Patok Desa Tumbal

Patok Desa Tumbal
BAB 21 MENGHILANG?


__ADS_3

Di lain tempat, Ulan yang terbangun karena haus pun pergi menuju ke dapur sendirian. Lampu di sekitar lorong kamar sedikit berkedip kedip, sedangkan lampu di dalam telah di matikan.


"Cih, ini lampu membuat suasana menjadi terkesan horor ajah" Kesal Ulan.


Ulan melangkah dengan tenang ke dapur, tanpa perasaan takut sedikit pun. Saat tiba di dapur, Ulan sama sekali tidak melihat apapun karena gelap. Sewaktu ia ingin menyalakan lampu, tiba-tiba saja dari depan terlihat sosok putih berlarian kesana kemari. Ulan dengan cepat menyalakan lampunya, dan melihat ke sekelilingnya.


Tidak ada apapun disana, Ulan yang kesal pun langsung menuju ke baskom berisi air yang telah di masak, dan mengambilnya segelas. Saat Ulan hendak meminumnya, sebuah tangan merangkul pundaknya, dan hembusan angin meniup lehernya.


"Astaghfirullah!" Pekik Ulan, sambil menyiram sosok yang ada di belakangnya, dan bersiap untuk memukul menggunakan centong yang ia raih di sampingnya.


"Anjir!, stop!, stop!." Panik Budi. "Ah..., baju gua jadi basah kan!" Keluh Budi.


"Anjing lu Budi!, gua kira apaan tau gak!" Kesal Ulan memukul kepala Budi.


"Aduh!." Desah Budi sambil memegang kepalanya yang sakit karena dipukul oleh Ulan. "Gua kan udah bilang stop, ko masih di pukul aja sih!. Ah..., benjol kan pala gua!" Keluh Budi.


"Salah sendiri, ngapain ngagetin gua!" Pekik Ulan.


"Yah sorry." Saut Budi. "Oiya, tadi lu bilang astagfirullah kan?." Tanya Budi.


"Eng-engga, siapa yang bilang. Gua cuma bilang astaga doang ko, telinga lu lagi tersumbat kali." Jawab Ulan berbohong.


"Eleh, jujur aja lah. Yok bisa yok asya-" Goda Budi.


"Stop!.Manusia satu ini enaknya di baptis kayaknya" Saut Ulan memotong ucapan Budi.


"Nye nye. Minggir sanah, gua juga mau ambil minum." Ucap Budi menggeser Ulan.


Ulan hendak memukul Budi sekali lagi, namun Budi menyadarinya, dan menyita centong yang ada di tangan Ulan. Ulan yang kesal pun langsung berbalik ingin meninggalkan Budi sendiri, namun langkahnya terhenti ketika salah satu panci yang tergantung di dinding tiba-tiba saja terjatuh.


Ulan dan Budi berbalik melihat ke arah panci tersebut, mereka sedikit bingung, karena panci tersebut tergantung dengan baik, jadi angin kecil tidak mungkin dapat menjatuhkannya.

__ADS_1


Namun setelah di perhatian baik-baik, ternyata di bawah meja terdapat seekor kucing hitam. Jadi mereka pun menganggap bahwa mungkin saja kucing itu yang menjatuhkan pancinya.


Tidak ingin memusingkan diri, Ulan pun kembali melangkah menuju ke kamar, sedangkan Budi pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu. Ulan yang suka bercanda pun, langsung berteriak menakuti Budi, bahwa tadi saat ia baru sampai di dalam, dia melihat bayangan putih sedang mondar mandi seperti mencari sesuatu.


"Bodo amat, lu kira gua penakut apa?. Gak yak say" Teriak Budi pura-pura tidak takut di depan Ulan.


"Yaudah, kalau gitu gua tinggal yah, jangan nangis kalau tiba-tiba ada yang nongol. Hahaha" Ejek Ulan meninggalkan Budi sendirian di dapur.


Saat Budi mencuci wajahnya, dia merasa bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Dengan cepat Budi berbalik, dan melihat sekitarnya, karena tidak melihat apapun, Budi memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan langkah kaki santai.


Namun tiba-tiba saja panti yang lain terjatuh, membuat Budi kaget dan berlari sekencang mungkin menuju ke kamarnya. Ulan yang hendak masuk ke kamar pun kaget karena Budi datang dengan terburu-buru seperti sedang di kejar oleh sesuatu.


"Ngapain lari kek gitu?, lu takut yah?" Ejek Ulan menyengir.


"Mana a~da!, orang gua cuma simulasi lari dari kenyataan ko!" Jawab Budi terengah-engah.


"Udahlah, ketahuan banget bohong lu, jawab aja yang jujur kalau lu tuh takut" Goda Ulan.


"Apaan sih, di bilangin juga. Udah ah, gua mau tidur" Saut Budi menutup pintu kamarnya.


Ulan dengan raut wajah yang sudah musam karena mengantuk, dengan perlahan berbaring di atas kasur, dan tertidur bersama dengan Fitri dan Alia. Jam menunjukkan pukul 02.15, beberapa jam setelah Ulan terlelap. Mereka bertiga tertidur dengan nyaman sampai tidak menyadari, bahwa sosok wanita berbaju putih tanpa kepada yang berbeda dengan sosok yang ia potret pada saat sedang di perjalanan, tengah berdiri di pojok pintu kamar mereka.


