
Malamnya, kami semua berkumpul menyantap makanan yang diberikan para warga kepada kami. Walaupun cahaya di tempat ini tidak terlalu terang, tapi setidaknya itu memberikan kesan dan suasana baru bagi kita semua.
Kami sangat berterimakasih kepada juragan kaya di desa ini, karena telah banyak membantu penduduk desa. Dia bahkan memberikan mesin pembangkit listrik tenaga air untuk membantu penerangan di desa ini. Tanpa dia, mungkin desa ini hanya akan bergantung kepada cahaya lilin atau obor pada malam hari.
"Fitri, boleh tolong bantu aku bersihin piring-piring nya?" Tanya Alia.
"Boleh sin-" Jawab Fitri.
"Gausah Fitri, biar aku ajah yang bantu sang paduka ratu" Saut Awal melebih-lebihkan sesuatu yang sudah lebih.
"E elah, modus banget. Bilang ajah mau pdkt sama Alia" Ucap Ulan sinis.
"Suka-suka gua lah, lu dari kemarin-kemarin kayak gasuka banget gua pdkt sama Alia. Cemburu lu yah?" Balas Awal.
"Enak ajah, ngapain gua cemburu. Lebih baik gua cemburu sama anak SD yang udah pandai naik motor, dibandingkan cemburu lihat lo pdkt ama Alia" Kesal Ulan
"Udah-udah gausah pada ribut,ini udah malem tau." Tegur Alia. "Maaf yah Wal, tapi lebih baik Fitri ajah yang bantuin aku, kamu mending ikut main kartu bareng Jamal, Dirga sama Budi ajah." Saran Alia
"Aaaaaa, padahal kan aku mau banget ngebantuin kamu" Balas Awal Sedih.
"Ehh Wal, ayo sini buruan. Kartunya udah mau dibagiin ini" Teriak Budi
"Iya iya, bentar napa" Jawab Awal kesal.
Semuanya melakukan kegiatan masing-masing, Alia dan Fitri mencuci piring, Ulan dan Jamal membersihkan tempat tidur, sisanya bermain kartu di ruang tamu.
Rumah yang kami tempati untuk sementara, bisa dibilang cukup luas. Ada tiga kamar yang sama luasnya, toiletnya lumayan luas, namun tidak ada keran air untuk mandi, melainkan hanya sebuah sumur.
Letak dapur dan toilet lebih rendah dari ruangan lainnya. Ada sebuah tangga kecil yang dapat kita gunakan menuju ke dapur.
Letak rumah kami sedikit jauh dari pusat desa, namun dekat dari rumah juragan kaya di desa ini. Malam ini merupakan malam kedua kami berada di desa Turi, awalnya kami ingin cepat-cepat kembali, tapi sekarang entah kenapa kami semua merasa ingin berlama-lama di desa ini.
"Aaaaaa!, gua udah bosan main kartu" Keluh Awal.
__ADS_1
"Yaudah tidur ajah" Saran Dirga.
"Gua masih belum ngantuk" Tolak Awal. "Keluar ajah deh, pasti angin malam di desa ini sangat sejuk" Ucap Awal berdiri dan melangkah ke depan pintu.
"Heh bodoh,lu pura-pura lupa apa emang lupa?. Kita kan dilarang keluar malam sama pak kades. Apalagi sekarang udah jam 21.45,lu bukannya kena angin sejuk, tapi malah kena angin sakit" Tegur Budi.
"Ah bodo amat, yang jelas gua mau keluar. Kalau pun gua ketemu hewan buas, bakalan gua lawan sampai tumbang" Ucap Awal keras kepala.
"Yaudah, pergi ajah,kalau lo kenapa-napa itu bukan salah kita yah, apalagi salah penduduk sini. Soalnya itu pilihan lo sendiri." Saut kesal Dirga.
"Ya ya ya" Ucap Awal dengan wajah mengejek
Awal melangkah keluar dari rumah, dia terlebih dulu melirik ke sekitar untuk memastikan tidak ada hewan buas. Setelah merasa keadaan sekitar aman, dia dengan santai berjalan menuju ke arah pusat desa.
Dengan cahaya dari senter handphone, dia terus melangkah menyusuri daerah persawahan yang sangat gelap.
"Apa itu hewan buas, daritadi gua gada lihat hewan buas tuh. Paling yang dikatakan pak kades hanyalah akal-akalan nya saja." Ucap Awal menyeringai.
"Ouch..." Ucap Awal kesakitan,karena kakinya tidak sengaja tersandung oleh akar akibat gelap. "Duh..... Ni akar siapa yang naroh sini sih" Ucap Awal menendang akar itu.
