
Jamal berhenti sejenak, dan mencoba menghentikan getaran tubuhnya. Jamal tidak ingin membuat teman-temannya khawatir, dan tidak ingin pula memberitahu kan yang lainnya, bahwa ia baru saja melihat sosok tak kasat mata.
Setelah badannya berhenti bergetar, dia pun dengan santai melangkah menuju ke ruang tamu. Ruang tamu tampaknya sudah terlihat sedikit terang, berkat pelita yang mereka ambil dari dapur.
Yang lainnya lanjut menyantap makanan masing-masing. Jamal kembali duduk di tempatnya, dan menggapai piring berisi makanan yang tadi ia makan.
"Kamu ganti baju Jamal?" Tanya Alia.
"Iya nih, soalnya aku masih belum terbiasa dengan suhu di daerah pegunungan" Jawab Jamal.
"Anak orang kaya seperti kamu mah cuma terbiasa sama suhu AC" Canda Budi.
"Hhhh, bener banget" Balas Ulan.
"Yeee, gak gitu juga kali. Dahla gua mau makan" Saut Jamal.
* * * *
Setelah semuanya selesai makan, kami pun duduk berkumpul membicarakan tentang bagaimana rencana selanjutnya. Apakah semuanya ingin tetap tinggal di desa turi sampai upacara adatnya selesai, atau pulang besok setelah mobil selesai diperbaiki.
Awalnya Fitri ingin pulang, karena tujuan awalnya hanya ingin ke kampung halaman orangtua nya yang ada di pantai Tanjung. Namun setelah dia memikirkan nya lagi, akhirnya Fitri pun memilih untuk tetap tinggal di sini bersama yang lainnya, hingga upacara adat selesai.
Setelah semuanya telah sepakat, kami pun kembali membahas masalah siapa yang akan pergi ke puncak gunung bersama masyarakat, untuk membawa persembahan.
"Jadi siapa nih yang mau?" Tanya Ulan.
"Emm kalau aku sih gamau" Jawab Dirga.
"Aku juga" Saut Budi dan Jamal.
"Ini cowonya kenapa pada gamau sih?!. Lu ajah deh yang pergi Awal" Kesal Ulan.
"Aku sih oke oke aja" Jawab Awal tidak mempermasalahkan nya.
"Oke, berarti udah fiks, kalau yang cowo Awal yang pergi." Saut Ulan. "Nah sekarang yang cewe, Alia lu mau ga?" Tanya Ulan.
"Aku gakuat mendaki Lan" Jawab Alia.
"Dasar remaja jompo.Fitri kalau lu?" Tanya kembali Ulan.
__ADS_1
"Kalau aku sih terserah kamu" Jawab Fitri.
"Hadeh cewe." Keluh Ulan. "Yasudah, kamu aja yang pergi Fitri, aku juga gakuat mendaki hehe" Ucap Ulan.
"Dasar remaja jompo" Saut semuanya bersamaan.
"Suka-suka aku dong!"
Tak lama kemudian, lampu kembali menyala. Alia, Fitri dan Awal pun mengangkat piring kotor ke dalam untuk dicuci. Setelah cuci piring, mereka semua akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Di kamar yang berbeda, nampaknya Jamal dan juga Alia belum tertidur. Mereka terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berbeda. Alia masih memikirkan isi dari buku yang ia lihat di rumah bu Ningsih, sedangkan Jamal memikirkan sosok bermata besar yang barusan ia lihat.
"Apa sebenarnya isi buku itu, aku belum sempat membacanya lebih jauh. Kemungkinan besar isi bukunya berhubung dengan apa yang pernah dek Kaila katakan. Kalau aku minta ke bu Ningsih, nanti bu Ningsih bertanya darimana aku tau buku itu. Gamungkin juga aku ambil tanpa sepengetahuan bu Ningsih,itu kan namanya mencuri." Batin Alia dengan ekspresi wajah bingung.
"Alia, ko kamu belum tidur sih? . Lihat tuh Fitri, tidurnya nyenyak banget" Tanya Ulan setengah sadar.
"Gapapa ko Ulan, kamu tidur ajah" Jawab Alia.
"Oh yaudah, aku tidur ya" Balas Ulan kembali tertidur.
Di kamar kedua, Jamal masih saja memikirkan sosok yang tadi dia lihat. Dia bahkan masih tidak berani menatap ke arah jendela, karena takut sosok itu mengintip.
Dia berfikir bahwa mungkin saja apa yang barusan ia lihat, sama dengan apa yang Budi dan Dirga lihat sebelumnya, namun dia lebih melihat sosoknya dengan jelas.
Karena dibuat pusing oleh fikiran nya, Jamal pun akhirnya memutuskan untuk melupakan apa yang tadi ia lihat, dan memilih untuk tidur, begitupula dengan Alia.
