
Rara menatap dokter muda yang ada di hadapannya sedikit gelisah. Dokter di hadapannya ini tidak lain adalah kakak Kim, Jennie. Dan sesuai dengan namanya yang cantik, orangnya pun juga cantik. Hidung mancung, rambut bergelombang panjang yang diikat menjadi buntut kuda malah membuat Jennie tampak seksi, terutama jas dokter yang menutupi blus ketat berwarna merah darah dan rok span yang dipakainya.
Secara pribadi, Jennie nggak kalah fashionable dengan Kim. Tetapi anehnya wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu lebih memilih memasuki dunia kedokteran ketimbang dunia fashion.
Jennie melihat Rara yang tampak gelisah dari ekor matanya, kemudian tertawa geli, "Nggak usah tegang begitu, Ra. Anggap aja aku lagi ngobrol biasa dengan kamu."
Rara meringis. Dia terus menunggu Jennie membaca beberapa berkas dan kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Jadi ... gimana hasilnya, Kak?"
"Mungkin benar apa yang dikatakan Kim," kata Jennie, "Kamu punya trauma, dan tanpa sadar traumamu itu membuatmu tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi di usia tertentu. Kamu bilang kamu tidak bisa mengingat peristiwa apa saja yang terjadi saat berusia lima belas tahun, 'kan?"
Rara mengangguk.
Jennie kemudian kembali memeriksa kertas di tangannya, "Kim bilang kamu pernah mengalami kecelakaan. Ada kemungkinan kecelakaan itu juga memengaruhi otakmu sehingga menimbulkan efek pertahanan dari trauma yang kamu miliki.
"Ada baiknya bila kamu mencoba hypnoterapi. Tetapi karena aku masih berpikir kamu masih perlu menemuiku untuk kepastian yang real, aku akan membuatkan jadwal temu dan kita akan mencoba hypnoterapi jika memungkinkan. Apa kamu bersedia?"
Rara memikirkan ucapan Jennie sejenak, "Kalau dengan hypnoterapi aku bisa, minimal mengurangi traumaku, kurasa tidak masalah."
Jennie tersenyum. Dia menuliskan sesuatu pada memo di dekatnya kemudian memberikan kertas itu pada Rara, "Aku memberikanmu resep obat, kebanyakan mengandung obat tidur agar kamu bisa tidur tanpa memikirkan apa pun. Jadwal temu berikutnya Rabu depan, bagaimana?"
"Oke," Rara menerima kertas memo itu dan memasukkannya ke saku bajunya, "Terima kasih atas bantuan Kakak."
"Kamu nggak perlu sungkan, Ra. Kamu udah kuanggap kayak adik sendiri. Apalagi kamu akrab sama Kim udah bertahun-tahun." Jennie tertawa.
Rara ikut tertawa. Sekali lagi dia mengucapkan terima kasih pada Jennie dan keluar dari ruangan wanita itu. Dilihatnya Kim sedang asyik mengutak-atik ponselnya sambil mendengarkan lagu instrumental piano yang jarang didengar oleh telinga Rara.
Kim mendongak dan mendapati Rara berdiri di sampingnya, "Udah kelar?"
"Udah. Kata kakak lo, gue perlu ke sini lagi Rabu depan. Buat mastiin kalo trauma gue bisa disembuhin pake hypnoterapi."
Kim manggut-manggut dan berdiri, memasukkan ponsel ke dalam tas ranselnya, "Kak Jennie ada kasih resep obat juga?"
"Ada,"
"Kita pergi ke apotek terus nongkrong di kafe biasa," kata Kim, "Sekalian kita bahas rencana buat di festival nanti."
Rara lagi-lagi mengangguk untuk ke sekian kali. Kim menggamit tangan Rara dan mereka sama-sama keluar dari koridor rumah sakit ... dan sempat disangka sepasang kekasih oleh beberapa perawat yang lewat.
***
Rara menarik nafas dalam-dalam dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Dia masih kepikiran kejadian tadi saat di kafe, di mana dia tanpa sengaja bertemu Kevin.
"Ra, lo mau pesen apa?" tanya Kim saat mereka tiba di kafe langganan mereka yang berjarak tak jauh dari kampus.
"Apa aja deh. Yang seger-seger," jawab Rara, "Bentar, gue mo ke etalase cake dulu."
