Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 16 DIRGA MENGHILANG


__ADS_3

Seperti biasa, Alia dan Fitri mengambil wudhu dan sholat bersama di tempat yang Bu Ningsih siapkan kemarin. Kaila yang tadinya hanya duduk menunggu Alia dan Fitri sholat, tiba-tiba entah kemana.


Dan saat Kaila kembali, dia berbohong ke Alia bahwa dia ingin buang air besar, dan ingin Alia menemaninya. Karena Alia menganggap Kaila tidak berbohong, dia pun meminta Fitri untuk pergi duluan ke balai desa.


Saat Fitri sudah kembali, Kaila melihat sekelilingnya terlebih dahulu, membuat Alia bingung dengan tingkah laku Kaila. Kaila yang merasa sudah aman, langsung menarik tangan Alia menuju ke kamar yang di katakan Alia tadi.


"Kaila, kita mau ngapain disini?,dan kenapa kamarnya semakin berantakan?" Tanya Alia gelisah.


"Tolong ambil itu" Jawab kaila menunjuk ke arah buku yang ada di atas lemari.


"Loh, bukannya kemarin bukunya ada di meja yah?" Bingung Alia. "Aku gabisa ambil itu Kaila, itu kan punya orang" Tolak Alia.


"Kan aku sudah bilang, kalau buku itu sudah tidak mempunyai pemilik!" Kesal Kaila.


"Tapi kan" Balas Alia.


Karena melihat raut wajah Kaila yang begitu serius dan sangat kekeh ingin Alia mengambil buku itu, akhirnya dengan perasaan ragu-ragu Alia menggapainya dan memberikannya ke Kaila.


"Nah bukunya sudah kakak ambil, sekarang ayo kita pinjam ke Bu Ningsih dulu." Ucap Alia.


"Kakak jangan bersikap bodoh dong, kalau kita kasi tau Bu Ningsih, tentu saja dia tidak akan membiarkan kita untuk meminjamnya." Kesal Kaila.


* * * *


Bu Ningsih yang melihat pintu kamar milik anaknya terbuka lagi, dengan hati-hati melangkah menuju ke kamar itu. Saat masuk, dia tidak melihat siapapun kecuali kucing yang dia pelihara di rumahnya.


"Hah..!" Desah Bu Ningsih. "Pasti kamu lagi yang ngeberantakin kamar ini kan reong" Ucap Bu Ningsih menuduh kucingnya. "Padahal kemarin ibu sudah benerin, tapi kamu berantakin lagi. Ayo keluar" Ucap Bu Ningsih sambil mengangkat kucingnya keluar.


Sebelum keluar, Bu Ningsih menatap tajam ke arah lemari yang ada di sampingnya itu, setelah itu dia langsung keluar dan menutup pintu kamar.


Saat Bu Ningsih keluar, dia berpapasan dengan Alia dan Kaila yang keluar dari arah dapur.


"Nak Alia baru mau sholat?" Tanya Bu Ningsih.


"Alia sudah sholat ko bu, ini Kaila tadi tiba-tiba ingin buang air besar, jadi Alia temenin dulu." Jawab Alia berbohong.

__ADS_1


"Owh gitu yah, yasudah ibu ke dalam dulu ambil baskom" Ucap bu Ningsih tersenyum.


"Iya bu, saya juga pamit ke balai duluan ya bu" Balas Alia.


Saat sudah membelakangi Alia, raut wajah bu Ningsih seketika berubah, seolah olah merasa curiga kepada Alia.


Alia keluar dari rumah bu Ningsih dengan perasaan lega, hampir saja mereka berdua terkena masalah karena telah masuk sembarangan ke ruangan orang, bahkan mengambil barang milik orang lain.


Untung saja Kaila dan Alia langsung menyadari bahwa bu Ningsih sedang menuju ke arah kamar, dan langsung keluar melalui jendela, setelah itu masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


"Kakak galupa tutup pintu belakang sama jendela kan?" Tanya Kaila memastikan.


"Kakak tutup ko" Jawab Alia masih tidak tenang.


"Yasudah, kalau begitu berhenti memasang wajah khawatir yang dapat memancing kecurigaan." Ucap Kaila. "Kakak seperti orang yang tidak pernah mengambil barang orang lain saja" Ucap Kaila dengan ekspresi muka datar.


"Kakak memang pernah ambil barang orang lain, tapi barang yang kakak ambil adalah barang milik keluarga sendiri, sedangkan yang kita ambil sekarang merupakan barang milik orang yang baru kakak kenal." Balas Alia berusaha bersikap tenang.


"Udah gapapa, ayo cepat kita pergi ke balai" Ajak Kaila sambil menarik tangan Alia.


