Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 18


__ADS_3

Bunyi ketukan di pintu membuat Rara menoleh dari kegiatannya berguling-guling di kasur sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Kali ini dia lagi suka-sukanya dengan Boy Epic, hampir semua lagu dari penyanyi itu dia koleksi dan yang paling dia senangi sedang dia putar saat ini di laptopnya, lengkap dengan speaker bersuara jernih bin bening.



"Nona, ada tamu," seorang pelayan membuka pintu kamarnya.



"Siapa?" tanya Rara kembali berguling dan menatap langit-langit kamarnya.



"Itu ...,"



"Ternyata kegiatan lo begini kalo nggak ada kuliah?"



Suara itu langsung membuat Rara menoleh dan memekik kaget melihat Alvin berdiri di belakang si pelayan. Buru-buru dia duduk tegak dan menatap cowok yang sedang tersenyum lebar padanya itu.



"Kenapa lo ke sini?"



"Gue kangen sama tunangan gue. Nggak boleh?" Alvin balas bertanya dan masuk ke dalam kamar Rara.



"Eh, eh ..., stop! Jangan sampe lo ngelangkah lebih jauh dari pintu!" teriak Rara.



"Hm? Why?"



"Ini kamar gue, bego! Kamar cewek, kamar yang nggak boleh sembarang lo masukin begitu aja!" balas Rara, kemudian melotot ketika Alvin malah masuk ke dalam dan duduk di samping Rara.



"Telinga lo berfungsi, nggak? Kenapa lo malah masuk dan duduk di tempat tidur gue?" Rara berkata dengan nada jengkel.



"Gue kangen elo."



"Gue nggak tanya itu, kunyuk!"



"Gue kangen elo."



"Pala lo minta dipites?"



"Gue kangen elo. Gue udah ngucapin tiga kali, jadi lo nggak bisa ngusir gue." Kata Alvin.



Apa hubungannya????!



Rara mendelik jengkel pada Alvin yang dengan santainya merebahkan diri di tempat tidurnya, bahkan mengisyaratkan pelayan yang mengantarnya tadi untuk pergi dan menutup pintu.



Begitu pintu ditutup, Rara mendelik tajam pada Alvin yang memejamkan mata dengan nyaman saat dia mendengar laptopnya masih memutar lagu Boy Epic yang liriknya riskan untuk didengar.



Yes or yes?


Do you want it in?


You wanna be stressed, I'd rather have s**


You and I and my dirty mind


We can stay high or no?



Baik Rara maupun Alvin sama-sama menatap laptop pink Rara yang tergeletak di samping gadis itu. Rara masih dalam mode cengo sementara Alvin tersenyum miring mendengar lirik lagu tersebut.



"Lo ternyata suka yang begituan, ya?"



"Hah? Apa?" Rara menatap Alvin, kemudian tersadar dan menggeleng cepat, "Kagak! Gue nggak suka begituan, Cuma ... Cuma lagi suka lagu ini, dan ..."



Yes or yes?


Do you want it in?


You wanna be stressed, I'd rather have s**


You and I could die a thousand times


We can stay high or no?



"Aaaaaaarrrgghh!!!"



Rara cepat-cepat menutup layar laptopnya dan lagu otomatis terhenti, tapi dia belum bisa bernafas lega.



Alvin tau-tau sudah berada di atas tubuhnya. Jarak wajah mereka cukup dekat, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.



"Vin, lo ngapain? Berat tau!" Rara mendorong Alvin menjauh, tetapi hasilnya nihil.



"Oy, Vin ...,"



"Ra," Alvin menatap mata Rara lekat-lekat, "Mau main sesuatu yang dewasa, nggak?"



... wut?

__ADS_1



Rara menatap Alvin dengan tampang yang sudah dipastikan keliatan bego. Tapi dia juga merasakan keseriusan di suara Alvin tadi, dan itu membuat Rara bingung sendiri.



"Lo masih bocah," kata Rara, "Umur lo lebih muda enam tahun dibanding gue."



"Am I do cares about it?"



Seketika Rara merinding. Mata Rara tidak bisa lepas dari mata Alvin yang menatapnya. Dia bahkan tidak bereaksi saat Alvin mengelus wajahnya, perlahan-lahan seolah dia boneka paling cantik.



Eh, dia bukan boneka, sih. Tapi cantik sudah pasti melekat pada dirinya.



Nah, 'kan? Ngawur lagi ...



Masalahnya bukan itu, Ra!!



Kembali ke kenyataan!



Rara merasakan suara Alvin tadi seakan bukan berasal dari cowok itu, dan sentuhannya, walaupun membuat Rara merinding, anehnya mampu membuat dirinya tidak merasa jijik.



Rasanya ... aneh.



Aneh, sekaligus mengerikan.



