
Malam pertunangan, Rara malah nggak bisa tenang.
Sedari tadi gadis itu mondar-mandir di kamar sambil menggigiti ujung kuku jempolnya, sesekali melirik jam di dinding. Satu jam lagi semua orang sudah berada di rumahnya.
Rara menghembuskan nafas dan memutuskan untuk keluar dan menuju taman belakang mansion, tempat acara pertunangan akan berlangsung.
Para pelayan sudah menyulap taman belakang mansionnya dengan lilin-lilin yang membuat suasana di sana terkesan romantic, juga beberapa buket bunga berwarna putih yang menghiasi di beberapa sudut taman. Makanan dan minuman terbaik pun juga sudah disediakan. Beberapa orang sudah berada di sana, termasuk Kim yang datang dengan pakaian formal, dan seperti biasa, cewek tomboy itu selalu mengenakan celana.
"Ra!"
Kim menghampiri Rara yang berdiri di depan pintu mansion yang menghubungkan taman belakang. Gadis itu bersiul melihat penampilan Rara malam ini. Rara benar-benar menjelma layaknya putri dalam dongeng.
Sebuah dress putih model kemben tanpa lengan dengan rok panjang selutut dari kain tutu membuatnya tampak seperti seorang putri. Seuntai kalung mutiara kecil dan juga anting-anting turut menghiasi. Kakinya dibalut sepasang sepatu wedge heels berwarna sama dengan gaunnya. Rara membiarkan rambutnya tergerai dan diberi hiasan mahkota bunga berwarna putih. Riasan di wajah gadis itu pun tidak berlebihan, malah terkesan natural dan menonjolkan matanya yang bulat besar dan bibirnya yang mungil.
Andai laki-laki single lain melihat Rara seperti ini, sudah dapat dipastikan mereka bakal gigit jari karena Rara sekarang nggak lagi berstatus jomblo—udah taken sama seseorang.
Yup. Seorang bocah bernama Alviano Alexander.
"Ra! Bengong aja!" kata Kim lagi.
Rara mengerjap dan menggaruk-garuk kepalanya. Pipinya agak memerah dan membuatnya terlihat lebih manis.
"Semuanya udah dateng?" tanya gadis itu.
Kim menggeleng. Yang dimaksud Rara pastilah para kolega dan juga relasi bisnis sang papa dan juga Alexander Group. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke acara pertunangan Rara ini dan bahkan harus memiliki undangan eksklusif. Untung Kim bisa masuk karena Rara sendiri yang mengundangnya dan memasukkan namanya ke dalam daftar teratas tamu terhormat hari ini.
Kalo kalian sadar, perusahaan yang dimiliki ayah Rara dan juga Alexander Group termasuk dalam jejeran teratas perusahaan paling sukses dan memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia, belum lagi cabang-cabang lain yang tersebar di beberapa Negara Eropa dan Asia. Jadi, rencana pertunangan dua perusahaan terbesar yang merajai hampir seluruh saham di Indonesia ini tentu menarik perhatian public dan para wartawan. Karena itulah acara pertunangan ini pun sangat dijaga ketat supaya para buaya lapar—wartawan, maksudnya, nggak masuk sembarangan ke dalam acara.
"You look beautiful, Ra. Gue sampe pangling, yang berdiri di depan gue ini Rara sahabat gue yang judesnya minta ampun ato ratu peri, sih?" kata Kim.
"Halah, gombalan lo udah kayak cowok aja." balas Rara.
Kim tersenyum lebar, kemudian menemani Rara menyapa para tamu yang datang. Ayah Rara sedang ada urusan sebentar di kantor dan mengatakan bakal datang bersama Albert dan Alvin nanti.
Ketika Rara baru menyapa tamu ke sepuluh yang ia temui, seseorang memeluknya dari belakang dan membuat gadis itu tersentak kaget.
"Hello, Dear sister!"
Seorang wanita muda dengan rambut kecokelatan yang disanggul tersenyum lebar pada Rara. Wanita itu mengenakan gaun ungu muda dengan bahan yang berdesir tiap kali ia bergerak. Stiletto berwarna hitam menghiasi kakinya yang jenjang dan putih mulus.
