Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 16


__ADS_3

"Oi, Ra," panggil Kim yang duduk di sebelah Rara, "Kim pada Rara, memanggil dari dasar bumi. Hello!"



Rara yang asyik melamun langsung berjengit kaget sambil menatap sohibnya itu, "Ada apaan, sih?"



"Gue yang seharusnya nanya itu ke elo," gerutu Kim, "Lo dari tadi melamun aja. Mikirin apa, sih? Si Alvin?"



"Bukan," jawab Rara, "Bukan Alvin, kok."



"Lah, selain bocah itu, emang lo mikir apa lagi?" Kim mengerutkan kening, "Jangan bilang lo mau pindah ke lain hati, Ra. Aduh, jangan dong ..., gue udah dukung banget lo ama Alvin ke pelaminan."



"Heh, lo kalo ngomong-ngomong di-filter dikit napa?" Rara menjitak kepala Kim, "Gue nggak mungkin nikah dengan Alvin dalam waktu dekat. Dia masih bocah."



"Lah, lo sendiri juga sekarang nggak pernah ngeribetin masalah pertunangan lo sama dia. Berarti lo mau aja, 'kan nikah sama Alvin?" balas Kim.



"Aish, lo ini!"



Kim terkekeh dan melihat sketsa gaun yang ada di sketch book Rara, "Lo mau bikin gaun apa lagi? Bukannya rancangan yang kemarin udah disetujui dan lo tinggal bikin tuh gaun jadi nyata?"



"Gue Cuma iseng bikin sketsa ini," Rara mengedikkan bahu dan menutup buku tersebut.



Kim melihat gelagat aneh Rara, tapi tidak berani bertanya saat ini. Dia lebih memilih menyeruput avocado juice-nya dan kembali menyeruput Pop Mie rasa Kari Ayam favoritnya.



Saat ini mereka memang berada di kantin, dan sejak datang, wajah Rara ditekuk bak kardus penyok. Gadis itu langsung membawa Kim ke kantin dan menyilakan sohibnya itu memesan makanan apa aja dan bayarannya dia yang tanggung. Mendapat rejeki nomplok di pagi hari sudah pasti nggak akan Kim sia-siakan, tapi melihat raut wajah Rara yang galaunya melebihi mendung di langit, dia jadi nggak enak hati ditraktir oleh gadis itu.



"Lo ada masalah apa?" tanya Kim akhirnya.



"Nggak ada masalah apa-apa."



"Hah. Like you can kidding me," ujar Kim, "Lo jangan bohong, Ra. Gue tau lo luar-dalem, termasuk nomor underwear lo yang termasuk—"



"Aaaargh ...! Kenapa jadi bawa-bawa underwear?!"



"Makanya lo cerita ke gue kenapa lo kek ikan nggak ketemu air, bingung kek orang bego." Kata Kim.



Rara hendak memaki Kim karena secara tidak langsung menyindirnya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskan nafasnya perlahan, "Kemaren malam gue mimpi,"



"Mimpi ketemu Hyungwon dari Monsta X?" sela Kim.



"Bukan, bego!"



"Oh, oke kalo gitu, lanjutkan."

__ADS_1



Rara mencibir tanpa suara tapi tetap melanjutkan ceritanya, "Gue mimpi ketemu ... Alvin dan satu orang anak kecil, yang gue rasa adalah Keenan, kakak Alvin yang meninggal."



"Alvin punya kakak?"



Rara mengangguk, "Kalo misalkan Keenan masih hidup, dia mungkin yang bakal dijodohin dengan gue. Alvin menjadi tunangan gue karena menggantikan Keenan. Tapi, ya ... bukan itu sih mimpi gue.



"Mimpi gue kemarin lebih aneh dari biasanya. Gue, Alvin, sama Keenan main di taman gitu, ampe mau malem kami nggak berhenti main, terus gue ngerasain rasa takut yang berlebihan, nyaris bikin gue nggak bisa nafas. Tau-tau pemandangan taman di depan gue berubah menjadi tempat dengan bau besi berkarat dan apek. Gue Cuma bisa melihat ada trailer gitu. Entah gue ada di mana. Tangan dan kaki gue diikat dan gue menangis ketakutan.



"Lalu ada sesuatu, ato seseorang yang berbisik, 'Kamu nggak akan bisa kabur. Tuan Putri menyusahkan sepertimu seharusnya sudah mati sejak lama.'. Terus tau-tau pandangan gue gelap lagi dan gue langsung terbangun."



"Kim, menurut lo itu mimpi tentang apa? Jujur aja, gue masih takut sampe saat ini." kata Rara.



Kim mengerutkan kening, mencerna cerita Rara sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, "Ra, gue nggak tau mau komentar apa, tapi sebaiknya lo coba konsultasi ke psikiater coba."



"Kenapa harus ke psikiater? Lo kata gue sakit jiwa?"



"Bukan itu," Kim menggeleng, "Ra, lo temen gue dari kita masih pake seragam putih-biru, dan gue nggak main-main dengan ucapan gue. Lo butuh pergi ke psikiater, karena siapa tau mimpi lo itu bukan sembarang mimpi."



"Maksudnya?"



