Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 15 KAILA II


__ADS_3

Alia hanya terdiam sebentar mendengar ucapan Kaila, dia kembali memikirkan tentang buku yang kemarin ia baca, dan untuk apa Kaila menyuruhnya untuk mengambil buku tersebut.


"Tapi itu kan punya orang, tidak mungkin kakak mengambilnya" Ucap Alia kebingungan.


"Buku itu sudah tidak berpemilik, jadi apa salahnya mengambil buku itu" Saut Kaila.


"Tapikan tetap saja, itu sama halnya dengan mencuri" Tolak Alia.


"Tunggu, kalian berdua sedang membahas apa?" Bingung Jamal.


"Ayo ke balai sekarang!" Ucap Kaila yang entah kenapa tiba-tiba saja ingin ke balai, padahal tadi dia sangat tidak ingin pergi.


Kaila menatap Jamal, dan menyodornjjjhukan kedua tangannya. Dia memberi kode, bahwa dia ingin di gendong oleh Jamal. Jamal yang bingung, masih berdiri tak mengerti arti kode yang diberikan kaila kepadanya.


Alia yang mengerti, langsung berbisik ke telinga Jamal, dan berkata bahwa Kaila ingin Jamal menggendongnya sampai ke balai desa. Jamal pun akhirnya mengerti dan mengangguk-angguk kan kepalanya.


Perlahan-lahan Jamal mengangkat tubuh Kaila, dan berjalan menuju ke balai bersama dengan Alia di sampingnya.


"Kakak gak gerah pakai kain di kepala kakak?" Tanya Kaila dengan wajah cuek.


"Oh ini, ini namanya jilbab. Kakak sama sekali tidak merasa gerah ko, ini malah membuat kakak lebih merasa sejuk dan lebih percaya diri." Jawab Alia tersenyum.


"Kalau begitu, Kaila boleh coba pakai juga gak?" Tanya kaila masih cuek, tapi sedikit penasaran juga.


"Wah pasti boleh dong, iya kan Alia" Jawab Jamal.


"Iya benar banget, kebetulan kakak bawa satu jilbab di tas kakak" Saut Alia.


Alia dan Jamal menghentikan langkah kakinya, dan Alia pun mengambil jilbab yang ada di tasnya. Dengan hati-hati, Alia menusukkan jarum pentul ke jilbab yang dipasangkan ke Kaila, agar tidak menusuk kulit.


Setelah selesai, Alia dan Jamal dengan wajah cerianya, memuji kecantikan Kaila. Dia tampak sangat cocok dengan jilbab berwarna terang terpasang di kepalanya.


"Wah Kaila cocok banget pake jilbab, pipi tembemnya lebih kelihatan imut, i......gemes deh" Puji Alia, sambil mencubit pelan pipi Kaila.


"Tapi ini panas, tadi katanya bikin sejuk" Ucap Kaila mengeluh.


"Haha, nanti juga terbiasa ko." Saut Jamal tertawa kecil.

__ADS_1


"Hhh, i-iya nanti juga Kaila bakalan terbiasa. Tapi kalau gasuka, jilbabnya buka ajah gapapa ko" Balas Alia.


"Gamau" Tolak Kaila. "Ayo cepat ke balai desa" Perintah Kaila.


Alia dan Jamal pun melanjutkan perjalanan menuju ke desa. Sesampainya di desa, mereka bertiga berpapasan dengan Budi, Awal, Dirga, beserta beberapa bapak-bapak yang ingin pergi mengecek keadaan perangkap.


Alia meminta Jamal untuk memberikan Kaila kepadanya, dan Jamal boleh ikut dengan yang lainnya menuju ke tempat perangkap dipasang.


"Kalau gitu aku pergi dulu ya Alia" Pamit Jamal.


"Iya, makasih ya udah bantu aku buat nge bujuk Kaila" Balas Alia.


"Aku gak bantuin apa-apa ko, soalnya Kaila sendiri yang akhirnya ingin pergi ke sini" Saut Jamal.


"Tetap saja kamu udah bantuin aku. Yaudah sana, yang lain udah pada nungguin tuh, Awal juga udah mulai cemberut nungguin kamu." Ucap Alia tertawa kecil.


"Kamu masih gak peka yah" Gumam Jamal.


"Apa?" Tanya Alia.


"Ah, gapapa. Aku pergi dulu yah" Jawab Jamal sedikit panik.


Kaila merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan, akhirnya dia meminta Alia untuk menggendong nya. Alia sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Kaila, sebaliknya dia sangat senang karena Kaila mulai terlihat manja seperti anak-anak pada umumnya.


Sesampainya di tempat Ulan dan Fitri, Alia pun menurunkan Kaila dan duduk memangku nya.


