
Ini chapter isinya kinclong semua. Jiwa misqueen-ku bergetar, shay ... :'>
Mencari gaun yang cocok untuk Kim itu bisa dibilang mustahil. Sangat mustahil, lebih tepatnya.
Sekarang mereka berdua sedang berada di butik ternama yang berada dalam sebuah mall. Beruntung sekali saat mereka datang butik itu sedang sepi, jadi mereka bisa leluasa memilah-milah baju dengan santai.
"Ra, menurut lo gaun ini cocok di gue, nggak?"
Rara melihat gaun yang ditunjukkan Kim. Gaun dengan warna kuning pastel itu cukup manis, dengan tali seperti spageti yang menjadi pengganti lengan gaun. Gaun yang mendekati manis daripada anggun.
"Ditolak."
Kim menggigit bagian dalam mulutnya, "Ditolak juga, ya?"
"Lo mau nunjukin sisi anggun ato kekanakan lo, sih?" kata Rara, "Gaun yang menunjukkan sisi anggun sekaligus feminine nggak cocok disandingin sama warna pastel. Itu lebih kek sisi girly yang lebih kekanakan."
"Kalo yang ini mungkin cocok buat lo," Rara menunjukkan sebuah gaun berwarna hitam. Desainnya sederhana, tetapi elegan. Ada sparkle di ujung gaun yang membuatnya tampak manis sekaligus elegan. Gaun itu juga tidak memiliki lengan seperti gaun yang ditunjukkan Kim tadi.
"Ini bisa lo paduin dengan jaket jins lo yang warna item. Dan menurut gue, gaun ini juga nggak bikin lo kelihatan kurus. Rambut lo yang udah kek cowok itu juga bisa ditata lebih lurus dan tinggal make jepit rambut kristal. Lo tau penampilan Sunny SNSD di video mereka yang judulnya The Boys? Nah, kira-kira begitu penampilan lo ntar."
Kim menatap gaun itu dan bersiul pelan. Selera Rara memang patut diacungi jempol untuk urusan seperti ini. Tidak salah dia meminta bantuan dari Rara ketimbang ibunya sendiri. Bila beliau yang membantunya mencari gaun yang feminine, sudah pasti ibunya bakal memberikan lima lemari penuh berisi koleksi pakaiannya yang sebagian besar branded semua, mulai dari Gucci, Louis Vuitton, Armani, Chanel, Guess, bahkan Prada. Walau ibu Kim memang model di Indonesia, tetapi beliau sering diundang untuk menjadi bagian dari show beberapa merk yang disebutkan di atas. Apa lagi karena kecantikan Asia yang dipadukan dengan darah Amerika yang juga diturunkan pada Kim?
"Kita sudah dapat berapa gaun?" tanya Rara.
Kim menghitung gaun yang ada di tangannya, "Ada lima. Termasuk celana dan juga rok tadi."
"Segitu aja dulu. Sekarang kita beralih ke aksesoris."
Kim pasrah ketika Rara mengajaknya ke bagian kasir dan membayar semua baju itu, tentunya dengan uang Kim sendiri. Rara yang akan membayar aksesoris dan sepatunya nanti karena Rara baru saja mendapat empat kartu ATM dengan nominal angka yang bisa membuat fashionista akut sekalipun bakal pingsan di tempat. Ketika mengetahui Rara mendapat kartu ATM itu dari Alvin yang bilang itu adalah 'uang jajan' selama sebulan, Kim juga ingin pingsan.
Keluarga Alexander rupanya teramat kaya sekali ...
Mereka berdua beralih ke toko aksesoris. Kali ini mereka pergi ke sebuah toko yang menjual berbagai macam perhiasan dari berbagai brand.
"Menurut lo cocok ato nggak kalo gue pake perhiasan dari Bvlgari?" tanya Kim.
"No. Ditolak," kata Rara, "Lo lebih cocok pake perhiasan dari Tiffany & Co., itu lebih tahan lama. Ato kalo lo nggak suka brand itu, mending pake perhiasan Piaget."
Diskusi mereka masih terus berlangsung hingga akhirnya diambil keputusan dengan mencocokkan gaun-gaun yang mereka beli tadi dengan perhiasan yang akan mereka ambil. Rara memilihkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk bunga mawar berwarna merah muda pekat yang cocok dengan gaun hitam pilihannya tadi. Ada juga gelang dan cincin keluaran terbaru Graff. Setelah membayar, sepasang sahabat itu memutuskan untuk makan siang di salah satu food court.
Emang ya, kalo udah pernah merasakan jadi mahasiswa, tetap aja nyari yang murah meriah. Bahkan walau mereka berasal dari golongan menengah ke atas.
Rara memesan cheese burger dan French fries sementara Kim memilih teriyaki chicken dan cream soup. Entah kenapa nafsu makan Kim sedikit menurun. Walau dibilang menurun pun, sebenarnya Kim memesan dua menu tadi dua porsi.
"Kayaknya kita hari ini emang fokusnya belanja aja, ya?" kata Kim sambil melihat tas-tas belanjaan mereka yang lumayan banyak, "Abis ini kita beli sepatu, ya?"
"Lo mau yang high heels, ato flat?" tanya Rara.
__ADS_1
"Lo kenapa jadi polisi mode mendadak, Ra?"
