Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 09


__ADS_3

Ada untungnya juga Kim dan Alvin membangunkannya, dan sekarang nangkring bersamanya di taman belakang rumah. Setidaknya dia jadi tidak punya alasan untuk terus mengurung diri di kamar dan berkutat dengan tugas-tugasnya yang bikin dia keki sendiri.



Tetapi... ada tapinya nih.



Baru aja Rara selesai membereskan kertas-kertas sketsa rancangannya dan pergi ke dalam rumah untuk mengambilkan cemilan baru, dilihatnya dua makhluk itu memegang ponsel masing-masing dan sekilas Rara mendengar suara dari apligasi game...



"Yes!! Gue menang lagi!!"



Kim meninju udara sambil tertawa lebar sementara Alvin tampak kecut dengan bibir mengerucut.



"Berarti lo harus mau nerima tantangan gue tadi, Vin." Kata Kim, "Promise is promise. You have to do that."



"Iye, iye..."



"Lo berdua pada ngapain, sih?" tanya Rara.



Diletakkannya nampan berisi tiga piring keripik tempe, tahu goreng, dan juga pisang goreng yang jumlah masing-masingnya nggak sedikit itu ke atas meja, lalu duduk di samping Kim.



"Maen game." Kata Kim, "Dan Alvin kalah taruhan dari gue, jadi ya itu alasannya tadi gue teriak."



"Oooo..." Rara manggut-manggut, "taruhan apa?"



"It's secret, lo nggak boleh tau. Emang lo mau jadi budak gue kalo kalah nge-game kayak Alvin sama gue?"



"Yeee... apa hubungannya coba?" cibir Rara.



Lagi-lagi Kim tertawa.



"Eh ya, gue mo ke toilet dulu." Kata Kim tiba-tiba.



Gadis tomboy itu lalu berdiri dan meninggalkan mereka berdua. Rara sendiri nggak ngeh sama tindakan Kim yang tiba-tiba ngacir dengan alasan ke toilet padahal di depan mereka sudah ada cemilan gurih yang aromanya aja bisa bikin ngiler cacing-cacing kelaparan di perut Rara. Hihihi...



Dan juga, Rara bahkan nggak sadar dari tadi Alvin menatap kearah Kim sampai gadis itu menghilang dengan tatapan membunuh.



Dasar Kim sengak! Maki Alvin dalam hati.



Nggak peduli Kim lebih tua ato nggak dari dia, yang jelas, dia benar-benar bete karena kalah taruhan dari gadis tomboy itu. Padahal selama ini dia nggak pernah kalah main game apapun. Tapi dengan Kim...



Sudahlah. Mengingatnya lagi bikin Alvin tambah jengkel.



Tangannya lalu mencomot satu tahu goreng berbarengan dengan Rara yang juga mengambil keripik tempe. Hampir aja tangan mereka saling bersentuhan.



Tapi, jangan bayangkan seperti adegan di sinetron-sinetron lebay yang di man adegan seorang cewek dan cowok nggak sengaja sentuhan tangan dan si cewek langsung tersipu malu.



Yang ada, Alvin malah ngejahilin Rara dengan mencomot keripik tempe yang sudah dalam perjalanan ke mulut gadis itu tanpa permisi dan langsung memakannya.



Kontan aja Rara bengong, tetapi dia nggak ambil pusing. Malah dia kembali mengambil keripik tempe, kali ini langsung dua biji sekaligus.



"Emangnya kalian taruhan apa?" tanya Rara.



"Bukan taruhan penting kok." kata Alvin, "Tapi gue sebel gara-gara ini pertama kalinya gue kalah main game, apalagi gue kalah dari cewek."



"Loh? Bukannya wajar kalo—"



Rara langsung membekap mulutnya melihat raut wajah Alvin yang sama sekali nggak setuju dengan ucapan yang akan dilontarkan Rara. Wajah pemuda itu langsung bak pakaian belum diseterika, kusut pake banget!



"Jangan ngambeklah. Kan baru sekali aja kalahnya." Kata Rara.



"Tapi ini menghina harga diri gue sebagai rajanya game." Kata Alvin, "Lain kali harus gue balas. Nggak lucu kalo gue bisa kalah sama cewek!"



"Iya, iyaa..."



Saat ini Rara Cuma bisa mengiyakan. Sifat bocah Alvin lagi keluar, dan dia nggak mau bikin mood cowok itu makin hancur, walau sebenarnya dia pengen ketawa ngeliat wajah Alvin yang lucu apalagi dengan puppy eyes yang bisa bikin cewek mana pun bakal punya pikiran buat narik tuh anak dan memperlakukannya kayak anak umur lima tahun.



