
Rara asyik mengerjakan satu gaun di hadapannya. Gaun dengan warna putih gading itu masih setengah jadi, salah satu dari masterpiece yang akan dia perlihatkan pada festival kelulusan. Matanya menelusuri jahitan demi jahitan yang dia buat dan mengulas senyum puas. Percobaan pertama untuk membuat gaun itu secara kasar sudah selesai.
Ia meregangkan tubuhnya dan menarik nafas dalam-dalam. Rara hampir enam jam berkutat di ruang kerja khusus miliknya di mansion. Ruangan yang dulu juga milik ibunya itu dia pakai sebagai ruang kerja untuk merancang pakaian. Ada banyak peninggalan yang ditinggalkan oleh ibunya termasuk beberapa gaun yang tergantung manis di dalam sebuah lemari kayu di samping jendela besar yang menghadap ke pohon cemara besar di luar sana.
"Ra, udah selesai?"
Kepala Rara menoleh kearah Kim yang datang sambil membawa satu toples besar berisi keripik kentang. Sohib kentalnya itu mengambil kursi dan memperhatikan gaun yang baru saja dibuat oleh Rara, "Wow. Gue bisa bayangin gaun ini bakalan jadi wedding dress yang menakjubkan."
"Bisa aja lo," kata Rara, "Lo sendiri gimana?"
"Gue mungkin bakal bikin wedding dress model kemben," kata Kim sambil mengunyah keripik kentang, "Dengan beberapa perubahan. Lo tau komik Pandora Hearts? Gue mengambil referensi dari situ."
"Ah, gue tau ...," Rara manggut-manggut, "Lo udah pilih modelnya?"
"Kalo urusan model, kayaknya gue bakal pake jasa sepupu gue." Kim tersenyum lebar, "Keyna selalu ada sebagai model gue."
"Enak bener lo. Punya sepupu cewek yang hobi dipakein gaun. Gue nggak punya sepupu perempuan, boro-boro dah." Kata Rara lagi.
"Tapi lo bisa jadi modelnya, secara lo good looking. Lagian mana ada sih yang nggak setuju kalo lo juga punya tampang buat jadi model." Balas Kim.
Rara mengerutkan kening. Ide agar dia menjadi model bagi gaun rancangannya sendiri selalu digembar-gemborkan oleh Kim. Rara mau saja menerima saran itu, tetapi ada ketentuan dari penyelenggara festival bahwa setiap pernacang harus memiliki model sendiri dan bukan si perancang sendiri yang memakai gaun buatannya. Tujuannya agar mereka bisa lebih focus pada proses pembuatan.
"Lo tau sendiri peraturan festival itu gimana?" ujar Rara.
"Gue tau, tapi gue rasa nggak ada yang bisa bikin gaun ini keliatan lebih real daripada elo," Kim mengedikkan bahu, "Kalo lo mau, kita cari model untuk gaun-gaun lo yang lain, tapi khusus untuk yang ini, lo aja yang pake. Kita butuh elemen kejutan kalo mau dapat nilai bagus."
Kening Rara berkerut memikirkan ide tersebut, "Apa harus?"
"Menurut gue itu ide yang bagus. Lagipula jarang ada yang mau buat elemen kejutan kayak yang gue sebutin. Sisanya tinggal bikin gimana elemen ini bisa bikin lo dapat nilai yang tinggi."
"Lo nggak ngincer nilai tertinggi?" tanya Rara menatap Kim, "Biasanya elo yang gercep kalo urusan nilai tinggi."
"Gue lebih mentingin kondisi mental gue ngehadepin calon desainer berbakat kayak elo," jawab Kim, "Lo tau sendiri, passion gue di desain pakaian Cuma lima puluh persen. Sisanya nyantol ke modeling ato travelling. Gue nggak ada minat jadi desainer."
"Kalo gitu, elo aja yang jadi model gue." Rara memutar bola matanya, "Kita sama-sama pake konsep simbiosis mutualisme. Gue bakal jadi model lo, dan lo jadi model gue, gimana?"
Kali ini Kim yang mengerutkan kening, memikirkan ide Rara, kemudian mengangguk-angguk setuju, "Pinter juga lo. Kebetulan tubuh lo mungil dan cocok kalo pake wedding dress buatan gue."
"Lo nyindir apa muji?"
__ADS_1
"Dua-duanya," Kim tersenyum lebar, "Tapi untuk gaun lo yang ini ... gue nggak mau pake. Lebih cocok elo daripada gue yang make, Ra."
"Ayolah, Kim, bantuin gue ...,"
"Ogah kalo pake gaun ini."
Rara kembali memutar bola mata. Dia menatap gaun yang masih seperempat jadi itu dan memiringkan kepala, "Ntar deh gue cari model berpotensi untuk gaun ini."
***
Mengatakan memang gampang, melakukannya jauh lebih berat dari ekspektasi.
Hari ini mereka pergi ke kampus dan seperti biasa, sharing tentang rencana rancangan gaun-gaun dengan dospem, mengobrol dengan teman-teman seangkatan kalo ketemu, ato pergi jalan-jalan sambil mencari model berpotensi, seperti kata Rara.
Tapi, ya ... itu. Nggak selamanya ekspektasi bisa sejalan dengan realita. Nyatanya Rara dan Kim sudah seharian keliling dari satu tempat ke tempat lain tapi belum juga menemukan model yang cocok untuk wedding dress Rara.