"Kak Lisa!"
Rara langsung balas memeluk kekasih sekaligus tunangan kakaknya itu. Lisa Andriana adalah wanita hebat kedua yang Rara kenal setelah almarhumah ibunya. Lisa adalah seorang pengacara muda dengan prestasi gemilang. Kasus-kasus yang diterimanya dapat diselesaikan dengan kemenangan telak, membuat Lisa terkenal dengan sebutan 'Wanita Berlidah Pedang' oleh lawan-lawannya.
Rara tertawa pelan dan memberikan kotak kecil yang dihias pita biru muda pada Rara.
"Selamat atas pertunangannya, ya. Kakak kalah deh sama kamu." kata Lisa.
"Ah, Kak Darren tuh yang nggak peka-peka dengan kakak. Makanya Kak Lisa, tendang aja ke kolam air dingin, biar sadar kakak nungguin." Kata Rara sambil tertawa.
Lisa juga ikut tertawa.
"Yah... nggak papalah, asal dia nggak ke lain hati dan tetap setia sama aku, itu udah cukup." Lisa tersenyum, "Yang penting adik kecil kami ini bisa punya gandengan yang dia cintai."
Rara tersenyum dengan sedikit dipaksakan ketika Lisa menyebutkan 'cinta'.
Apa dia cinta dengan Alvin?
Entahlah.
Lagian tuh anak kan masih bocah. Jadi dia nggak mau ambil pusing soal itu untuk sekarang.
Apalagi dia masih rada keki dengan Alvin karena bocah itu kadang seenak dengkul ngebahas soal hal terlarang macam make love dan sebagainya yang bisa bikin pipi Rara memerah tanpa sadar.
Lisa melihat raut wajah Rara dan tertawa geli.
"Ini hadiah dariku. Semoga kamu suka, ya." kata Lisa.
"Eh, iya, Kak..."
"Ini pertama kali aku membuatnya, jadi kalo jelek ato nggak bagus, langsung bilang, biar nanti kuganti dengan yang lebih bagus." Ujar Lisa lagi.
"Emang isinya apa, Kak?" tanya Kim.
"Ra. ha. si. a." kata Lisa sambil mengedipkan matanya.
"Ah, Kak Lisa main rahasia mulu..."
"Kalo nggak gitu, aku bakal sering kalah dari lawanku dong di pengadilan." Kata Lisa. "Aku ke sana dulu, ya. Sekali lagi, congrats buat pertunangan kamu, Ra."
"Iya. Makasih Kak Lisa."
Lisa mengangguk, kemudian bergabung ke salah satu meja di mana beberapa orang pengusaha muda sedang berbincang-bincang.
Rara menyuruh salah seorang pelayan yang melewatinya untuk meletakkan hadiah dari Lisa ke kamarnya. Setelahnya, dia kembali menyapa para tamu bersama Kim.
Suara-suara yang terdengar di belakang punggungnya membuat Rara menoleh, dan langsung melihat tiga orang pria yang masuk ke taman belakang. Siapa lagi kalo bukan ayahnya, ayah Alvin, dan bocah itu sendiri?
Rara mengerjap melihat pakaian yang dikenakan Alvin. Pemuda itu mengenakan setelan blazer berwarna merah terang dan kemeja berwarna hitam. Rambutnya dibuat agak berantakan tetapi harus diakui, Alvin malah kelihatan lebih manly kalo pakai setelan blazer gitu. Apalagi pembawaannya tampak tenang dan sesekali tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya.

Rara kemudian melihat wajah Alvin, pemuda itu ternyata memakai kacamata bundar, yang kalo di orang lain bakalan bikin keliatan culun, tapi kalo dipake Alvin malah bikin kadar kegantengan bocah itu meningkat.
Eh...
Sebentar.
Kadar kegantengan?
Rara menggeleng-gelengkan kepala. Sejak kapan dia menyebut Alvin 'ganteng'?
"Ra, Alvin ternyata bisa bertransformasi jadi cowok manly." Bisik Kim di sebelahnya.
