Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 25 KETAKUTAN


__ADS_3

Maria sempat melawan karena ingin keluar, namun Bu Ningsih dengan mudah membuatnya terdiam. Bu Ningsih berkata bahwa jika Maria terus melawan, maka Maria akan segera menyusul ayah serta kakanya menuju ke alam lain.


Maria terdiam dengan perasaan yang tidak karuan. Dia meng jambak rambutnya dengan kuat hingga rontok, sekarang ini mentalnya sangat hancur karena ibunya sendiri.


Hari demi hari berlalu, Maria masih terus terkurung di dalam kamarnya yang gelap dan pengap. Sudah satu bulan ia tidak melihat dunia luar, namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa dengan suasana seperti itu.


Suatu hari, Maria mendengar seseorang datang ke rumah nya sambil mencari Bu Ningsih dengan niat untuk membicarakan sesuatu. Percakapan itu terdengar oleh Maria, orang-orang tengah membicarakan tentang situasi desa saat ini.


Mereka berkata bahwa sudah ada sebulan setelah Dewi di jadikan tumbal, namun tidak ada hasil yang mereka peroleh. Desa masih mengalami krisis pangan dan juga air akibat kemarau yang berkepanjangan.


Mereka mengira bahwa tumbal kali ini sangat tidak sesuai untuk dijadikan persembahan, warga juga sedikit menggertak Bu Ningsih dengan cara mengancam nya menggunakan harta yang mereka janjikan, jika penumbalan membuahkan hasil yang baik.


Tentu itu membuat Bu Ningsih menjadi gelisah, dan akhirnya menggunakan harta terakhir miliknya sebagai bahan kesepakatan. Dimana harta itu adalah satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang.


Warga dan Bu Ningsih akhirnya melakukan kesempatan yang terakhir kalinya, dimana Bu Ningsih akan merelakan anaknya lagi sebagai tumbal untuk desa.


Mendengar kesempatan itu, membuat Maria mengamuk dan berusaha mendobrak pintu. Bu Ningsih dan warga yang berkumpul di ruang tamu pun terkejut mendengar teriakan Maria. Bu Ningsih terpaksa meminta para warga untuk kembali agar dia bisa menenangkan Maria.


Semua yang Maria ceritakan adalah kebenaran, dan di akhir halaman bukunya, ia berkata bahwa mungkin saja hari esok akan menjadi hari terakhirnya. Jika seseorang mendapatkan buku hariannya, maka Maria memperingatkan kepada mereka untuk tidak percaya kepada siapapun yang ada di desa ini.


* * * *


Alia dan Ulan saling bertatapan dengan ekspresi wajah serius. Perlahan-lahan mereka menatap ke warga sekitar, mereka masih tidak mengerti maksud dari isi buku itu. Namun satu yang ia ingin lakukan, yaitu memastikan kebenarannya dengan bertanya secara langsung dengan Bu Ningsih, walaupun itu sangat tidak sopan dan sedikit menegangkan.


Ulan berkata kepada Alia bahwa dia yang akan bicara langsung dengan Bu Ningsih, dan menyuruh Alia untuk menemui Kaila. Mereka pun bergerak sesuai rencana, Ulan juga meminta Alia untuk menghentikan Fitri dan Awal mengikuti warga ke puncak, jika memang semua cerita itu benar.


Alia bergegas menuju ke panti untuk menemui Kaila, sedangkan Ulan pergi menemui Bu Ningsih.

__ADS_1


Sesampainya di panti dengan keadaan ngos-ngosan, Alia pun melangkah ke depan pintu, kemudian mengetuk nya. Berkali-kali Alia mengetuk pintu tersebut, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Alia yang sudah tidak bisa menunggu lama lagi, karena waktu yang tinggal sedikit akhirnya memegang gagangan pintu dan perlahan-lahan membuka nya. Alia melihat semua ruangan yang ada di panti dalam keadaan gelap tanpa pencahayaan sedikit pun.


Perlahan-lahan ia melewati lorong yang kanan dan kirinya adalah kamar anak-anak. Dengan suara sedang, Alia terus memanggil nama Kaila dan Bu Wati. Kaila sedikit bingung lantaran tidak ada sama sekali yang menjawab salamnya, padahal Bu Wati dan Kaila telah kembali dari tadi.


Alia mengecek satu persatu kamar yang ada di panti. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan Kaila di kamar yang berada di ujung lorong. Posisi Kaila saat itu sedang terduduk di atas kursi yang membelakangi pintu. Ruangannya juga gelap seperti ruangan yang lain.


