Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 08


__ADS_3

Dengan perdebatan sengit yang sekali lagi dilakukan, akhirnya kali ini Rara yang menang soal Alvin yang bakal mengantar-jemput dia mulai besok. Walau nggak sepenuhnya menang karena dia harus ikut Alvin kalo sudah waktunya jam pulang, tapi nggak papa. Seenggaknya dia nggak perlu diantar tuh bocah tiap hari.



Rara melepas mahkota yang menghiasi rambutnya dan menaruh benda mungil itu di atas meja. Kakinya melangkah menuju kamar mandi. Dilepasnya gaun yang terasa berat itu dan menggantinya dengan piyama satin yang sebelumnya sudah disiapkan salah satu pelayannya di dalam kamar mandi. Ia juga menghapus make-up yang masih menempel di wajahnya.



Setelah melakukan kegiatan rutinnya sebelum tidur—mencuci muka dari sisa make up dan menggosok gigi, Rara keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap melemparkan diri ke kasur ketika dia teringat hadiah yang diberi oleh Lisa.



Cepat-cepat Rara menghampiri meja belajarnya, di mana kotak hadiah dari Lisa bertengger manis di sana.



"Memangnya Kak Lisa kasih hadiah apa, ya?"



Rara duduk di kursi belajarnya dan membuka pita yang menghiasi kotak tersebut. Dibukanya kotak berwarna hitam itu dan melihat sebuah kalung dengan bandul dari bola kaca yang berisi lima bunga dandelion.



"Wuaaa... lucu!!"



Rara langsung mengeluarkan kalung itu dari dalam kotak dan melihat sebuah kartu di bawahnya. Ia mengambil kartu itu dan membaca tulisan tangan Lisa.



Congrats buat pertunangannya, ya, Rara sayang. Nggak nyangka kamu yang bakal ngedahuluin aku dan kakakmu. Tapi, nggak papa, seenggaknya, kamu udah ada calon pendamping, jadi nanti bisa bikin double date kalo kita kumpul-kumpul.



Ngomong-ngomong, ini kalung dandelion buatan kakak sendiri. Kakak sempat belajar bikin kalung-kalung lucu semacam ini dari temen kakak. Semoga kamu suka.



Kakak sengaja pilih dandelion karena katanya dandelion bisa bikin permintaan kita terkabulkan kalau dilepas ke udara. Kakak nggak tau itu bener atau nggak, tapi harapan kakak, kamu bisa langgeng terus dengan calon suamimu nanti.



Salam sayang,



Lisa



Rara tersenyum lebar membaca isi surat itu. Dengan segera, ia memasang kalung itu di lehernya dan menghampiri cermin yang terpasang di lemari pakaiannya. Dilihatnya kalung itu memantulkan cahaya lampu kamarnya dan lagi-lagi ia tersenyum lebar.



Kak Lisa bener-bener tau cara nyenengin gue. Andai Kak Darren peka dikit aja, bakal gue kasih confetti deh kalo mereka merit!



Rara membereskan kotak hadiah dari Lisa dan mengempaskan diri ke kasur ketika dia mendengar ponselnya berdering. Ia berguling dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja di dekat tempat tidur dan melihat ada notifikasi Line dari Alvin.



Tanpa memikirkan apa yang dikirimkan pemuda itu, Rara membuka pesannya. Matanya membelalak kaget ketika melihat sebuah foto yang dikirimkan Alvin beserta sebaris pesan di bawahnya.



"Selamat tidur, dan semoga mimpi indah."



Mata Rara kembali menatap foto yang dikirimkan Alvin dan tersenyum lebar. Itu foto sebuah boneka beruang putih raksasa yang memegang boneka hati berwarna merah. Dan Alvin duduk di depan boneka itu sambil tersenyum tipis.



Sebuah pesan kembali muncul di bawah foto tersebut.



"Mimpiin gue kalo bisa."



Lagi-lagi Rara hanya tersenyum melihat isi pesan singkat itu.



"Gila lo." Gumam gadis itu.



***



Pagi datang dan Alvin baru saja merasa dia tidur selama tiga puluh menit.



