Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 27 BUDI


__ADS_3

Budi perlahan-lahan mundur dari tempatnya, dia bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa ada sebuah perangkap yang terpasang di belakang akar pohon yang ia injak.


Srek......


Budi menginjak tali tersebut, dan akhirnya ia pun ikut tergantung seperti babi yang mengejarnya tadi. Kepalanya terbentur cukup keras di pohon, membuat dirinya menjadi pusing.


Tak beberapa lama setelah ia terseret naik ke atas, dia pun akhirnya tak sadarkan diri akibat benturan tadi. Dalam situasi tak sadarkan diri, seorang laki-laki menggunakan pakaian hitam berjalan menuju ke Budi, dia membawa parang di tangan kanannya.


Beberapa menit kemudian, Budi akhirnya sadarkan diri walaupun masih sedikit pusing. Tubuhnya juga masih tergantung di batang pohon, sesekali ia menggerakkan tubuhnya agar tali itu putus. Namun itu semua percuma saja, karena tali yang mengikatnya sangatlah kuat.


"Ah, apa-apaan coba!" Desah Budi kesakitan. "Ini siapa yang pasang sih?, gimana cara turunnya, gaada yang bisa bantuin lagi!!" Kesal Budi mencoba melepaskan diri dari perangkap.


Pria berbaju hitam yang tadi menyampirinya saat sedang dalam keadaan tak sadarkan diri, tiba-tiba saja muncul kembali setelah meninggalkan Budi sebentar. Budi yang melihat kedatangan pria itu, tentu saja sangat gembira, karena dia menganggap bahwa pria itu dapat membantunya terlepas dari perangkap.


Wajah pria itu tertutup oleh bayangan pepohonan, sehingga Budi tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Budi tidak peduli apakah ia pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya, yang ia pikirkan sekarang ini hanyalah meminta tolong kepada pria tersebut.


Perlahan-lahan pria itu mendekat, hingga mengenai cahaya dari sela-sela pepohonan. Budi berusaha melihat dengan jelas wajah pria tersebut dalam keadaan terbalik, setelah ia perhatian baik-baik, rupanya pria yang sedang berdiri disana adalah pak Tono.


Dengan penuh semangat, Budi berteriak menyebut nama pak Tono untuk meminta tolong. Tidak ada jawaban dari pak Tono sedikit pun, itu membuat Budi kembali kesal dan berteriak lebih lantang.


Pak Tono terus melangkah mendekatinya, dengan sebuah parang di tangan kanannya. Budi sempat tercengang melihat parang tersebut, namun dia berusaha untuk berfikir positif, dan menganggap bahwa parang itu digunakan untuk memotong tali yang mengikatnya.

__ADS_1


"Pak tolong pak, kepala saya udah pusing banget karena kebalik seperti ini" Ucap Budi meminta tolong.


Pak Tono sama sekali tidak menjawab apapun, selain mengangkat parang nya ke atas. Anehnya, suasana seketika menjadi sangat menyeramkan, hampir di setiap tempat tergantung tubuh manusia dengan keadaan perut yang sudah tebelah, hingga mengeluarkan isinya.


"Apa yang kulihat sekarang ini?, pak ini cuma ilusi saya kan pak?" Tanya Budi dengan suara yang gemetar. "Pak jawab pak!!, kenapa pak Tono dari tadi gak ngomong apapun!, jangan menakut nakutiku!" Kesal Budi.


"Bodoh, kamu sendiri yang menggali kuburan mu" Saut pak Tono, membuat Budi seketika terdiam dengan ekspresi wajah ketakutan dan bingung.


"Apa maksud bapak?, pak sekali lagi tolong lepasin saya pak sa-" Ucap Budi memohon setengah mati.


Pak Tono melambungkan parang nya ke tubuh Budi, membuat tubuh kekarnya rusak begitu saja. Darahnya mengalir deras, organnya keluar. Melihat Budi yang telah tak bernyawa lagi, seketika membuat pak Tono berubah je wujud sebenarnya.


Belum sempat Alia menanyakan maksud dari perkataannya Kaila, Kaila langsung menghilang entah kemana. Alia memandangi sekitarnya, hari semakin gelap, angin bertiup semakin kencang menambah suasana menjadi lebih mengerikan.


