah jadi." Balas Rara.
"Ya kalo gitu, sekalian refreshing aja. Kita ke pantai."
"Ntar deh Rara pikirin. Sekarang Rara mau siap-siap dulu." Balas Rara.
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Alvin ngajakin Rara jalan-jalan. Katanya dia lagi bosen, jadi ya Rara terima aja." jawab Rara.
"Apaan, Kak?"
"Jadi nama cowok yang dijodohin sama kamu itu Alvin, hm? Dan sekarang kamu mau kencan sama dia? So sweet..."
"Apa Kakak bakal nganggep Rara mau kencan dengan bocah umur delapan belas tahun?" sahut Rara.
...
...
...
...
...
... loading.
... loading.
"DELAPAN BELAS TAHUN!!!??"
Rara harus menjauhkan HP dari telinganya ketika Darren berteriak barusan. Kalo nggak, bisa-bisa dia kena penyakit tuli mendadak.
"Iya, Kak Darren-ku tersayang. Yang dijodohin sama Rara itu cowok berusia delapan belas tahun. Puas?" kata Rara
"Bentar, bentar, Ra. Kamu... serius?"
"Serius pake banget." Kata Rara asal.
Tangan gadis itu menyambar sebuah kemeja lengan pendek putih dan juga celana jins selutut. Diperhatikannya perpaduan baju itu dan mengangguk.
"Kenapa nggak kasih tau aku?" tanya Darren.
"Lah, Kakak sendiri harusnya tanya sama Papa, dong." jawab Rara, "Lagian juga ini gara-gara Kak Darren sama Kak Lisa nggak nikah-nikah juga dari jaman dahulu kala. Jadinya sekarang Rara yang kena imbas nih."
"Oh, jadi sekarang kamu nyalahin Kakak, gitu?"
__ADS_1
"Kak Darren nggak peka, sih. Udah jelas Kak Lisa udah siap lahir batin buat nikah sama Kakak, tapi penyakit nggak peka Kakak itu yang bikin Kak Lisa sama Rara sendiri pengen nendang ke kolam biar tuh kepala Kakak dingin kayak es sekalian."
"Heh, nggak baik ngatain yang lebih tua."
"Lah, emang Kak Darren sudah merasa tua? Kalo gitu nikah, dong!"
Skak mat. Rara terkekeh geli mendengar Darren lagi-lagi mengomel panjang kali lebar di seberang sana.
"Ya udah deh, Kal. Rara mau siap-siap dulu. Soal ke pantai besok nanti Rara pikirin lagi." kata Rara, "Lagian Kak Darren kan masih belum pulang. Ngapain juga pergi ke pantai kalo gitu?"
"Siapa bilang kita bakal ke pantai yang ada di sekitaran Jakarta? Yang Kakak maksud itu pantai di Bali." Balas Darren, "Ya sudah. Selamat berkencan dengan bocah, ya, Tante..."
Ctak!
Perempatan siku-siku muncul di dahi Rara. Tapi sebelum dia sempat membalas ucapan Darren, sang kakak sudah keburu menutup telepon.
Dan bisa ditebak, Rara dongkol setengah mati gara-gara ucapan Darren barusan.
"Dasar kakak nggak peka, kakak durhaka! Mudah-mudahan Kak Lisa ngehukum Kakak pas balik ke sini!!"
***
Sepuluh menit kemudian, Alvin sudah tiba di rumah Rara. Para pelayan langsung menyambut pemuda itu dan mengarahkannya ke ruang tamu.
Alvin tidak bernit untuk duduk, terlebih ketika dia melihat Rara muncul dari pintu kamarnya di lantai dua dengan kemeja putih lengan pendek dan jeans ketat selutut. Sepatu wedges putih menghiasi kaki gadis itu.
Rambut Rara dibuat mode cepol dan membuatnya jadi keliatan lebih fresh. Apalagi dengan wajah bak artis Korea, Rara jadi keliatan lebih mungil dari yang seharusnya.
Ingatkan Alvin untuk bawa karung kalo dia janjian jalan-jalan dengan Rara lagi. Sumpah, biarpun Rara lebih tua dan lebih cocok jadi kakaknya, tapi coba lihat dandanannya sekarang. Bikin Alvin mupeng alias pengen...
Eh, stop. Alvin nggak boleh mikir ngeres. Secara teknis, dia masih di bawah umur. Dan Alvin memaki diri sendiri dalam hati.
Tapi, aduh... Rara bener-bener keliatan mungil dan cantik di saat bersamaan. Pengen rasanya Alvin bawa ke kamar terus peluk Rara kayak peluk boneka.
Sabar, Vin... sabar... jangan sampe lepas kendali. Belum halal, loh.
"Sori. Nunggu lama?" tanya Rara sambil memakai tas selempangnya.
"Nggak. Gue juga baru sampe." Kata Alvin, "Tumben banget lo nyepol rambut. Biasanya dibiarin tergerai aja."
"Harinya panas. Gue suka gerah kalo ngegerai rambut di luar ruangan." kata Rara.
"Hmmm... kenapa nggak dipotong aja?"
"Gue lebih suka rambut panjang."
"Ooo..."
Rara menatap Alvin yang keliatan pengen ngomong lagi, tapi ditahan kayak orang nahan keinginan buat ke toilet.
"Ya udah deh." Alvin memainkan kunci mobil di tangannya. "Yuk, jalan!"
***
Darren menatap menerawang ke luar jendela kamar hotel tempatnya menginap. Dia masih memikirkan teleponnya dengan Rara barusan. Adiknya itu dijodohkan, Darren sudah tau dari ayahnya dan juga Lisa.
Tetapi dia nggak tau kalo yang dijodohkan dengan Rara adalah laki-laki dengan usia yang bisa dbilang masih bocah.
Entah apa yang ada di pikiran ayahnya saat menjodohkan Rara. Tapi, yang pasti, sebagai kakak yang memiliki adik perempuan, tentu saja Darren sedikit khawatir.
Apalagi kalo cowok itu adalah remaja labil yang emosi dan tingkat kematangan pikirannya masih naik-turun kayak jet coaster. Bisa berabe ntar.
Suara pintu diketuk mengalihkan perhatian Darren. Pria itu membuka pintu dan melihat sekretarisnya, Ariana, berdiri di depan pintu dengan kepala menunduk.
"Pak, itu... saya ngebawain berkas-berkas yang harus Bapak lihat, sekaligus jadwal Bapak untuk hari ini." kata perempuan berambut sebahu itu malu-malu.
Lah, gimana nggak malu kalo atasannya ini sedang berdiri di balik pintu dengan kondisi topless? Sixpack-nya itu loh... keliatan jelas, bo!!
"Oh iya."
Darren mengangguk dan menerima map berisi berkas-berkas itu dari tangan Ariana.
"Kamu langsung sarapan aja di bawah, Ariana. Saya masih harus mengurus sesuatu." kata Darren.
"Baik, Pak." Ariana mengangguk cepat.
Begitu Darren menutup pintu, sekretaris berambut sebahu itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Bisa mati berdiri aku kalo tiap hari ngeliat Pak Darren topless gitu." Kata Ariana, "Beruntung banget Bu Lisa bisa dapet tunangan macam Pak Darren. Kalo aku yang dapet, aduh... nggak kuat godaan!"
__ADS_1