Ia mengerang dan menaikkan selimut sampai ke kepalanya. Hari ini masih hari libur, jadi tidak apa-apa bangun sedikit terlambat, kan?



Tetapi rencana itu harus ditunda karena dia mendengar suara seorang pelayan yang meminta izin untuk masuk ke kamarnya.



Alvin kembali mengerang dan menyibak selimut. Dikenakannya sandal dalam rumah berwarna putih di atas karpet beludru hitam di bawah tempat tidurnya dan berjalan untuk membukakan pintu.



"Anda pasti berencana untuk bangun terlambat lagi."



Itu ucapan pertama yang ia dengar dari seorang pelayan—atau lebih tepatnya, kepala pelayan di mansionnya, Hannah Latiana. Raut wajah kepala pelayan itu tampak geli melihat tuan mudanya baru setengah sadar dari tidur.



"Ah, Hannah..."



Alvin menguap dan agak menyingkir. Diantara semua pelayan yang dipekerjakan di mansionnya, hanya Hannah dan Martin, pengawalnya, yang bisa masuk ke area pribadinya tanpa harus dibentak oleh Alvin.



Hannah masuk dan melihat keadaan kasur yang seperti habis diamuk badai dan menggeleng-gelengkan kepala.



"Saya akan menyuruh pelayan-pelayan lain untuk menyiapkan air mandi untuk Anda." Kata Hannah, "Atau Anda ingin sarapan lebih dulu?"



"Dad sudah pergi?" tanya Alvin balik.



"Tuan Besar sudah pergi beberapa menit yang lalu."



Alvin mengangguk pelan. Dia menatap boneka beruang putih besar di sudut kamarnya. Boneka yang ia foto untuk Rara kemarin malam.



Hannah menekan intercom di kamar Alvin dan menyuruh beberapa pelayan untuk menyiapkan air mandi dan sarapan. Setelahnya, wanita paruh baya itu membuka korden, membiarkan sinar matahari masuk dan membuat Alvin memicingkan mata karena silaunya.



"Aaaa... silau..."



"Jangan bertingkah seperti anak-anak, Tuan Muda, usia Anda sudah delapan belas tahun."



Alvin tersenyum lebar dan mengedikkan bahu.



Hanya Hannah, atau Martin yang bisa berkata seperti itu padanya selain ayahnya, karena wanita itu sudah melayani keluarganya sejak ia masih kecil, bahkan menurut cerita almarhumah ibunya, Hannah adalah wanita yang diselamatkan oleh ayahnya dari sebuah kedai kecil yang nyaris bangkrut dan kemudian dipekerjakan untuk merawat dia dan kakaknya. Bila berhadapan dengan Alvin, ayahnya, maupun para pelayan lain yang lebih muda, Hannah bisa sangat lembut namun tegas di saat bersamaan karena kebiasaannya untuk menerapkan kedisiplinan.



Sementara Martin... pemuda yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu adalah mantan keamanan dari sebuah rumar bordil. Martin memang memiliki tubuh yang kekar dan cukup membuat para wanita menoleh dua kali kalau disandingkan dengan wajahnya yang juga tampan. Martin memangkas habis rambutnya hingga dia bisa disejajarkan dengan pemeran utama di film Fast and Furious itu.



Beberapa pelayan masuk ke dalam kamar Alvin dan langsung menuju kamar mandi, mengerjakan tugas mereka. Satu pelayan datang belakangan sambil mendorong kereta makanan berisi beberapa potong roti, piring-piring berisi sayur, sup, dan sejenis kentang tumbuk, dan juga seperangkat alat minum teh.



Alvin mengangguk pelan pada pelayan tersebut dan meraih ponselnya. Dilihatnya jadwalnya hari ini kosong dan itu artinya dia masih bebas berleha-leha sebelum pergi ke suatu tempat atau mungkin pergi ke rumah Rara? Sepertinya itu bisa menjadi ide yang bagus.



Sepuluh menit kemudian, air mandi untuknya sudah siap. Ia langsung membersihkan diri dan setelahnya mengenakan kaus lengan pendek berwarna biru tua dan celana jins. Rambutnya yang masih basah karena keramas dibiarkan tanpa diberi handuk, membuat beberapa tetes air jatuh dari ujung-ujung rambutnya.



