
"Karena sesama roh, pasti pernah bertemu dong, dan tentu saja mereka bercerita kepada ku" Jawab kaila berkomunikasi menggunakan pikiran,sambli menatap tajam ke Alia.
"Apa itu barusan?,kau berbicara dengan ku melalui fikiran" Gumam Alia mengerutkan keningnya.
"Alia!" Panggil Ulan sedikit menaikkan suaranya, membuat Alia terkejut dan menatap ke arahnya.
"Alia, maaf tapi kurasa Kaila benar-benar lagi kurang sehat, jadi sebaiknya kita bawa ke bu Wati dulu deh" Beritahu Fitri mencemaskan kondisi Kaila.
Alia pun ingat bahwa Kaila sekarang sedang tidak enak badan, dan buru-buru menggendongnya lalu membawa Kaila ke bu Wati. Bu Wati awalnya bingung melihat Alia, Ulan, dan Fitri yang tengah membawa Kaila sambil berlarian. Namun rasa bingungnya seketika berubah menjadi rasa khawatir, lantaran melihat Kaila yang mengeluarkan keringat yang cukup banyak.
Setelah bu Wati memegang dahi Kaila, ternyata Kaila sedang demam. Fitri bingung, lantaran tadi Kaila masih baik-baik saja bermain dengan yang lainnya, namun tiba-tiba saja mengalami demam.
Karena bu Wati merasa khawatir dengan Kaila, akhirnya ia memutuskan pulang ke panti untuk merawat Kaila saat ini. Dia juga meminta bantuan kepada Alia, Ulan dan Fitri untuk menjaga anak-anak lainnya sementara ia memanggil bu Riana yang tengah menjadi panti.
Awal berjalan mendekati Alia, dan bertanya tentang mengapa Kaila di bawah pulang oleh bu Wati. Alia menjawab bahwa Kaila tiba-tiba saja tidak enak badan, jadi Bu Wati ingin membawanya ke panti untuk istirahat.
"Ohok, ohok ohok ohohok!!, aduh ko jadi batuk gini yah, apa karena cuacanya yang lagi gak karuan yah, pantas ajah Kaila tiba-tiba sakit gitu" Ekting Ulan.
"Kamu gapapa Ulan?" Tanya Alia khawatir.
"Iya gapapa, cuma batuk dikit ko" Jawab Ulan melihat ke arah Awal, sambil menyengir.
Awal yang melihat ekspresi wajah Ulan, menjadi sedikit jengkel dan mengangkat dua jarinya sambil menunjuk matanya, kemudian ke arah mata Ulan. Ulan yang melihatnya kembali menatap jengkel, namun tidak dapat mengata-ngatai Awal, karena ada Alia yang sedang menatapnya.
"Alia" Panggil Awal.
__ADS_1
"Ah,iya?" Jawab Alia.
"Kalau gitu, aku kembali ke Budi dulu yah, nanti daging nya akan ku bawakan setelah selesai di potongan-potong" Ucap Awal sedikit lebay.
"Yaudah, sonoh buruan pergi. Menganggu pemandangan saja" Saut Ulan.
"Ulan gaboleh gitu" Balas Alia.
"Iya nih, Ulan parah banget sumpah" Saut Awal mengejek Ulan.
Mereka berdua akhirnya saling mengejek satu sama lain, dan tidak ada yang ingin mengalah. Melihat kelakuan mereka yang cukup memalukan, membuat Alia sedikit kesal, dan menyuruh mereka berdua agar segera berhenti.
Dengan cepat mereka berdua menuruti perintah Alia, dan Awal pun kembali ke tempat Budi. Sedangkan Alia, Ulan dan Fitri kembali ke tempat ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang.
* * * *
Sekali lagi bu Susi bertanya, apakah kami akan pergi setelah mobilnya selesai di perbaiki. Ulan pun menjawab bahwa memang seperti itu rencana kami, karena kami juga tidak bisa berlama-lama berada di desa turi. Alia juga menjawab bahwa jika ada kesempatan lain waktu, maka semuanya akan kembali mampir ke desa turi.
Daging yang telah di potong-potong oleh para lelaki, langsung di bawa ke kami untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum di masak. Kali ini yang membersihkan dagingnya adalah Ulan dan Fitri, mereka membersihkannya di tempat mereka cuci piring kemarin.
Saat tiba di tempat itu, mata Ulan langsung tertuju ke sumur yang kemarin ia tanyakan. Sumur yang tadinya tertutup oleh papan, tiba-tiba saja papan yang menutupi nya menghilang.