"Oya, Ra,"



"Hm?"



"Lo punya saran buku yang bagus buat ngusir bosan nggak?"



Rara mengerjap. Tumben-tumbenan Alvin nanyain soal buku...



"Lo lagi nggak kesambet, kan?" tanya Rara balik.



"Ngapain juga gue kesambet?" balas Alvin.



"Ya tumben aja lo nanyain soal buku. Kenapa? Tugas dari bokap bikin lo stress?"



"Pake banget." Alvin menghembukan nafas. "Gue kayak diforsir dan dipaksa harus bisa ngelakuin segalanya dengan cepat dan tepat, tapi gue jadi nggak punya banyak waktu bermain sama temen-temen gue."



"Temen-temen lo pasti bisa ngerti, kok." kata Rara, "Kan lo juga sibuknya dobel, pagi jadi siswa, malem jadi CEO, kan?"



"Tau aja..." Alvin tertawa, "Tapi kayaknya ucapan lo itu Cuma separuhnya aja yang bener."



"Separuh?"



"Temen-temen gue di sekolah nggak ada yang tau gue anak dari Albert Alexander, atau fakta kalo gue CEO dengan nama Alviano Alexander."



Ucapan itu membuat Rara yang berniat menyuap tahu goreng di tangannya lebar-lebar, terhenti. Ditatapnya Alvin yang memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1



"... serius?" tanya Rara.



"Dua rius malah." Jawab Alvin.



"Lah, trus gimana lo daftar di sekolah lo?"



"Gampang. Gue ngedaftar pake nama gadis Mom, Alviano Chandra Purnama. Nama Mom sebelum menikah itu, Diandra Purnama. Nama Chandra itu nama kakek dari pihak Mom."



Rara manggut-manggut mengerti.



"Tapi, kalo gitu lo nggak dapat hak istimewa di sekolah itu?" tanya Rara.



"Hak istimewa sih dapet, karena walau gue sudah berusaha menyamarkan identitas gue, tetapi kepala sekolahnya ternyata sudah diberitau Dad kalo gue bakal sekolah di situ. Dan karena gue nggak mau terlalu dikenal sebagai Alviano Alexander, gue minta sama kepala sekolah itu buat jaga identitas gue agar nggak sampe bocor. Karena itulah gue pake nama gadis Mom sebelum beliau menikah."



"Hooo... paham, paham." Kata Rara.



"Berarti enak, dong, lo punya teman yang nggak mandang lo sebagai orang yang cukup berkuasa ato yang lebih parah, yang bisa diporotin." Ujar gadis itu lagi.



"Lo tau, ya?" kata Alvin dengan sebelah alis terangkat.



"Gue pernah ngerasain begitu waktu SMA." Rara mengedikkan bahu.



"Pernah di-bully juga berarti?"



"Empat kali."



Jawaban itu membuat senyum di wajah Alvin memudar perlahan. Padahal pertanyaan tadi sebenarnya Cuma bercanda aja.



"Di-bully sampe empat kali? Kenapa?" tanya Alvin.



Rara mengerutkan kening sambil mengambil gelas minumannya. Dia menyesap sebentar lemontea dinginnya itu.



"Entahlah, gue nggak ingat yang pertama itu karena apa. Tapi kalo yang kedua itu karena gue pernah naksir cowok seangkatan dan ada cewek yang populer juga suka sama cowok itu. Dianya entah dari mana tau kalo gue suka sama tuh cowok dan nge-bully gue secara verbal. Trus yang ketiga itu karena gue kalah di pemilihan ketua OSIS dan ada yang bikin fitnah kalo gue bakal janjiin ini-itu ke semua anak yang milih gue, dan ujung-ujungnya gue di-bully lagi gara-gara mereka ngira gue ingkar janji.



"Yang keempat... gue juga rada lupa, sih. Tapi kalo nggak salah itu pas kelas 3, mendekati ujian. Ada yang mo ngajakin salah satu cowok populer buat jadi pasangan prom night, tapi entah kenapa tuh cowok malah milih gue dan bikin gue kembali di-bully sama cewek yang sama."



Rara mengedikkan bahu setelah mengatakannya.



"To be honest, gue nggak pernah ngasih tau temen-temen gue waktu itu kalo gue anak dari pemilik Rezkina Group. Sebisa mungkin gue nutupin status gue. Cukup Kim aja yang tau, karena nyokap dia sama nyokap gue sahabatan. Kim juga gue wanti-wanti supaya nggak nyebarin soal siapa gue sebenarnya di hadapan temen-temen gue waktu itu walau dia hampir aja nonjok cewek yang nge-bully gue—lo kenapa, Vin?"



