
Setelah sampai di rumahnya, Rara menemukan Alvin sudah menunggu di ruang tamu. Pemuda itu asyik membaca sesuatu di ponselnya sambil tertawa geli. Ketika melihat Rara datang, kepalanya mendongak dan senyum lebar tersungging di wajahnya.
"Lo nunggu lama?" Tanya Rara saat sampai di hadapan Alvin.
"Nggak, kok. Gue juga baru dateng," balas Alvin, "Lo ganti baju dulu, deh. Setelah itu kita berangkat."
"Dari tadi gue penasaran, sebenarnya lo mau ngajak gue ke mana?"
"Ada aja. Pokoknya lo ikut aja. Ya?"
Rara benar-benar menyerah. Lebih baik dia mengikuti apa kemauan Alvin daripada membiarkan rasa penasarannya mengambil alih. Dia lalu berjalan menuju kamarnya di lantai dua dan setengah jam kemudian dia sudah kembali ke ruang tamu.
"Yuk," Alvin mengulurkan tangannya dan menggamit tangan Rara.
Mereka berdua lalu menuju mobil Alvin yang sudah terparkir di depan pintu dan masuk ke dalam. Rara memasang sabuk pengaman saat matanya tertuju pada sebuah buku kecil bersampul kulit coklat di dasbor.
"Eh, Vin, ini punya lo?"
Alvin melirik buku yang ditunjuk Rara dan mengerjap. Tangannya dengan cepat mengambil buku itu dan melemparkannya ke belakang, membuat Rara kaget.
"Kenapa lo lempar bukunya, sih?" Tanya gadis itu bingung.
"Nggak papa. Itu bukan buku penting, kok." Pemuda itu menjawab sambil menyalakan mesin mobil.
Rara mana mau percaya begitu saja. Tapi melihat raut wajah Alvin yang tampaknya tidak ingin dia melihat buku itu sekali lagi mengalah. Lebih baik mengalah dulu untuk saat ini, toh ada saatnya yang muda bakal mengalah pada yang lebih tua.
Inget kalo umur Rara lebih tua dibanding Alvin, 'kan?
***
Mata Rara menatap bangunan di depannya. Bangunan dengan cat warna-warni itu memang tampak menarik mata, terutama bagi anak-anak.
Benar. Alvin mengajaknya ke sebuah taman kanak-kanak. Entah apa yang dipikirkan oleh cowok itu. Tapi melihat raut wajah Alvin yang agak cerah, mau tak mau pikirannya memikirkan apa sebenarnya rencana cowok itu.
Baru saja Rara mau bertanya, suara seseorang menyela ucapannya.
"Wah, Nak Alvin benar-benar datang,"
Rara menoleh kearah seorang wanita paruh baya dengan setelan blazer hijau lumut. Raut wajah wanita itu begitu lembut dan keibuan. Beberapa anak kecil mengikuti di belakangnya. Wanita itu menatapnya sejenak kemudian menoleh kearah Alvin, yang mengangguk melihat isyarat mata wanita paruh baya tersebut.
Beliau kembali menatap Rara dan senyum lembut muncul di wajahnya, "Lama nggak bertemu, Nak Rara. Masih ingat sama Ibu?"
"Eh, anu ...,"
"Kamu dulu pernah sekolah di sini loh," ujar beliau lagi, "Tapi pasti kamu sudah lupa, ya? Nama ibu, Regina Faradisa. Dulu Ibu yang mengajarmu di sini."
"Bu ... Regina?"
__ADS_1
Rara mengerutkan kening. Dia pernah bersekolah di taman kanak-kanak ini? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya? Dia bisa ingat kenangannya sebelum masuk Sekolah Dasar ....
Tunggu. Ada yang salah.
Ada yang salah ....
"Rara!"
Rara mengerjap ketika mendengar suara Alvin tepat di dekat telinganya. Dia menoleh dan mendapati raut wajah Alvin yang terlihat cemas, lalu wajah Bu Regina di hadapan mereka.
"Ra, lo baik-baik aja, kan?" Tanya Alvin.
"A ... gue ...."
Mendadak kepala Rara terasa sakit. Dia sampai meringis karena rasa sakitnya benar-benar hebat seolah merobek isi kepalanya.
"Ra? Lo denger gue, kan? Rara!" Alvin mengguncang bahu Rara yang mulai melemas dan matanya nyaris tertutup.
Tangan Rara mencengkeram lengan baju cowok itu sebelum merasakan sakit di kepalanya mengambil alih kesadaran.
***
Ah ... rasanya aneh. Kenapa dia merasa pernah melihat tempat ini?
Tanah lapang dengan rerumputan yang tampak seperti karpet. Dua ayunan yang berdiri tegak di sudut taman, kotak pasir dan beberapa jungkat-jungkit yang dimainkan oleh anak-anak. Rara sendiri berdiri di dekat salah satu ayunan dan tampak seolah menonton sebuah film tentang masa lalu seorang tokoh utama.
"Hei, tunggu!!"
Suara itu mengejutkannya dan ia berbalik, mendapati tiga orang anak kecil berlari kearah ayunan di dekatnya. Salah satu di antara tiga orang anak itu adalah perempuan, dengan rambut dikucir dua dan memakai baju merah muda yang membuatnya tampak manis. Dua anak lainnya, dua anak laki-laki, yang satu sedikit lebih pendek dan memakai kacamata tebal berlari mengikuti anak laki-laki yang membawa bola kaki di tangannya.
Mereka bertiga berlari kearah ayunan dan anak yang membawa bola kaki langsung menempati salah satu ayunan sementara anak lain yang mengenakan kacamata berdiri di samping ayunan lain dan menunggu anak perempuan yang mengejar mereka sampai di hadapan mereka.