"Vin, lepas, Vin ...," pinta Rara, "Lo kenapa sih? Kayak bukan lo aja."



"Emang bukan," Alvin terkekeh, "Lo percaya kalo gue orang lain?"



"Ha?"



Alvin bergerak cepat, mencium bibir Rara dengan cepat sebelum kemudian bangkit dan duduk. Rara masih terlalu syok sambil memegangi bibirnya yang sedetik tadi dicium Alvin.



"Itu ciuman pertama gue. Besok-besok gue bakal terapin satu hari satu ciuman. Di pipi, ato bibir. Hidung juga boleh." Cowok itu tersenyum jahil dan membantu Rara duduk.



Rara masih dalam mode bingung sekaligus kaget. Dan saat dia meresapi dalam-dalam ucapan Alvin, gadis itu menjerit dan menimpuk kepala Alvin dengan bantal Hello Kitty di dekatnya.



"Itu juga ciuman pertama gue, dodol!!"




"Balikin ciuman pertama gue, balikin!!" Rara menimpuk Alvin berkali-kali.



"Ra, ampun, Ra ..., kasihani gue ...," kata Alvin sambil tertawa.



"Bocah kurang ajar lo! Itu ciuman buat suami gue di masa depan!"



"Lah, berarti emang buat gue, dong?"



Rara menghentikan kegiatannya menimpuk Alvin dan mengerjap. Iya ya, dia dan Alvin bertunangan. Berarti mereka bakal jadi suami-istri di masa depan.



Astagaaaa, kenapa Rara bisa sampe lupa!?



Alvin melihat raut wajah Rara yang terlihat lucu, antara kesal dan malu, belum lagi wajah gadis itu juga memerah. Alvin terkekeh, sekali lagi dia mendekatkan wajahnya pada Rara dan mencuri satu ciuman lagi.



"Alvin!!"



"Apa? Bukannya lo bilang ciuman lo cuma buat suami lo di masa depan, artinya itu gue. Jadi boleh dong gue cium tiap hari?" Alvin menaik-naikkan kedua aslinya.



"Apa sekalian juga dengan sesuatu yang lebih? Gue siap kok. Mau pake gaya apa?" sambung Alvin lagi.



Rara membuka mulut hendak membalas tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Sebagai gantinya, kedua tangannya kembali melayangkan bantal Hello Kitty ke kepala Alvin.



"Bocah sialan! Bocah kurang ajar!!!"



***



Rara mengembuskan nafasnya dan merebahkan diri di samping Alvin yang ketiduran. Kelelahan akibat dipukul Rara berkali-kali. Cowok itu keliatan anteng banget saat tidur. Rara memperhatikan bulu mata Alvin lebih lentik dari bulu matanya. Diam-diam dia meringis, secara keseluruhan, kesampingkan tinggi badannya yang mirip tiang listrik, Alvin bisa saja menyamar menjadi perempuan dan tidak akan ada yang meragukan kalau dia adalah perempuan tulen.



Alvin bergerak dan sebelah tangannya memeluk Rara. Otomatis gadis itu panik ketika Alvin mendekatkan diri mereka. Kepala Rara sukses mendarat di dada Alvin sementara cowok itu masih terlelap. Pulas banget kayaknya sampe nggak sadar Rara mencubit lengan yang memeluknya berkali-kali, tapi si empunya tangan nggak bereaksi sama sekali.



"Sekali bocah tetap aja bocah," gerutu Rara. Matanya menatap wajah Alvin, "Sekali ini aja lo boleh tidur di sini."



Rara mencari posisi nyaman. Dia juga kelelahan karena memaki dan memarahi Alvin. Kegiatan itu juga butuh tenaga ekstra, dan sekarang Rara kelelahan. Setelah mendapat posisi yang nyaman, gadis itu memejamkan matanya dan dengan cepat tertidur.

__ADS_1



Mendengar suara halus nafas Rara, Alvin terbangun. Matanya menatap kepala Rara yang bersandara di dadanya dan tersenyum tipis. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di pipi Rara dan menyentuhnya dengan satu jari.



"Gue ... sayang sama elo, Ra," kata Alvin lirih, "Lo yang nyelamatin gue dari semua hal yang bikin gue nyaris gila. Jangan lepasin gue dari lo, Ra."



Cowok itu mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Rara dan kembali tidur.



***



Darren baru memeriksa dokumen-dokumen yang baru masuk saat Kevin datang dan langsung duduk di sofa yang memang khusus di sediakan untuk para tamu.



"Kenapa lo ke sini?" tanya Darren.



"Gue tadi ketemu Rara," kata Kevin tidak menjawab pertanyaan Darren barusan, "Dia tambah manis aja. Rasanya pengen banget gue culik terus gue ajak nikah."



Darren mendongak dari dokumen-dokumen sakral di tangannya dan menatap Kevin dengan mata disipitkan, "Lo bilang itu lagi, bakal gue kirim lo ke Kutub Utara."