Rara menoleh kearah Alvin dan melihat raut wajah pemuda itu tampak datar. Nyaris tanpa ekspresi.



"Vin? Hello, earth to Alvin???"



Alvin mengerjap setelah dipanggil barusan.




"Lo ngelamun? Terlalu menghayati cerita gue barusan?"



"Nggak. Gue Cuma nggak nyangka aja lo ternyata pernah di-bully. Padahal pertanyaan gue tadi kan Cuma bercanda." Kata Alvin.



"Lo nggak kesinggung, kan?" tanya Alvin.



"Hm? Buat apa gue kesinggung? Lagian itu kejadian juga udah lama. Malah gue bersyukur yang di-bully itu gue. Kalo orang lain, mungkin mereka bakal nyerah dan psikis mereka keganggu, ujung-ujungnya bisa aja ada yang bunuh diri."



"Pikiran lo ternyata cukup terbuka juga, ya?"



"Begini-begini kalo gue dihadapin sama masalah psikologis, seenggaknya gue bisa bantu dari pengalaman gue." ujar Rara tertawa.



"Percaya nggak kalo gue pernah nyaris bunuh diri?" tanya gadis itu.



Lagi-lagi Alvin terdiam mendengarnya. Dia hanya menatap Rara sementara gadis itu tidak menyadari tatapan yang dilayangkan Alvin.



"Tapi, gue nggak ingat gimana kejadiannya, makanya gue nggak pernah mau ingat." Kata Rara, "Lagian masa kita hidup untuk masa lalu, sih? Apa kata dunia kalo galau Cuma karena masa lalu?"



"Everyone is said don't ever forget about history. Mungkin gara-gara itu anak-anak muda zaman sekarang pada galau mulu, denger lagu sedih, nangis-nangis kejer gegara diputusin doi." Timpal Alvin.



Rara tertawa mendengarnya. Gadis itu bahkan sampai memegangi perutnya.



"Bener juga. Tumben-tumbenan kita diskusi serius begini." Ujar Rara.



Alvin juga ikut tertawa mendengarnya.



"Tapi seenggaknya, diskusi kita lebih bermutu ketimbang diskusi cowok mana yang lebih cakep ato apa aja fashion terbaru tahun ini." Rara terkikik, "Seenggaknya, gue lebih seneng diskusi yang semacam ini selain soal sketsa-sketsa rancangan gue."



"Hmmm... by the way, gue suka rancangan lo yang gaun pengantin itu." kata Alvin.



"Gaun pengantin? Gue tadi bikin ada banyak sih..."



"Yang roknya agak nyempit terus di bawahnya melebar kayak ekor duyung gitu?"



"Ah, itu... itu wedding dress model mermaid. Desainnya simple, lebih mudah dibanding yang lain dan nggak perlu terlalu banyak aksesori." Kata Rara.



"Mm-hmm. Dan gue pengen liat lo pake gaun itu ntar di hari pernikahan kita."



Ucapan Alvin membuat Rara bungkam. Dia menatap Alvin yang mengambil gelas lemontea dan meneguknya sampai bersisa setengah.



"Vin, lo tau sendiri lo masih bocah. Masih harus mikirin sekolah." Kata Rara.

__ADS_1



"Gue emang masih usia sekolah, tapi gue juga udah lulus dari Harvard, remember?" ujar Alvin, "Secara teknis, gue udah diatas elo kalo soal pendidikan dan otak."



"Lo nyindir gue ato apa, sih?" gerutu Rara.



"Dibilang nyindir juga boleh." Alvin tersenyum lebar.



"Sialan lo."



Alvin menaik-naikkan kedua alisnya sebelum kembali meneguk lemontea.



"Ngomong-ngomong ke mana si Kim, sih? Lama amat, padahal Cuma ke toilet." Kata Rara.



"Setoran paling." Jawab Alvin sekenanya.



"Lo kata kenek angkot pake kejar setoran." Ujar Rara geli.



"Ya kan siapa tau?"



Rara memutar bola matanya dan menoleh kearah pintu yang menghubungkan dengan rumahnya.



Dan panjang umur, Kim akhirnya muncul juga. Tapi Rara mengerutkan kening ketika melihat di tangan Kim ada beberapa majalah fashion lama yang entah dari mana dia dapatkan.



Padahal seingatnya, semua majalah fashion seperti itu ada di kamarnya. Apa jangan-jangan Kim ngobrak-abrik kamarnya tanpa izin?



