Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 10 PERSIAPAN UPACARA ADAT


__ADS_3

Budi dan Dirga lalu mengambil kain pel, serta air untuk membersihkan lantai yang tidak sengaja mereka kotori. Alia diminta oleh Jamal untuk mengawasi mereka berdu, karena siapa tau mereka berbuat ulah lagi jika hanya berdua saja.


Budi dan Dirga sedikit berbincang masalah tadi, mereka merasa bahwa yang mereka lihat barusan, tidak terlihat seperti mata patung. Tapi sesuatu yang hidup, Budi dan Dirga ingin menyimpulkan bahwa itu adalah mata hewan, tapi hewan seperti apa yang matanya sebesar itu di daerah sini.


"Disini ada beruang gak sih?" Bingung Budi.


"Gaada lah, paling cuma babi" Jawab Dirga.


"Kalian bahas apa lagi?" Tanya Alia.


"Hewan" Jawab Budi. "Selain beruang, hewan apa yang matanya besar?" Tanya Budi.


"Dinosaurus." Jawab Alia.


"Gak. Maksud gua, hewan apa saja yang ada di Indonesia, tapi matanya besar?" Tanya Budi.


"Emang kenapa sih?, kalian mau pelihara hewan bermata besar?" Tanya Alia.


"Gak Alia, bukan gitu. Kami cuma penasaran sama mata besar menyala yang kami lihat tadi, gak masuk akal juga kalau mata yang kami lihat itu adalah mata patung." Ucap Dirga tidak percaya.


"Yaudah. Biar jelas, besok kita ke tempat kalian lihat mata itu, agar kalian sendiri yang menyimpulkannya langsung, apakah mata yang kalian lihat sama dengan mata di patung itu atau engga" Balas Alia.


Budi dan Dirga hanya mengangguk, dan berfikir akan melakukan saran Alia besok.


* * * *


Jam menunjukkan pukul 05.41,semua yang beragama Islam sedang sholat subuh bersama. Setelah sholat, yang lainnya berencana untuk saling membantu mengolah jamur yang kemarin mereka dapatkan, menjadi lauk untuk makan nanti.


Budi dan Dirga yang sudah duduk untuk membersihkan jamur, tiba-tiba teringat masalah tadi malam. Seketika Budi dan Dirga berdiri, dan mengajak semuanya untuk ikut dengan mereka menuju ke belakang.

__ADS_1


Awalnya Budi dan Dirga dimarahi oleh Jamal, karena memaksa yang lainnya untuk ikut bersama mereka. Tapi pada akhirnya, semuanya tetap pergi menemani Budi dan Dirga, karena Dirga menyinggung masalah teman yang saling membantu.


"Mau dibawa sampai kemana kita ini?" Tanya Awal


"Dikit lagi sampai" Jawab Dirga. "Nah itu disana ada sampah, kami lihatnya di sana" Ucap Dirga menujuk ke sampah yang mereka jatuhkan begitu saja semalam.


Semuanya mendekat kearah yang di tunjukkan Dirga. Saat sampai disana, Jamal dan Fitri tanpa takut,langsung membuka semak-semak yang ada di hadapan mereka. Di balik semak-semak tersebut, ada sebuah patung harimau yang dimaksud Fitri semalam.


"Dirga,Budi. Yang kalian lihat semalam itu pasti ini" Ucap Fitri sambil memperlihatkan patung yang ada di balik semak-semak, kepada Budi dan Dirga.


"Hahaha, ternyata benar cuma patung. Masa kalian sampai lari-larian cuma gara-gara patung doang, yang udah jelas-jelas gabakalan ninggalin tempatnya." Ejek Awal sambil tertawa keras.


"Eleh, yang ditolongin warga karena pingsan di hutan gausah sok ngejek" Balas Dirga kesal.


"Udah ah. Sekarang udah jelas kan, kalau yang kalian berdua lihat itu pasti cuma patung ini. Jadi mending sekarang kita pulang ke rumah untuk nge lanjutin pekerjaan kita tadi." Ucap Alia.


"Iya nih, kalau gak buruan dikerjain, bisa-bisa kita gaada lauk buat makan siang nanti" Saut Ulan membetulkan perkataan Alia.


"Iya juga ya, takutnya yang kalian lihat itu binatang buas yang berkeliaran di sekitar sini, kan bahaya juga kalau gitu" Balas Jamal.


Karena takutnya apa yang dikatakan Jamal benar, akhirnya kami semua memutuskan untuk meminta tolong ke pak kades tentang masalah ini nanti. Untuk sekarang, kami semua kembali dulu untuk mengolah jamur yang dikerjakan tadi.