Ulan sekali lagi bertanya kepada bu Susi, tentang mengapa papan yang menutup sumur itu menghilang. Bu Susi menjawab bahwa dia tidak tau, mungkin saja warga mengambilnya untuk keperluan upacara adat. Dan Bu Susi juga berkata bahwa kita harus menjaga anak-anak dengan baik, jangan sampai mereka mendekati sumur tersebut, dan malah terjatuh.
Fitri dan Ulan mengangguk, dan kemudian kembali membersihkan daging yang tadi.
__ADS_1
Kemudian di tempat lain, Dirga dan Jamal masih sibuk memperbaiki mobil yang mereka tumpangi. Di bawa pohon yang lebat, dimana pencahayaan mereka hanya memanfaatkan lampu mobil, dari jauh mereka melihat seorang pria berbadan cukup tinggi sedang berjalan sempoyongan ke arah mereka berdua.
Yang melihat pria itu pertama kali adalah Dirga, karena merasa ada yang tidak beres, akhirnya dia memberitahukan kepada Jamal. Jamal yang kebingungan pun mendekati Dirga, dan melihat ke arah depan.
Dia mengerutkan keningnya, dan menatap dengan penuh serius ke arah pria itu. Entah mengapa suasana tiba-tiba berubah menjadi menegangkan. Angin bertiup kencang membuat pohon-pohon disekitar seperti sedang bernyanyi.
Akhirnya mereka pun sadar bahwa ada yang tidak beres, mereka hanya memalingkan pandangannya sebentar dari pria misterius itu, namun dalam sekejap pria itu menghilang entah kemana.
Jamal dan Dirga langsung memandangngi sekelilingnya, sebuah tangan memegang pundak Dirga dan Jamal. Perlahan-lahan mereka berbalik, dengan jantung yang berdegup kencang, dan keringat yang mulai menyelimuti pergelangan kaki mereka, Jamal dan Dirga melihat sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali.
Pria yang tadi mereka lihat adalah sesuatu yang tidak dapat mereka kenali lagi. Sekujur tubuh nya hangus terbakar, dan bau yang menyengat seperti bau yang mereka cium semalam di desa turi keluar dari tubuhnya. Begitulah sosok yang mereka lihat saat ini, perlahan-lahan mereka berdua menggerakkan kedua kakinya untuk menjauh dari sosok tersebut.
Sosok itu tidak ikut bergerak, dan tetap berdiri mematung di tempatnya.
"Sudah kuduga kalau desa ini ada yang tidak beres" Ucap Dirga menyimpulkan.
"Benar, bukankah ini sangat mirip dengan kejadian semalam. Sangat tidak mungkin kita hanya terus berhalusinasi,apalagi halusinasi kita selalu bersamaan." Lanjut Jamal.
"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini. Bisa-bisa aku jadi gila karena melihat pemandangan ini" Saut Dirga dengan tubuh yang bergetar.
Disaat Dirga dan Jamal berbalik, tiba-tiba saja sosok itu kembali berada di hadapan mereka. Jumlah mereka bahkan bertambah menjadi lima, sosok itu seperti memaksa mereka untuk pergi menjauh dari desa. Dirga menjadi syok melihat ada banyak manusia yang menyeramkan berada di hadapannya. Dia berlari memasuki hutan, begitupula dengan Jamal yang berusaha mengejarnya untuk menenangkan pikiran Dirga.
Sepanjang jalan yang dilewati Dirga, sosok itu selalu berada di berbagai tempat sambil memandangi nya. Pikiran Dirga menjadi tidak karuan, satu-satunya yang ia pikiran sekarang ini adalah bagaimana cara agar keluar dari situasi yang ia alami bersamaan dengan Jamal.
"Kalian sebenarnya apa!?, jangan mengikuti ku!!" Teriak Dirga yang sangat ketakutan.
__ADS_1
"Dirga!!" Teriak Jamal berusaha menghentikan Dirga "Berhenti Dirga!!, bukankah Rudi pernah memberitahukan ke kita bahwa di depan sana hanya ada jurang!!" Panik Jamal.
Jamal sama sekali tidak mendengarkan teriakan Jamal, dan malah semakin mempercepat langkahnya. Sosok yang ia lihat sekarang ini memang sangat menyeramkan, bagaimana bisa manusia sebanyak itu hangus, mata mereka semua hilang, usus mereka keluar, serta belatung menggerogoti tubuh mereka.