Jika saja para pelayan lain melihat penampilan Alvin yang seperti ini, mungkin mereka sudah pingsan di tempat karena pemuda itu terlihat dua kali lebih tampan dari biasanya.



Sayangnya yang ada di kamar Alvin hanya Hannah dan juga pelayan yang tadi membawakan sarapan pemuda itu.



Eh, tapi sama aja sih. Kan pelayan yang satu itu juga usianya masih muda, sepantaran dengan Rara, dan sekarang sedang mengurut dada agar tidak jejeritan histeris di depan tuannya.



Alvin duduk di kursi dan menyumpit sayur-sayuran hijau rebus dan memakannya sambil tangannya yang lain mengoperasikan ponsel.



"Hannah, hari ini nggak ada yang berencana untuk datang kemari secara mendadak, kan?" tanya Alvin dengan mulut penuh.



"Jika saya tahu, itu artinya bukan kedatangan mendadak." Balas Hannah.



Alvin hanya terkekeh dan kembali menyuap satu suapan besar sayuran hijau.



Hannah menatap Alvin yang tampak santai menikmati sayur-sayuran hijau yang disediakan. Entah kenapa pemuda itu lebih memilih memakan sayuran-sayuran yang dulu dibencinya dan mengabaikan sup krim ayam dan jamur yang disediakan bersama sayur-sayuran itu.



"Anda ingin dibuatkan omelette rice?" tanya Hannah lembut.



"Tidak perlu. Sayur-sayuran ini cukup untukku." jawab Alvin, "Aku sedang tidak berselera untuk sekedar menyantap omelette rice buatanmu. Maaf, Hannah."



"Tidak apa, tapi nanti siang saya akan membuatnya dan anda harus memakannya. Mengerti?"



Alvin tersenyum tipis. Dia tidak akan bisa menolak perintah Hannah yang sudah ia anggap seperti ibu keduanya itu.



Sambil terus menyantap sayur-sayuran rebus, Alvin mencoba menyusun kembali jadwalnya yang berantakan untuk seminggu ke depan sebelum kembali sekolah.



Setelah sarapan, ia segera pergi ke bawah, menuju rumah kaca tempat koleksi tanaman-tanaman kesukaan ibunya berada. Kebiasaan rutinnya setiap hari setelah bangun, mandi, dan sarapan adalah merawat tanaman-tanaman kesayangan mendiang ibunya itu jika ia memiliki waktu.



Alvin membuka pintu rumah kaca yang terletak di dekat mansion para pelayan tinggal dan menghirup aroma bunga-bunga yang sedang mekar. Rasa rindu sempat menyelip di hatinya, tetapi Alvin buru-buru menepisnya.



"Selamat pagi." pemuda itu tersenyum lebar.



Dia mengambil sebuah penyiram tanaman di dekatnya dan mengisinya dengan air. Sambil bersenandung, dia menyirami tanaman-tanaman di sana satu persatu. Sesekali dia memeriksa apakah ada daun-daun atau kelopak bunga yang sudah layu. Jika ada, dia segera memetiknya dan menaruhnya ke dalam karung kecil yang ia bawa. Nantinya daun-daun layu ataupun kelopak bunga yang menguning itu akan ia sebarkan di halaman belakang mansionnya. Seenggaknya, dia bisa mendapatkan pupuk kompos gratis, kan?



"Tuan,"



Alvin mendongak dari kegiatannya menyirami tanaman dan menoleh kearah pelayannya yang masuk ke rumah kaca.



"Ada yang mencari Tuan," kata pelayan itu sambil menunduk.



"Siapa?" tanya Alvin.



"Katanya kenalan Tuan. Dia laki-laki... eh, perempuan... eh, bukan juga. Pakaiannya seperti laki-laki sih, tapi saya nggak yakin juga dia perempuan, soalnya nggak ada dadanya gitu..."



Alvin mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan pelayannya itu, kemudian mengedikkan bahu.



"Dia ada di ruang tamu, kan?"


__ADS_1


Pelayan itu mengangguk cepat.



Alvin menaruh alat penyiram tanaman di tangannya dan kemudian berjalan ke dalam mansion. Ia sempat berpapasan dengan beberapa pelayan yang berjalan melewatinya.