"Kalian jahat. Nggak mau nunggu Rara selesai dandan." Kata anak perempuan kecil itu sambil menggembungkan pipinya.
"Soalnya kalo Rara dandan, lama!"
Rara menatap anak kecil yang duduk di ayunan dan sambil tertawa menggoyangkan ayunannya. Rara kecil makin menggembungkan pipinya. Anak laki-laki berkacamata melihat Rara kecil seperti akan menangis dan mencolek bahunya, "Rara duduk di sini aja. Biar aku yang mendorong ayunannya."
Rara kecil menatap anak berkacamata itu dan tersenyum sumringah. Dengan cepat dia duduk di depan si anak berkacamata dan meleletkan lidahnya pada anak laki-laki di sebelahnya, "Keenan lebih perhatian daripada kamu. Aku nggak mau berteman dengan Alvin lagi kalo kamu nggak minta maaf."
Keenan? Alvin?
Rara menatap anak kecil berkacamata yang mendorong ayunan yang dipakai oleh dirinya saat kecil. Matanya menatap anak kecil itu lekat-lekat. Kacamata tebal yang dipakainya membuat Rara nyaris tidak melihat mata tajam yang mirip seperti yang dipunya Alvin.
Anak berkacamata ini ... lalu anak laki-laki yang sedang bermain ayunan di sebelahny itu benar-benar Alvin?
"Rara nggak boleh gitu," kata Keenan sambil terus mendorong ayunan yang dinaiki Rara, "Biar bagaimanapun, Alvin yang mengajak kita kemari. Rara harus berterima kasih pada Alvin."
__ADS_1
Rara kecil menoleh kearah Alvin kecil sambil memberengut, "Tapi Alvin nggak mau nunggu Rara selesai dandan. Mama bilang kalo Rara harus bisa berdandan biar suami masa depan Rara senang."
Alvin kecil hanya tertawa kecil sementara Keenan mengerutkan kening.
"Suami itu apa? Apa bisa dimakan?" Tanya anak kecil itu polos.
Rara kecil dan Alvin kecil saling pandang sebelum tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos Keenan.
Rara mengerutkan keningnya. Apa ini adalah salah satu kenangannya? Tapi kapan dia pernah mengalami hal seperti ini?
Dia tidak ingat. Kenapa dia tidak pernah tahu dia memiliki ingatan semacam ini?
Dan lagi-lagi, sebelum mendapatkan jawabannya, Rara merasa tubuhnya ditarik ke dalam kegelapan dan hal pertama yagn dilihatnya adalah wajah Alvin yang menatap cemas kearahnya.
"Al ... vin?"
"Ra, lo udah sadar?" Alvin tersenyum lega melihat Rara sudah sadar. Dia membantu gadis itu duduk dan memberikannya segelas air.
Rara meminum air dingin itu dengan patuh. Matanya lalu menatap ruangan tempat mereka berada sekarang. Sepertinya ruangan tempat mereka kini berada adalah ruang kerja kepala sekolah taman kanak-kanak yang mereka kunjungi. Rara bisa mendengar suara anak-anak kecil yang ada di luar sana.
Alvin meletakkan gelas yang isinya sudah diminum oleh Rara dan menatap gadis itu, "Lo bener nggak papa? Apa perlu kita pulang sekarang?"
"Nggak papa. Gue udah merasa mendingan." Ujar Rara. "Di mana Bu Regina?"
"Lagi nemenin anak-anak main. Sebentar lagi beliau juga akan ke sini." Jawab Alvin.
Rara manggut-manggut mengerti.
"Maaf, Ra. Kayaknya lo syok gue bawa kemari." Kata Alvin, "Sebenarnya gue nggak berniat membawa lo kemari. Takutnya lo bakalan berpikir apa yang bakal kita lakuin di sini."
Alvin melihat Rara sekilas kemudian melanjutkan ucapannya, "Lo pernah sekolah di taman kanak-kanak ini, Ra. Apa lo inget?"
"Gue ... nggak ingat." Rara menggeleng, "Tapi kenapa lo tau kalo gue pernah sekolah di taman kanak-kanak ini?"
"Karena gue pernah satu sekolah dengan lo di sini," Alvin tersenyum muram, "Dan di sini juga terjadi peristiwa yang membuat lo lupa soal sekolah ini, gue, dan ... Keenan."
Mendengar nama Keenan disebut, Rara teringat mimpinya tadi. Bayangan anak laki-laki yang selalu bermain bola setiap kali bertemu dengannya melintas dalam pikirannya, begitu pula anak laki-laki berkacamata tebal yang selalu mengikutinya dan Keenan ke mana pun.
Melihat raut wajah Rara yang agak berubah, Alvin merasa tidak ingin melanjutkan tetapi dia tahu dia harus menjelaskan sesuatu pada gadis itu. Satu rahasia kecil yang selama ini dia jaga harus ia ungkapkan padanya.
"Ra, lo tau alasan kita dijodohkan?" tanya Alvin, kemudian ia menjawabnya sendiri, "Itu karena janji yang dibuat oleh Mom dan mama lo. Nggak ada yang tahu kalau Mom desainer terkenal dan misterius, berteman dengan nyokap lo yang juga terkenal, tapi dengan cahayanya sendiri. Secara garis besar, memang perjodohan kita diatur oleh orangtua kita. Tapi sebenarnya perjodohan ini terjadi karena janji kecil lo dengan Keenan dulu."
"Apa?"
"Seharusnya yang dijodohkan dengan lo adalah Keenan, bukan gue." Senyum Alvin makin terlihat sedih, "Karena lo dan dia udah pernah berjanji bakal menikah saat kalian sama-sama dewasa. Gue hanya pengganti Keenan, Ra."
__ADS_1