Setelah selesai mengolah jamur, kami baru menyadari bahwa jamurnya kebanyakan. Jadi kami memutuskan untuk membagikannya ke pak kades sebagai tanda terimakasih, sekaligus pergi membahas masalah tadi.


Dirga dan Jamal memutuskan untuk turun melanjutkan perbaikan mobil, sisanya berangkat menuju ke desa. Di perjalanan menuju ke desa, kami tidak bertemu satupun warga yang biasanya menyapa kami saat bekerja di ladang/sawah mereka masing-masing.


Saat tiba di desa, kami melihat para warga sedang berkumpul di balai desa, sambil menyiapkan sesuatu.


Awal, Budi, dan Ulan memutuskan untuk bergabung dengan para warga, untuk mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan. Sedangkan Alia dan Fitri menuju kerumah pak kades untuk membawakan jamur yang dimasak tadi.

__ADS_1


Saat ingin mengetuk pintu rumah pak kades, tiba-tiba saja pak kades keluar. Alia dan Fitri hampir saja mengetuk kepala pak kades.


"Aduh maaf pak, kami hampir sajah mengetuk kepala bapak" Ucap Fitri.


"Hh,gapapa. Kalian kan gatau kalau bapak mau keluar rumah, bapak juga gatau kalau kalian ada di depan pintu." Balas pak kades. "Oiya duduk dulu sinih" Ucap pak kades.


"Ah iya pak makasih" Jawab Alia dan Fitri, sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah pak kades.


"Kalau boleh tau, apa ada yang ingin dibicarakan kepada bapak?" Tanya pak kades.


"Ah, begini pak. Sebenarnya semalam teman saya habis lihat sesuatu di belakang rumah. Jadi kedatangan kami kesini, yaitu ingin meminta tolong ke bapak. Siapa tau bapak bisa membantu kami mengecek apakah ada hewan buas yang berkeliaran di belakang tempat kami menginap, gitu pak." Jawab Alia meminta tolong baik-baik.


"Baiklah nak,nanti bapak minta tolong beberapa warga juga untuk mengecek disekitar sana. Sebenarnya ada beberapa warga juga yang mengalami hal serupa, seperti yang dilihat teman nak Alia." Balas pak kades.


Pak kades memberitahukan ke kami berdua bahwa yang dilihat oleh beberapa warga, merupakan rusa berbadan besar yang sudah lama dicari cari oleh para warga. Jika warga berhasil menangkap rusa itu, maka rusanya akan dijadikan persembahan untuk acara adat yang dua hari lagi akan dilaksanakan di balai desa.


Katanya, acara adat ini dilakukan setiap dua tahun sekali, disaat tiga hari menjelang bulan purnama tiba. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan seekor rusa sebagai persembahan, semakin besar rusanya, semakin baik.


Setelah berbincang-bincang,Alia dan Fitri pun memberikan masakan yang mereka buat tadi bersama yang lainnya ke pak kades. Setelah pak kades menerimanya,dan menaruhnya, mereka bertiga pun pergi bersama ke balai desa.


Sampai di balai desa, Alia dan Fitri melihat Ulan sedang membantu para ibu-ibu membersihkan bahan untuk membuat bumbu, sedangkan Awal dan Budi membantu membuat obor dan tempat duduk dari belahan bambu.


Pak kades memanggil beberapa warga untuk membantunya mengecek di sekitar tempat kami menginap, jika ada tanda-tanda rusa yang mereka cari, maka mereka akan memasang jebakan di sekitar tempat yang mereka tandai.


Semoga saja yang berkeliaran di tempat kami adalah rusa yang pak kades maksud, bukanlah sesuatu yang tak kasat mata.


Alia dan Fitri menuju ke tempat Ulan dan para ibu-ibu, untuk membantu pekerjaan mereka. Bahan-bahannya sangatlah banyak, itu menandakan bahwa akan ada banyak masakan yang akan mereka buat.


Sepanjang jam kami semua membantu warga desa, rasa lelah tidaklah terlalu terasa. Semua warga sangatlah ramah kepada kami, kami bercanda, dan tertawa bersama. Tidak ada sedikitpun rasa canggung di antara semuanya.

__ADS_1


"Ayo istirahat dulu, kami sudah membuatkan makan siang untuk semuanya" Ucap Bu Susi, sambil meletakkan piring di meja yang diatasnya tersusun berbagai macam makanan.


__ADS_2