Tiba di ruang tamu, Alvin langsung tau siapa tamu yang disebut 'tak berdada' tadi.



Siapa lagi kalo bukan Kim?



Kim yang sedang duduk di sofa dan asyik membuka-buka majalah fashion di tangannya, mendongak merasakan Alvin sudah datang. Ia tersenyum lebar dan meletakkan majalah di tangannya ke atas meja.



"Hai, Vin."



"Hai juga. Gimana bisa tau rumah gue?" tanya Alvin.



"Gampang, gue tinggal cari alamat lo lewat Google Maps." Balas Kim, "Ngomong-ngomong, lo baru bangun?"



"Ketauan banget ya?"



Kim tertawa sambil menunjuk rambut Alvin yang setengah kering.



"Rambut lo masih rada basah. Gue tebak lo bangun satu jam yang lalu. Bener nggak?"



Alvin hanya garuk-garuk kepala, kemudian duduk di sofa lain di dekat Kim.



"So, apa yang bikin lo ke sini?"



"Gue pengen ke rumah Rara, lo mau ikut?" tanya Kim balik.



"Kenapa nggak sendiri ke sana?"



"Gue pengen bikin kejutan." Kim tersenyum lebar seolah merencanakan sesuatu, "Dan gue pengen lo ikut andil dalam rencana gue buat bikin kejutan."



"Rara itu bukan tipe morning person. Dia nggak bakal bisa bangun pagi kalo nggak dibangunin sama pelayannya ato gue sendiri. Dan karena sekarang masih masa-masa liburan, tuh anak pasti masih molor di kasurnya."



"Hooo..."



"Mo ikut nggak, Vin? Lumayan loh, bisa mantengin calon bini lagi tidur dari deket." Kata Kim sambil menaik-naikkan kedua alisnya.



Alvin tertawa kecil sambil mengangguk.



"Bolehlah. Gue juga lagi nggak ada kerjaan, nggak ada jadwal juga." Kata Alvin.



"Sip. Kalo gitu, sekarang aja kita ke sana."



Kim berdiri sambil memainkan kunci mobil di tangannya, kemudian menatap Alvin.



"Lo ikut mobil gue ato pake mobil sendiri?" tanya gadis itu.



"Gue pake mobil sendiri aja. Lagian ada benda yang mau gue bawa ke tempat Rara." Jawab Alvin.



"Oh, oke." Kim manggut-manggut, "Gue tunggu di depan, ya?"



Alvin mengangguk dan segera beranjak ke kamarnya. Ia menghampiri boneka beruang putih besar di sudut kamarnya dan menekan intercom, meminta beberapa pelayan pria untuk membawakan boneka itu masuk ke dalam mobilnya.



Setelahnya, Alvin mengambil jaket jins yang tergantung di salah satu rak pakaiannya dan mengambil dompet dan ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia sudah berdiri di depan pintu rumahnya, di mana mobil Honda Jazz Kim sudah bertengger di samping Ford Fiesta hitam miliknya.



Kim yang sudah duduk manis di bangku pengemudi mobilnya mengisyaratkan untuk mengikutinya.



Alvin masuk ke dalam mobilnya, melihat sekilas ke kursi belakang lewat kaca di atas dasbor mobilnya. Boneka putih itu sudah duduk manis di sana.



Dua mobil itu lalu meninggalkan kediaman Alexander bersamaan.



***



Rasanya Rara baru tidur selama lima belas menit ketika dia mendengar suara gaduh di dekatnya dan mengharuskan ia membuka mata.



Begitu membuka matanya, Rara dikejutkan dengan penampakan boneka beruang putih besar yang duduk manis di samping tempat tidurnya. Nyaris ia menyangka boneka itu makhluk jadi-jadian yang berpakaian badut dan mencoba menakutinya.



Asal tau aja, Rara agak trauma kalau dekat-dekat sesuatu yang berhubungan dengan badut. Soalnya dia pernah tersesat di taman bermain dan saat dia lagi menangis ketakutan, seorang pekerja yang mengenakan pakaian badut menghampirinya dan Rara malah menangis makin kencang karena mengira badut itu mau menculiknya.