"Biar manly, tapi kalo dia itu bocah ya tetep aja bocah, Kim." Balas Rara.
"Halah... bilang aja lo tadi ngeliatin Alvin kek tante-tante mupeng beneran."
Rara langsung mencubit pinggang Kim yang mengaduh kesakitan. Nggak tanggung-tanggung, cubitan Rara keras banget dan bikin ngilu kulit pinggangnya!
Alvin kemudian melihat kearah Rara dan Kim, kemudian menghampiri mereka berdua.
"Hai."
Alvin tersenyum manis dan bikin beberapa tamu wanita menahan nafas karena senyum yang bisa disetarakan seperti lady killer smile itu.
"Hai juga," Rara membalas, "tumben lo pake kacamata?"
"Gue pake kacamata?"
Alvin menyentuh wajahnya dan baru sadar kalo dia memang sedang pake kacamata.
"Astaga. Pantes aja penglihatan gue rada jernih. Rupanya kacamata gue masih nyantol."
"Lo sering pake kacamata?" tanya Kim.
__ADS_1
"Cuma waktu belajar ato lagi meriksa laporan perusahaan. Selebihnya gue pake contact lens."
"Oooo..."
"Kalo gue lepas kacamata ntar gue bakal kek bocah hilang, apalagi ini udah gelap." Kata Alvin sambil menghela nafas. "Pantes aja tamu-tamu wanita tadi pada ngeliatin gue. Tatapan mereka bikin gue merinding."
Kim dan Rara sama-sama menahan tawa melihat ekspresi Alvin yang terlihat merinding dan geli di saat bersamaan.
"Ya namanya juga lo ganteng, Vin. Wajar lah..." kata Kim.
"Makanya gue kesel dengan wajah gue yang terlalu ganteng ini. Apa gue perlu operasi plastic aja ya biar yang ngeliat gue Cuma calon bini gue?"
Kata-kata Alvin itu sukses bikin Rara bungkam sementara Kim tidak bisa menahan tawanya.
"Ra, lo bilang gombalan gue kayak cowok tadi? Noh, si Alvin lebih gombal dari gue." kata Kim.
Rara mendelik kearah Kim yang masih tertawa, bahkan sampai membungkuk kek nenek-nenek.
"Emang lo tadi ngegombalin Rara gimana?" tanya Alvin.
"Ah, Cuma gombalan biasa kok. Gue Cuma bilang dia cantik pake gaun ini. Itu aja." jawab Kim.
"Hmm..."
Mata Alvin kemudian melihat gaun yang dipakai Rara, kemudian mendongak ke wajah gadis itu.
"Apa?" tanya Rara.
"Well, Kim's right. You look beautiful... no. Gorgeous is the right word."
Lagi-lagi Rara bungkam sementara Kim tersenyum lebar dan menyikut lengan Rara.
"Tuh, dipuji ama calon laki tuh." Kata gadis tomboy itu.
"Kim, mulut lo bisa direm nggak sih?" kata Rara jengkel.
"Lo kira mulut gue otomotif pake bisa direm?" balas Kim telak.
Kali ini giliran Alvin yang harus menahan tawa mendengar jawaban Kim.
Rara memutar bola matanya dan menyikut perut dua orang itu hingga mengaduh kesakitan.
"Lo kira-kira dong, Ra! Sikutan ama cubitan lo itu lebih sakit daripada kena gigitan lebah!" kata Kim.
"Biarin." Balas Rara sambil tersenyum manis, berbanding terbalik dengan tatapannya yang setajam ular.
Kim mencibir dan melihat kearah Alvin. Di luar dugaan, cowok itu keliatannya tenang-tenang aja. Alvin nggak mengaduh kesakitan sama sekali.
"Vin, sikutan Rara tadi nggak sakit?" tanya Kim.
"Segitu mah biasa." kata cowok itu kalem.
"Serius?!"
"Iyaa... tapi kek digigit semut sih. Rada-rada ngilu dikit."
***
Acara pertunangan itu berlangsung lancar.