* * * *


Keesokan harinya, seperti biasa mereka semua sedang menunggu giliran untuk mandi. Alia yang kebetulan masih berada di kamar sendirian, menggunakan kesempatan itu untuk lanjut membaca halaman buku yang tidak sempat ia baca semalam.


Sebelum membacanya, dia melihat keadaan sekitar dulu dan memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya. Saat merasa keadaan sudah aman, Alia pun menggapai buku tersebut yang semalam ia sembunyikan di balik kopernya.


-Lanjutan buku-


Maria bercerita bahwa saat ibunya pulang dari acara yang diadakan di desa, ia sama sekali tidak melihat kedatangan saudara kembarnya serta kembarannya. Dia juga merasa khawatir dan bingung melihat raut wajah ibunya yang seolah olah menandakan bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


Perlahan-lahan Maria mendekati ibunya, dan bertanya dimana ayah dan saudara kembarnya. Dia sangat kaget dan syok ketika ibunya langsung memeluk erat tubuhnya, dan berkata bahwa ayah serta kakaknya telah menghilang di atas puncak ketika sedang membawa persembahan kepada roh pelindung bersama dengan warga lainnya, sambil menangis ibunya juga memperlihatkan sobekan baju yang ayahnya gunakan tadi saat menuju ke balai desa.


Maria bertanya kenapa mereka berdua bisa menghilang disaat mereka masih bersama dengan warga. Ibunya pun menjawab bahwa ayah dan kakak kembarnya tidak jalan bersama warga saat sedang turun dari puncak, karena mereka berdua berpamitan untuk turun duluan.


Mendengar ucapan ibunya, seketika membuat Maria merasa ada sesuatu yang janggal. Karena bagaimana bisa ayah dan juga kakanya ikut bersama warga untuk mengantarkan persembahan, padahal mereka sama sekali tidak percaya dengan adanya roh pelindung yang diceritakan oleh para leluhur. Dan ibunya serta warga juga tidak pernah membahas tentang persembahan.


Dia juga menyadari bahwa raut wajah ibunya saat ini adalah raut wajah yang ia buat-buat, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Maria pun bertanya kembali kepada ibunya apakah warga sekitar sedang mencari keberadaan ayah dan saudara kembarnya sekarang ini.


Ibunya menjawab bahwa karena sudah terlalu malam, warga memutuskan untuk mencari mereka berdua esok hari saja. Ibunya juga meminta agar Maria berhenti khawatir, dan tidak berniat untuk ikut mencari mereka berdua.


Jawaban itu membuat Maria geram, dia menganggap bahwa keputusan warga sangat salah. Bisa saja ayah dan saudaranya masih baik-baik saja, dan sedang memerlukan bantuan. Namun karena tidak ada yang menemukan atau mencarinya, mungkin saja itu akan membuat mereka terkena masalah atau bertemu dengan hewan buas di luar sana.


Maria langsung bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah keluar dari rumah untuk mencari mereka berdua, namun Bu Ningsih malah menahannya dan memarahi Maria karena tidak mendengarkan ucapan nya yang melarang Maria untuk ikut mencari ayah dan saudaranya.


Ibunya juga berkata bahwa keputusan warga adalah keputusan yang sudah di pikirkan baik-baik, karena jika warga mencari mereka berdua sekarang ini, bisa jadi malah akan menambah korban lainnya.


Maria pun terdiam sejenak, dan sadar bahwa itu memang benar, namun dia juga tidak ingin hanya diam saja disaat orang yang dia cintai menghilang di tempat yang memungkinkan mereka terluka akibat hewan buas.


"Kamu sudah paham yang ibu maksud kan?, nah sekarang masuklah dan biarkan dirimu tenang terlebih dahulu." Ucap Bu Ningsih berusaha menenangkan Maria.


"Bu" Panggil Maria tertunduk dengan nada serak.


"Iya sayang" Jawab Bu Ningsih masih dengan raut wajah yang ia buat-buat.


"Tadi ibu bilang kalau ayah dan Dewi ikut pergi mengantarkan tumbal ke puncak kan?" Tanya Maria.


"I-iya, ibu mengatakannya" Jawab Bu Ningsih.


"Tumbal seperti apa yang warga berikan kepada roh pelindung?" Ucap Maria dengan nada rendah. "Bukankah di ceritakan bahwa roh itu hanya menerima darah dari wanita cantik!, sebenarnya apa yang kalian tumbal kan?!!" Tanya Maria merasa curiga.


"Apa maksud mu!, apakah kau berfikir bahwa hilangnya kakakmu itu karena kami menjadikannya tumbal!." Jawab Bu Ningsih dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Lalu apa yang kalian serahkan!?" Balas Maria.


"Kau yang tidak tau apa-apa sebaiknya diam saja!, sekarang masuklah dan jangan pernah berniat keluar dari rumah sampai warga menemukan ayah dan kakak mu!!" Kesal Bu Ningsih.


__ADS_2