Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 27


__ADS_3

Dua hari kemudian, Rara resmi pindah ke kediaman Alexander. Setelah mengepak beberapa barangnya dari rumah, kini Rara sedang memandangi kamarnya yang bernuansa ungu pucat. Karena Alvin masih berusia delapan belas tahun, mereka harus tidur terpisah. Satu hal yang disyukuri Rara karena mengingat betapa liarnya Alvin di ranjang membuat Rara mendengus kesal.



Bagaimana dia bisa tidur kalau Alvin selalu menendang ke sana-kemari ketika tidur dan sering mengigau hingga membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak?



"Rara?"



Rara menoleh dan mendapati Albert Alexander berdiri di depan pintu kamarnya. Pria paruh baya yang merupakan Alvin versi dewasa itu tersenyum ke arahnya.



"Gimana kamarnya? Bagus?"



"Bagus, kok ... err ..."Rara menggaruk-garuk kepalanya, bingung mau memanggil Albert dengan sebutan apa.



"Kamu bisa panggil saya Daddy seperti Alvin," kata Albert mengetahui pikiran Rara, "Kamu nggak ada niat pergi ke mana-mana? Alvin masih di sekolah jam segini."



Rara menggeleng. Semenjak festival kelulusan, Rara hanya perlu mengurus beberapa hal sebelum dia mendapatkan ijazahnya dan kini dia tinggal mencari atau membuat pekerjaan sendiri.



"Kamu bisa undang temen kamu kemari. Daripada kamu sendirian begini," ujar Albert lagi, "Daddy mau ke perusahaan dulu. Ada rapat yang menunggu."



Rara mengangguk. Satu hal yang sama dari Albert dan papanya adalah ... mereka sama-sama gila kerja!



Albert menepuk kepala Rara dengan sayang sebelum beranjak pergi. Rara sendiri memperhatikan para pekerja yang disewa untuk menata kamarnya sudah selesai bekerja. Ia menyilakan mereka untuk istirahat di lantai bawah dan kemudian mengambil honor mereka dari kepala pelayan Alexander.



Rara mengempaskan tubuhnya di atas kasur berukuran queen size-nya dan menatap langit-langit yang dihiasi lampu kristal. Pandangannya kemudian tertuju pada meja panjang dan manekin hitam yang ada di sudut kamar. Itu adalah pojok kamar yang dicetuskan sendiri idenya oleh Alvin. Di sana dia bisa mengerjakan pekerjaannya mendesain dan membuat baju sesuai keinginannya. Dan bila dia buntu ide, Rara akan pergi ke kamar khusus di mana banyak gaun-gaun dan pakaian yang dirancang oleh mendiang ibu Alvin.



Tengah Rara melamun sambil berbaring, ponselnya berbunyi. Tangannya dengan malas meraih benda pipih nan lebar itu di atas meja dekat tempat tidur dan melihat notifikasi dari Kim. Tanpa pikir panjang, Rara membuka pesan dari sohibnya itu, dan sedetik kemudian dia terduduk tegak, menatap ponselnya seolah-olah benda itu bakal meledak di depan matanya.



Kimbrut



Ra, gue butuh bantuan lo. Urgent banget nih! Gue tunggu di taman kampus, ya!



"Ada apaan si Kim minta bantuan? Nggak biasanya ..." gumam Rara, "Daripada itu, mending gue ke kampus deh. Siapa tau emang beneran penting!"



***



Alvin duduk di kantin sambil membaca buku. Sepiring sandwich isi timun dan daging ayam tersaji di hadapannya bersama segelas jus jeruk yang dari tadi belum tersentuh. Suasana kantin yang ramai tidak dihiraukannya. Alvin masih asyik membaca dan tak terganggu sama sekali dengan kebisingan di sekitarnya.



Alvin baru membalik halaman buku yang dibacanya ketika ponselnya bergetar. Dengan gerakan cepat, cowok itu mengeluarkan benda itu dari saku kemejanya dan melihat ada notifikasi dari nomor tak dikenal.



"Siapa nih? Ganggu kegiatan orang aja."



Alvin mengetuk layar ponselnya dan melihat sebuah pesan yang cukup membuatnya bingung.



+628753986xxxx


__ADS_1


Ini belum berakhir, Alexander. Kami akan merenggut apa yang berharga bagimu.



Kening Alvin berkerut samar. Nomor ini tentu nomor salah satu provider di Indonesia. Tetapi yang membuatnya bingung adalah bunyi pesan itu. Alvin mencernanya beberapa lama sebelum kemudian mendengus.



"Rupanya mereka mulai bergerak," gumam cowok itu, "Kalo gitu, penjagaan pada Rara perlu diperketat."



Alvin mengetuk-ngetuk layar ponselnya dan kemudian menghubungi Martin, "Martin, Rara masih di rumah? Kalo dia lagi di luar, perintahkan beberapa orang pengawal untuk mengawasinya. Mereka mulai bergerak, dan Rara pasti jadi target utama."



"Baik, Tuan Muda. Apa saya perlu memerintahkan Jodi untuk mengawasi Nona Maharani?"



"Tidak perlu. Saat ini mereka pasti sedang menyusun rencana," balas Alvin, "Setelah sekian lama akhirnya mereka muncul juga. Jangan sampai pengawasanmu dan yang lain lengah. Rara harus selamat apa pun yang terjadi."



