Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 31


__ADS_3

Selama di acara itu, Rara sangat yakin dia diawasi.


Entah oleh siapa, tetapi dia bisa merasakan tatapan tajam menusuk yang terarah padanya. Walau tidak sampai membuat bulu kuduknya meremang, tetap aja rasanya creepy banget menyadari bahwa ada yang menatapmu sembunyi-sembunyi.


"Aku ke toilet dulu, ya?" kata Rara saat makan malam mulai dihidangkan satu-persatu di atas meja mereka.


"Perlu kutemenin?" tanya Alvin.


"Mau kugetok kepalamu pake clutch-ku?" balas Rara, yang disambut kekehan oleh Alvin.


Rara memutar bola matanya dan beranjak pergi. Ia menanyakan pada salah seorang waitress yang ada di dekatnya di mana letak toilet sebelum kemudian pergi sesuai petunjuk arah dari pelayan tersebut. Sesampainya di toilet, raut wajah Rara langsung berubah serius.


Matanya menatap pantulan diri di cermin, tetapi pikirannya masih melayang pada sensasi creepy yang ia rasakan ketika sadar bahwa ada yang mengawasinya.


"Ini gila. Baru hari pertama jadi nyonya aja gue udah dipelototin secara diam-diam," kata Rara, "Dan lagi gue kenal banget sensasinya ..., persis sama kayak dulu."


Keningnya kemudian berkerut. Kata 'dulu' membawa perasaan asing yang ... aneh.


"Rasanya emang gue pernah ngerasain begini," gumam Rara, "Tapi kapan, ya? Kenapa gue nggak inget sama sekali?"


Pintu toilet terbuka dan membuat Rara menoleh. Dilihatnya Kim masuk ke dalam toilet dengan ekspresi khawatir.


"Kim?"


"Ra, lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Kim, "Gue sempet bingung kenapa lo keluar dari aula tadi."


"Oh iya, elo juga ada di acara ini, ya," kata Rara, "Sori, Kim. Tapi gue rada merinding karena dipelototin diam-diam."


"Ada yang natap elo diam-diam?" kening Kim berkerut, "Lo yakin?"


"Yakin banget. Soalnya bulu kuduk gue berdiri semua nih!"


Rara menatap wajah Kim, yang tampak aneh karena sohibnya itu menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi tak menentu.


"Mungkin itu Cuma perasaan lo aja, Ra," kata Kim akhirnya, "Nggak perlu dipikirin."


"Gitu ya?" Rara menghela napas, "Gila, baru jadi nyonya sehari gue udah ngerasain hal yang sama dua kali lipat lebih serem dibanding dengan Kak Darren ato Papa."


"Ya namanya juga lo nikahin anak milyuner, jelas aja bakal sering dapat perasaan nggak enak." Ujar Kim.


Rara mencibir tanpa suara, "Lo ngapain kemari? Apa Cuma mau ngeliatin kondisi gue?"


"Bosen gue di sana. Sumpek tau nggak, gue nyaris dicomblangin sama nyokap gue lagi, mentang-mentang Shinji dan Daniel nggak ada di sini."


"Nasib lo tuh, terima aja."


"Sohib kampret lo emang."


Rara terkekeh. Diam-diam dia bersyukur Kim mengejarnya kemari. Kalo nggak mungkin dia bakal merinding sendiri memikirkan apa yang bakal dia lakuin kalo masih memikirkan perasaan nggak enak barusan.


"Lo mau balik ke aula, Ra?" tanya Kim setelah memperbaiki dandanannya dan menatap cermin.

__ADS_1


"Iyalah. Alvin bakal nyariin gue kalo gue nggak nongol lagi."


"Suami lo pengertian banget ya, Ra. Andai Daniel yang jadi suami gue ..."


"Gue aminin nih. Amiin ..."


Kim menyentil kening Rara dan merapikan dandanan sahabatnya itu. Setelah dirasa cukup, mereka berdua keluar dari toilet dan melihat beberapa orang pria berdiri di depan pintu.


"Nona Maharani?" tanya salah seorang dari mereka.


"Ya," Rara mengerutkan kening, "Kalian siapa?"


"Kami bodyguard yang diminta Tuan Alvin untuk mengawal Anda," kata pria tadi, "Beliau bilang sedang menunggu di salah satu mini garden hotel."


"Eh?" kali ini Rara mengerjapkan mata, jelas-jelas kaget, "Alvin keluar dari aula juga?"


"Lo samperin dia gih," kata Kim, "Siapa tau dia beneran nunggu lo."


"Tapi ..."


"Mari, Nona."


Rara tidak punya pilihan. Dia mengikuti para bodyguard itu dan meninggalkan Kim.


Setelah Rara tidak terlihat lagi, Kim berbalik dan nyaris memekik kaget saat melihat Alvin nyaris menabraknya dari arah berlawanan. Cowok itu muncul dengan seorang pria yang berjalan di belakangnya, Martin.