"'Kan lo yang minta tolong gue buat nyari gaun dan segala *****-bengeknya biar lo bisa tampil feminine sesekali?" balas Rara, "Balik lagi, lo mau yang high heels ato flat?"
"Kayaknya Flat aja deh. Gue udah cukup tinggi buat pake high heels. Bukannya terlihat cantik, gue malah keliatan lebih tinggi dibanding yang cowok."
Rara terkekeh. Dia melahap burgernya dengan khidmat. Kim juga memakan makanannya sambil memikirkan nasibnya yang bakal dikuntit si mata satu alias kamera dalam beberapa bulan lagi.
Memikirkannya membuat Kim ingin kabur ke Korea saja menemui pamannya. Siapa tahu beliau mau menyembunyikannya sampai keadaan di sini mereda, 'kan?
"Oya, Ra,"
"Hm?"
"Gimana malam pertama lo sama Alvin?"
Detik itu juga Rara nyaris menyemburkan burger yang ada di mulutnya. Untung dia masih nahan diri. Kalo nggak muka Kim sudah belepotan semburan burger yang udah lembek dari mulut orang.
'Kan jijique, shay ...
"Ra, tenang Ra ..., nih minum dulu." Kim menyodorkan mocca float yang ada di hadapannya pada Rara dan membiarkan sohibnya itu menenggak beberapa tegukan besar.
"Gila lo! Nanyain pertanyaan macam itu di tempat umum begini!" damprat Rara yang disambut gelak tawa oleh Kim.
"Nggak gitu juga kali, Marimar!"
Kim kembali tertawa sementara Rara misuh-misuh. Dia meminum mocca float-nya lagi dan berdeham, menetralisir rasa burger yang sempat nyangkut di tenggorokannya. Seret banget jadi nih tenggorakan gara-gara pertanyaan kampret Kim.
"Jadi?" Kim menaik-naikkan kedua alisnya, "Gimana jawabannya, nyonya baru?"
"Kita nggak ada malam pertama. Gila aja lo. Dia masih bocah!"
"Secara umur emang Alvin masih bocah, tetapi secara fisik, I think he is ready more than you know."
"Stop, Kim. Lo jangan bikin gue mau nimpuk lo pake sisa burger di tangan gue." Cetus Rara.
"Kalo lo nggak mau abisin tuh burger, kasih aja ke gue." Balas Kim.
Rara melongo. Ini Kim lagi stress kenapa malah makin banyak aja makannya? Diam-diam Rara menatap piring Kim yang nyaris kosong.
"Kim, lo belum diapa-apin Mister Cha, 'kan?"
"Eh, sekarang giliran lo yang gila nanya begituan!"
"Ya lo mikir, dong! Lo makan lebih banyak dari biasanya!" kata Rara, "Lo belum diapa-apain Mister Cha, 'kan? Kalo udah, gue bilangin bokap lo biar lo langsung dinikahin sama Mister Cha!"
__ADS_1
Kali ini Kim yang sukses melongo karena ucapan Rara.
Kampretos!
***
Kim memutuskan untuk melarikan diri ke rumah Rara, which is mean, kediaman Alexander, karena Rara sudah resmi pindah ke sana.
Begitu memasuki kamar baru Rara, Kim bersiul, "Nice room. Gue tebak Alvin yang milihin warna ini buat cat dindingnya?"
"Kurang lebih begitu," kata Rara.
Kim manggut-manggut. Selera Alvin ternyata nggak buruk juga. Lagipula warna ungu pucat begini lebih mirip seperti warna lavender, jadi kesannya adem saat dilihat.
"Kita nggak nongkrong di ruang tamu aja, Ra?"
"Nggak. Gue males mageran di ruang tamu. Mending di kamar."
"Jiwa mager lo ternyata masih ada padahal lo udah nikah." Celetuk Kim.
"Apa hubungannya, coba?"
Kim hanya terkekeh. Dia mengempaskan pantatnya di atas kasur dan hendak memanggil Rara ketika pintu kamar diketuk dari luar. Seorang pelayan membungkuk hormat pada mereka saat pintu terbuka.
"Nona Rara, ada yang datang mencari Nona," ujar pelayan itu.
"Siapa?"
"Tuan Kevin Herdian."
Kening Rara berkerut. Kenapa Kevin bisa tau dia ada di sini? Seingatnya, teman kakaknya itu tidak hadir di pesta pernikahannya.
Ah, tapi mungkin pria itu tau dia ada di sini karena media. Pernikahannya dengan Alvin kemarin disiarkan di beberapa stasiun televisi dan sukses membuat Rara mogok makan selama sehari karena terlalu malu melihat siaran ulang dirinya mengucap janji pernikahan di depan banyak orang.
"Ya udah, nanti saya akan temui dia. Suruh dia menunggu di ruang tamu." Kata Rara.
"Baik, Nona." Ujar pelayan itu sebelum menutup pintu dan pergi.
"Kevin Herdian ke sini?" kata Kim, "Wow, lo direbutin cowok, nih!"
"Pala lo direbutin cowok. Gue udah bersuami!"
"Akhirnya lo ngaku udah nikah juga." Kata Kim lagi, sukses membuat Rara melayangkan delikan tajam pada sohibnya yang kurang ajar itu.
"Gue nemuin dia dulu di ruang tamu. Lo istirahat aja dulu di sini." Kata Rara sambil berjalan ke luar kamar.
"Eh, Ra, gue ikut aja deh!"
__ADS_1