Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 26 ULAN


__ADS_3

Bu Ningsih berbalik dan ingin menuju ke warga lain, namun Ulan memanggilnya dan mengatakan semua yang ia tau dari buku harian milik anaknya.


"Maaf, tapi aku tidak percaya dengan ibu" Saut Ulan memancing Bu Ningsih. "Kami telah membaca semua isi dari buku harian milik anak ibu. Apa benar bahwa desa ini pernah menumbalkan wanita, dan wanita itu adalah anak ibu sendiri." Ucap Ulan mencoba memberanikan diri.


Benar saja, ucapan Ulan memancing Bu Ningsih dan membuatnya kembali berbalik ke arah Ulan. Namun sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi, sesaat setelah Bu Ningsih berbalik, tiba-tiba saja langit menjadi mendung, dan seluruh pelosok desa menjadi hancur terbakar.


Ulan tercengang melihat keadaan itu, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Bu Ningsih yang tadinya masih dalam keadaan baik-baik saja, berubah menjadi sosok manusia berbadan hangus.


"Ternyata benar bahwa kalian yang telah memanggil buku tersebut, padahal jika kalian tidak mengacau, kalian akan kami bebaskan. Tapi tentu saja kami akan mengambil salah satu di antara kalian sebagai tumbal untuk desa ini" Ucap Bu Ningsih sambil melangkah mendekati Ulan.


Ulan yang sedikit ketakutan pun melangkah mundur, hingga akhirnya dia berhenti karena di belakangnya adalah sumur. Dia berbalik sedikit ke arah belakang, dan melihat sumur itu berubah menjadi sumur yang penuh dengan mayad. Sumur yang tadinya tidak berair, tiba-tiba saja penuh dengan air.


Suara meminta tolong bergema di dalam sumur tersebut, mayat-mayat itu bergeliat dan mencoba keluar dari tempat itu. Ulan seketika membulatkan matanya menyaksikan pemandangan tersebut.


Ulan yang hampir ditelan oleh rasa takutnya, seketika kembali meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah dan dia harus keluar dari desa turi dalam keadaan baik. Ulan kembali menatap ke arah Bu Ningsih, dan tak disangka Bu Ningsih telah berada tepat di depan tubuhnya.


"Haha, ibu kira aku takut?." Tanya Ulan menyeringai. "Aku tidak takut dengan apapun, apalagi setan!!. Kalian semua berakhir seperti ini pasti karena dosa kalian di masa lalu, terutama ibu yang rela mengorbankan anaknya demi harta yang tidak mempunyai nilai apa-apa lagi disaat ibu mati" Gertak Ulan berusaha memberanikan diri.


Walaupun Ulan sudah berusaha untuk berani, dia masih belum menyadari bahwa sekarang dia sedang terpojok. Warga desa yang berwujud seperti Bu Ningsih, saat ini sedang mengepungngi nya di arah kanan dan kiri. Dia juga sudah tidak dapat mundur lagi, karena di belakangnya hanya ada sumur besar yang sangat dalam.


Walaupun sekarang ia baru menyadarinya, dan mencoba mendorong Bu Ningsih yang berada di hadapannya, namun itu semua percuma. Energi makhluk halus lebih kuat jika berhadapan dengan seseorang yang sedang merasa ketakutan.


Perlahan-lahan tubuh Ulan bergerak mundur dengan sendirinya, hingga mentok di pinggir sumur. Ulan menelan salivanya, tubuhnya yang sudah tidak dapat menahan rasa takutnya lagi, akhirnya kehilangan tenaga.


Byur....

__ADS_1


Tubuh Ulan terjatuh ke dalam sumur, bersama dengan mayad-mayad yang lain. Tidak ada perlawanan sama sekali, ia membiarkan tubuhnya tenggelam di dalam air yang berbau itu. Perlahan-lahan ia menutup matanya dan sebuah ingatan singkat terlintas di pikirannya.


Ulan kembali membuka kedua matanya, dan berusaha berenang ke atas. Dia menggeser tubuh mayad yang menghalangi di atas permukaan air, agar ia dapat menghirup udara.


"Ah" Desa Ulan sambil berusaha bertahan. "Goblok!!, anying. Setan apaan!?, gua gatakut sama setan, tadi gua jatuh karena kesalahan author doang, awas lo yah, kalau sampai gua berhasil naik, lo bakal gua injak-injak, gua hilangin harga diri lo" Pekik Ulan sambil terengah-engah.


