
Hampir seminggu setelah Alvin terakhir kali ke rumahnya. Rara nggak tau apakah Alvin marah padanya atau apa karena cowok itu nggak pernah lagi menghubunginya. Rara mau saja menghubungi lebih dulu, tapi dia sendiri juga sibuk dengan kegiatannya mempersiapkan diri untuk festival di akhir semesternya sebagai mahasiswa. Karena itu Rara tidak sempat menghubungi Alvin walau dia ingin.
Tapi hari ini Alvin tau-tau muncul di depan rumahnya, memakai seragam dan sedang duduk di atas kap mobil dengan santainya. Begitu melihat Rara, Alvin tersenyum lebar dan langsung menghampirinya.
"Mulai hari ini kita berangkat bareng, kan?" kata cowok itu, "Lo udah siap?"
"Bukannya lo bilang kalo berangkatnya sendiri-sendiri?" tanya Rara, "Kenapa lo malah ngejemput gue?"
"Gue kangen sama lo." Jawab Alvin, membuat Rara mengerjapkan matanya. "Dan juga gue mau ngomong sesuatu. Makanya gue jemput lo."
Rara menatap Alvin, kemudian mengedikkan bahu. Itu artinya dia harus membatalkan niatnya menumpang mobil Kim pagi ini.
"Oke. Gue ikut lo pagi ini." ujar Rara, "Kita langsung berangkat aja. Gue ada janji dengan dosen gue soalnya."
Alvin mengangguk dan membiarkan Rara berjalan duluan. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan. Supir sekaligus bodyguard Alvin, Martin, langsung melajukan mobil menuju jalanan kota.
"Nah," kata Rara, "Lo mau ngomong apa, Vin?"
Alvin tampak diam selama beberapa saat sebelum menarik nafas dan mengembuskannya perlahan.
"Pertama, gue mau minta maaf kalo seminggu lalu gue bersikap ... kekanakan. Lo pasti inget gue langsung pulang saat mengobrol dengan Kim, kan?" kata Alvin, "Gue minta maaf untuk yang itu. Lo mau maafin gue?"
Rara memiringkan kepalanya. "Lo nggak salah apa-apa, Vin. Lagian itu udah lama, jadi nggak perlu dipikirin lagi." katanya, "Gue nggak ngerasa lo harus minta maaf kok."
"Intinya gue dimaafin?" tanya Alvin, yang dibalas Rara dengan anggukan.
"Oke." Alvin mengembuskan nafas lega, "Yang kedua yang mau gue omongin adalah, gue pengen lo nemenin gue ke suatu tempat hari ini. Kapan lo bisa, langsung kasih tau gue."
"Memangnya lo mau ngajak gue ke mana?" tanya Rara.
"Ada aja. Lo mau kan nemenin gue?" tanya Alvin balik.
"Bukan ke pantai yang kemaren itu?"
"Bukan. Gimana? Lo mau nemenin gue, kan?"
__ADS_1
"Boleh aja sih. Tapi gue nggak tau kapan gue pulang dari kampus." Jawab Rara, "Apa nggak masalah tuh?"
"It's okay. Gue juga harus sekolah kok hari ini." Alvin tersenyum. "Thanks, ya Ra."
"Sama-sama, Vin."
"Ra, gue boleh minta tolong nggak?" kata Alvin.
"Lo mau minta tolong apa?"
"Boleh pegang tangan lo?"
Permintaan itu membuat Rara menatap Alvin dengan kening berkerut. "Pegang tangan gue? Buat apa?"
"Nggak papa. Gue cuman pengen pegang tangan lo. Boleh?"
Rara menatap Alvin lekat-lekat, kemudian mengangguk. Seulas senyum tersungging di bibir Alvin. Cowok itu lalu menggenggam tangan kiri Rara dan senyumnya makin lebar. Rara memperhatikan itu. Dia tidak tahu kenapa tapi melihat senyum Alvin, dia merasa cowok itu memang sedang banyak masalah. Entah masalah seperti apa, Rara tidak tahu.
Sementara Alvin merasa senang dia bisa memegang tangan Rara. Seminggu nggak ketemu cewek itu aja sudah bikin dia uring-uringan, dan hari ini semuanya terbayarkan. Dia merasa senang Rara mau tangannya digenggam olehnya dan itu sudah cukup untuk hari ini.
Mobil yang membawa mereka berdua sampai di depan pintu gerbang kampus Rara. Cewek itu langsung turun dari mobil dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Ra," panggil Alvin, "Sini sebentar."
Rara menoleh dan menundukkan kepalanya ketika cowok itu memanggilnya. "Ada apaan—"
Ucapan Rara terhenti ketika Alvin mencium pipinya. Kedua mata Rara mengerjap kaget dan menatap wajah Alvin yang polos tak berdosa dengan senyum lebar menghiasi.