Alia mencoba mendekati Kaila, dan memanggilnya sepersi sedang membujuk. Namun tidak ada sama sekali respon dari Kaila, itu membuat Alia menjadi kebingungan, dan memutuskan untuk memegang pundak Kaila.


"Kaila?" Panggil Alia kebingungan, dan sedikit takut.


Perlahan-lahan Kaila menggerakkan kepalanya, dan berbalik ke arah Alia yang sedang berdiri di belakangnya. Di saat mereka sudah saling berhadapan, Alia dengan cepat melepaskan genggaman nya dari pundak Kaila, dan mundur sedikit demi sedikit.


Kaila pun bangkit dari tempat nya dan berbalik menghadap Alia yang sedang dalam keadaan yang ketakutan.


"Su-sudah" Ucap Alia sambil memegang erat buku yang ada di tangannya.


"Apakah kakak percaya dengan cerita yang ada di buku itu?" Tanya Kaila. "Kalau kakak masih ragu-ragu, aku bisa memperlihatkan sesuatu yang mungkin akan membuat kakak mempercayai nya." Ucap Kaila sambil tertawa kecil.


"Ti-tidak, tunggu dulu. Jadi cerita ini memang asli?, terus apakah acara yang berlangsung di desa saat ini bertujuan untuk memberi tumbuh berupa manusia?" Tanya Alia ketakutan. "Namun jika benar, siapa yang akan menjadi tumbal?" Tanya Alia.


"Tumbalnya?, bukankah sudah jelas siapa orangnya?. Tentu saja itu adalah seseorang yang akan ikut bersama warga ke puncak" Ucap Kaila menyeringai.


Apa yang membuat Alia takut saat ini adalah wujud Kaila sebenarnya. Tubuh Kaila yang terkelupas hangus, disertai dengan usus yang keluar dari perutnya, membuat Alia gemetaran.


Alia melangkah mundur semakin menjauh dari Kaila, dan tak lama kemudian akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu, disaat tiga sosok wanita tanpa kepala tiba-tiba saja muncul di dekat Kaila.

__ADS_1


Dia terus berlari melewati lorong panti,namun secepat apapun dan se berusaha apapun dia berlari, dia sama sekali tidak dapat menjangkau pintu keluar yang sudah berada di depan matanya.


Sebuah suara jeritan memantul di setiap ruangan, membuat langkah Alia terhenti begitu saja. Dia merasa tubuhnya begitu berat, dan sulit untuk di gerakkan, Alia juga merasa bahwa ada sesuatu di belakangnya.


Alia berdiri mematung di lorong panti, tubuhnya bergetar ketakutan. Hawa dingin menusuk tajam di kulit,keringat terus mengalir membasahi tubuhnya. Dengan nafas yang terengah-engah, dia secara perlahan berbalik untuk melihat sosok yang sedang berada tepat di belakangnya.


Betapa terkejutnya,dia melihat ada banyak sosok manusia dengan kulit terkelupas hangus menatap tajam kearahnya, sambil mengulurkan tangan mereka yang berusaha menggapai Alia.


Rasa takut Alia serasa mencengkram seluruh tubuh. Alia dengan sekuat tenaga mencoba menggerakkan tubuhnya dan berlari meninggalkan sosok tersebut, dengan air mata yang bertaburan disetiap jalan, Alia terus memanggil kelima temannya itu.


"Ulan, Budi, Awal, Dirga.Jamal......!!" Teriaknya histeris sambil berlari tanpa sedikitpun melihat kebelakang lagi.


-Sebelumnya


Ulan menemui Bu Ningsih, dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Posisi mereka berdua saat ini sedang berada tepat di samping sumur yang ada di belakang balai.


"Bu" Panggil Ulan.


"Iya nak Ulan,ada apa?" Jawab Bu Ningsih sambil tersenyum.


"Ada sesuatu yang harus kutanya kepada ibu, tapi aku mau meminta maaf dulu, karena pertanyaan ku nanti tidak sopan" Ucap Ulan ragu-ragu.


"Tidak sopan?, memangnya nak Ulan ingin bertanya tentang apa?. Katakan saja, ibu tidak akan marah ko" Balas Bu Ningsih.


"Begini Bu. Apa benar kematian anak dan suami ibu itu disebabkan oleh ulah hewan buas?" Tanya Ulan baik-baik.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu, memang benar ko kalau anak dan suami ibu di terkam hewan buas. Ibu tidak marah, tapi maaf ibu tidak ingin membahas masalah itu sekarang" Ucap Bu Ningsih.

__ADS_1


__ADS_2