Kim menggeleng-gelengkan kepala melihat Rara yang bagai anak kecil mendapatkan mainan saat berjalan menuju etalase kaca yang memuat berbagai macam kue dengan berbagai dekorasi dan hiasan yang imut.
Rara melihat-lihat setiap kue yang terpajang. Kafe tempat mereka biasa nongkrong ini adalah salah satu kafe paling terkenal. Dengan harga yang pas dengan kantong mahasiswa dan makanan serta minuman yang memanjakan lidah, sudah cukup untuk membuat mereka berdua menjadikan kafe ini sebagai kafe favorit. Rara sendiri suka memperhatikan interior kafe yang terkesan warm dan nyaman, serasa di vila keluarganya di Lembang.
"Rara?"
__ADS_1
Rara menoleh ketika mendengar suara yang tak asing itu, tepat kearah seorang pria yang mendekatinya sambil tersenyum ramah. Kevin.
"Halo, Kak Kevin," Rara mencoba untuk sopan. Walau Darren sudah memberi peringatan untuk tidak dekat-dekat dengan sahabat kakaknya itu, sepertinya takdir berkata lain.
"Kamu juga sering ke kafe ini?" tanya Kevin saat tiba di hadapan Rara, "Wow, aku baru sadar kalo kamu agak ... mungil."
Rara meringis walau masih tersenyum. Soal tinggi badannya menjadi sesuatu yang sensitif untuk dibahas. Tapi Kevin sepertinya tidak tahu soal itu.
Jadi bisa ia maafkan untuk kali ini.
Kevin memperhatikan wajah Rara sambil tersenyum, kemudian melirik kearah etalase kue, "Kamu mau beli kue? Gimana kalo kutraktir?"
"Eh? Nggak usah, Kak!" Rara menggeleng, "Aku ke sini bareng temen. Nggak enak kalo Kak Kevin traktir aku."
"I don't mind, lagipula udah lama nggak ketemu dan baru waktu makan malam itu aja," ujar Kevin, "Mau ya? Itung-itung biar kita makin akrab lagi kayak dulu."
Rara hendak menolak ketika Kim memanggilnya. Baik Rara dan Kevin menoleh kearah Kim yang berjalan sambil menenteng tas ranselnya dengan sebelah tangan.
"Lo lama amat, Ra? Nggak pesen mashed potato kayak biasanya aja ... loh? Ini siapa?"
"Ini ..."
"Temennya Rara, ya?" Kevin masih tersenyum, "Kenalin, aku Kevin Herdian. Teman Darren, kakaknya Rara."
Kim mengerutkan kening, kemudian matanya membulat bak kelereng, "Kevin Herdian, as in the most cutest Indonesian actor?"
"Kayaknya sih begitu," Kevin terkekeh.
"Lah, ngapain juga gue cerita ke elo?" balas Rara.
"Yaa ..., kan siapa tau, ada salah satu temen seangkatan kita yang ngefans sama dia," Kim menunjuk Kevin dengan dagunya, "Sori. Gue Kimberly Arden, sohibnya Rara. Nice to meet you, by the way."
"Nah, sekarang kenapa Rara ketahan di sini dan kayak mau disidang kalo dia bersalah jadi tante genit?"
"Heh, apaan lo ngomong ngaco gitu?" gerutu Rara manyun.
"Lah, lo ama Alvin kan beda enam tahun tuh, kalo bukan tante manjah, terus apa dong? Kakak manjah?"
"Kim, sekali lagi lo ngomong gue lakban mulut lo."
Kim tertawa geli, begitu juga Kevin. Rara menoleh kearah pria itu dengan senyum bersalah, "Sori banget bikin Kakak denger humor receh si Kim."
"Nggak papa, temenmu lucu juga ya?" kata Kevin, "Jadi Ra, gimana? Mau, 'kan aku traktir?"
"Itu ..."
"Pastinya mau banget," sela Kim, "Udah Ra, mumpung ada yang ngebayarin, kenapa masih ngeles aja, sih?"
"Kim, nggak sopan tau!"
Kim tidak mengindahkan ucapan Rara dan menerima tawaran traktiran Kevin dengan senang hati. Kim bahkan 'menasihati' Rara agar jangan menolak kebaikan orang, yang jelas dibalas dengan delikan tajam dari gadis itu atas sikap sahabat yang sablengnya minta ampun itu.
