
Kami pun akhirnya memutuskan untuk melupakannya, karena apa yang telah terjadi tidak harus terus kami permasalahkan. Walaupun Jamal telah memberitahukan penyebab hilangnya Dirga, tapi masih ada sedikit yang menganggu pikiran Alia.
Alia merasa bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak ingin mereka bertiga bicarakan, dapat dilihat jelas dari raut wajah mereka bertiga. Akhirnya Alia mencoba bertanya kepada Jamal, karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasaran yang membuatnya sedikit gelisah.
Pada awalnya, Jamal berkata bahwa tidak terjadi apapun yang membuat mereka merasa terganggu, begitu pula dengan jawaban Dirga dan Budi setelah Alia bertanya kepada mereka.
Namun jawaban mereka bertiga sama sekali tidak membuat Alia percaya, dan malah membuat Alia semakin penasaran.
Waktu terus berlalu, hingga jam menunjukkan pukul 22.04 malam. Semuanya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing, namun sebelum itu, tentu saja kami terlebih dahulu pergi untuk menyikat gigi.
Saat semuanya menuju ke arah dapur, Alia langsung menggapai tangan Jamal serta memanggil namanya. Jamal yang kebingungan pun berhenti dan bertanya kepada Alia, tentang alasan Alia memanggilnya.
"Ada apa Alia?" Tanya Jamal kebingungan.
"Maaf sebelumnya, tapi aku ingin kamu jujur tentang apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kalian. Mengapa aku merasa bahwa kalian seperti sedang merahasiakan sesuatu" Jawab Alia curiga.
"Itu lagi?, kan aku sudah bilang kalau ti-" Balas Jamal.
"Tidak apanya?, kalian bisa membohongi yang lainnya, tapi tidak dengan ku!" Gertak Alia menyela ucapan Jamal. "Maaf karena sedikit kepo, tapi aku hanya ingin kalian berbagai cerita kepada kami semua" Ucap Alia meminta maaf.
"Y-ya, kamu tidak perlu meminta maaf" Jawab Jamal kaget. "Aku akan menceritakannya, tapi jangan beritahu yang lainnya." Ucap Jaman sambil memberikan syarat kepada Alia.
"Em...." Gumam Alia sambil berfikir. "Baiklah, aku berjanji. Tapi kamu harus menceritakan yang sebenarnya" Ucap Alia sepakat.
Setelah saling sepakat, akhirnya Jamal memberitahu Alia tentang apa yang telah mereka alami beberapa waktu lalu. Jamal menceritakan mulai dari para warga yang tiba-tiba menghilang, sampai desa turi yang tiba-tiba berubah menjadi tempat yang mengerikan.
Jamal, Budi, dan Dirga merasa bahwa ada yang aneh tentang desa turi. Mereka bertiga menyimpulkan bahwa mungkin saja ada alasan terkait keramahan para warga desa kepada mereka semua.
Apa yang mereka alami, sedikit berhubungan dengan apa yang pernah dialami oleh Awal, bau yang sama, suasana yang sama. Memang sedikit masuk akal jika waktu itu mereka telah diseret ke alam lain. Namun ada sesuatu yang mengganjil dengan kejadian yang mereka alami.
__ADS_1
Jamal juga sempat terpikirkan oleh ucapan Kaili tadi, yang meminta agar mereka semua buru-buru pergi dari desa ini. Dan juga masalah tumbal yang diucapkan oleh bu Susi tempo hari itu.
Ali yang mendengar cerita Jamal memang sedikit sulit untuk mempercayainya, namun karena Jamal menceritakan semuanya dengan raut wajah yang serius, akhirnya Alia berfikir bahwa jalan satu-satunya untuk mengetahui semua cerita Jamal, adalah dengan membaca buku yang tadi ia ambil diam-diam dari rumah Bu Ningsih.
Saat Alia ingin memberitahu Jamal tentang buku yang ia ambil, tiba-tiba saja Ulan datang dari arah dapur menuju ke arah Alia dan Jamal tengah berbicara. Alhasil Alia pun memutuskan untuk memberitahu Jamal saat dia telah selesai membaca buku itu saja.
Ulan tersenyum menggoda ke arah Alia dan Jamal. Ulan mengira mereka berdua sedang membicarakan sesuatu yang romantis, atau saling PDKT.
"Cieeee, ada yang lagi PDKT nih" Goda Ulan.
"E-engga ko, kita cuma sedang membicarakan tentang upacara adat besok" Saut Jamal mengelak.
"Aduh Jamal, gaperlu ngelak ko. Tenang aja, aku sepenuhnya mendukung kalian berdua" Balas Ulan masih terus menggoda mereka berdua.
"Dukung apa?, emang kami berdua punya salah?" Tanya Alia dengan wajah polosnya.
