
Jamal dan Budi mulai bertanya ke beberapa warga yang masih berada di sekitar rumah mereka, namun tidak ada satupun warga yang melihat Dirga. Mereka berdua juga mencoba untuk bertanya ke pak kades, namun pak kades juga tidak melihat Dirga sama sekali.
Pak kades akhirnya ikut membantu Jamal dan Budi mencari Dirga, setelah beberapa waktu mencari,Dirga masih tak kunjung ditemukan. Akhirnya pak kades meminta mereka berdua untuk pulang ke penginapan karena hari juga sudah mulai gelap.
Urusan Dirga, pak kades dan beberapa warga yang lain akan berusaha untuk mencarinya nanti malam. Karena para warga juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi sehari sebelum upacara adat dilakukan.
Jaman dan Dirga pun kembali dengan raut wajah khawatir. Namun saat mereka melewati jalur menuju ke puncak, Budi tanpa sengaja menemukan Dirga sedang berdiri termenung ditengah jalan.
Rasa kesal bercampur khawatir membuat Jamal dan Budi berlari menendang bokong Dirga. Itu membuat Dirga langsung terjatuh ke tanah, Dirga yang kesal pun berdiri sambil berbicara sesuatu yang membuat Jamal dan Budi kebingungan.
"Kalian kenapa pura-pura gak lihat gua sih, pada acara cariin gua segala lagi. Gua kan jadi panik, gua kira sekarang arwah gua yang lagi jalan bareng kalian, gua udah cari tubuh asli gua kesana kemari tapi gak ketemu. Sangking paniknya, gua cuma bisa berdiri pasrah di sini,ulangtahun gua juga masih lama tau!!" Ucap Dirga melampiaskan semua amarahnya.
"Lah, emang dari tadi lu tuh gak bareng ama kita. Gausah pakai alesan tidak masuk akal segala, lu takut dimarahin ama Jamal kan, karena udah bikin kita pada khawatir." Kesal balik Budi.
"Mana ada, gua emang dari tadi bareng kalian ko." Kesal Dirga.
"Udah!!." Gertak Jamal marah. "Karena Dirga udah ketemu, sekarang mending kita pergi ke desa dulu buat ngasih tau pak kades. Ntar mereka pada sibuk nyariin, tapi ternyata Dirga udah bareng ama kita" Saran Jamal.
"Udah gue bilang kalau gue gak kemana-mana dari tadi!, kalian semua kenapa sih!. Gue terus terusan ngajak kalian bicara, tapi kalian gaada respon sama sekali tau!." Ucap Dirga greget.
"Iya gua paham, nanti aja kita bahasnya, sekarang ayo pergi ke desa dulu." Ucap Jamal masih kebingungan.
"Bener, kasihan para warga kalau sampai pada nyariin." Balas Budi membetulkan perkataan Jamal.
"Terserah kalian" Pasrah Dirga.
Mereka bertiga pun kembali menuju ke desa dengan suasana sedikit sunyi. Jam telah menunjukkan pukul 17.02, sudah lewat dari waktu yang diberitahukan pak kades kepada mereka.
__ADS_1
Saat sampai di desa, mereka bertiga sedikit kebingungan, karena tidak ada satupun lampu yang menyala, baik dirumah warga, maupun di pos ronda. Jamal yang dari tadi memegang handphone sebagai bantuan pencahayaan, menyodorkan lampu handphone nya ke segala arah untuk melihat keadaan sekitar.
Semuanya terlihat sama, tidak ada satupun tanda tanda seseorang di sekitar desa. Karena merasa ada yang aneh, mereka bertiga pun memutuskan untuk pergi ke rumah pak kades untuk bertanya.
"Hhh, apa-apaan keadaan sunyi ini. Kalau Awal ada disini, mungkin dia sudah ketakutan." Saut Budi berusaha menghidupkan suasana.
"Iya juga ya, haha" Balas Dirga sambil tertawa yang dibuat-buat.
"Kita sudah sampai." Beritahu Jamal kepada Budi dan Dirga.
Budi dan Dirga berbalik menghadap ke rumah panggung yang ada di depan mereka. Sama seperti rumah-rumah lainnya, tidak ada sedikitpun cahaya yang menyinari kediaman pak kades.
Jamal, Budi, dan Dirga melangkah menaikan satu-persatu anak tangga. Mereka mengetuk pintu pak kades dengan perasaan yang sedikit ragu-ragu. Mereka mengetuk pintu sampai berkali-kali, namun sama sekali tidak ada respon, mereka berfikir bahwa mungkin pak kades sudah pergi mencari Dirga.