Kevin terbahak melihat reaksi Darren. Dia sampai memegangi perut saking kerasnya dia tertawa. Asisten pribadi Darren yang kebetulan berada di ruangan itu menatap bingung bos dan juga pria yang duduk secara lancang di ruangan tersebut.



"Rupanya sikap protektif lo tambah parah," kata Kevin, "Tapi, apa lo yakin nyerahin Rara ke tunangannya ... siapa namanya? Alviano Alexander?"



"Lo lupa apa yang udah dilakukan keluarga itu pada lo dan Rara?"



Darren diam. Dia tidak menjawab dan merenungi pertanyaan Kevin. Pertanyaan yang menurutnya sangat haram unuk ditanyakan.



"Lo harusnya sadar, Darren. Apa yang selama ini lo lindungin dengan berpura-pura nggak peka," Kevin menyandarkan punggungnya ke punggung sofa, "Lo tau seharusnya lo nggak pernah menyetujui Rara bertunangan dengan keluarga Alexander."



"Dan lo berpikir lo jauh lebih baik daripada mereka?" tanya Darren sinis.



"Well ..., maybe yes, maybe no."



"Lo malah lebih berbahaya dibanding bocah kupret yang ditunangkan dengan Rara," kata Darren, "Gue nggak tau apa motif lo balik ke Jakarta padahal lo ada proyek film besar di Los Angeles. Tapi kalo lo ke Jakarta Cuma buat ngulangin kesalahan yang sama, think twice, dude."



"I thinking it many times, everywhere and anywhere, friend," balas Kevin, "Gue balik ke sini karena gue mau mengejar satu hal yang seharusnya gue perjuangin dari dulu."



"Oh ya? Gue rasa yang lo incer saat ini hanya ketenaran, uang, dan kekuasaan, padahal lo sendiri berasal dari keluarga yang sebanding dengan keluarga gue."



"Memang, sobat. Tapi lo tau, tiga hal itu nggak bisa membuat gue memutar balik waktu dan melakukan apa yang seharusnya gue lakuin dulu."



Darren kini menatap Kevin dengan tatapan lurus mematikan. Berkas-berkas di mejanya tidak lagi terlihat menarik dari topik yang diungkit oleh sahabatnya itu.



"Kevin, gue tau kita berdua adalah sahabat dari SMP. Banyak hal yang udah gue tutupin dan sembunyiin dari semua orang yang mengenal elo. Gue bumper lo, perisai yang lo gunain untuk hal apapun yang lo lakuin selama ini.



"Tapi, gue nggak bakal tinggal diam kalo lo ngusik Rara. Lo dan obsesi lo itu jauh lebih berbahaya dibandingkan si bocah."



Kevin terkekeh, "Lo bongkar aib gue di depan asisten cantik lo,"



Darren melirik asisten pribadinya yang memasang tampang pura-pura tak peduli dan mengetik sesuatu di komputernya.



"Apa lo yakin pilihan lo udah tepat?" tanya Kevin lagi, "Lo tau apa yang terjadi di keluarga Alexander dan alasan gue masuk ke dalam lingkaran ini. Lingkaran ... penuh dosa."



"Tutup mulut lo, Vin. Lo ke sini Cuma mau bikin perkara?" tanya Darren mulai kesal.



"Nggak. Tapi gue pengen menegaskan sesuatu, Alviano Alexander itu lebih berbahaya dari magnet masalah."



"Apa?"



"Pikirkan saja baik-baik," Kevin berdiri, "Itu teka-teki. Lo tau kalo gue dari dulu suka main teka-teki. Jadi, pecahkan saja sendiri ucapan gue barusan. Sampai nanti."



Kevin melangkah keluar dari ruangan itu dan Darren mengumpat keras begitu pria itu pergi dari ruangannya.



"Kevin sialan, seharusnya gue tau dia mau apa ke sini!"



***



Kevin memasuki mobilnya yang sudah diparkir tepat di depan pintu lobi Rezkina Group. Dia berterima kasih pada pegawai yang sudah mengurus mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Dia mengeluarkan ponsel dan mengetuk-ngetuk layar sentuhnya dan menaruh benda pipih itu ke atas dasbor, beberapa detik kemudian sebuah lagu mengalun dari radio mobil yang sudah tersambung secara otomatis dengan ponselnya.



Senyum tidak lepas dari wajah Kevin. Bedanya tadi dia tersenyum dengan senyum jahil yang biasa ia perlihatkan pada semua orang, kini ketika sendirian, senyumannya berubah lebih keji dan tampak seperti orang sakit jiwa.



"Alviano Alexander ... Keenan Alexander ...," gumamKevin, "Kalian berdua benar-benar pembuat masalah."


__ADS_1



__ADS_2