"Wah Kaila udah dateng nih, mau makan pisang?" Tanya Ulan menjulurkan pisang yang ada di tangannya.


Kaila menggeleng-geleng kan kepalanya, dan memeluk Alia seperti orang ketakutan.


"Wah kayaknya Kaila takut sama kamu deh Ulan" Saut Fitri menyimpulkan.


"Aaaaa ko gitu sih, kakak Ulan kan baik" Balas Ulan dengan raut wajah sedih.


Dua anak dari panti asuhan menyampiri Kaila, untuk mengajaknya bermain bersama. Namun Kaila menolak, dan makin mengencangkan pelukannya ke Alia.


"Kaila kenapa gamau main?, padahal kan teman-teman kaila ingin bermain bersama." Tanya Alia.

__ADS_1


"Udahlah Alia, mungkin saja Kaila memang sedikit sensitif terhadap dunia luar." Ujar Ulan.


"Iya juga yah. Yasudah, kalau ada apa-apa, Kaila bilang aja sama kak Alia atau Kak Ulan dan Fitri." Ucap Alia memberitahu Kaila.


* * * *


Semua warga tengah sibuk menyiapkan berbagai macam keperluan upacara adat. Para perempuan sedang sibuk membuat berbagai macam makanan, dan lelaki sedang memasang beberapa obor di sekitar desa sebagai alat penerangan pada esok malam.


Bu Susi dan Bu Ningsih, mengajarkan Alia, Ulan dan Fitri tentang cara membuat ketupat. Awalnya memang sedikit sulit, namun lama kelamaan pasti akan mudah untuk dibuat.


Mereka bertiga sangat berusaha untuk membuat ketupat dan beberapa kue tradisional, seperti klepon atau onde-onde, barongko, dan masih banyak lagi.


Karena daun pisang yang digunakan untuk membuat kue sudah habis, Bu Ningsih pun meminta Fitri dan Alia menemaninya untuk mengambil daun yang sedang di jemur di dekat sungai.


Saat mengambil daun pisang, Alia tanpa sadar menanyakan sesuatu kepada Bu Ningsih.


"Ibu punya anak yah?" Tanya Alia tanpa sadar. Itu membuat Fitri kaget, karena dia mengingat bahwa kemarin mereka memasuki kamar milik seorang gadis di rumah Bu Ningsih sembarangan.


"Darimana kamu tahu?" Jawab Bu Ningsih, sambil melontarkan kembali pertanyaan kepada Alia.


"A..itu Bu, kami kemarin gasengaja ngelihat dua foto perempuan di kamar yang ada di rumah ibu. Ka-kamar itu pintunya emang terbuka sendiri ko Bu, bukan kami yang buka,iya kan Alia." Jawab Fitri sedikit panik.


"I-iya, maaf Bu karena sudah melihat isi kamar di rumah ibu sembarangan" Saut Alia.


"Ah gapapa ko." Balas Bu Ningsih. "Ibu memang memiliki dua orang anak perempuan, tapi keduanya sudah tidak ada" Ucap Bu Ningsih.


"Maaf Bu karena sudah mengingatkan ibu." Ucap Alia meminta maaf.


"Gapapa ko na Alia. Jujur, Ibu juga masih sangat rindu dengan mereka berdua. Ibu merasa bersalah karena kurang tegas kepada mereka berdua, alhasil mereka berdua diserang oleh sekumpulan babi hutan saat berkeliaran pada malam hari." Curhat Bu Ningsih. "Astaga, maaf yah, ibu malah curhat gini" Saut ibu Ningsih.


"Gapapa ko bu, mendengar cerita ibu barusan. Alia ingin ibu berhenti menyalahkan diri ibu sendiri, karena kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahan ibu." Ujar Alia.


"Iya na Alia, sekali lagi ibu minta maaf karena ucapan ibu barusan mungkin membuat kalian berdua kepikiran." Saut Bu Ningsih. "Yasudah, ayo kita buruan angkat daunnya, pasti yang lain udah pada nungguin." Ucap Bu Ningsih mengingatkan.


Kami dengan buru-buru mengangkat daun pisang yang sudah kami pisahkan dari pelepahnya, menuju ke desa. Di desa, para ibu-ibu sedang beristirahat sambil menunggu daunnya datang.


Saat daun sudah datang, semuanya pun kembali melanjutkan membuat kue. Beberapa jam pun berlalu, tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul 13.02, Alia dan Fitri akhirnya kembali meminta izin untuk sholat di rumah Bu Ningsih.

__ADS_1


Bu Ningsih memperbolehkan mereka berdua, dan mereka pun pergi bersama Kaila yang tiba-tiba ingin ikut juga.


__ADS_2