Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 9 BUDI DAN DIRGA


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Dirga dan Budi awalnya hanya saling berdiam diaman. Hingga akhirnya mereka pun saling beradu kecepatan.


"Haha, lambat banget sih lo. Kayak kura-kura tau gak" Ejek Budi sambil berlari lebih cepat dari Dirga.


"Eleh, awas aja loh!" Kesal Dirga.


Tanpa mereka sadari, mereka telah melewati panti asuhan.


"Budi!" Panggil Dirga terengah-engah.


"Haha, lo udah nyerah yah" Ejek Budi salah faham.


"Gak tolol. Lu gasadar apa kalau kita udah nge lewatin panti!" Teriak Dirga kesal.


Budi dengan cepat menghentikan langkahnya, dan berbalik kearah Dirga. Budi memperhatikan sekitarnya, dan akhirnya menyadari bahwa mereka benar-benar telah melewati panti.


Sekarang mereka malah kembali berada di jalur menuju ke puncak gunung. Saat ingin kembali menuju ke panti, Budi dan Dirga tak sengaja menemukan sebuah gudang kecil yang tersembunyi di antara semak-semak berduri, yang letaknya tidak jauh dari jalur menuju ke puncak.


"Tempat apaan itu?, wc kah?." Bingung Budi.


"Gatau, tadi perasaan gaada deh" Jawab Dirga.


"Buka boleh kali" Canda Budi.


"Buka ajah, gua juga penasaran" Ucap Dirga.


Mereka perlahan-lahan mendekati gudang kecil itu, dan menggapai pegangan pintu gudang tersebut. Saat ingin memutar gagangan pintu, tiba-tiba saja seseorang memegang pundak mereka berdua. Budi dan Dirga begitu kaget, dan perlahan-lahan berbalik ke arah belakang.


"Astaghfirullah" Kaget Dirga "Pak kades ngagetin ajah, kami kira siapa" Ucap Dirga legah.


"Iya nih,jantung saya hampir saja ninggalin tempatnya pak" Balas Budi.


"Maaf, bapak gak bermaksud ngagetin kalian." Ucap pak kades meminta maaf. "Kalau boleh tau, kalian ngapain disini?" Tanya pak kades.


"Oh, ini pak kami tadi ingin ke panti, tapi malah sampai kesini." Ucap Budi tertawa kecil, sambil menggaruk-garukkan kepalanya.


"Ko bisa kalian ngelewatin panti." Bingung pak kades.


"Hehe ada deh. Oiyah pak Kalau boleh tau, ini tempat apa yah?" Tanya Budi, sambil menunjuk ke arah gudang yang ada di belakangnya.


"Itu cuma gudang biasa, gaada yang menarik di dalam sana" Jawab pak kades tersenyum.


"Kami boleh lihat gak pak?" Tanya Dirga penasaran.


"Aduh gabisa,pintunya sudah dikunci. Walaupun di dobrak pintunya tidak akan terbuka, karena sudah berkarat." Jawab pak kades berbohong, namun tidak mereka berdua sadari.


"Owh gitu ya pak." Balas Budi percaya. "Yaudah kalau begitu, kami berdua pamit ke penginapan ya pak" Ucap Budi.


"Iya, hati-hati yah" Balas pak kades, dan dijawab dengan anggukan Budi serta Dirga sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah mengambil barang-barang mereka di panti asuhan, Budi dan Dirga pun kembali menuju ke penginapan. Di perjalanan menuju ke penginapan, Budi membahas tentang gudang kecil yang tadi. Dia berkata, bahwa dia masih sedikit penasaran dengan isi yang ada di dalam gudang tersebut.


Dirga hanya mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan rasa penasaran Budi. Jika Budi ingin melihatnya, maka buka, dan cari tahu sendiri.


* * * *


Budi dan Dirga kembali ke penginapan dengan raut wajah seperti biasa, dan tidak mengatakan apapun.


"Nah datang juga." Kesal Ulan yang daritadi menunggu mereka berdua. "Kalian dari mana ajah sih?, daritadi ditungguin kagak nongol-nongol." Tanya Ulan


"Gak dari mana-mana ko" Jawab Dirga berbohong, karena jika dia memberitahu Ulan bahwa mereka berdua sempat ngelewatin panti, hanya karena berselisih kecepatan, maka Ulan akan mengejek mereka berdua lagi.


"Hem..." Gumam Ulan curiga. "Yaudah mana sinih kotak makanannya?, gua mau cuci!" Gertak Ulan.


"Iya iya sabar" Balas Budi, sembari mengeluarkan kotak makanan dari tas ransel yang dia bawa.


* * * *


Malam harinya, sama seperti biasa. Kami semua mengerjakan masing-masing tugas kami, Alia dan Fitri mencuci piring. Jamal, Ulan, dan Awal membersihkan kamar. Sedangkan Budi dan Dirga duel main kartu, beban banget.


