
Kami menuruni puncak bukit, dan berpisah dengan Bu Susi saat sampai di depan Panti asuhan.
"Nah udah sampai nih. Awal gimana keadaannya?" Tanya Ulan.
"Yah gitu, masih gamau ngomong." Jawab Budi yang bersebelahan dengan Awal.
"Yaudah, kalau gitu ayo masuk kedalam. Siapa tau Awal jadi ceria lagi, dia kan tipe orang yang suka sama anak-anak." Saut Alia tersenyum.
Kami semua pun masuk kedalam, dan menemui Bu Wati dan kak Riana selaku pengurus panti asuhan di tempat ini. Semua yang ada di panti asuhan, menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah, sama seperti sebelumnya.
Bu Wati dan kak Riana bahkan menyuguhkan kami teh, beserta kue beras tradisional dari desa ini.
"Makasih ya bu, karena udah repot-repot menyuguhkan ini semua. Padahal kami niatnya cuma mampir bermain bersama anak-anak di panti ini saja." Ucap terimakasih Alia.
"Santai saja nak. Ibu samasekali ga merasa direpotin ko, ibu malah minta maaf karena cuma bisa nyuguhin ini saja" Balas Ibu Wati.
"Ini sudah lebih dari cukup ko bu,sekali lagi terimakasih yah bu" Lanjut Jamal.
"Sama-sama. Kalau begitu, ibu pamit ke belakang dulu yah. Kalau ada apa-apa panggil Ibu saja, atau engga neng Riana." Ucap Bu Wati berpamitan.
Kami sekali lagi mengucapkan banyak terimakasih kepada para pengurus panti asuhan. Desa ini memang benar-benar sangat ramah kepada setiap orang, rasanya kami semakin betah saja tinggal di desa ini.
Awal masih saja terdiam di tempatnya, sedangkan yang lainnya sedang bersenang-senang dengan anak-anak di tempat ini. Budi yang jengkel karena Awal belum berkata apapun tak seperti biasanya, akhirnya memutuskan untu meminta tolong ke salah satu anak laki-laki yang bermain bersamanya, untuk mendekati Awal.
"Kak" Panggil anak itu.
Awal menunduk dan melihat baik-baik anak itu,sampai-sampai anak itu menjadi sedikit ketakutan.
"Woy Wal!, adeknya mau main sama kamu itu. Jangan malah di plototin!" Teriak Budi.
Awal yang mendengarnya, langsung tersadar kalau dia membuat anak itu takut. Dengan cepat dia menggendong anak itu, dan mengajaknya bermain.
"Jangan takut, kakak ga makan orang ko." Ucap Awal agar anak itu tidak ketakutan. "Oiyah, nama kamu siapa" Tanya Awal.
"Bilal" Jawab anak itu dengan suaranya yang lucu.
__ADS_1
"Oh Bilal. Bilal umur berapa kalau boleh tau" Tanya Awal, dan kemudian anak itu memperlihatkan lima jarinya, yang berarti dia berusia lima tahun.
Melihat Awal yang sudah kembali aktif seperti sebelumnya, membuat semuanya menjadi lega. Karena ini merupakan kali pertama Awal terdiam sampai seperti itu, berbeda dengan yang biasanya.
* * * *
Semuanya bersenang-senang bersama anak-anak di panti asuhan itu. Sebuah senyuman bahagia, terukir disetiap bibir kami. Kami merasa bahwa, kami bisa sampai di tempat ini bukan karena kesialan, melainkan karena sebuah keberuntungan.
Tujuan kami yang awalnya hanya sebatas untuk bersenang-senang tanpa tujuan. Sekarang terasa lebih memberi motifasi dan wawasan luas kepada kami, terkait keindahan dan juga kebaikan,serta senyuman yang ada di tempat ini. Bahagia rasanya bisa berada ditempatkan yang seperti ini, kami berharap kebaikan warga disini dapat terbalaskan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.
Dan kami juga berharap agar tempat ini menarik lebih banyak orang untuk berkunjung menikmati keindahan alamnya, serta diberikan juga kemudahan dalam masalah transportasi dan komunikasi.
* * * *
Seperti kemarin, Alia kembali melihat anak yang dia ajak berbicara , tengah duduk memandangi puncak gunung. Karena masih penasaran dengan apa yang diucapkan oleh anak itu kemarin, akhirnya Alia mencoba sekali lagi untuk mendekatinya.
Saat Alia duduk di samping anak itu, tiba-tiba dia bertanya kepada Alia. "Kenapa kau masih belum pergi juga?". Mendengar itu, membuat Alia bertanya kembali tentang apa yang anak itu ucapkan kemarin.
