
Rara menatap Kim dengan tatapan setengah membunuh sementara yang ditatap hanya nyengir lebar tanpa rasa bersalah.
"Kim, ide lo gila." Kata Rara, "Lo tau sendiri Alvin masih sekolah dan... dan pernikahan kita juga dilaksanain akhir tahun!"
"Berarti lo mau aja nih nikah ama Alvin?"
"He?"
"Kan dulu pernah bilang kalo Alvin ini bocah sengklek yang sempet bikin lo kaget waktu dia bilang 'ML'?" kata Kim dengan kedua alis di naik-turunkan.
Semburat merah langsung menjalar di pipi Rara dan tangannya langsung bertindak mencubit pinggang Kim, yang sukses meringis kesakitan.
"Ra, lo kalo nyubit, sakitnya bikin ngilu dua hari, tau nggak?"
"Biarin." Kata Rara, "Lo bocorin hal itu di depan orangnya sih!"
"Kan gue bicara fakta." Balas Kim lagi.
"Aishh..."
"Hm? Lo berdua ngomongin gue?"
Rara dan Kim menoleh, melihat Alvin yang mengerutkan kening sambil melepas salah satu earphone di telinganya.
... sejak kapan tuh anak pasang earphone di telinganya, coba? Rara aja nggak liat tadi!
"Eeh... nggak papa, Vin. Lo silakan aja dengerin apapun yang lo denger dari earphone itu." kata Rara.
"Soal pertemuan pertama kita, kan? Pas gue pernah bilang ML, dan lo kira itu hubungan antara dua manusia bukannya game yang biasa gue mainin?" kata Alvin.
Mendengarnya Rara langsung melongo sementara Kim sudah tertawa terbahak-bahak di samping gadis itu.
"Lo... lo denger?"
"Iya. Kan gue cuman iseng pasang earphone di telinga gue." balas Alvin polos.
Rara mengerjap, kemudian mendecak kesal. Rupanya tuh anak mendengarkan pembicaraannya dengan Kim.
"Kalo gitu lo nggak usah pura-pura polos, dong!" kata Rara, "Dasar bocah!"
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi gue adalah bocah yang bisa bikin lo senyum-senyum sendiri, kan?" kata Alvin tersenyum lebar.
"Waahh... ngajak gelut nih."
"Hm? Gelut? Maksudnya peluk? Sini, gue peluk..." kata Alvin.
"Aish, bukan itu!!"
Rara mendecak lagi. Kim masih saja menertawakan Rara yang nggak tau harus ngomong apa lagi di depan Alvin. Mati kutu tuh anak!
__ADS_1
"Haduh... nggak perlu bertengkar gitu, Ra." kata Kim sambil mengusap setitik airmata yang keluar gara-gara terlalu keras tertawa.
Rara memicingkan matanya, sementara Kim cum cengengesan.
"Yang jelas, ide gue tadi brilian, kan?" kata Kim, "Udahlah, Ra, akuin aja. Gue ini jenius!"
"Iya, lo emang jenius, tapi ide lo kali ini gila!" ujar Rara.
"Nggak gila, kok. Kan festival diadakan pas akhir tahun juga. Jadi waktunya cocok, kan?"
Rara terdiam.
Bener juga. Festival yang akan memamerkan desain dan karya terbaik dari fakultasnya itu akan dilaksanakan akhir tahun.
Dan kenapa dia bisa lupa??
Kim melihat raut wajah Rara sedikit berubah dan tersenyum lebar.
"Jadi..." kata gadis tomboy itu, "siap bikin gebrakan baru di festival nanti dengan upacara pernikahan lo?"
"Aish, Kim, itu tetep aja nggak mungkin!" kata Rara, "Lagian pas hari festival, Alvin pasti masih sekolah dan—"
"Gue bisa meliburkan diri." Sahut Alvin tiba-tiba.
"Jangan. Gue nggak mau reputasi lo di sekolah tercoreng gara-gara bolos sehari." Balas Rara, "Pentingin pendidikan lo. Di sini beda ama luar negeri, Vin."
Rara memutar bola matanya mendengar jawaban Alvin yang terkesan sok.
"Gue masih nganggap lo bocah yang masih harus sekolah." Kata Rara lagi, "Jadi mending lo ikutin saran gue."
"Gue juga janji bakal bikin lo jatuh cinta sama gue." kata Alvin membalas.
Dan ucapan itu sukses membuat tidak hanya Rara, tapi juga Kim, melongo.
"Gue bakal bikin lo jatuh cinta sama gue, Ra." kata Alvin lagi, "Dan gue nggak main-main soal itu."