Bu Ningsih melihat Ulan dari atas dengan ekspresi wajah puas. Sebuah papan perlahan-lahan menutup sumur tersebut, cahaya mulai menghilang dan akhirnya Ulan terkurung di dalam sana dalam keadaan gelap.


"Sial....!!!" Teriak Ulan sambil berusaha untuk memanjat.


Mayad-mayad yang berhenti bergeliat disaat Ulan terjatuh, tiba-tiba saja kembali bergerak dan menggenggam kaki Ulan. Tangan-tangan itu mengenggam erat kaki Ulan, dan menjatuhkannya.


Mereka menenggelamkan Ulan, hingga akhirnya Ulan tak dapat lagi untuk bertahan karena sekujur tubuhnya mati rasa.


Setelah meninggalkan Ulan di dalam sumur, Bu Ningsih kembali berkumpul dengan warga lainnya untuk siap-siap berangkat ke puncak. Fitri dan Awal tidak mengetahui dimana dan apa yang terjadi barusan, mereka tidak dapat melihat keadaan desa beserta warga-warga yang berubah menjadi sesuatu yang mengerikan tadi. Karena mereka berada di dunia yang berbeda sekarang ini.


Bu Ningsih dan Fitri bertugas untuk menerangi bagian depan menggunakan obor yang di buat oleh warga tempo harinya, sedangkan Awal dan pak Dito bertugas menerangi bagian belakang.


"Awal" Panggil Fitri sebelum berangkat.


"Iya, kenapa?" Tanya Awal.


"Yang lainnya ko belum pada balik sih?" Jawab Fitri khawatir.


"Iyanih, Ulan dan Alia juga gaada, padahal mereka berdua tadinya masih ada di sana, tapi udah ngilang aja" Bingung Awal, sambil menatap kearah pohon besar di dekat rumah warga.

__ADS_1


"Nak Fitri, Nak Awal" Panggil pak Dito(pak kades). "Kalian sebaiknya bersiap-siap, karena sebentar lagi kita akan berangkat menuju ke puncak" Ucap pak Dito.


"I-iya pak" Jawab Fitri.


"Baiklah kalau begitu bapak tinggal dulu ya" Balas pak Dito.


"Jadi gimana nih Wal" Bingung Fitri.


"Yah gimana lagi, kita harus pergi. Mereka mungkin pergi ke tempat lain dulu, jadi gausah khawatir" Ucap Awal tersenyum.


"Emm, bener juga ya. Yaudah deh, ayo kita bersiap-siap".


"Ayo"


Sebelumnya di tempat lain, Budi menuruni gunung menuju ke tempat Jamal dan Dirga berada. Budi berinisiatif untuk melewati jalur lain menuju ke bawah yang melewati pepohonan yang menjulang tinggi, dan suasana yang sunyi. Dia bahkan tidak tau bahwa jalur yang sekarang ia lewati adalah jalur tempat perangkap-perasaan untuk hewan buas di pasang.


"Ah, Dirga sama Jamal ko belum ke desa juga sih, gara-gara mereka aku terpaksa untuk turun menemuinya." Keluh Budi sambil melewati beberapa akar pohon yang menghalangi nya.


Beberapa menit ia lewati di dalam hutan tanpa kendala apapun selain akar pohon yang terus menghalanginya. Namun tiba-tiba saja ia melihat seekor babi hutan yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dia sedikit takut sampai tak bergerak sedikit pun.Dia takut jika ia melangkah dan membuat suara, babi itu akan melihat dan mengejarnya.


Pilihannya untuk saat ini memang benar, tapi tidak mungkin juga ia terus tinggal diam di tempat itu, sementara hari sudah mulai gelap. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mencoba melangkah menjauh dari babi itu, namun tiba-tiba saja sebuh ranting terjatuh tepat di depannya. Suara dari ranting itu membuat babi tersebut melihat kearah Budi, dan akhirnya berlari mengejar nya.


Budi dengan ekspresi ketakutan terus berlari, berharap babi itu berhenti untuk mengejarnya. Sesekali ia memberanikan diri untuk melihat ke arah belakang. Tak lama kemudian, babi itu terkena salah satu perangkap yang dibuat oleh warga di tempat itu.


Jeritan babi tersebut membuat langkah Budi terhenti, dan melihat ke arah belakang. Dengan rasa lega, Budi mulia mengeluarkan kata-kata mutiara kepada babi itu.

__ADS_1


"Nah kan bangsat, makanya gausah ngejar-ngejar gua, kena perangkap kan lo babi!!. Sekarang nikmatilah hidup mu yang terbalik itu, dasar babi!!" Elek Budi tertawa keras.


__ADS_2