Para bapak-bapak itu datang dengan membawa seekor rusa betina besar yang diikatkan di bambu, lalu digotong. Semua orang yang berada di balai bersorak gembira, karena mereka berhasil menangkap rusa yang sudah lama mereka incar.


Semuanya melangkah mendekati rusa itu, untuk melihatnya lebih jelas.


"Wih..gede banget" Puji Ulan.


"Iya dong. Ini kalau di makan, bisa genap satu kampung loh" Saut Budi.


"Pundak bapak-bapak yang nge gotongin rusa nya pasti pada sakit deh" Cemas Fitri.


"Rusanya ringan ko, soalnya gue yang pertama nge gotong rusa itu sampai di pertengahan jalan tadi." Ucap Awal berbohong.


"Cih, pertengahan jalan apanya. Lu baru ngangkat sekitar dua menitan, langsung merengek minta di ganti." Saut Dirga berkata jujur.


"Bohong!, Dirga bohong. Jangan percaya" Ucap Awal menolak kebenaran.

__ADS_1


"Haha, dilihat dari mana pun tetep kelihatan bohongnya ko" Balas Ulan sambil tertawa.


"Hahaha" Fitri, Dirga, Budi, dan Jamal ikut tertawa.


"Ah.....!!. Udah-udah, stop tertawa dan beritahu dimana Alia ku" Kesal Awal.


"Idih, idih idih, gausah pakai kata 'ku' kaliiii." Saut Ulan merasa geli. "Noh disana, dia gabisa kesini karena Kaila takut sama rusa." Jawab Ulan.


Semuanya berbalik kearah Alia yang sedang menggendong Kaila, Jamal dan Awal melangkah menuju ke arah Alia berada. Ulan dan yang lainnya tersenyum menahan tawa melihat mereka berdua.


Ulan, Budi, dan Dirga kecuali Fitri tau bahwa Jamal dan Awal memiliki perasaan yang lebih dari kata teman kepada Alia. Namun sayangnya Alia tidak mengetahui perasaan mereka berdua, Alia hanya menganggap mereka sebagai keluarga.


Jamal, Alia, dan Awal berbincang-bincang tentang sesuatu, Awal juga terlihat ingin menggendong Kaila, namun Kaila menolak. Kaila malah lebih memilih di gendong Jamal daripada Awal.


* * * *


Ulan dan Fitri kembali ke balai desa untuk membantu yang lainnya. Sedangkan Budi, dan Dirga memutuskan untuk pergi ke sungai menjala ikan bersama dengan pak Tono, dan dua warga lain.


Sebelum pergi, mereka berlima makan terlebih dahulu, dan membawa beberapa bekal untuk dimakan di sungai nanti.


* * * *


Rusa yang tadi dibawa oleh warga, akan disembelih pada esok siang. Semua jenis kue juga sudah selesai kami buat, tinggal tempat menaruh persembahan saja yang belum selesai dibuat.


Tempat persembahan nya dibuat menyerupai rumah kecil, dengan rotan sebagai bahan utamanya. Besar tempatnya akan disesuaikan dengan besar kepala rusa yang akan kami persembahkan.


Pembuatan tempat persembahan memakan waktu yang cukup lama. Hari mulai menjelang malam, namun tempatnya belum selesai dibuat, karena upacara adatnya akan dilaksanakan pada esok malam, jadi warga memutuskan untuk lanjut membuat tempat persembahan nya pada esok hari saja.


Untuk hari ini semua pekerjaan di hentikan dulu, besok siang kami semua akan melanjutkannya, dan menyelesaikan semua sebelum menjelang malam.


Besok merupakan hari yang menurut kami adalah hari yang paling di nanti-nanti, karena untuk pertama kalinya kami semua akan berkumpul bersama merayakan upacara adat pada malam hari.


setengah perjalanan kami lewati terasa sangat berbeda, rasanya ada seseorang yang kurang. Setelah di perhatian baik-baik, ternyata Dirga sama sekali tidak bersama kami. Semuanya mulai sedikit khawatir, karena tadi Dirga meminta izin untuk pergi menaruh jala di rumah Bu Susi.


Namun sampai sekarang tak kunjung datang, akhirnya Jamal dan Budi memutuskan untuk kembali ke desa untuk mencari Dirga, sedangkan yang lainnya kembali menunggu di penginapan.

__ADS_1


Saat Jamal dan Budi telah tiba di desa, mereka langsung menuju kerumah Bu Susi untuk melihat apakah Dirga masih berada di sana. Namun saat mereka berdua tiba di sana, Bu Susi berkata bahwa Dirga baru saja kembali.


__ADS_2