"Menurut gue lo punya semacam ... trauma," ujar Kim, "Gue nggak yakin tebakan gue ini bener ato nggak, Cuma kasus lo sama kayak pasien kakak gue, Jennie. Lo tau dia psikiater di salah satu rumah sakit di Jakarta, 'kan? Nah, dia kadang cerita soal pasien-pasiennya dan mendengar cerita lo tadi, gue kepikiran jangan-jangan lo punya semacam trauma yang bikin lo mimpi aneh terus dari kecil."




"Semua orang yang punya trauma mengatakan hal yang sama kayak elo waktu mereka didiagnosa begitu," Kim menyentil kening Rara, "Kalo lo mau, setelah ini kita pergi ke tempat Kak Jennie. Gue yakin dia ada di ruang kerjanya sebelum jam makan siang."



Rara memikirkan tawaran Kim. Kalau dia memang bisa mendapat jawaban kenapa dia bermimpi demikian, itu bagus. Tetapi kalo dia hanya akan dicap orang gila setelah menceritakan hal tersebut ....



"Oke," gadis itu mengangguk, "Sebelum jam makan siang kita pergi ke tempat Kak Jennie."



***



Alvin menguap ketika akhirnya jam istirahat tiba. Sekolah yang dipilihkan oleh ayahnya ini memang menarik dari segi bangunan dan juga infrastrukturnya yang memanjakan mata. Tetapi sayang, bagi Alvin yang lulusan Harvard sebelumnya, pelajaran di sekolah ini terasa seperti mengulang pelajaran anak SD.



Terlalu mudah.



Beruntungnya ini masih hari-hari pertama masuk sekolah, jadi tidak terlalu banyak pelajaran yang membebani siswa dengan pekerjaan rumah atau proyek kecil untuk dikerjakan di rumah. Setidaknya dia tidak perlu menambah satu laci tentang pelajaran sekolah di dalam otaknya yang sudah terlanjur penuh dengan pekerjaannya sebagai direktur cabang perusahaan sang ayah.



"Hei,"



Kepala Alvin menoleh kearah seorang gadis manis berambut panjang dengan mata seperti kacang almond. Gadis itu langsung duduk di sebelah Alvin tanpa permisi.

__ADS_1



"Lo Alvin, 'kan? Alviano Alexander?" tanya gadis itu berbasa-basi.



"Dan lo Veranda Kaliantha, 'kan?" balas Alvin.



Gadis bernama Vera itu tersenyum, "Ternyata lo udah tau nama gue. Jadi nggak bisa pedekate, dong?"



"Untuk apa? Itu bakal buang-buang waktu lo." Kata Alvin.



Vera tertawa. Seperti yang dikatakan oleh teman-temannya, Alvin bersikap dingin ke semua lawan jenisnya. Bahkan dengan teman-teman sesama laki-laki, Alvin seperti menjaga jarak. Pemuda dengan wajah yang nyaris cantik itu terlihat seperti bad boy yang digandrungi di setiap novel remaja.



"Nggak bakal buang waktu gue," kata Vera, "Gue pengen jadi temen lo, masa nggak boleh?"



"Nggak," jawab Alvin, "Kalo lo Cuma mau manfaatin gue buat menang taruhan."



Kali ini Vera langsung terdiam. Dari mana Alvin tau dia mendekatinya hanya untuk taruhan kecil dengan teman-temannya?



Alvin melihat raut wajah Vera, "Nggak susah nebak pikiran cewek-cewek macam elo. Dan biar gue beritahu, gue nggak tertarik dengan permainan lo dan temen-temen elo."



Alvin bangkit berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Vera ketika gadis itu menggenggam tangannya, "Wait, Vin. Are you serious? Gue langsung lo tolak gitu aja?"



Pemuda itu menatap tangannya yang digenggam Vera dan melepaskannya perlahan, "And I said, I don't have any interest to you."



Alvin kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Vera yang terlihat syok karena baru saja dia ditolak oleh Alvin untuk kedua kalinya.



How mean! Kata Vera kesal dalam hati.



Ternyata benar kata teman-temannya. Memang sulit menaklukkan hati seorang Alviano Alexander, apalagi karena pemuda itu sudah bertunangan dengan perempuan yang berusia lebih tua enam tahun darinya. Vera yang berpikiran modern dan memang masih remaja tidak habis pikir kenapa perjodohan seperti yang dialami Alvin masih berlaku di zaman ini.



Niatnya memang untuk menjadikan Alvin taruhan. Dia dan teman-temannya bertaruh siapa yang akan menaklukkan hati Alvin lebih dulu. Tapi melihat respon pemuda itu yang dingin bak es kutub barusan ....



"Well, gue nggak nyerah semudah itu. Pantang bagi seorang Kaliantha untuk menyerah sebelum berperang," kata gadis itu, "Dan lo, Alviano Alexander, bakal jadi trofi kemenangan gue berikutnya."



***



Alvin berjalan ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya di wastafel dan menarik nafas dalam-dalam. Matanya menatap cermin, ke arah bayangan yang balas menatapnya dan tersenyum miring.



"Ternyata memang nggak mudah bisa bertahan sampai sejauh ini," gumam pemuda itu, entah kepada siapa, "Seharusnya gue tau kalo apapun yang gue lakuin, semuanya tetap sama."



Kepala pemuda itu menunduk, sekali lagi menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.


__ADS_1


"Gue ... gue harus melakukan apa?"



__ADS_2