Oke. Ucapan itu bikin Rara nggak bisa berkata-kata. Speechless!
***
Rara nggak tau harus ngomong apa. Yang dikatakan Alvin barusan bener-bener nggak pernah ia duga. Alvin sukses bikin dia nggak bisa ngomong beberapa lama.
"Hee... jadi lo mau bersikap selayaknya gentleman, nih?" kata Kim.
"Gue serius. Gue bakal bikin Rara jatuh cinta sama gue dan gue bakal bikin dia bahagia." Kata Alvin, "Gimana menurut lo, Ra?"
"Ha? Apa?"
__ADS_1
"Waah... saking kagumnya elo sampe nggak denger ucapan Alvin barusan, ya?" kata Kim. "Sadar, Ra... masih ada yang suka sama lo nih."
"Apaan sih lo, Kim?"
Kim tertawa-tawa kemudian mencomot salah satu cemilan.
Rara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan kemudian menatap Alvin, "Vin, lo nggak harus ngelakuin hal gituan. Yang terpenting lo itu masih usia sekolah, dan gue juga nggak mau lo dapat sindiran dari temen-temen lo karena..."
"Umur kita beda jauh, gitu?" Alvin menaikkan sebelah alis, "Beda umur kita Cuma enam tahun. Sebenarnya gue lebih cocok jadi adek lo, kan?"
"Duh, bukan itu..."
Rara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sulit menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia ucapkan karena bukan masalah umur saja yang menjadi permasalahan hubungan mereka. Satu masalah yang paling serius adalah Rara masih melihat Alvin sebagai bocah SMA dan adik, bukannya pria sesungguhnya.
Kim yang melihat wajah Rara hanya tersenyum simpul. Baru kali ini dia melihat wajah Rara yang biasanya datar bak tembok sekarang jadi penuh warna... eh salah, penuh ekspresi. Kim geleng-geleng kepala melihat Rara yang seperti itu tapi dia tidak bisa membantu sohibnya itu kali ini.
"Udah, udah ... kalian berdua jangan tengkar mulu. Belum sah jadi suami-istri aja udah bertengkar mesra gini, gimana nanti kalo beneran udah sah coba?" celetuk Kim.
"Kim, sumpah deh mulut lo pengen banget gue lakban sekarang juga." Ujar Rara, "Ucapan lo malah nggak bikin kepala gue jernih, nih!"
Kim lagi-lagi tertawa.
Alvin yang melihat wajah Rara hanya bisa menghela nafas. Dia kemudian berdiri dan menarik perhatian dua gadis di hadapannya.
"Ada apa, Vin?" tanya Rara.
"Gue mau pulang dulu. Ada yang mau gue urus." Alvin tersenyum, "Besok-besok gue bakal ke sini lagi kok. Jangan sampe lo kangen sama gue, ya."
"Dihh... pedenya." Cibir Rara, "Kerjaan dari bokap, ya?"
"Salah satunya." Alvin mengedikkan bahu, "Sampai jumpa lagi, Ra, Kim. Gue duluan."
"Oke, Vin. Hati-hati di jalan, kalo ada jalan lurus jangan berbelok dan kalo jalannya menikung, lo jangan jalan lurus ya."
"Kim, mulut lo beneran minta dilakban, ya?" kata Rara, sementara Alvin hanya tertawa mendengar ucapan Kim.
Pemuda itu lalu pergi diiringi tatapan heran dari Rara. Dia tau ada yang aneh dari sikap Alvin barusan. Entah ini hanya perasaannya saja atau bukan, tapi Alvin tampak... kecewa.
"Kenapa, Ra? Lo kepikiran sikap Alvin barusan?" tanya Kim.
"Hmm...," Rara mengangguk, "Gue salah ngomong ya, Kim?"
"Sebenarnya nggak salah sih. Cuma lo nggak bisa liat situasi, Ra." jawab Kim, "Dari pandangan gue, Alvin itu tipe cowok yang nggak bakal nyia-nyiain orang yang dia sayang. Gue bisa liat kalo dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Cuma, karena lo yang kagak peka, makanya dia kecewa."
"Anjir, gue dibilang nggak peka." Kata Rara, "Eh tapi... beneran Alvin kecewa?"
"Lo yang calon bininya, pikirin aja sendiri." balas Kim, "Udah deh, mending kita ngebahas ide gue tadi. Ide bikin gaun pengantin perdana lo ide yang brilian, kan?"
Rara menatap Kim dengan mata disipitkan. Jadi mereka masih harus membahas hal ini?
__ADS_1