Pasutri Beda Umur

Pasutri Beda Umur
Chapter 29


__ADS_3

Rara mendatangi Kevin yang menunggu di ruang tamu. Cowok itu langsung berdiri ketika Rara menghampirinya.



"Ada apa Kak Kevin kemari?" tanya Rara, "Kalo mau nyari Kak Darren, langsung aja ke kantornya, biasanya dia ada di perusahaan jam segini."



"Nggak. Gue nggak nyari Darren, kok. Gue emang nyari kamu," Kevin tersenyum.



Rara memiringkan kepalanya. Seorang pelayan menyajikan minuman untuk mereka. Kim dan Rara duduk di sofa yang sama sementara Kevin duduk di seberang mereka.



"Pertama-tama, aku mau ngucapin selamat. Congratulation for your wedding," kata Kevin, "Aku nggak nyangka kamu bakal nikahin Alviano."



"Err ..., soalnya kami udah ditunangkan. Jadi ya harus nikah, 'kan?" kata Rara.



Kevin tersneyum. Ia menyeruput teh yang tersaji di depannya sebelum kemudian sorot matanya berubah serius, "Ra,"



"Hm?"



"Kamu senang menikah dengan Alviano?"



Pertanyaan itu membuat Rara diam, "Maksud Kakak apa?"



"Kamu bahagia dengan pernikahan kamu yang terkesan buru-buru ini?" tanya Kevin lagi, "Kalian nikah itu kayak ... lagi naik roller-coaster, terlalu cepat kalo menurutku. Apalagi Alviano masih sekolah, 'kan?"



"Dia udah lulus kuliah di luar negeri," kata Rara, "Kurasa nggak masalah juga dia masih sekolah ato nggak."



Kevin seakan tertohok dengan pernyataan Rara. Ia berdeham dan menatap Rara serius setelahnya, "Sebenarnya aku ke sini bukan mau ngomongin pernikahan kamu. Aku Cuma mau tanya, apa kamu masih punya benda peninggalan Keenan?"



"Keenan?" kening Rara berkerut, "Ada. Memangnya kenapa Kak Kevin nanya itu?"



"Bisa perlihatkan padaku?"



Kali ini Rara merasa benar-benar aneh. Kenapa Kevin mau melihat benda peninggalan Keenan? Bukannya Rara nggak mau kasih liat, hanya saja kesannya tidak sopan menanyakan benda-benda peninggalan seseorang yang sudah tiada.



"Kenapa Kak Kevin mau liat benda peninggalan Keenan?" tanya Kim, menyuarakan pertanyaan di benak Rara.



Kevin menatap Kim sebentar, "Ada yang mau kupastikan. Dan itu berhubungan dengan benda peninggalan Keenan yang ada pada Rara."



Kim dan Rara saling pandang mendengar jawaban Kevin yang sedikit membingungkan. Tetapi akhirnya Rara meluluskan permintaan Kevin. Ia kembali ke kamarnya dan mengambil kotak berisi kalung yang dulu pernah diberikan padanya ketika berkunjung ke panti asuhan. Rara kembali ke ruang tamu dan memperlihatkan kalung itu pada Kevin.



Tetapi reaksi Kevin benar-benar membuat Rara dan Kim terkejut. Cowok itu awalnya kelihatan biasa saja, bahkan ketika memeriksa kalung itu, Kevin tampak serius, namun setelah mengamati kalung itu beberapa lama, ada ekspresi tak percaya di wajah cowok itu.



"Ra, kamu benar-benar dapat ini dari Keenan, 'kan?"



"Iya." Rara mengangguk, tidak mengerti dengan reaksi Kevin yang agak jauh dari perkiraannya.



Ia berpikir Kevin akan tampak sedih atau apa, karena Rara baru ingat kalau usia Keenan dan Kevin pasti seumuran bila laki-laki itu masih hidup.



Kevin mengamati lagi kalung di tangannya dan meletakkan benda itu kembali ke dalam kotak, "Simpan benda ini baik-baik. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kalo kamu punya benda ini."

__ADS_1



"Emang kenapa, sih, Kak? Itu 'kan Cuma kalung biasa," kata Rara.



"Kalung itu bukan kalung biasa. Pasangan kalung itu sampai sekarang belum ketemu, 'kan?" jawab Kevin.



Rara diam. Dia memandangi kalung setengah hati di dalam kotak tersebut. Benar juga apa kata Kevin.



"Kalo kalung itu udah ketemu pasangannya, sudah pasti hidup kamu nggak bakal sama lagi kayak sekarang," kata Kevin, "Saat itu, pasti nyawa kamu dalam bahaya."



"Kak Kevin jangan ngomong yang bukan-bukan. Kenapa harus pake kata nyawa terancam, sih?"



Kevin lagi-lagi diam. Dia meminum minumannya sampai habis dan menghela napas. Rasanya dia tidak tega memberitau Rara apa yang bakal terjadi kalo kalung di tangannya itu dalam keadaan utuh.



Bisa saja Alviano akan mengancam hidupnya seumur hidup atau bahkan lebih parah ...



"Nggak papa. Kamu bisa tanya sendiri sama Alviano nanti," kata Kevin, "Aku pamit dulu. Sepertinya aku mengganggu waktumu bersama temanmu."