"Aduh Alia......, kamu itu gimana sih?." Jawab Ulan sambil meng geleng-geleng kan kepalanya. "Kamu masih aja gak peka yah, kasihan Jamal nya tau" Ucap Ulan.
"Aduh....Jamal sayang." Keluh Ulan sambil memegang pundak Jamal. "Udah gas ajah, dari pada lu keduluan sama Awal buat ngungkapin perasaan kalian kepada bestie ku ini" Bisik Ulan menggoda.
"Jangan bercanda" Jawab Jamal melepaskan tangan Ulan dari pundaknya.
"Cih. Gak lu, gak Alia, sama-sama bikin orang greget doang!" Kesal Ulan menarik tangan Alia menuju ke kamar.
Alia ingin melepaskan tangannya dari Ulan, namun Alia merasa tidak enak. Jadi dia membiarkan Ulan membawanya pergi dari Jamal. Jamal hanya diam kebingungan di pojok, dan kemudian kembali menuju ke dalam untuk sikat gigi.
"Emmm Ulan" Panggil Alia.
"Em" Jawab Ulan.
__ADS_1
"Begini, aku mau ke toilet dulu" Jujur Alia.
"Owh yaudah, sini aku temenin, kebetulan aku juga mau ambil minum" Balas Ulan masih menarik lengan Alia.
Setelah kembali dari dalam bersama dengan Ulan dan Jamal, Alia pun langsung menuju ke dalam kamar bersama Ulan. Di dalam kamar, terlihat Fitri yang sudah tertidur di atas kasur.
Ulan membaringkan tubuhnya di samping Fitri, dan mulai memejamkan kedua matanya. Alia juga berbaring di sebelah Ulan, namun hanya berpura-pura tertidur. Alia menunggu Ulan sampai benar-benar hilang kesadaran, karena ia berniat untuk membaca buku yang tadi ia ambil secara diam-diam dari rumah bu Ningsih.
Beberapa menit kemudian, Alia yang merasa bahwa Ulan sudah benar-benar tertidur, secara perlahan menuruni kasur, dan melangkah perlahan-lahan menuju ke tempat tasnya yang berada dekat dari koper.
Alia pun menggapai tas tersebut, dan membukanya perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Ia mengeluarkan buku tersebut, dan memandangi nya sedikit lama. Dia masih sedikit bimbang karena buku yang dia ambil tanpa sepengetahuan Bu Ningsih.
Setelah berfikir terlalu keras, akhirnya dia memutuskan untuk membuang rasa bimbang nya, dan membaca buku tersebut. Isi dari diary yang ia baca, membuatnya sedikit terkejut tak percaya. Ternyata buku tersebut adalah buku milik anak kedua Bu Ningsih yang sudah lama meninggal karena kejadian yang diceritakan Bu Ningsih tempo hari saat di sungai.
Namun ternyata, apa yang tertulis di buku itu, adalah cerita yang sangat berbeda jauh dari cerita yang diucapkan oleh Bu Ningsih.
Sedikit demi sedikit semuanya mulai jelas dan saling menyambung. Alasan mengapa desa ini sangat tertutup dari dunia luar, dan cerita kematian Dewi anak gadis pertama Bu Ningsih, semuanya diceritakan dengan jelas di dalam buku tersebut.
Rupanya, cerita Bu Ningsih hanyalah cerita yang dibuat-buat saja.
-Cerita yang ada di dalam buku-
Halaman pertama yang merupakan cerita yang dibuat oleh Bu Ningsih.
Dewi dan Maria adalah anak kembar dari pasangan suami istri, yaitu sang ayah Hartono, dan Ibu Ningsih. Pernikahan Hartono dan Ningsih adalah pernikahan beda agama yang didasari oleh rasa saling cinta, Hartono yang terlahir beragama Islam, dan Ningsih beragama Hindu.
Mereka dikaruniai anak kembar pada usia yang ke dua tahun pernikahannya. Keluarga mereka adalah keluarga yang harmoni, tidak ada sama sekali masalah dalam rumah tangga mereka. Namun semenjak kelahiran putri kembar mereka, Ningsih dan Hartono sering berselisih.
Ningsih ingin kedua anak nya ikut memeluk ajaran agamanya, begitupula dengan Hartono. Di usia ke 7 tahun, Dewi dan Maria akhirnya memutuskan untuk ikut memeluk ajaran Islam bersama dengan Ayah. Ningsih awalnya tidak menerima,namun lama-kelamaan dia pun mengerti keputusan kedua anaknya, dan kembali menjalani kehidupan yang harmoni seperti dahulu.
__ADS_1
Halaman yang lain adalah halaman yang diisi oleh anak kedua atau Maria. Semua ceritanya adalah cerita yang berisi semua kebenaran dari desa dan hilangnya kakak dan ayahnya.