"Kayaknya itu gaun emang ditakdirkan buat elo pake, Ra," Kim berjalan di samping Rara, "Bawa aja si Alvin, dia bisa jadi couple lo."
Rara mendelik mendengar ucapan Kim sementara sohibnya itu pasang senyum lebar.
Mata Rara langsung tertuju ke arah yang ditunjuk Kim. Mister Cha tampak sedang berdiri di salah satu koridor dengan beberapa mahasiswi. Dari sini saja Rara bisa melihat dengan jelas kalo dosen muda ganteng bin cute itu kewalahan menangani berondongan pertanyaan kelompok mahasiswi tersebut.
Kim sudah berjalan lebih dulu, menghampiri Mister Cha dan tanpa disangka melakukan hal yang nggak pernah Rara kira bakal dilakuin oleh cewek tomboy itu.
"Daniel, lama banget sih. Dicariin dari tadi ternyata ada di sini," kata Kim sambil memeluk lengan dosen tersebut. Suaranya juga lebih lembut dan terdengar manja.
Baik Rara, maupun kelompok mahasiswi itu langsung syok kuadrat. Mulut mereka terbuka lebar, nggak menyangka cewek tomboy itu bakal memeluk lengan Mister Cha sambil tersenyum manis.
Tersenyum manis, sodara-sodara!
Rara aja ampe ngucek mata, mastiin kalo yang ada di depannya itu adalah Kimberly Arden, cewek tomboy sohibnya yang nggak pernah suka dengan kata-kata gombalan apalagi sampai menggombal. Big no-no kalo kata Rara!
Tapi, ini ... di depan Rara ...
What the heeeeelll???
Mister Cha tampak terkejut juga, tetapi langsung menguasai diri ketika melihat siapa yang seenak jidat memeluk lengannya dan menepuk kepala Kim dengan tatapan sayang, "Kamu nyariin aku? Mo ngapain?"
__ADS_1
"Ya jalan-jalan. Katanya mau pergi ke kafe di dekat kampus," kata Kim, "Yuk ah, keburu laper nih!"
Mister Cha ******** senyum dan menoleh ke arah kelompok mahasiswi di depan mereka, "Maaf, saya ada janji dengan pacar saya. Permisi."
Mister Cha dan Kim berjalan menjauh dan melewati Rara yang masih syok. Ketika sadar, Rara mengerjap dan langsung mengejar Kim yang sudah berbelok di koridor ujung. Dia tidak melihat wajah syok kelompok mahasiswi tadi karena dia sendiri tidak paham situasi apa yang membuat Kim bisa bermanja ria dengan Mister Cha. Serius!
Dan Rara tadi mendengar dengan jelas, Mister Cha menyebut Kim sebagai pacarnya.
Pacarnya, gaes! Pacarnya!
Dua kali Rara dibuat syok baik oleh Kim maupun Mister Cha. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka, sih? Dunia kayaknya udah kebalik tepat di depan mata. Serius.
Begitu berbelok, dia melihat Kim sudah melepas gandengannya dari Mister Cha yang sedang tersenyum simpul.
"Makasih udah bantuin saya tadi. Saya nggak tau lagi kalo kamu tadi nggak dateng," kata Mister Cha ketika Rara udah sampai di samping Kim.
"No problem. Lain kali langsung aja tolak ajakan mereka kalo diajak ke mana-mana," kata Kim tersenyum lebar, "Ngomong-ngomong enak juga tadi ngerjain mereka, bener nggak, Daniel?"
"Panggil saya Mister Cha kalo di kampus," tegur Mister Cha terkekeh, "Tapi, ya sudahlah, lagian kamu memang sering nolong saya kalo di luar kampus. Sampai jumpa lagi, Berry."
Kim melambaikan tangannya pada Mister Cha yang berjalan meninggalkan mereka. Begitu Mister Cha tidak terlihat lagi, Kim baru sadar kalo Rara menatapnya dengan tatapan tak percaya dan heran yang bercampur jadi satu.
"Lo ... sejak kapan akrab banget sama Mister Cha? Sampe manggil nama aslinya. Tunggu, dia juga nyebut lo pake nama 'Berry dan ngakuin lo sebagai pacarnya!" kata Rara.
"Ceritanya panjang, beib. Lain kali aja gue ceritain," kata Kim ngeles dengan senyum lebar.
"Eh, nggak bisa, ya. Lo harus cerita. Gue kayaknya ketinggalan banyak," Rara menyipitkan matanya, "Ngaku lo, Kimberly Arden. Sejak kapan lo deket sama Mister Cha? Cerita, cerita, cerita!!!"
Kim masih nggak mau menjelaskan apapun pada Rara tetapi menarik sahabatnya itu menelusuri koridor, "Ntar deh gue cerita. Kita ke kantin dulu, yuk. Gue laper nih!"
Rara hendak protes, tetapi jari telunjuk Kim sudah keburu menutup bibirnya, "Gue janji bakal cerita. Jangan hiperbola gitu dong kalo nanya. Gue sosor juga bibir lo."
"Heh, gue masih normal, ya. Mending gue dicium cowok daripada dikira lesbong sama elo." Balas Rara jengkel.
"Kalo gitu, suruh Alvin nyium lo di depan gue, baru gue percaya lo nggak lesbong." Kim menaik-naikkan kedua alisnya jahil.
"Kimberly Arden!! Gue jitak juga pala lo!!"
__ADS_1