"Baik, Tuan Muda."



Alvin memutus sambungan telepon dan kemudian kembali membaca. Bisik-bisik di sekitarnya kembali membuat Alvin terusik. Dia mendongak dan melihat Veranda berjalan mendekatinya dengan senyum manis.



Uh-oh, this can not be good, for sure.



***



Rara sampai di kampus lima belas menit setelah menerima pesan dari Kim. Dia langsung pergi ke taman kampus yang didominasi oleh rerumputan yang dipangkas rapi dan cocok banget jadi tempat tidur alami. Taman itu juga sering digunakan untuk pemotretan model-model dadakan anak-anak fakultas desain. Tetapi sekarang bukan saatnya bernostalgia. Mata Rara meneliti taman itu dengan teliti dan menemukan Kim yang duduk di bawah salah satu pohon rindang sambil memandang ke depan.



"Kim!"




"Ra, tolongin gue, Ra ..." kata Kim, "Gue bingung gimana lagi ngeyakinin bokap supaya nggak jodohin gue sama Shinji."



"Emang kenapa lagi? Rencana lo sama Mister Cha nggak berhasil?"



"Berhasil. Berhasil banget malah," Kim mengangguk, "Tapi itu yang jadi masalahnya."



"Lah kok?"



"Bokap nggak asal terima Daniel jadi pasangan gue. Oke, bukan pasangan beneran sih, Cuma ya ... gitu," Kim meringis, "Intinya, bokap gue nggak seratus persen setuju gue punya pacar selain laki yang dijodohin sama gue itu."



"Lalu masalahnya apa, Kim? Lo dari tadi ngomongnya muter-muter." Rara mendesah, agak kesal juga dengan sifat Kim yang telmi mendadak kalo lagi panik.



"Bokap gue minta Daniel sama Shinji jalanin misi."



"Ha?" Rara melongo mendengarnya, "Lo kata militer pake misi segala? Mereka mau dimasukin ke militer gitu?"



"Aish, bukan itu ...," Kim menepuk keningnya mendengar ucapan Rara yang lebih telmi dari dia, "Bokap minta Daniel sama Shinji narik perhatian gue. Istilahnya, kami kudu bersama-sama selama dua puluh empat jam nonstop dan itu disiarin di seluruh Indonesia!"



"Oh ... disiarin ... wait, WHAT?!"

__ADS_1



Rara menatap wajah Kim yang keliatan banget nelangsa. Sohibnya yang sering mencari bahan lelucon dan jadi badut di kelasnya kini memasang raut wajah seolah besok bakal kiamat.



Eh, bentar. Emang kiamat bagi Kim.



"Bentar, bentar ..., bokap lo minta Mister Cha sama Shinji narik perhatian lo selama dua puluh empat jam, dan itu disiarin ke seluruh Indonesia?" tanya Rara memastikan, "Bokap lo punya koneksi orang entertainment, ya?"



"Lo lupa kalo nyokap gue model? Koneksi beliau lebih banyak dari bokap kalo urusan dunia entertainment, dan nyokap gue setuju-setuju aja dengan ide bokap gue." Jawab Kim.



"Enak dong, masuk TV," celetuk Rara.



"Enak pale lo, Ra. Gue stress mikirin ini!"



Rara terkekeh. Dia memang tau kalo ibu Kim adalah mantan model dan punya koneksi yang cukup besar di dunia entertainment Indonesia.



"Ambil hikmahnya aja, Kim. Siapa tau lo malah makin deket sama Mister Cha. 'Kan elo dari dulu naksir dia?"



"Iya sih ..., eh kok malah ngomongin itu? Ini gimana nasib gue yang bakal dikuntit kamera tiap hari?"



"Emang proposalnya udah disetujuin? Seingat gue kalo mau bikin program gitu kudu pake proposal dan persiapannya butuh waktu sekitar dua bulan sebelum program tayang." Kata Rara.



"Bokap dan nyokap udah ngatur semuanya. Katanya tinggal shoot aja," jawab Kim, "Huweeee ... gue stress ini ..."



"Berapa lama lo bakal dikuntit kamera, Kim?" tanya Rara lagi.



"Empat bulan. Dan setiap gerak-gerik dan kegiatan kami bertiga bakal diawasin sama si mata satu." Kim mendesah kasar.



"Nah, trus lo mau minta bantuan apa dari gue?"



Kim seketika terdiam mendengar pertanyaan Rara, "Iya, ya ... gue lupa soal itu."



"Anjir. Minta tolong apaan aja lo lupa. Gimana sih?"



"Nggak, nggak ..., gue serius. Gue emang mau minta tolong lo, soalnya Cuma lo yang bisa gue harepin buat yang satu ini."



"Apaan?"



"Ajarin gue girly make-up dan nyari dress ato pakaian apapun yang cocok buat gue pakai selama program itu."



"What? Lo dan dress nggak bisa disatuin, Kim. Lo 'kan paling anti pake dress."



"Mo gimana lagi, Ra? Gue kudu berpenampilan feminin di beberapa kesempatan dan gue nggak bisa kasih adu banding dengan bonyok gue," ujar Kim, "Karena itu, Ra ... bantuin gue."



__ADS_1


__ADS_2