Semakin Awal berjalan, semakin tersesat pula dirinya. Karena dia merasa semakin menjauh dari desa, akhirnya dia berhenti dan mencoba untuk meminta tolong, namun itu semua percuma. Cuaca dingin menusuk tajam kulit Awal,angin berhembus kencang, suara-suara aneh terus terdengar dari arah semak-semak.
Awal yang tadinya sangat berani, seketika bermental lunak. Terlihat raut wajahnya semakin memucat, hembusan udara panas keluar dari dalam mulutnya.
Klotak.....
Terdengar keras suara benda terjatuh dari arah semak-semak, membuat Awal sangat terkejut. Dia mencoba memberanikan diri mendekati pusat suara,dia menggeser semak-semak itu dengan menutup matanya. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan melihat sesuatu yang terjatuh tadi.
"Bangsat! !, gua kirain apa." Kesal Awal melihat batang besar yang terjatuh tadi.
Rasa kagetnya perlahan-lahan mulai meredah dan dia pun kembali sedikit tenang dibandingkan waktu tadi. Namun tidak berlangsung lama, dia merasakan hawa mengerikan dari arah belakang dia berdiri.
Perlahan-lahan dia membalikkan badannya, apa yang sekarang dia lihat adalah hal yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Sesuatu yang menyerupai bentuk manusia dengan mata yang menyala, disertai bauh darah yang mendidih.
__ADS_1
Bukan hanya satu, tapi ada puluhan mata yang sedang memandangi nya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat. Dia berusaha untuk berteriak, namun sedikitpun suara tidak dapat ia keluarkan dari dalam mulutnya. Penglihatannya mulai menurun, tubuhnya semakin lemas dan sedikit demi sedikit mulai kehilangan kesadaran.
Bruk.....
Tubuhnya terjatuh ke tanah, dan akhirnya kehilangan kesadaran. Keesokan harinya, Awal begitu kaget ketika menemukan dirinya sudah berada di tempat penginapan. Dia menggosok gosok kedua matanya dan kembali melihat sekelilingnya. Tidak ada perubahan, dia benar-benar berada di tempat penginapan sekarang ini.
"Bangun juga si keras kepala, beban gatau malu!!" Ucap kesal Ulan.
"Udah lan" Balas Alia menenangkan Ulan.
Awal melihat semua temannya sedang duduk mengelilingi tubuhnya yang tengah terbaring. Perlahan-lahan ia bangkit dan melihat sekelilingnya.
"Ko aku bisa ada disini?, bukannya aku berada di hutan yah?" Bingung Awal.
"Ya,awalnya lo emang gaada di sini. Tapi untung ajah ada dua warga yang gasengaja nemuin lu, katanya lu tergeletak tidak sadarkan diri di jalur menuju ke puncak gunung." Jawab sinis Dirga.
"Gak sadarkan diri?" Fikir Awal. "Ah...gua ingit. Sebelum gua pingsan, gua ngelihat sesuatu yang menyerupai manusia gitu, tapi agak aneh. Ditambah ada bau-bau yang sangat menyengat. Baunya seperti bau amis, tapi kayak gosong gitu." Jelas Awal
"Lo gausa ngibulin kita deh, warga yang nemuin lo ajah bilang kalau lo hampir di ngap ama hewan buas. Paling yang lo lihat bukan manusia, tapi he...wan!" Ucap kesal Ulan.
"Tapi bau anehnya dari ma-" Balas Awal
"Udah-udah, gausah pada ribut. Yang penting kan sekarang Awal gak kenapa-napa" Saut Alia memotong ucapan Awal.
"Wal,lebih baik sekarang kamu mandi terus kerumah Pak Suharjo, buat ngucapin terimakasih karena udah nolongin kamu" Saran Jamal.
"Pak Suharjo?, rumahnya yang mana? " Tanya Awal.
"Mandi aja dulu, nanti kita barengan kesananya. Soalnya kami semua lagi mau ke puncak gunung" Jawab Budi.
"Oke.Tapi emang gapapa kita ke sana, bukannya kita harus tanya warga dulu yah?, karena siapa tau di atas sana berbahaya" Ucap Awal bingung.
"Tenang ajah, kata Pak Bakri boleh ko naik ke sana" Balas Budi.
__ADS_1
"Pak Bakri siapa lag-" Tanya Awal.
"Udah anjir, gausah banyak tanya. Buruan sana mandi!!" Kesal Ulan memotong ucapan Awal.