"Kim, lo ngobrak-abrik kamar gue?" tanya Rara saat sobatnya itu berdiri di depannya.



"Nggak papalah, sekali-kali ngelakuin inspeksi dadakan." Kata Kim cengengesan, "Siapa tau gue nemu majalah porno di kamar lo."



"Lo kata gue cowok pake nyembunyiin majalah porno?" sungut Rara.



"Kan siapa tau lo punya kelainan padahal lo udah punya tunangan macam Alvin."



"Anjir."



Kim tertawa dan duduk di samping Rara, lalu menyerahkan salah satu majalah yang ada di tangannya.



"Apaan nih?"



"Gue punya saran buat tugas akhir lo, Ra." kata Kim dengan senyum yang kelewat lebar.



Rara memperhatikan wajah Kim yang tampak sumringah luar biasa dan mendadak mendapat firasat buruk. Biasanya, kalo sohibnya ini tersenyum lebar seperti itu, artinya tuh anak punya ide gila yang harus, mau, kudu, dan nggak boleh ditolak. Kalo dia menolak, sudah dipastikan Kim bakal ngadu ke bokapnya soal dia yang masih sering ngabisin duit jajannya selama sebulan Cuma buat beli persediaan makanan manis dan cemilan lainnya di lemari dapur.



Rara punya kebiasaan makan makanan manis atau cemilan lain yang punya rasa yang sama kalo lagi suntuk, nggak terlalu lapar, ato bahkan tengah malam saat dia terbangun dari tidur dengan perut berdangdut ria. Dari mana Rara punya ruang untuk memakan semua cemilan itu hanya Rara sendiri dan Tuhan yang tau. Kim yang walau juga suka makanan manis, tapi nggak sampe segila Rara, ngabisin lima batang coklat Silver Queen yang gede itu dalam sekali makan.



Balik lagi ke topic. Kayaknya, apapun yang sedang direncanakan oleh cewek berdada tepos(ups!) itu, pasti bakalan bikin Rara menahan diri untuk nggak nginjek-nginjek badan Kim yang langsing dan bikin dia iri setengah mati itu.



"Saran apaan? Lo kalo mo bikin gue malu tujuh turunan, mending batalin. Gue ogah kalo disuruh bikin malu." Kata Rara.



"Yeee... lo kata gue mau nyuruh lo jadi strip dancer?" balas Kim, "Malah gue membawakan pencerahan yang luar biasa untuk lo, Ra. Seharusnya lo berterima kasih."



"Senyum di wajah lo itu mencurigakan, Kim. Jangan-jangan lo mau bikin gue jadi kelinci percobaan masakan lo, lagi."



Yang ini sukses bikin Kim mencibir. Soalnya dia memang nggak pandai masak, atau bahkan bisa dibilang nggak bisa masak sama sekali. Masak air aja bisa sampe gosong, telor ceplok juga jadi gosong dan asin luar biasa!



"Lo kok malah bawa-bawa aib seumur hidup gue itu, sih?" kata Kim, "Gue beneran membawakan sebuah ide yang nggak mungkin bakal lo tolak, Ra! Ini demi nilai akhir lo!!"



"Lo ngomong berbelit-belit ah, Kim! Cepetan aja ngomongnya!"



"Oke, siapkan hati dan pikiran lo, sekalian tubuh lo juga..." Kim tertawa geli, "gimana kalo tema yang lo usung nanti di festival itu wedding's party tapi dengan sentuhan yang lebih... real?"



"Lebih real? Yang kek gimana?"



"Buat gaun pengantin yang bakal lo pake buat pernikahan lo ntar, barengan sama baju yang bakal dipakai Alvin nanti juga," kata Kim, "Dan lo sama Alvin bakal mempresentasikan pakaian itu di festival sekaligus menjadi upacara pernikahan kalian. Gimana?



...



...



...



...



...



... loading.



... loading.



... loa—



"APA??!"



"Gimana? Ide gue brilian, kan?" kata Kim dengan raut muka persis Spongebob.



Rara masih melongo, walau dalam hati dia pengen bangen nimpuk Kim pake benda apapun yang sedang ada di dekatnya...



Eh, jangan. Yang ada di dekatnya kan Cuma piring berisi cemilan, teko dari kaca berisi lemontea, dan cangkir-cangkirnya. Kan sayang makanan sama minuman enak begitu dibuang gitu aja Cuma buat ngegeplak kepala Kim yang kayaknya rada error sekarang.


__ADS_1



__ADS_2