Setidaknya nggak terlalu terganggu dengan beberapa wartawan yang entah bagaimana bisa merangsek masuk dan mengambil beberapa foto sebelum kemudian kamera mereka dirampas oleh seorang pria berkepala plontos yang disebut Alvin bernama Martin, bodyguard-nya.
Kini acara dilanjutkan dengan acara makan-makan. Para pelayan dengan sigap melayani semua tamu yang sudah duduk di meja masing-masing.
"Oh ya, Ra," panggil ayah Rara.
Rara yang sedang menyantap spageti mendongak kearah ayahnya.
"Besok kamu diantar-jemput Alvin, ya? Berhubung kalian sudah resmi bertunangan, jadi tidak apa-apa kalo tugas supir kamu digantikan Alvin, kan?"
"Apa?"
Rara mengerutkan kening mendengarnya. Dia tidak setuju ayahnya menyuruh Alvin untuk mengantar-jemput dia. Emangnya dia bayi yang perlu diawasin?
"Pa, kan ada Kim, aku bisa nebeng di mobil dia juga." Kata Rara, "Dan Alvin kan harus sekolah, nggak mungkin ngantar-jemput aku sehari-hari."
"Itu bisa diatur." Ujar ayahnya, lalu menatap Alvin, "Kamu bisa kan, Vin?"
Alvin yang duduk di sebelah kiri Rara mengangguk tanpa mendongakkan kepalanya dari daging steak yang sedang dia makan.
Rara mendelik menatap Alvin yang acuh dengan permintaan ayahnya, lalu menghembuskan nafas kasar.
Lagi-lagi dia kalah berdebat dengan ayahnya sendiri.
Rara kembali memakan makanannya dengan tidak berselera. Dia harus memikirkan cara agar dia tidak dikekang seperti ini.
Sebuah elusan tangan di pahanya membuat gadis itu berjengit kaget. Dia menoleh kearah Alvin, si oknum, sang pemilik tangan yang kini mengisyaratkan mata Rara untuk menunduk ke bawah. Jari telunjuk Alvin bergerak di paha Rara dan membuat gadis itu agak geli walaupun dia memakai rok yang berlapis-lapis bahannya.
Ini anak mau apa sih!?
Tetapi, dia kemudian sadar, Alvin sedang mengeja huruf demi huruf dengan jarinya.
Nanti kita bicarain soal antar-jemput lo setelah makan. Berdua.
Itu yang ditulis Alvin dengan jari telunjuknya tadi. Mata Rara menatap Alvin yang sedang meneguk air putih dari gelas tinggi dan kemudian kembali menghela nafas.
Setelah makan, Alvin langsung mengajak Rara ke salah satu sudut taman yang agak sepi, membiarkan para tamu mereka bercengkerama satu sama lain.
Alvin duduk di salah satu bangku taman dan Rara mengikuti. Raut wajah gadis itu kentara sekali tidak nyaman dengan ide yang dilontarkan ayahnya tadi soal mereka berangkat bersama.
"Jadi," Alvin berdeham sebentar, "lo mau gue antar-jemput?"
Rara menggeleng.
"Gue bukan anak kecil. Kenapa gue harus diantar-jemput, sih?" kata gadis itu.
Alvin terdiam. Walau Rara tidak menunjukkan kemarahannya secara langsung, tapi ucapan gadis itu jelas menyiratkan perasaannya. Pemuda itu menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke punggung bangku.
"Sebenarnya gue juga nggak mau bikin lo merasa terkekang gini." Kata Alvin, "Tapi gue nggak bisa ngelawan perintah orangtua. Walaupun gue besar di luar negeri, tapi gue menjunjung tinggi orangtua, sama seperti budaya di sini."
"Gue bakal usaha supaya lo tetep bisa ke mana-mana sendiri, gimana?"
Rara menimbang-nimbang. Sebenarnya bukan masalah antar-jemput yang bikin Rara agak jengkel. Dia tau Alvin masih usia sekolah, dan apa kata orang-orang kampus kalo dia diantar anak SMA ke kampus?
Oh, pasti julukan 'tante-tante pencari berondong' bakal langsung melekat padanya. Rara yakin itu.
Tapi, ada satu lagi masalah yang harus ia hadapi selain masalah yang satu itu.