Alasan konyol sebenarnya, tetapi Rara tetap nggak suka kalo deket-deket sama yang namanya badut.




"Nona Kim dan Tuan Alvin datang berkunjung, Nona." Ujar pelayan itu.



"Heh? Kim sama Alvin?"



Rara mengerutkan keningnya. Kenapa dua orang itu pagi-pagi sudah bertandang ke rumahnya tanpa bilang-bilang?



"Kenapa pagi-pagi mereka datang ke sini?" tanya Rara.



"Sekarang sudah jam setengah 11, Nona." Ujar pelayannya.



...



...



...



...



...



...



Jam sebelas??



Rara langsung melihat jam di atas meja dekat tempat tidur. Jam dengan bentuk buah apel merah itu menunjukkan jarum pendek di angka jam sepuluh dan jarum panjang di angka enam.



"Oh dear."



Rara menepuk keningnya dan menyuruh pelayan itu segera membersihkan tempat tidurnya sementara ia buru-buru ke kamar mandi. Tapi, Rara pantang mandi asal basah. Gadis itu membersihkan tubuhnya dengan teliti dan memilih mengenakan kaus hijau mint tanpa lengan dan celana ketat berwarna hitam selutut setelah ia keluar dari kamar mandi.



Ia menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya menjadi ponytail sebelum kemudian memakai pelembap pada wajahnya dan lip gloss di bibirnya. Nggak perlu pake bedak atau semacamnya, toh dia Cuma di rumah, bukannya mau ke kondangan.



Setelah merasa dandanannya cukup sopan, Rara keluar dari kamarnya dan menuju taman belakang, karena menurut pelaynnya tadi, Kim dan Alvin menunggu di sana.



Sampai di taman belakang, Rara melihat Alvin dan Kim lagi asyik mengobrol sambil ditemani rujak buah mangga dan jeruk. Kayaknya yang mereka obrolin seru, sampai-sampai nggak sadar kalo Rara udah berdiri di belakang mereka.



Alvin yang menyadari keberadaan Rara pertama kali.



"Wah... bener kata Kim, lo sering telat bangun rupanya." Kata pemuda itu.



Rara menaikkan sebelah alisnya dan duduk di sebelah Kim. Tangannya bergerak hendak mencomot satu buah mangga di atas piring ketika tangan Kim menepis tangannya.



"Aish, apaan sih, Kim?"



"Lo belum makan pagi. Sebaiknya lo minta pelayan buatin sarapan dulu buat lo." Kata sohibnya itu.



"Yeee... ini kan udah siang?"



"Well, let's say it brunch, then." Kata Kim, "Udah, buruan sana panggil pelayan lo!"



Rara mencibir, kemudian meminta salah seorang pelayan yang lewat untuk membuatkannya sepiring nasi goreng dan juga telur dadar porsi besar untuknya. Alvin yang mendengarnya hanya menaikkan sebelah alisnya.



"Kenapa, Vin? Heran nafsu makan Rara kedengaran gede buat cewek seukuran dia, ya?" tanya Kim.



"Nggak juga sih... tapi apa dia emang sanggup makan sebanyak itu?"



"Gue bisa makan tiga piring nasi goreng tanpa perlu khawatir merasa gemuk." Balas Rara mendahului Kim. "Nafsu makan gue emang besar, tapi badan gue tetep aja kek kurcaci gini."



"Heh, lo itu bukannya kecil kek kurcaci, Ra. Lo itu langsing, dan tanyakan sama cowok-cowok yang ngincer lo di kampus, apa lo termasuk keturunan kurcaci ato nggak kalo badan lo aja singset kek model di iklan-iklan produk diet."



Alvin terkekeh mendengar ucapan Kim sementara Rara mencibir tanpa suara.



"Oh ya, ngapain kalian ke sini pagi-pagi—"



"Ini udah mau siang, non..." kata Kim.



"Oke, oke... gue ralat, ngapain kalian ke sini siang ini?" ujar Rara.

__ADS_1



"Cuma mau ngebangunin elo dari tidur cantik lo yang nggak bakal keputus kalo nggak dibangunin." Kata Kim tersenyum lebar.



"Yeee..."