Anak itu hanya menjawab bahwa dia tidak bisa memberitahu arti dari ucapannya kemarin, Alia sendiri lah yang harus mencari arti dari kalimat tersebut.
Alia begitu terkejut ketika menatap wajah dari anak itu yang seolah olah terkelupas hangus. Karena merasa ada yang salah dengan penglihatannya, dia pun mengucek matanya dan kembali menatap anak itu.
Saat Alia menatapnya, wajah anak itu tidaklah seperti wajah yang barusan ia lihat. Alia menganggap bahwa dia hanya sedang berhalusinasi saja, karena efek dari foto yang membuatnya takut barusan.
Tanpa Alia sadari, ada dua pasang mata yang sedang mengawasinya dari balik jendela.
"Alia!" Panggil Fitri. "Ayo kesini main bareng, ajak juga anak yang disamping kamu" Ajak Fitri.
"I-iya, bentar" Jawab Alia. "Dek kesitu yuk, jangan terus-terusan menyendiri disini" Ajak Alia ramah.
"Gamau, mereka semua pada gamau main sama aku" Jawab anak itu.
"Gamau gimana?, kalian kan teman. Udah ayo sini, kalau kamu diapa-apain sama mereka, kakak yang akan belain kamu" Ucap Alia meyakinkan anak itu, sambil menarik tangannya.
Alia dan anak itu pun bergabung dengan yang lainnya. Namun tidak ada diantara mereka bertujuh yang menyadari, bahwa anak itu sedang merasa tertekan oleh tatapan anak-anak lainnya.
__ADS_1
'Apanya yang di belain, kakak bahkan tidak tau kalau aku sekarang ini sedang dimusuhin sama mereka' Batin anak itu, dan berbalik ingin pergi dari situ.
"Eh kamu mau kemana?" Tanya Alia menggapai tangan anak itu.
"Bukan urusan kakak. Dan satu lagi, nama ku bukan kamu, tapi Kaila" Jawab anak itu sinis.
Kaila melangkah menjauh dari yang lainnya, dan menuju ke dalam panti. Kami semua merasa kebingungan dibuatnya, entah dia tidak suka dengan kami, atau dia sekarang ini hanya lagi bermusuhan dengan teman-temannya.
"Anak itu kenapa yah?" Tanya Dirga.
"Mungkin dia gasuka lihat kam-" Jawab Budi.
"Ekhm.." Kode Jamal, agar mereka tidak berkelahi.
Salah satu anak yang sedang bermain bersama kami berkata bahwa, Kaila tidak pernah ingin akur dengan mereka semua. Dan bahkan pernah menghianati semuanya.
"Kalian sebagai seorang teman harus saling menyayangi, gaboleh musuhan. Nanti kakak yang tanya Kaila, agar dia mau akur sama kalian. Oke" Ucap Alia berjanji.
Setelah cukup lama bermain, kami pun akhirnya memutuskan untuk izin kembali ke penginapan. Karena beberapa diantara kami yang muslim belum menjalankan sholat ashar, sedangkan matahari sudah mulai terbenam.
Semuanya mengantar kami sampai ke gerbang panti, dan melambaikan tangan. Sepanjang perjalanan menuju ke penginapan, tampak Awal sudah benar-benar kembali ke sifat aslinya.
Dia berjalan penuh semangat sambil bersiul, dia juga mengatakan kepada kami bahwa tempat dia pingsan semalam adalah di jalur menuju puncak gunung yang kami lewati tadi.
Dia bahkan sampai bercanda, bahwa ingin meminta orang tuanya untuk mengadopsi salah satu di antara anak-anak tadi, soalnya dia dari dulu sangat ingin mempunyai saudara.
"Oiya, barang bawaan kita kemana?" Tanya Alia bingung.
"Astaga ketinggalan di panti" Saut semuanya secara bersamaan, sambil memukul jidatnya.
"Yaudah, kita semua kembali ajah ke penginapan. Biar Budi sama Dirga yang ambil barang-barangnya,iya kan Budi, Dirga." Ucap Jamal memilih mereka berdua, yang pada dasarnya sangat tidak boleh untuk disatukan.
"Ko dia si-!" Protes Budi dan Dirga.
"Hust....gaboleh protes, buruan pergi!" Perintah Jamal dengan raut wajah mengancam.
__ADS_1
Budi dan Dirga terpaksa menuruti Jamal, karena mereka berdua tidak ingin Jamal memarahi mereka lagi. Karena bagi Budi dan Dirga, itu sangat menakutkan dan memalukan, lebih dari apapun di dunia ini.