"Gimana, Ra? Mau gue omongin sama dua bokap kita sekarang?" tanya Alvin lagi.
"Nggak usah deh, Vin. Biar gue sendiri aja." kata Rara.
"Yang penting, lo pikirin sekolah lo besok. Lo harus berangkat pagi, kan? Salah satu alasan kenapa gue nolak antar-jemput itu ya karena jam masuk kelas kita itu berbeda. Gue anak kuliahan dan jadwal gue sering berubah-ubah, dan lo masih anak sekolahan, gue juga mikirin gimana lo bisa antar-jemput gue kalo jam kerjanya aja beda."
"Jadi lebih baik gue sendiri aja yang ngomong lagi sama Papa. Mudah-mudahan aja beliau ngerti."
__ADS_1
Alvin hanya mengangguk menanggapi ucapan Rara. Dia kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Rara, sama persis seperti saat mereka ketemu pertama kali.
"Eh, Vin, ngapain!?"
"Gue mau tiduran bentar. Nggak boleh, ya?"
"Lo ini..."
"Bocah SMA, masih terlalu muda untuk nikah, tapi gue berondong cakep, CEO perusahaan paling ganteng. Gue tau. Terima kasih atas pujiannya."
"Diih, muji diri sendiri. Geer banget sih lo." cibir Rara.
Alvin tertawa. Ia melepas kacamatanya dan menaruh benda itu ke dalam saku blazernya.
"Gue baru tau lo punya blazer model begini." Kata Rara.
"Dad yang nyuruh gue make pakaian begini. Niatnya tadi gue mau pake blazer hitam biasa sama celana jins, pokoknya nggak formal banget." Kata Alvin, "Gue gerah kalo pake pakaian begini, apalagi bahannya ini licin banget. Gue nggak suka."
"Ternyata lo tipe anak pemberontak juga, ya?"
"Maksudnya apa tuh?"
"Nggak papa, anggap aja angin lewat."
"Diih, sekarang dia malah ngambek."
"Gue nggak ngambek."
"Ah, masa?"
Rara membuka mulut, tapi kemudian menutupnya lagi. Sebagai gantinya dia menjitak jidat Alvin dan membuat pemuda itu meringis.
"Tadi lo udah nyikut gue, sekarang ngejitak kepala gue. Asal lo tau, badan gue gampang memar."
"Emang itu urusan gue?" balas Rara.
"Gue bisa nuntut elo atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga." Alvin membalas.
"Eh, kita baru aja tunangan ya, bukannya nikah. Ingat, lo masih bocah." Rara meleletkan lidahnya.
"Oh, mau nikah sekarang dan gue tuntut? Boleh banget, kok. Sebentar..."
Alvin tiba-tiba berdiri dan hendak berjalan kearah kedua ayah mereka yang sedang mengobrol di meja tadi. Rara yang melihatnya langsung panic dan buru-buru mengejar pemuda itu. Ia menarik lengan Alvin dan menghentikan langkah pemuda itu.
"Eh, Vin, lo gila ya!?"
"Nggak gila, kok. Kalo lo mau kita nikah sekarang, gue bakal bilang Dad sama bokap lo." Kata Alvin enteng.
"Eh, Vin!!"
Rara menarik tangan Alvin sekuat tenaga dan menyeret pemuda itu kembali ke bangku tadi. Walau Alvin keliatan kurus seperti tulang berjalan, tubuh laki-laki jelas lebih berat daripada perempuan.
Alhasil, nafas Rara ngos-ngosan saat berhasil menyeret Alvin kembali ke habitat—salah, ke bangku taman, maksudnya.
Alvin menatap Rara dengan ekspresi geli. Gadis itu tampak kepayahan dan Alvin merasa ini hiburan yang menarik. Sepertinya menjahili Rara bisa dijadikan hobi baru untuk membuat suasana hatinya lebih baik.
"Napa lo ketawa?" kata Rara mendelik.
"Gue nggak ketawa, kok." kata Alvin. "Gue Cuma nggak nyangka lo kuat juga. Udah jago nyikut orang, ternyata lo juga bisa narik gue sampe ke sini."