"Eh, lo udah ketemu Mr. Bear nggak?" tanya gadis tomboy itu.



"Mr. Bear? Siapa?"



"Boneka beruang putih gede yang dibawain Alvin tadi." kata Kim, "Tadi kami minta pelayan buat langsung naroh boneka itu di kamar lo."



"Ooo... boneka itu." Rara manggut-manggut.



"Iya, boneka yang itu." kata Kim, "Jadi? Lo suka dengan kejutan dari Alvin?"



"Itu boneka yang sama kayak yang di foto kemarin malam, kan, Vin?" tanya Rara pada Alvin.



Alvin yang baru mencomot sepotong jeruk ke dalam mulutnya mengangguk mengiyakan.



"Hah? Emang lo udah pernah liat boneka itu, Ra?"



"Udah. Kemarin Alvin kirim fotonya ke gue." kata Rara, "Tapi gue nggak tau itu bakal dikasih buat gue." kata Rara



Kim manggut-manggut mengerti.



Beberapa saat kemudian, pelayan mengantarkan makanan Rara dan memberikan satu meja tambahan.



"Kalian udah makan?" tanya Rara.



"Gue udah makan. Dan lo tau sendiri gue nggak terlalu suka nasi goreng." Kata Kim.



"Gue juga udah kok. Makan sayur." Kata Alvin.



"Sayur? Tanpa nasi ama lauk?"



Alvin mengangguk.



"Lo lagi diet, Vin?" tanya Rara.



"Badan udah sekurus lidi gini dibilang diet." Kekeh Alvin, "Nggaklah. Gue punya kebiasaan makan sayur-sayuran rebus sama minum vitamin tiap pagi."



"Emang enak ya makan sayur rebus nggak pake nasi ato lauk?" tanya Kim.



"Kalo terbiasa sih, enak-enak aja." jawab Alvin.



"Gue nggak bisa bayangin gimana rasanya makan sayur rebus tanpa bumbu." Ujar Kim.



Alvin mengedikkan bahu sambil matanya menatap Rara yang asyik menikmati nasi gorengnya.



"Beda banget ya ama Rara. Nih anak kalo makan nggak kira-kira. Apa aja ditelan. Mungkin kalo dia disodorin kayu berlapis krim dan coklat dia bakal makan itu tanpa pikir panjang." Celetuk Kim.



Rara mendelik dan menyikut lengan Kim yang sudah tertawa terbahak-bahak.



Alvin juga ikut tertawa. Dia suka melihat Kim dan Rara akrab satu sama lain.



"Lo terus aja ngejelekin gue. Ntar lo dapet karma juga." Kata Rara setelah menelan nasi goreng di mulutnya.



"Well, seenggaknya gue nggak malu-maluin kayak lo, Ra. Lo makan kayak kuli bangunan aja di depan calon laki lo gini." Balas Kim.



Rara lagi-lagi mencibir, tetapi tetap menyuap nasi gorengnya.



"Eh, Vin, kalo lo mau, cicipin deh telor dadarnya. Kan ini mumpung gue minta dibikinin porsi gede." Kata Rara.



"Nggak deh. Gue nanti aja makannya." Tolak Alvin.



"Bener?"



"Iyeee... lo makan aja dulu sampe kenyang, baru ngomong." Ujar pemuda itu.



Rara mengedikkan bahu mendengarnya.



"Gue ngeliat kalian berdua kayak ngeliat kakak lagi nasehatin adeknya supaya kalo makan nggak boleh berantakan aja. Kalo gini orang lain liat, mungkin mereka bakal mikir si Alvin yang 'kakak' sementara lo 'adik'nya, Ra. Lo kecil gini."



Rara memutar bola matanya. Niatnya dia pengen menyikut Kim lagi, tapi batal karena dia tau Kim nggak bakal berhenti nyerocos.



Jadi dia lebih memilih focus pada makanannya.



Lima belas menit kemudian sepiring nasi goreng dan telor dadarnya sudah habis disantap. Rara meneguk jus jeruknya dan menghela nafas puas.



"Gue kenyang!"



"Ya iyalah lo kenyang. Wong porsi tiga orang lo makan sendirian." Kata Kim.