"Loh, Vin? Lo bukannya nungguin Rara di mini garden?" tanya Kim setelah mengatur degup jantungnya yang sempat menggila barusan.


Tapi ternyata ...


"Dengan siapa dia pergi?" tanya Alvin.


"Dengan bodyguard yang lo utus ..., tunggu. Mereka bukan bodyguard suruhan lo?" tanya Kim bingung.


"Nggak. Gue nggak pernah kasih bodyguard buat jaga Rara," kata Alvin, "Ke arah mana mereka pergi tadi?"


Kim melongo. Dalam hati dia merutuk kenapa bisa sebodoh itu membiarkan Rara pergi sendirian bersama para pria yang mengaku sebagai bodyguard suruhan Alvin.


"Mini garden. Kayaknya ada di lantai ini juga," ujar Kim, "Lo perlu bantuan, Vin? Ini salah gue juga karena ngebiarin mereka pergi."


"Lo mending ikut gue aja. Siapa tau lo bisa nenangin Rara nanti."


Kim cepat-cepat mengangguk. Ia segera mengikuti Alvin menuju mini garden.


Sementara itu, Rara yang masih merasa was-was mulai curiga karena tidak melihat keberadaan Alvin di mini garden yang dimaksud. Ia hendak bertanya di mana Alvin ketika salah seorang dari mereka menepi dan Rara melihat siapa yang sebenarnya menunggunya.


"Halo, Tuan Putri," sosok itu tersenyum manis, "Kamu pasti kaget melihatku, bukan?"


Kening Rara berkerut dalam. Pria di hadapannya ini jelas-jelas tidak ia kenal. Perawakannya mirip dengan Kevin, tetapi Rara tau pasti, pria ini bukanlah Kevin. Lagipula Kevin tidak memiliki tato berbentuk bunga lili di lehernya, sementara pria ini memiliki tato tersebut.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Rara mencoba sopan.

__ADS_1


"Ah, ternyata kau melupakanku. Itu wajar, mengingat efek dari kecelakaan dulu pasti membuatmu lupa." Pria itu terkekeh.


"Perkenalkan, namaku Jordan Herdian," ujar pria itu, "Dan aku ... menginginkan benda peninggalan Keenan Alexander yang dia tinggalkan padamu."


"Benda ... peninggalan Keenan?"


"Benar," Jordan mengangguk, "Kamu pasti punya benda peninggalan bocah itu, 'kan? Jangan katakan kamu tidak ingat, Maharani. Terutama karena kamulah yang ditunjuk sebagai bagian dari keluarga Alexander sekarang."


Rara tidak mengerti maksud ucapan Jordan. Dia juga tidak mengerti kenapa setiap ucapan Jordan membuatnya diserang rasa panik berlebihan.


Tidak. Ini bukan rasa panik karena takut. Tapi lebih seperti rasa panik karena ada sesuatu di dalam kepalanya yang mencoba bangun dan menggali apapun yang harus ia ingat secepat mungkin.


"Uh ..."


Tubuh Rara limbung. Dia nyaris jatuh kalau saja tidak ditahan oleh salah seorang bodyguard di sekitarnya. Jordan hanya menatap Rara dengan ekspresi yang tampak biasa padahal ada wanita yang nyaris pingsan di hadapannya.


"Jangan kaget begitu, Nona Maharani," kata Jordan, "Benda yang ditinggalkan Keenan yang ada padamu cepat atau lambat akan didengar oleh orang-orang yang sama sepertiku, mengincar kehancuran keluarga Alexander."


"Apa ..."


Rara meringis. Kepalanya benar-benar terasa sakit sekarang. Napasnya mulai tidak beraturan sebagai efeknya.


"Rara harus pergi dari sini!"


"Apa? Kenapa? Keenan, kenapa kamu keliatan pucat begitu?"


"Rara nggak ngerti. Aku ... bakal ada yang bunuh aku!"


Sekelebatan ingatan itu membuat Rara menjerit. Telinganya berdenging. Dia bahkan tidak memikirkan kalau Jordan masih menatapnya dengan ekspresi yang walaupun terlihat seperti main-main, namun kilatan di matanya mengatakan sebaliknya.


"Kalian, bawa dia," ujar Jordan, "Aku ingin tahu, apa yang akan dilakukan si peniru itu ketika melihat wanitanya kubawa pergi."


Para bodyguard itu memegang kedua lengan Rara yang lemas dan mengikuti Jordan, tepat ketika seseorang berjalan dari arah berlawanan ke arah mereka.


"Ah ...," Jordan menyeringai, "Si peniru akhirnya datang."


 


 


 


 


 


 


Maaf karena lama sekali tidak update.


Sampai jumpa di next chapter, karena Putri kudu nguatin batin untuk bikin Babang Alvin baku hantam. :"D

__ADS_1


__ADS_2