"Biarpun lo kurus dan kayak tulang berbalut kulit, gue nggak nyangka berat lo lumayan juga." Balas Rara jengkel.
Kali ini Alvin benar-benar tertawa dan membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka. Rara mendelik sebal pada Alvin, tapi kemudian entah kenapa dia juga ikut tertawa.
Perhatian semua orang kemudian kembali pada focus mereka masing-masing. Mereka pikir Alvin dan Rara sedang bercanda sampe tertawa seperti itu.
"Asli, wajah lo lucu banget. Andai tadi gue foto pasti lebih seru." Kata Alvin setelah berhasil mengendalikan tawanya.
Rara hanya mendelik, kemudian duduk di sebelah Alvin.
Setelah tawa mereka berdua reda, Rara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Gue kira lo beneran mau bilang ke Papa kalo mau majuin tanggal pernikahan." Kata Rara.
"Siapa bilang gue bercanda? Gue serius kok." Balas Alvin.
"Vin!!"
Alvin terkekeh. Tangannya terulur dan menepuk tangan Rara yang ada di pangkuan gadis itu.
"Tenang aja, gue nggak bakal nikahin lo sampe akhir tahun, sesuai kesepakatan kedua bokap kita. Lagian gue pengen kenal lo lebih dalam, Ra."
"Kenal gue lebih dalam?"
Alvin mengangguk.
"Gue pengen kenal lebih dalam ama cewek yang dengan hebatnya udah genggam dua hati di tangannya tanpa perlu mematahkan salah satu di antara mereka."
Rara menatap Alvin dengan kening berkerut bingung. Apa maksud ucapannya barusan?
"Vin, maksud lo apa?"
Alvin hanya diam. Pemuda itu lebih memilih nggak menjawab pertanyaan Rara dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Nanti juga lo tau." Kata pemuda itu, "Yang jelas bukan sekarang."
Rara memiringkan kepalanya, bingung.
Apa sebenarnya maksud ucapan Alvin?
***
Alvin memasuki kamarnya dan melepas blazer merah terang itu dari tubuhnya, menyisakan kemeja hitam dan juga celana katun merah yang ia pakai. Dia juga melepas kacamatanya dan menaruh benda itu di atas meja belajar.
Ia melangkah menuju kulkas mini di dekat pojok santai di sudut kamarnya dan mengambil sekaleng cola. Membukanya, kemudian meminum isinya.
"Hufth..."
Alvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Warna gelap di kamarnya, pencampuran antara warna hitam dan biru malam membuat pandangannya merasa lebih baik. Setelah melewati pesta pertunangan di rumah Rara tadi, dia benar-benar perlu membuat dirinya lebih santai.
Dia bahkan hampir mengatakan sesuatu yang bisa saja akan disesalinya nanti.
"Bodoh banget sih sampe nyaris kelepasan tadi." gerutu Alvin pada dirinya sendiri.
Mata Alvin kemudian tertuju pada meja kecil di dekat sofa kulit berwarna merah marun di dekatnya. Di atas meja itu terdapat sebuah buku novel klasik dan beberapa bingkai foto. Alvin menatap salah satu bingkai foto berwarna hijau cerah yang memuat sebuah foto yang paling ia kenal.
Alvin mendekat ke sofa dan duduk di atasnya. Diambilnya bingkai foto itu dan menatap foto yang ada di dalamnya. Raut wajah Alvin seketika berubah sedih. Diletakkannya kaleng cola yang ada di tangannya ke atas meja dan mengelus foto itu.
"Tenang aja, gue bakal pegang janji gue buat ngejagain Rara. Gue bakal bikin dia bahagia, selalu tertawa, dan nggak akan ingat kejadian waktu itu lagi."
Alvin menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tetapi satu bulir airmata lolos dari sudut matanya dan mengenai bingkai berisi foto dirinya dan kakaknya yang ada di tangannya.
"Andai lo tau, Kak, betapa susahnya ngejagain cewek yang lo sayang dari kecil dan melihat cewek itu bahkan nggak pernah ingat lo, sama sekali."
__ADS_1