Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 15


__ADS_3

"Jadi ini kalung tunanganku dengan Keenan?" tanya Rara.



"Iya, itu kalung kamu dan—bentar, kenapa kamu tau soal Keenan?" tanya Darren balik.



"Lah, bukannya Kak Darren sendiri yang nyebutin kalo ini punya Keenan?" balas gadis itu, "Lagian, Kak, tunanganku kan si bocah Alvin, bukannya Keenan."



"Ah, iya... bener juga." Darren manggut-manggut.



Rara diam, menunggu reaksi Darren berikutnya. Tapi kakaknya itu tidak bereaksi apa-apa lagi dan menyuruhnya untuk segera berganti pakaian. Dan berdandan yang rapi.



"Memangnya Kak Darren mau ngajak ke mana? Aku pake disuruh dandan rapi segala."



"Ada deh. Pokoknya ayo kamu ganti baju, terus dandan yang cantik. Jangan kayak desainer kumal kalo udah di studio pribadinya." Kata Darren.



"Sembarangan. Gaun pengantin Kak Lisa special pesanan Kakak nggak bakal kukerjakan kalo gitu." Ujar Rara.



"Ini anak udah mulai bisa ngancem ya?" Darren tertawa renyah, "Kalo kamu nggak jadi ngerjain gaun itu malah kamunya yang gelisah sendiri."



Rara mencibir tanpa suara. Darren keluar dari kamar dan dari suara langkah kakinya, Rara tau kalo kakaknya itu pergi ke kamarnya sendiri yang terletak di sebelah.



Ia menarik nafas perlahan sebelum mengembuskannya. Ditatapnya bandul kalung di tangannya dan menaruh benda kecil itu di laci meja. Lebih baik dia segera bersiap mengikuti Darren daripada kakaknya itu ngamuk-ngamuk nggak jelas nantinya.



***



Rupanya Darren mengajaknya makan malam dengan Lisa. Tetapi Rara merasa menjadi obat nyamuk di kencan kakaknya itu. Untungnya Rara masih tahu diri untuk nggak langsung ngacir dari situ karena Lisa tetap mengajaknya bicara. Entah karena alasan apa kakaknya yang luar biasa nggak peka itu malah membawanya ke restoran di hotel berbintang lima ini.



"Oh ya, Ra, kamu jangan ke mana-mana dulu. Kita nunggu satu orang lagi," kata Darren yang melihat tindak-tanduk Rara yang blingsatan kayak cacing kepanasan.



"Nungguin satu orang lagi? Siapa?"



"Yaa ..., yang pasti kamu tau siapa orangnya," kata Darren lagi, kemudian senyumnya tersungging ketika melihat kearah pintu masuk, "Nah, itu dia orangnya."



Kepala Rara menoleh dan melihat seorang pemuda sepantaran kakaknya memasuki restoran. Pemuda itu memiliki rambut coklat yang sangat jelas hasil disemir, tetapi entah kenapa cocok dengan wajahnya yang tampan dan agak melankolis. Rara sampe nggak bisa berkata-kata melihat penampilannya yang luar biasa indah.



Well, Alvin masih tergolong indah walau dia masih bocah.



Pemuda itu menatap langsung kearah Rara dan tersenyum manis. Duileh ..., senyumnya juga manis banget. Dan ketika pemuda berambut coklat itu menghampiri mereka, Darren segera berdiri dan menyalaminya.



"Nggak nyasar, 'kan?" tanya Darren sambil tersenyum lebar.



"Nope, Cuma aku masih belum terbiasa dengan suasana Jakarta. Padat banget." Jawab pemuda itu sambil tertawa.



"Lo sih netap di Korea kelamaan, makanya jadi lupa gimana situasi Jakarta," Darren ikut tertawa, "Oh ya, kenalin, ini Lisa, tunanganku, dan yang ini Rara. Lo inget, 'kan cewek kecil yang rambutnya selalu dikucir dua?"



Pandangan pemuda rambut coklat itu langsung tertuju pada Rara, "Rara? Ini beneran Rara?"



Rara hanya tersenyum sopan. Dia tidak tahu siapa pemuda ini, yang sepertinya adalah teman kakaknya. Tetapi Darren bilang pemuda ini pernah bertemu Rara dulu sekali, sayangnya Rara lupa apa mereka memang pernah ketemu.



"Ra, ini Kevin. Kamu inget dengan anak kurus kering yang sering ngajakin kamu main boneka? Nah, ini dia."

__ADS_1



Rara memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat.



Sayangnya, dia tidak bisa ingat.



Darren melihat kening adiknya berkerut dalam dan mendadak tersadar akan sesuatu. Ia berdeham satu kali, "Nggak papa kalo kamu nggak inget, Ra. Ah, Vin, duduk di sebelah Rara. Jadi kita bisa langsung makan malam."



"Oke," pemuda bernama Kevin itu langsung mengambil tempat di samping Rara, "Kalo gini kita jadi kayak double date, dong?"



"Memang," Lisa menimpali, "Tapi sayang, Rara udah tunangan juga. Jadi lo nggak bisa seenaknya bilang double date."



"Oh ya? Rara udah tunangan, ya? Dengan siapa?" tanya Kevin.



"Dengan Alviando Alexander," jawab Rara sopan.



Mendadak raut wajah Kevin sedikit berubah, atau ini hanya perasaan Rara saja? Sedetik lalu dia yakin raut wajah Kevin tampak tidak senang ketika dia menyebut nama Alvin.



"Udah deh, kita makan dulu, Vin. Bahas yang lain nanti aja." Kata Darren, "Lo mau pesen apa?"



Perhatian Kevin langsung teralihkan ke buku menu. Untuk sementara, Rara bersyukur kakaknya mengganti topik. Karena, jujur saja, perubahan raut wajah Kevin tadi agak menakutkan di mata Rara.