"Bukan apa-apa. Tapi aku penasaran dengan ucapan Kak Kevin tadi." Kata Rara.



"Aku nggak bisa nyeritain lebih jauh. Cuma Alviano yang bisa kasih tau kamu." Ujar Kevin, "Aku pamit dulu, Ra. Sekali lagi selamat atas pernikahan kamu."



Rara hanya mengangguk. Dia mengantarkan Kevin hingga ke pintu depan dan mengawasi cowok itu pergi dengan mobilnya. Kim berdiri di sebelah Rara sambil bersedekap.



"Lo ngerasa nggak kalo tuh cowok omongannya sok misterius gitu?"




"Mungkin kalung itu kunci menuju suatu tempat? Kayak di film-film gitu, lagian lo sadar diri dong, lo udah nikah ama bocah milyuner dan juga berasal dari keluarga yang high class."



Rara meringis mendengarnya, "Bisa nggak bagian itu nggak perlu dikasih tau?"



Kim terbahak. Mereka berdua kembali masuk ke dalam, tidak lagi memikirkan ucapan Kevin yang sebenarnya cukup membuat Rara khawatir. Bagaimana kalau apa yang diucapkan cowok itu benar-benar terjadi?



***



Kim pulang saat hari menjelang malam. Dia akan berusaha melobi kedua orangtuanya agar tidak membatasi pergerakannya selama kamera merekam seluruh kegiatannya pada program TV yang akan ditayangkan tersebut.



Walau Rara nggak seratus persen yakin kedua orangtua Kim bakal setuju, tetapi dia hanya bisa memberikan dukungan doa pada sohibnya itu.



Rara asyik menikmati sebatang coklat sambil menjelajahi internet menggunakan Ipad-nya. Ia berniat mencari beasiswa atau pekerjaan yang bisa dia kerjakan dan berhubungan dengan hobinya mendesain pakaian. Lagipula bila tidak mengerjakan apa-apa, dia bakal blingsatan sendiri karena bosan.



"Rara,"



Sebuah pelukan dari belakang membuat Rara menoleh, didapatinya Alvin memeluknya dan menatap Ipad di pangkuan Rara, "Kamu ngapain?"



"Nyari kerja."



"Emangnya harus ya kamu nyari kerja?"

__ADS_1



"Aku bosan dan tanganku gatal mau bekerja." Jawab Rara balik.



"Kamu udah jadi Nyonya Alexander, ngapain harus kerja?"



Rara diam. Ucapan Alvin memang ada benernya, tetapi tetap saja, dia butuh pekerjaan, kalau tidak dia akan mati kebosanan.



"Aku tetep mau nyari kerja." Kata Rara mantap.



"Ya sudah kalo itu keputusan kamu. Tapi malam ini kamu bakal kukenalin sama kolega dan rekan kerja Daddy. Ada pesta perayaan ulang tahun salah satu cabang perusahaan."



"Oke ...," Rara manggut-manggut, "Terus sekolah kamu gimana? Bukannya besok bukan hari libur?"



"Oh, itu ..., aku udah keluar dari sekolah." Kata Alvin enteng.



"Hah!?"



"Soalnya sekolah-sekolah di sini nggak memperbolehkan anak di bawah umur yang sudah menikah untuk terus mengenyam pendidikan, 'kan? Lagipula aku sendiri udah lulus kuliah, jadi buat apa nerusin sekolah di sini kalo sistem sekolahnya aja begitu?"



Rara ingin sekali menggetok kepala Alvin dengan Ipad-nya, tetapi dia nggak mau Ipad kesayangannya itu rusak hanya karena menyentuh Alvin. Walau ada benarnya juga dalam ucapan Alvin barusan. Sampai sekarang masih saja ada diskriminasi sosial tentang anak di bawah umur yang menikah atau bahkan hamil di luar nikah.



Tetapi Rara nggak berhak men-judge pemerintah tentang ini. Itu bukan bidangnya.



"Eh, tapi itu artinya kamu Cuma ke sekolah untuk main-main? Itu bahkan lebih parah, Vin!"



"Nggak papa, lagipula kepala sekolahnya juga nggak keberatan saat aku masuk ke sekolahnya waktu itu," Alvin mengedikkan bahu, "Yang penting, nanti malam kamu harus dandan yang cantik, biar kamu nggak dipandang sebelah mata sama orang-orang yang nanti kukenalin ke kamu."



"Loh, memangnya kenapa?"



Alvin diam sebentar ketika ditanya, "Siapa tau mereka punya pikiran jahat ke kamu karena udah masuk ke dalam keluarga Alexander."



Eh?




Anyway, dari chapter ini juga udah masuk mode serius ya, seperti perkataan Kevin, bakal banyak yang ngincer nyawa Rara. Loh kok bisa?



Silakan tunggu tanggal tayangnya di layar tancap kesayangan Anda.



Sampai jumpa di chapter selanjutnya.




Regard,



Angelia Putri




Sebentar. Kalian pada ngerasa lucu nggak tiap sebut nama Kevin? Putri malah berasa nonton Spongebob yang ada episode dengan jargonnya, "Hai, Kevin ..." #LoL

__ADS_1




__ADS_2