* * * *
Keesokan harinya, semuanya tengah bersiap-siap ingin pergi ke balai desa. Jamal dan Dirga juga ikut pergi, mereka berdua memutuskan untuk lanjut memperbaiki mobil ketika acara telah selesai saja.
Sebelum berangkat, semuanya makan dan ber beres-beres rumah terlebih dahulu. Setelah selesai, kami pun berangkat bersama-sama menuju ke balai desa. Di perjalanan, kami berpapasan dengan para anak-anak dari panti asuhan,dan juga pengurus panti.
Kebetulan mereka semua juga ingin pergi ke balai desa untuk membantu para warga, mereka semua berjalan dengan tertib mengikuti ibu pengurus panti. Hanya saja, Alia sama sekali tidak melihat Kaila.
Karena penasaran, Alia pun bertanya ke Bu Wati dimana Kaila berada sekarang. Bu Wati menjawab bahwa Kaila tidak ingin keluar dari rumah, padahal sudah berulangkali di bujuk, tapi Kaila tetap tidak mau.
Karena Alia masih penasaran dengan ucapan Kaila, dan buku yang kemarin ia baca, Alia pun meminta izin untuk mencoba membujuk Kaila agar ikut. Tentu saja Bu Wati memperbolehkan Alia untuk membujuk Kaila.
"Kalau begitu, aku ke panti dulu yah, yang lain duluan aja" Pamit Alia.
__ADS_1
"Aku temenin yah" Ucap Jamal.
"Aku juga ikut!" Saut Awal.
"Udalah Awal, kamu itu gausah ikut, ayo buruan kita ke desa." Balas Ulan, sambil menarik paksa lengan Awal.
"Eh ta-tapi" Ucap Awal tidak ingin pergi.
"Udahlah ayo ih" Tarik paksa Budi, membuat Awal akhirnya tidak dapat melawan lagi.
Semuanya tertawa kecil melihat tingkah Awal yang masih sedikit kekanak-kanakan. Namun itu adalah ciri khas dari sifat Awal, yang membuat semuanya terhibur jika bersama dengannya.
"Yaudah, ayo Alia" Ajak Jamal.
"Iya" Balas Alia.
Alia dan Jamal pun berbalik ke arah yang berlawanan dengan yang lain, menuju ke panti asuhan untuk bertemu dengan Kaila. Sesampainya di panti, Alia melihat Kaila duduk di tempat yang selalu ia tempati untuk merenung.
Perlahan-lahan Alia dan Jamal melangkah mendekati Kaila yang sedang memandangi puncak gunung, seperti biasa.
"Kaila" Panggil Alia dengan nada lembutnya.
Kaila hanya berbalik sebentar ke arah Alia, dan kembali melihat kearah puncak gunung. Alia duduk di samping Kaila, dan ikut memandangi pegunungan.
"Kaila kenapa gamau ikut ke balai desa, disini kan sepi gaada siapa-siapa" Tanya Alia baik-baik.
"Aku dari dulu sudah selalu sendiri ko" Jawab Kaila cuek.
"Kaila gatakut disini sendirian?, nanti ada hewan buas gimana?. Ayo kita bersama-sama pergi ke balai, nanti biar kakak yang gendong deh kalau Kaila lagi malas jalan" Bujuk Jamal pelan-pelan.
"Gamau" Tolak Kaila. "Kaila gamau kemana-mana, Kaila cuma mau disini saja, kasihan Ibu Miranda gaada yang temenin!." Kesal Kaila, membuat Alia dan Jamal bingung.
"Ibu Miranda?, disini kan gaada siapa-siapa" Gumam Alia bingung.
"Dia ada ko di puncak, Bu Miranda lagi merhatiin kalian. Padahal kalian sudah dikasi peringatan waktu itu, tapi ko kalian gak ngedengerin Bu Miranda sih?" Kesal Kaila.
"Maksud dek Kaila apa yah?" Tanya Jamal kebingungan.
"Sudahlah, sekarang pilihan kalian cuma dua. Tetap tinggal di desa ini, atau pergi sekarang juga" Jawab Kaila memberikan pilihan.
__ADS_1
Ucapan Kaila semakin membuat Alia dan Jamal makin kebingungan. Alia pun kembali menanyakan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan apa yang sering Kaila katakan kepadanya.
Saat Alia memberitahu Kaila tentang buku yang dia temukan di rumah bu Ningsih, Kaila langsung berdiri dan menyuruh Alia untuk mengambil buku tersebut, dan membacanya agar Alia mengerti kenapa kaila selalu menyuruhnya untuk pergi dari desa Turi. Alia dan yang lainnya harus tau secepatnya tentang sesuatu yang akan terjadi kepada mereka semua.