"Sampai jumpa nanti, Ra." kata cowok itu, lalu menutup pintu mobil dan menyuruh Martin melajukan mobilnya kembali.
Rara menatap mobil itu menghilang dari pandangannya. Dirinya masih syok karena Alvin mencium pipinya barusan. Tangannya menyentuh pipi kirinya yang tadi dicium dan mendadak wajahnya terasa panas. Dia menepuk-nepuk pipinya, berusaha mengenyahkan rasa panas yang dirasakan di wajahnya.
"Aish ..., kenapa gue jadi salting begini sih? Itu Cuma ciuman di pipi, Ra. Ciuman di pipi. Nggak berarti lebih." katanya pada diri sendiri.
Rara menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. Dilakukannya hal itu berkali-kali sampai dia merasa lebih baik dan kemudian berjalan memasuki gedung kampusnya.
__ADS_1
***
Kim sedang meneliti proposal di tangannya ketika Rara datang dan berjalan kearahnya. Cewek tomboy itu melambaikan tangan kearah Rara dan menunggu sampai sohibnya itu sampai di depannya.
"Kim, kok gue kek remaja labil gini, ya?" kata Rara langsung saat dia duduk di sebelah Kim.
"Ha? Maksudnya? Lo kan emang remaja labil, Ra. Liat aja badan lo yang nggak pernah tambah tinggi." Balas Kim.
"Dih, lo tuh masih sempat aja ngejek gue." cibir Rara, "Gue serius, Kim. Gue ngerasa kek remaja labil jaman now."
"Ya emangnya apa yang bikin lo ngerasa kek remaja labil jaman now?" kata Kim menahan tawa geli.
"Pagi ini Alvin jemput gue, dan dia minta maaf soal dia langsung ngacir dari rumah gue minggu lalu. Kalau itu udah gue maafin, malah gue nggak pernah mikirin itu kesalahan dia," kata Rara, "Trus katanya hari ini dia minta gue nemenin dia ke suatu tempat. Ke tempat apa gue nggak tau, yang jelas gue setuju aja. Nah, yang bikin gue ngerasa kek remaja labil itu gara-gara Alvin nyium pipi gue tadi di depan gerbang kampus. Menurut lo gimana, Kim?"
"Yang gue liat dia udah gencar ngelancarin jurusnya ke elo." Celetuk Kim.
"Kim, serius nih!!"
"Gue juga serius kali, Ra." balas Kim, "Selama ini kan Alvin emang selalu nunjukin dia itu pria, bukan bocah umur delapan belas tahun yang dijodohin ama tante-tante macam lo. Eits, jangan marah dulu. Sekarang lo pikir deh, selama ini dia nggak pernah ngelakuin hal macem-macem ke elo, itu aja udah nunjukin dia itu serius ama lo, nggak peduli dia umur berapa.
"Yang kedua, gue liat Alvin anaknya beneran tulus, lo aja yang nggak tau kalo Alvin sering mandang lo diam-diam. Kalo lo ngeliat tatapannya itu gimana, kayak orang yang lagi dimabuk cinta. Beda banget dengan cowok-cowok yang selama ini pernah dekat sama lo. Dan gue sebagai sohib lo, secara pribadi lebih seneng kalo lo beneran jodoh ama dia. Sekali lagi, abaikan umur yang jadi penghalang utama lo berdua. Gue rasa lo sama Alvin itu saling melengkapi."
Rara diam mendengarkan 'wejangan' Kim. Ini pertama kalinya dia mendengar sohibnya itu mengatakan sesuatu lebih dari sekedar godaan dalam satu tarikan nafas.
"Jadi, saran gue, lo coba deh kenalin Alvin lebih dalem. Lo sama dia masih ada waktu sampe pernikahan kalian. Gunakan waktu itu sebaik-baiknya, Ra." kata Kim lagi.
"Hm ..., iya deh. Gue bakal coba." Kata Rara, "Makasih atas saran lo. Tumben banget bisa ngomong sepanjang itu dalam satu tarikan nafas."
"Gue terkadang jadi konsultan cinta sama temen-temen, masa lo nggak tau?" Kim tersenyum lebar, "Ngomong-ngomong, konsultasinya nggak gratis ya. Traktir gue makan mi ayam di kantin dua porsi."
"Anjir, jadi lo ngatain kata-kata bijak tadi ada bayarannya juga?"
"Lo pikir ada yang gratis di dunia ini? Gue nggak mau tau, lo harus bayar jasa konsul gue." kata Kim sambil tertawa sementara Rara mencibir tanpa suara di sebelahnya.
__ADS_1