Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 18 KEMBALI


__ADS_3

Budi dan Dirga menatap kearah yang ditunjukkan oleh Jamal, semakin mereka perhatkan sekeliling mereka, semakin kuat pula fakta bahwa tempat yang sekarang mereka lihat, adalah desa Turi.


"Apa jangan-jangan, kita telah terseret ke dunia jin. Sama seperti Dirga yang mungkin saja di tarik ke dunia jin, itulah mengapa kita gak menyadari Dirga yang ternyata terus berada di samping kita dari tadi" Pikir Budi semakin menjadi-jadi.


"Lu gausah mikir yang aneh-aneh deh. Mungkin saja ini cuma ilusi semata" Saut Dirga berusaha berpikir positif.


"Ilusi bagaimana!, ini terlalu nyata untuk disebut sebagai ilusi" Balas Budi.


"Udah cukup, karena kita gatau ini cuma ilusi atau bukan. Jadi bagaimana kalau kita coba menutup mata bersama-sama, kalau memang ini cuma ilusi, mungkin saja itu akan hilang saat kita membuka mata kembali. Tapi kalau ini memang nyata, maka tidak ada cara lain selain pergi dari tempat ini." Saran Jamal berusaha untuk tetap tenang.


"Oke oke, benar apa kata mu." Saut Budi. " Kalau gitu, sekarang mari kita tutup mata. Dalam hitungan ke tiga, kita harus membuka mata kita secara bersamaan, oke?!" Ucap Budi.


Mereka pun mencoba saran yang diberikan oleh Jamal, dan menutup mata mereka bertiga. Budi menghitung mulai dari angka satu sampai ke angka tiga secara perlahan. Saat angka tiga di sebut, mereka pun membuka kedua mata mereka.


Betapa terkejutnya, tempat yang tadi mereka lihat, berubah menjadi desa Turi yang mereka kenal. Sekarang ini Jamal,Budi,dan Dirga sedang berdiri mematung di tengah desa, pak kades dan beberapa warga juga terlihat sedang berusaha menyadarkan mereka.


Sekali lagi mereka melihat sekeliling dengan raut wajah tak percaya, desa yang hangus terbakar tadi, seketika menjadi desa yang utuh. Budi terduduk sambil menghembuskan nafas lega, dia menganggap pemandangan yang tidak mengenakkan tadi ternyata hanyalah sebuah ilusi.


"Kalian bertiga gak kenapa-napa kan?" Tanya pak kades dengan raut wajah cemas.


"Gapapa ko pak, kami baik-baik saja" Jawab Jamal kembali tenang.


"Ko bisa kalian bertiga berdiri mematung di tempat ini, bapak dan beberapa warga disini dari tadi udah coba buat nyadarin kalian, tapi kalian sama sekali tidak sadar-sadar juga." Beritahu pak kades.


"Iya loh, kami semua sampai khawatir karena mengira terjadi sesuatu kepada kalian" Saut bu Susi.

__ADS_1


"Maaf karena telah membuat warga sekalian pada khawatir, kami juga tidak tau kenapa kami bisa seperti ini" Ucap Jamal meminta maaf.


"Dirga rupanya udah kalian temuin ya" Lega pak Tono.


"Ah, iya nih pak. Oiyaa, masa waktu kami ketemu Dirga, dia malah cari-cari alesan dengan berkata bahwa dari tadi dia terus berada di samping kita, tapi kitanya gak lihat dia." Ucap Budi menatap jengkel ke Dirga.


"Heh monyet!. Sekali lagi gua bilangin ke lu, gua emang dari tadi berada di samping kalian, tapi emang kalian aja yang gak ngelihat gua. Jangankan melihat, nyadar aja kagak!" Kesal Dirga.


"Kalian berdua bisa diam gak sih" Gertak Jamal.


"Em...ada kemungkinan nak Dirga telah diseret ke dunia jin oleh roh pelindung, soalnya beberapa anak di desa ini juga pernah mengalami hal seperti nak Dirga" Saut Bu Susi.


"Untung saja nak Dirga sudah dikembalikan, bagaimana kalau sekarang kalian pulang saja. Ini sudah pukul 20.45 loh." Beritahu pak kades.