Alia terdiam beberapa saat, hingga akhirnya ia sadar bahwa sekarang ini ia harus menuju ke desa untuk melihat keadaan di sana. Alia terus berlari sekuat tenaga walaupun dia sama sekali tidak memiliki penerangan.


Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah cahaya menyinari jalan, dia menyipitkan matanya dan melihat dengan teliti ke arah cahaya tersebut. Ternyata cahaya itu berasal dari obor yang di bawah oleh Fitri, Awal, dan dua warga lain.


Alia berlari ke arah Fitri dan Awal, setelah itu ia pun menceritakan semua yang ia alami saat ini. Alia seketika terkejut karena tidak ada satupun orang yang memperhatikannya, Alia mencoba memegang pundak Fitri, namun hasilnya tetap saja sama.


Alia sama sekali tidak tau bahwa sekarang ia sedang berada di dunia yang berbeda dengan kedua teman nya itu. Ketakutan nya semakin memuncak, ia meninggalkan Fitri, Awal, dan para warga dengan suasana hati yang tidak karuan. Air matanya terus mengalir membasahi pipi dan jilbabnya yang berwarna putih itu.

__ADS_1


Karena tidak ada pencahayaan sedikit pun, membuat Alia sempat terjatuh dan mendapatkan luka di siku dan lututnya. Luka itu tidak membuatnya berhenti dan pasrah begitu saja, dia bangkit kembali dan berlari ke arah desa.


Ia sangat mengkhawatirkan Ulan sekarang ini. Saat tiba di desa, harapannya kembali terguncang. Desa yang tadinya masih baik-baik saja, serta para warga yang tadinya sedang berkumpul bersama memeriakan upacara adat, tiba-tiba saja berubah menjadi tumpukan benda mati berwarna hitam hangus.


Bau yang begitu amis menyengat hidung Alia, dengan kaki yang pincang ia terus berlari mencari Ulan. "Ulan, kamu dimana" Teriaknya dengan suara yang bergetar penuh ketakutan. Dengan tersedu-sedu, dan mental yang sudah hampir rusak, ia masih saja khawatir dengan sahabatnya sendiri.


Matanya tertuju ke sebuah piring berisi daging dan kue yang di penuhi belatung. Ia akhirnya sadar, dan berfikir apakah makanan yang ia konsumsi selama ini adalah sesuatu yang sudah tidak lazim lagi untuk dikonsumsi.


Alia tidak dapat menahan rasa mual dan jijiknya lagi, hingga akhirnya ia memuntahkan semua makanan yang ada di dalam lambungnya. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke sumur yang letaknya tidak jauh dari dirinya. Alia tidak tau saja, bahwa di bawah sana ada seseorang yang sedang ia cari dari tadi.


Alia kembali berusaha menghadapi rasa takutnya, dan kembali mencari Ulan. Hampir setengah jam ia cari, namun Alia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Ulan.


Sebuah ingatan terlintas di pikirannya. Ulan sempat berkata sebelum Alia pergi menemui Kaila. Ulan berpesan bahwa, jika nantinya terjadi sesuatu kepadanya, maka setidaknya Alia harus menghalangi Fitri dan Awal menuju ke puncak, apapun caranya.


Alia akhirnya kembali lagi berlari mengejar Fitri dan Awal, walaupun lututnya sangat sakit. Dia tau bahwa semuanya pasti telah sampai ke atas puncak, namun Alia tidak ingin menyerah karena bisa saja semuanya masih belum terlambat.


Di lain tempat, Jamal berjalan menyusuri hutan yang begitu gelap. Sekarang ini tidak ada siapapun yang sedang mengejarnya atau mengikutinya. Dirga yang tadi bersamanya telah terjatuh ke jurang sebelum Jamal sempat untuk menolongnya. Mengapa Jamal memilih untuk meninggalkan Dirga yang kemungkinan masih belum mati di bawah sana, karena para sosok yang mengejar mereka tadi berkumpul di bawah bersama dengan tubuh Dirga.


Tentu saja Jamal sangat takut untuk mendekatinya. Dengan rasa bersalah, Jamal memutuskan untuk mencari teman-teman yang lainnya untuk membawa mereka keluar dari desa turi.


Dari awal Jamal memang sudah sangat curiga dengan desa turi, namun karena tidak ingin membuat teman-temannya ketakutan ataupun gelisah, jadi ia memutuskan untuk diam saja dan mencari tau kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2