Karena tidak ada pilihan lain, mereka pun memutuskan untuk mencari pak kades di daerah sekitar. Waktu terus berjalan, namun Jamal, Budi, dan Dirga belum menemukan keberadaan pak kades dan warga sekitar.
"Ini warga pada kemana sih?, masa mereka semua pergi nyariin Dirga!?" Bingung Budi.
"Gamungkin juga mereka nyariin Dirga sampai kita gak nemuin tanda-tanda mereka satupun." Pikir Jamal.
"Iya juga ya. Apalagi dari tadi kita udah nyari di berbagai tempat, namun kenapa kita sama sekali gak nemuin warga." Saut Budi mengiyakan.
"Cih, kalian semua gak pada ngeprank gua kan?!" Kesal Dirga.
"Siapa coba yang mau ngeprank lu, ini kita lagi gak bersandiwara tau." Balas Budi.
* * * *
__ADS_1
Dilain tempat, Alia dan yang lainnya masih terus menunggu dengan rasa cemas dan khawatir. Karena sampai sekarang masih belum ada kabar tentang Dirga, Jamal dan Budi juga belum datang sama sekali.
Alia sempat ingin menyusul mereka berdua, namun ditahan oleh Ulan dan Awal. Mereka berdua berusaha untuk memenangkan Alia agar tetap sabar menunggu, apalagi dalam keadaan seperti ini sudah tidak diperbolehkan lagi untuk keluar malam.
Takutnya jika menyusul mereka sekarang, malah akan memberi masalah baru. Fitri juga ikut sedikit khawatir, walaupun Fitri baru kenal dengan mereka, namun Fitri tau seperti apa ke khawatirkan mereka terhadap apa yang terjadi sekarang.
Hal yang perlu dilakukan sekarang hanyalah berdoa, agar Jamal dan Budi kembali membawa kabar yang baik.
"Mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, semoga hal baik datang kepada kita semua." Saran Alia yang berusaha tidak khawatir.
"Iya" Jawab semuanya.
Mereka berempat berdoa agar pikiran negatif mereka tidak menjadi kenyataan. Setelah berdoa, mereka memutuskan untuk makan agar menjadi sedikit lebih tenang, mereka juga menyiapkan makanan untuk Jamal, Budi, dan Dirga saat kembali nanti.
* * * *
Jam menunjukkan pukul 19.35 tinggal beberapa menit lagi menuju ke pukul 20.00. Jamal, Budi, dan Dirga sudah terlihat sangat kelelahan karena terus mencari kesana kemari. Budi berpikir bahwa mungkin saja warga sudah kembali ke rumah masing-masing, dan meminta Jamal dan Dirga untuk kembali mengecek keadaan di desa.
Jamal dan Dirga tidak ada pilihan selain mengikuti ucapan Budi. Di perjalanan menuju ke desa, satu-persatu kejanggalan mulai mereka sadari. Tiba-tiba saja kabut menutupi penglihatan, sesuatu yang berbau amis tercium sangat menyengat di saluran pernafasan mereka.
Semakin mereka mendekat kearah desa, semakin menyengat pula bau yang mereka cium. Perasaan merinding menyerubuti sekujur tubuh, pernafasan mereka juga semakin memberat. Dengan pikiran positif, mereka terus melangkah menuju ke arah desa.
Sesampainya di desa, apa yang ada di depan mata Jamal, Budi, dan Dirga, adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah terbayangkan sedikitpun di kepala. Desa tempat mereka singgah, berubah menjadi reruntuhan rumah yang hangus terbakar.
Bau menyengat yang dari tadi mereka cium, ternyata berasal dari darah yang telah mendidih akibat kebakaran. Jamal, Budi dan Dirga berusaha untuk tidak mempercayai apa yang ada di depan mata mereka, namun pemandangan yang mereka lihat sekarang ini terlalu nyata untuk tidak dipercayai.
"Kita tidak lagi bermimpi kan?, atau apa cuma aku saja yang melihat sesuatu yang buruk disini?" Tanya Budi menahan rasa mual melihat tumpukan mayad hangus disetiap jalan.
__ADS_1
"Tidak, bukan cuma kau yang melihatnya, aku pun melihat apa yang kau lihat sekarang ini" Saut Dirga menatap dengan tatapan syok.
"Lihat!" Pekik Jamal menunjuk ke arah rumah yang terlihat masih sedikit utuh. "Bukankah itu rumahnya bu Ningsih?, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Ucap Jamal kebingungan.