"Budi, Dirga!" Panggil Alia. "Boleh tolong buang sampah ke belakang ga?,berhubung kalian gak lagi ngapa-ngapain." Minta tolong Alia


"Lah ko aku juga sih, Dirga aja sendiri" Balas Budi tidak terima.


"Ih!, lo ajah kali sendiri." Kesal Dirga.


Mereka berdua kembali bertengkar, hanya karena masalah sampah. Karena mereka tidak berhenti juga, akhirnya Alia memutuskan untuk minta tolong ke Jamal.


"Oke oke, kami akan membuang sampahnya, Alia. Jadi jangan panggil Jamal" Ucap Budi panik


"Iya Alia, kami berdua bakalan buang sampahnya ko" Saut Dirga juga panik.


"Ya-yaudah, sampahnya ada di teras belakang. Hati-hati ajah yah siapa tau ad-" Ucap Alia bingung.


"Tenang ajah, kami akan hati-hati ko" Saut Dirga memotong ucapan Alia.


Mereka berdua pun segera bergegas ke teras belakang, untuk membuang sampah yang Alia perintahkan tadi.


"Apa Alia?" Tanya Jamal nyamperin Alia.


"Oh, itu. Tadi aku panggil kamu buat minta tolong bantuin aku buang sampah,soalnya Budi sama Dirga tadinya gamau." Jawab Alia.


"Oh.. Tapi mereka berdua udah pergi kan?" Tanya Jamal kembali.


"Iya udah pergi" Jawab Alia.


* * * *


Dirga dan Budi menuju ke belakang untuk membuang sampah, tempat membuang sampahnya tidak terlalu jauh dari rumah.

__ADS_1


"Seharusnya lo yang buang sampah sendiri" Ucap Budi tidak terima.


"Lah ko gua, kan lu sama gua yang disuruh buang sampah." Kesal Dirga.


"Cih, bilang ajah lu takut buang sampah sendirian" Ucap sinis Budi.


"Enak ajah,lu kali yang takut!!" Balas Dirga.


Swishh.....


Suara berisik dari semak-semak dari arah depan, membuat mereka berdua kaget. Saat mereka mencoba melihat lebih jelas ke arah semak-semak tersebut menggunakan senter handphone mereka, tiba-tiba saja terlihat sebuah mata besar menyala sedang memandangi mereka berdua.


Karena takut, mereka berdua langsung menjatuhkan sampah yang mereka pegang, dan lari menjauh dari tempat itu.


"Lo kenapa lari?!" Tanya Dirga berlari tergesa-gesa.


"Lah lo juga ngapain lari!?" Tanya Budi kembali.


Mereka terus berlari tanpa sedikitpun berbalik ke arah belakang. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat penginapan. Karena terlalu kaget, mereka berdua sampai lupa melepas sandal mereka sampai ke dalam rumah.


Alia dan Fitri yang sedang mencuci piring, dibuat kaget oleh Budi dan Dirga yang datang tiba-tiba, dengan wajah memerah karena capek berlari.


"Yaampun, kalian berdua ngapain sih. Aku sama Fitri jadi kaget tau gak" Ucap Alia sambil memegang dadanya yang berdenyut kencang karena kaget.


"Sorry banget nih Alia, Fitri" Balas Dirga ngos-ngosan.


Jamal, Awal, dan Ulan yang mendengar kebisingan dari arah dapur, seketika berlari mengecek keadaan di dalam sana.


"Ada apa ini?!" Saut Ulan dengan wajah panik.


"Gatau nih mereka berdua, tiba-tiba ajah datang kayak orang abis ketemu setan." Jawab Alia. "Mana sandalnya belum dilepas lagi" Ucap Alia melihat kaki Budi dan Dirga.


"Maaf Alia, kita berdua bakalan bersihin ko lantainya." Balas Budi setelah melihat kakinya yang mengotori lantai.


"Kalian berdua kenapa sih?" Tanya Awal.


"Tadi gua sama Budi habis lihat mata besar menyala di semak-semak pas lagi buang sampah" Jawab Dirga masih kaget.


"Mata?" Bingung Fitri. "Ah..mungkin yang kalian lihat adalah mata patung harimau yang ada di kebetulan memang ada di belakang" Ucap Fitri.


"Yeeee ternyata mata patung, cemen banget kalian, masa gitu ajah takut" Ejek Ulan.


"Gua mana tau kalau itu mata patung,kan posisinya lagi gelap" Kesal Dirga.


"Iya nih" Lanjut Budi.


"Alah, alasan. Emang dasarnya kalian memang penakut, masa gitu ajah langsung lari, seharusnya kalian cek dulu baru nyimpulin itu apa" Ejek Ulan.


"Udah-udah, ntar berantem lagi. Budi, Dirga, mending sekarang kalian bersihin tuh lantai, terus Ulan kembali ngerapiin tempat tidur" Perintah Jamal.

__ADS_1


"Iya-iya" Saut Dirga, Budi, dan Ulan secara bersamaan.


__ADS_2