"Baiklah pak, Bu. Kalau begitu, sekali lagi kami berterimakasih karena telah menyadarkan kami bertiga" Ucap Jamal.


"Tidak usah berterimakasih, kalau begitu mari bapak antara sampai ke tempat menginap, pasti teman-teman kalian udah pada cemas nungguin kabar kalian bertiga" Balas pak Tono.


"Ah iya juga, pasti mereka berempat udah pada cemas. Kalau begitu kami permisi dulu ya pak, bu" Saut Jamal.


"Iya, hati-hati ya" Jawab semuanya.


Jamal, Budi dan Dirga pun kembali ke tempat penginapan, di temani oleh pak Tono dan dua warga lainnya. Sesampainya di penginapan, Jamal mengetuk pintu dan di bukakan oleh Awal.


Awal terkejut dan memberitahu kepada yang lain, bahwa Jamal dan Budi telah kembali bersama dengan Dirga. Alia, Ulan, dan Fitri dengan terburu-buru keluar melihat apa yang dikatakan oleh Awal.

__ADS_1


Betapa gembiranya mereka melihat kedatangan Jamal, Budi, dan Dirga. Rasa khawatir yang dari tadi mereka rasakan, seketika hilang begitu saja.


Pak Tono dan dua warga pun pamit kembali ke desa untuk menjaga pos ronda, karena di sana tinggal pak Danu saja yang menjaga. Sebelum mereka pergi, Alia meminta mereka untuk singgah sebentar, namun mereka menolak.


Mereka akhirnya kembali menuju ke desa, sementara yang lainnya masuk ke dalam rumah. Di dalam, entah mengapa suasana seketika berubah menjadi lebih canggung.


Ulan terus menatap ke arah Dirga yang sedang duduk dengan raut wajah yang takut, dia tau bahwa Ulan pasti akan memarahinya habis-habisan. Dan benar saja, seketika luapan kemarahan Ulan berkobar di mana-mana.


Ulan juga melontarkan banyak pertanyaan kepada Dirga yang terlihat pasrah menerima ocehan Ulan. Jamal yang menatap kasihan kepada Dirga, akhirnya memberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


Walaupun Jamal telah mengatakan semuanya, Ulan masih tidak percaya dengan jawaban tersebut. Siapa yang akan percaya dengan cerita seperti itu, apalagi Ulan yang sama sekali tidak percaya adanya kejadian yang berkaitan dengan jin atau roh.


Ali berusaha untuk memenangkan Ulan, dan memintanya untuk membiarkan Dirga istirahat, karena mungkin saja dia sangat kelelahan, begitupula dengan Jamal dan Budi. Karena itu adalah permintaan dari Alia, Ulan pun menurutinya.


Tapi mereka bertiga tetap harus menceritakan semua yang baru saja terjadi.


Alia meminta Fitri untuk membantunya membawakan makanan yang telah ia sediakan kepada mereka bertiga. Makanannya memang sudah tidak hangat lagi, tapi tentu saja masih bisa untuk dimakan.


Jamal, Budi, dan Dirga menyantap makanan tersebut perlahan-lahan. Semuanya sedikit bingung dan sedikit khawatir juga, karena mereka bertiga hanya diam dengan tatapan yang seolah-olah seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.


Alia ingin bertanya, tapi tidak baik juga menganggu seseorang yang sedang makan. Jadi Alia memutuskan untuk menunggu saat mereka selesai makan saja, karena mereka juga berniat untuk memberitahukan segalanya.


Semuanya hanya terdiam, hanya suara sendok dan piring saja yang terdengar. Suasananya sangat berbeda dengan suasana kemarin-kemarin nya.


Setelah selesai makan, kami semua berkumpul membicarakan masalah tadi. Jamal memberitahukan apa yang telah terjadi, penjelasan mereka bertiga mengenai hilangnya Dirga, memang sedikit tidak masuk akal. Namun Dirga berkata dengan serius bahwa dia memang terus berada di samping kami, tetapi tiada satupun yang menyadari keberadaan nya.

__ADS_1


__ADS_2