"Kim, mulut lo perlu gue lakban ato gue jahit? Nyerocos mulu dari tadi." balas Rara.



"Kalo lo lakban ato jahit mulut gue, seenggaknya tangan gue yang bakal nyerocos di depan muka lo, Ra." Kim tertawa.



Rara mengeluh. Begini nih kalo punya sohib yang kenal diri kita luar dan dalem. Sepedas ato senyelekit apapun kita bicara, pasti bakal dibalas dengan balasan yang nggak kalah pedasnya, walau yang mereka bicarakan itu bercanda.



"Nah, gue udah selesai makan, kita ngobrolin apa?" tanya Rara.



"Pede amat ngomong pake 'kita'. Tugas akhir lo udah selesai belom?"



"Kim, plis banget, jangan ingetin gue tentang tugas akhir gue." keluh Rara.



"Kalian berdua satu jurusan, kan?" tanya Alvin.



"Yep. Tapi gue udah nyerahin draft kasar rancangan gue. Rara aja yang masih jalan di tempat, katanya dia masih gali inspirasi di dalam otaknya." Ujar Kim.



"Hmmm..."



"Gue udah ngerjain kok, tapi gue masih nggak pede dengan sketsa gue. Desainnya agak gimana gitu." Kata Rara.



"Halaah, bilang aja lo mau ngulur waktu, Ra. Bentar lagi kita lulus, jangan ditunda mulu napa?"



"Kim!!"



Kim dan Alvin tergelak melihat raut wajah Rara yang mengambek. Gadis itu lebih mirip anak kecil kalo sudah mengambek kayak gini.



"Kalo gitu, bawa sketsa-sketsa kasar lo kemari, biar gue dan Alvin yang pilihin. Lo mau bikin tema wedding party, kan?" kata Kim, "Nah, berhubung lo berdua ini mau nikah akhir tahun nanti, jadi anggap aja lo bikin gaun pengantin buat lo sendiri, Ra."



"Diihh..." Rara mencebik, "Tapi, bentar dulu deh, gue ambil dulu buku sketsa gue di kamar."



Rara melesat masuk kembali ke dalam rumahnya dan meninggalkan Kim serta Alvin yang hanya bisa geleng-geleng kepala.



"Kayaknya lo harus sabar deh kalo beneran nikah dengan Rara, Vin." Kata Kim, "Rara itu tipe cewek yang nggak mau dikekang dan lebih seneng kalo dibiarin melanglang buana entah ke mana tanpa pengawasan. Dan yang terpenting, dia itu orangnya pelupa."



"Lo ngasih wejangan ke gue nih?" tanya Alvin.



Kim terkekeh mendengar pertanyaan Alvin.



"Gue serius nih. Gue Cuma mau mastiin lagi, kalo lo bener-bener bisa jaga Rara." Kata Kim dengan nada yang lebih serius. "Kalo lo Cuma mau mainin Rara, gue pastiin lo bakal berhadapan dengan gue, nggak peduli lo itu udah dijodohin sama Rara ato nggak."



"Wow, wow... easy... gue nggak bakal ngelakuin hal itu, kok, Kim." Kata Alvin tertawa. "Gue nggak bakal tega ngerjain cewek macam Rara. Dia itu udah kayak malaikat bagi gue, jadi lo nggak perlu khawatir. Gue tau kok kekurangan dan kelebihan dia itu apa."



"Lo janji?" tanya Kim.



"Gue janji. Lagian gue nggak mungkin nyakitin Rara karena dia emang harus gue jaga." Jawab Alvin.



Kim mengamati raut wajah Alvin yang tampak tak berdosa itu, kemudian mengangguk.



"Gue pegang kata-kata lo, Vin. Tapi, kalo sampe gue tau lo jadi alasan kesedihan Rara, gue nggak bakal segan buat nendang lo jauh-jauh dari dia."



"Iya, gue tau kok... lo kedengaran kek lesbian aja kalo gini." Ujar Alvin.



"Gue udah kebal denger omongan kayak gitu. And as your information, I'm not lesbian. Gue masih cewek normal walau penampilan gue yang kagak normal."



Alvin Cuma tergelak mendengar jawaban Kim.



__ADS_1


__ADS_2