Obrolan mengalir lancar di meja tersebut. Kebanyakan memang didominasi oleh Darren dan Kevin, yang ternyata berjanji bertemu untuk sekedar berkumpul setelah enam tahun lulus dari universitas yang sama. Rara juga baru tau kalo Kevin yang duduk di sampingnya itu adalah artis muda yang sedang digandrungi para remaja perempuan di Indonesia, Kevin Herdian. Hanya karena Rara jarang menonton TV dan tidak pernah mencoba mencari tahu infotainment terkini, dia tidak pernah mendengar nama Kevin sama sekali.



"Sayang sekali, padahal kalo Rara belum bertunangan, pasti udah aku ambil duluan." Kata Kevin sambil menyesap anggur di tangannya.



Rara yang baru saja memasukkan sesuap daging ke mulutnya lagi-lagi tersenyum sopan. Dia tidak tau kenapa tetapi ada perasaan aneh yang menggelitik setiap kali Kevin menyebut namanya.




"Kalo adik gue jodohnya sama elo, gue nggak sudi," kata Darren, "Mendingan adik gue bareng si bocah daripada sama elo yang playboy."



Kevin tertawa mendengar sindiran halus dari sahabatnya itu, "Manusia pasti bisa berubah, gue juga bisa berubah."



"Berubah jadi Spider-Man, maksudnya?"



Lagi-lagi tawa menggema di meja itu, tetapi Rara sama sekali tidak tertawa. Dia terlalu sibuk memakan makanannya.



"Rara kenapa diem aja dari tadi?"



Rara tersentak kaget ketika melihat wajah Kevin sudah berada di depannya.



"Ah, eh ..., nggak papa. Makanannya enak, makanya aku serius makan aja." Kata Rara sambil cengengesan.



Ucapan Rara membuat ketiga orang yang semeja dengannya tertawa.



"Rara ada-ada aja," kata Lisa, "Segitu seriusnya makan udah kayak mau perang."



Rara hanya nyengir lebar, dia kembali memakan makanannya tanpa tau Kevin terus menatapnya lekat-lekat.



***

__ADS_1



Makan malam itu terasa aneh bagi Rara, terutama karena Kevin tidak henti-hentinya berada di dekatnya. Dia bukannya tidak suka, tapi entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa dia harus menjauh dari Kevin, atau masalah akan mendatanginya.



"Rara,"



Rara menoleh ketika dia memasang mantelnya. Kevin berjalan mendekat dan memberikan sebuah kertas kecil kepadanya, "Jika kau ada waktu besok, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."



"Ke mana, Kak?"



"Mungkin ke suatu tempat yang bisa menjernihkan pikiran," Kevin tersenyum, "Tapi bila kau tidak ada kesibukan besok."



"Akan kupikirkan," Rara menatap kertas kecil di tangan Kevin, "Nomor telepon Kakak?"



"Sekaligus email, akun sosial media yang kupunya," Kevin menyodorkan kertas itu pada Rara, "Aku hanya meminta nomor Whatsapp dan LINE-mu dari Darren, jadi kau tidak akan melihatku men-stalk Instagram ataupun Twitter-mu setiap hari."



Rara tertawa canggung menerima kertas kecil itu dan memasukkannya ke dalam saku mantel.



Lisa sudah menunggu di lobi hotel dan melihat Rara berjalan dengan Kevin membuat wanita tunangan Darren itu mengerutkan kening.



"Terima kasih sudah menemani Rara, Vin. Kau tidak ada kegiatan lagi?" tanya Lisa.



"Tidak. Kebetulan aku menginap di hotel ini," jawab Kevin.



"Oh ...," Lisa manggut-manggut.



Mobil Darren mendekati lobi, Lisa dan Rara pamit pada Kevin dan masuk ke dalam mobil. Sempat dilihat oleh Rara senyum di wajah Kevin yang terlampau manis.



Ia duduk di bangku belakang sementara Lisa duduk di samping Darren. Begitu mobil berjalan, Rara langsung mencetuskan pertanyaan yang bercokol di hatinya.



"Kak Darren nggak nyoba nyomblangin aku dengan Kak Kevin, 'kan?"



Darren menoleh kearah Rara sebentar dengan wajah melongo, kemudian tertawa terbahak, "Bisa mati aku kalo sampe nyomblangin kamu ke Kevin."



"Terus kenapa Kakak ngajak dia makan malam bareng kita?" tanya Rara penasaran.



"Bener, aku juga penasaran." Timpal Lisa.



"Aku ngajak Kevin ikut makan malam karena dia memang sedang ada urusan di Jakarta. Biasanya dia menetap di Surabaya," kata Darren, "Walau dia artis terkenal, tetapi dia lebih suka menyendiri ke kota kelahiran ibunya. Rara mungkin nggak inget, tapi Kevin juga sering main dengan kamu dulu. Sama kayak Keenan dan Alvin."



Rara manggut-manggut, "Tapi, Kak, kenapa Kak Kevin nggak tau aku udah punya tunangan? Dan tadi aku juga liat raut wajahnya agak menakutkan waktu kita bahas soal pertunanganku."



Darren mengerutkan kening dan bergerak gelisah mendengarnya. Jemari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk kemudi mobil, "Mungkin ... dia hanya nggak suka, itu aja."



Apa iya? Tanya Rara dalam hati.



"Sudahlah, nggak perlu dipikirin. Kalo Kevin ngapa-ngapain, Kakak pasti tau," ujar Darren lagi, "Soalnya walau kami berdua bersahabat, ada satu hal yang membuat Kakak nggak senang dengannya."



"Apa itu?"


__ADS_1


"Dia ... menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, semustahil apapun hal tersebut."


__ADS_2