Tapi ... saat mereka makan bersama di kafe itu, Rara baru sadar Kim seolah sedang menginterogasi Kevin. Persis sama seperti yang dilakukannya pada Alvin. Tetapi kali ini Kim menggunakan kalimat tak langsung, yang begitu saja dipahami oleh Rara.
__ADS_1
Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Kim langsung pasang wajah jutek.
"Jangan deketin dia, Ra. Gue nggak seneng sama tuh cowok." Kata Kim langsung.
"Lo kenapa tingkahnya malah mirip kakak perempuan gue sih?" balas Rara.
"Harus ada yang bertindak jadi kakak perempuan bagi lo kalo model beginian masalahnya," Kim terkekeh, "Tapi serius, Ra. Gue nggak suka dengan Kevin. Mau dia artis ato anak sultan juga gue tetap nggak suka. Feeling gue, dia Cuma mo manfaatin lo aja."
Rara diam. Dia menatap Kim yang jarang-jarang sedang dalam mode serius seperti sekarang.
"Kenapa lo bisa berkesimpulan kalo Kak Kevin itu berniat manfaatin gue?" tanya Rara.
"Entah gue yang terlalu peka ato lo yang terlalu polos kalo masalah cowok," Kim memamerkan senyum lebar sebelum kembali serius, "Cowok model Kevin gitu ujung-ujungnya Cuma manfaatin lo, entah apa yang bakal dimanfaatin, tapi seenggaknya gue minta lo hati-hati. Lagian gue nggak mau kapal gue karam sebelum waktunya."
"Hah? Maksudnya?"
"Gue nge-ship elo sama Alvin, tau. Makanya gue nggak mau sampe kapal gue karam Cuma gara-gara batu karang macam Kevin."
Entah Rara harus kesal atau terharu dengan ucapan sableng Kim.
Rara kembali menghembuskan nafas dan berbaring tengkurap. Dia melirik kearah meja kecil di sebelah tempat tidur, menatap fotonya dengan ibunya ketika dia masih kecil.
"Sayang sekali Mama udah nggak ada di sini, jadi Rara nggak bisa cerita ke siapa-siapa soal apa yang Rara alamin hari ini," Rara menghembuskan nafas, "Kadang-kadang Rara rindu Mama di sini ..."
***
Alvin melonggarkan dasi yang melingkari kerah seragamnya dan menghembuskan nafas kasar. Dia lelah. Terlalu lelah untuk sekedar berdiri dari tempatnya duduk sekarang. Sekolah memang menyenangkan, tetapi menjadi menyebalkan ketika banyak mata siswi menatapnya.
Dia risih, tidak suka ditatap berlebihan seperti itu. Tatapan mereka berbeda dari Rara yang menatapnya apa adanya, dan Alvin tersenyum sendiri memikirkan tingkah laku Rara yang lebih mirip anak kecil ketimbang orang dewasa.
"Tuan, apa kita langsung pulang ke rumah?" tanya supirnya melirik Alvin dari kaca spion.
"Ke kantor, nemuin Daddy." jawab Alvin pendek.
"Baik,"
Mata Alvin memandang jalanan kota Jakarta yang selalu padat merayap. Beberapa hari ini dia selalu gusar, tetapi sedetik ia gusar, sedetik kemudian dia sudah kembali tenang. Entah karena alasan apa. Alvin perlu bicara dengan ayahnya untuk hal ini. Penyakit sedetik gusar dan sedetik kemudian kembali anteng sepertinya sudah mendarah daging di keluarga Alexander. Bahkan ayahnya juga punya kondisi serupa. Memikirkannya membuat Alvin tersenyum geli.
Orang-orang mungkin berpikir keluarga Alexander adalah keluarga yang sangat sempurna dari segi mana pun. Tapi tidak ada yang tahu terkadang di setiap generasi keluarga tersebut punya penyakit yang seperti Alvin idap saat ini. Entah itu kesialan atau mungkin dulu buyutnya punya riwayat sakit jiwa.
Yang jelas Alvin nggak berniat menjadi orang gila.
Tapi kalo gila karena Rara, Alvin mau banget.
Seenggaknya, obatnya adalah Rara. Iya, 'kan?
"Kita nggak jadi ke kantor," kata Alvin, "Ke rumah Rara aja. Dia pasti sudah pulang dari kuliah."
"Baik, Tuan."
Alvin nggak sabar pengen bermanja dengan Rara.
__ADS_1